Teringat Bintang Kejora si Penjual Hujan

23/07/08 | by wawan [mail] | Categories: Serbasuka

Tadi waktu ngobrol sama istri dan xeno (sebenarnya saya nggak ngobrol sama Xeno sih, :D, Xeno saja yang ngoceh sendirian :D) dan membicarakan tentang nama Bintang (dua ponakan saya ingin menamakan bakal adiknya yang masih dikandung ibu mereka Bintang), saya teringat sama Bintang Kejora.

Bintang Kejora adalah nama seorang pemuda bermoge yang keliling njajah deso milang kori untuk menjual sebuah produk yang absurd: Hujan. Bintang Kejora ini "hidup" dalam sebuah film tahun delapan puluhan dengan pemeran El Manik (sebagai Bintang Kejora) dan Rini S. Bono (sebagai wanita petrak, kelanang-lanangan, yang tak pernah berdandan, yang "membeli" produknya Bintang Kejora.

Film ini bisa dibilang unik karena si tokoh utama melakukan hal-hal yang tidak logis (menjual hujan), dan disikapi oleh tokoh-tokoh lain yang memandang ketidaklogisan itu, tapi dikerjakan secara detil dan permainan watak yang bagus. Well, film-film absurd macam ini mengingatkan saya pada film semacam The Cutter, atau Being John Malkovich, atau Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Film-film itu absurd, tapi digarap dengan detil permainan watak para pemerannya yang bagus. Jauuuuuh beda sama film-film Indonesia sok nyeni :D macam pasir berbisik (yang terlalu tak terjangkau buat kesuperawaman si pemimpi dan sama sekali tidak menyebabkan filmekstase).

Well, well, well, siapa ya sutradaranya? Saya jadi bertanya-tanya where are all those geniuses?

(Edit pertama: ternyata di blogger ada yang membahas film Bintang Kejora dengan lumayan panjang lebar, dan ternyata salah satu bintangnya adalah Ikranegara, yang adalah sesama apsasian :D)

Sejumlah Poin on Nabi Tanpa Wahyu

15/07/08 | by wawan [mail] | Categories: Sastra

Ada sih beberapa poin yang ingin saya tulis tentang Nabi Tanpa Wahyu:

1. kesangatbebasan si hudan hidayat
2. sikap hudan hidayat yang mengkampanyekan orisinalitas dengan begitu sangatnya hingga bersikap agak anti sikap mengambil wacana "dunia" (begitu dia menyebut wacana pemikiran barat) dengan begitu saja tanpa mencoba menandinginya.
3. sikap hudan yang "melawan" banyak "orang" sekelas budi darma dan iwan simatupang, dan dengan lumayan obsesif menunjukkan cacat-cacat mereka, tapi untuk orang-orang semacam fadjroel rahman, chavchay, dst. hudan "hanya" memperhatikan poin-poin kuat (atau yang hudan sukai dari mereka)... yang mana menegaskan pernyataan hudan di salah satu esai bahwa kritik sastra di indonesia itu (kira-kira) hanya ditulis teman sendiri.
4. sikap hudan yang anti takingforgranted wacana-wacana internasional tapi memandang novel orang asingnya albert camus lebih dengan sikap memuja, bukan kritis
5. aromanya lebih berupa apresiasi kreatif tinimbang kritik(nah, inilah yang patut dihargai dari upaya seorang novelis yang mencoba mengapresiasi dunia di sekelilingnya)

Sementara begitu saja dulu. Untuk lebih lengkapnya, kayaknya ya nanti kalo saya sudah benar-benar bisa menuliskan resensi yang utuh. :D Well, well, well ... selain buku, kita butuh sesuatu yang hebat untuk bisa menulis resensi: WAKTU!!!

Salam

Menghudan Tanpa Wahyu

14/07/08 | by wawan [mail] | Categories: Sastra

Sebenarnya sudah agak lama saya pingin menulis sebuah review yang utuh, seperti pada kehidupan-kehidupan saya sebelumnya (alah!). Tapi ya, kesibukan mengejar kekayaan duniawi telah mengalienasi saya (halah! lagi). Tapi... jangan kuatir, minggu-minggu terakhir ini, ketika dunia tak lagi mampu mengekang saya, ketika Tuhan benar-benar mewujudkan impian saya (aamiiin), saya mulai lagi deh bisa merencanakan sebuah review yang utuh.

Sebuah resensi yang utuh, bagi si Pemimpi yang blogger jelata yang memiliki benih-benih narsis varietas unggul ini, adalah sebuah resensi yang dilandasi oleh semangat belajar, benar-benar belajar, syukur-syukur tanpa ada penyusup yang namanya "ingindimuatdikompas". Ya, tanpa ada penyusup itu. Kalo Kompas mau memuat ya... itu kan efek sampingan saja.

Terus, review apa yang pingin saya tulis itu? Ya, pasti, review itu adalah review atas buku Nabi Tanpa Wahyu-nya Hudan Hidayat. Kenapa harus buku itu? Ya, karena, unpungkirily (ini bahasa inggris baru, artinya, "tak dapat dipungkiri"), perkenalan saya di milis apsas dengan dia dan berlanjut di multiply, benar-benar membuat saya ingin tahu bagaimana sesungguhnya Hudan yang Hidayat ini.

Setelah saya baca-baca lagi bukunya (yang sudah saya beli berbulan-bulan berselang dan bahkan sudah saya singgung di berbagi mimpi v.0.1), saya semakin menemukan sejumlah keunikan dan ... well ... kelayakkritikan Hudan Hidayat yang saya rasa akan sangat berharga untuk saya pelajari selaku seorang calon penulis novel top ini (wekekekek).

Ya, tunggu saja deh, saya akan bikin review yang sekomprehensif mungkin dalam beberapa hari ke depan, dan akan saya muatkan di media kebanggaan saya wawanekoyulianto.multiply.com. Dan kalau ada koran yang kepincut ya monggo saja (alah!!!).

Dibuka, Berbagi Mimpi versi non blogspot

13/07/08 | by wawan [mail] | Categories: Pambuka

Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan sebuah solusi yang asyik untuk mengatasi kebutuhan saya untuk bermultiblog. Berkat 000webhost.com yang telah memberikan space hosting gratis untuk domain www.berbagi-mimpi.info yang cantik ini, dan fasilitas autoinstallernya yang menawarkan instalasi mudah untuk b2evolution, akhirnya dengan resmi saya nyatakan ini sebagai blog resminya si pemimpi yang wawan yang eko yang yulianto ini.

Semoga dengan domain resmi dan hosting gratis serta engine b2evolution ini, si pemimpi bisa blogging dan mimpi dengan lebih terarah dan terencana. Oke?

Have a nice time blogwalking buat Anda sekalian. Hehehe...