Petualangan Huck Finn: Berdialek Tidak Satu, Dialek Selatan

Untuk menghemat listrik, saya nggak usah pengantar panjang-panjang, karena saya yakin Anda semua sudah kenal Huck Finn. Pasti Anda juga pernah kenal Mark Twain–ya, dia terlalu sering dikutip para penulis di Indonesia, hehehe. Ya, Huck Finn pertama kali muncul di novel Twain yang berkesan novel kanak-kanak berjudul The Adventures of Tom Sawyer sebagai temannya Tom Sawyer yang tinggal di hutan dan well… bisa dibilang kurang beradab (menurut standar masyarakat mereka). Namun, sekitar sepuluh tahun setelah booming novel Tom Sawyer itu, muncullah novel lain agak-agak mirip berjudul The Adventures of Huckleberry Finn, yang ceritanya dinarasikan oleh si Huck Finn dan dalam banyak aspek lebih mantjap daripada ceritanya si Tom–meskipun sebenarnya tak bisa melepaskan diri dari Tom Sawyer. Benar saja, hingga saat ini, pembaca dan kritikus lebih banyak membahas petualangannya si Huck Finn. Nah, saking banyakdanluasnya aspek novel ini, saya akan coba meresensi setopik demi setopik (wah…kalau dikirim ke media, koran mana ya yang kira-kira mau memuatnya, hmmm… saya pikir2 dulu deh :D ). Tapi untuk jadi cerita anak-anak petualangan Tom Sawyer lebih banyak disuka.

Pertama kali ini, saya akan mulai membahas dari yang paling sederhana, yang tentunya juga kegemaran saya, yakni: bahasa

Ceritanya, setelah menemukan harta karun perampok di sebuah goa bersama Tom Sawyer dalam novel “The Adventures of Tom Sawyer,” Huck Finn jadi kaya karena harta temuan mereka itu dibagi dua, masing-masing 6 ribuan dolar. Namun karena usia Huck yang masih kecil, sekitar 13-an tahun, maka harta itu pun dititipkan kepada pak hakim di kawasannya itu dan dia hanya bisa mengambil sedolar demi sedolah setiap harinya. Dan Huck Finn yang awalnya tinggal di hutan bersama ayahnya yang nggak jelas dan suka mabuk itu pun akhirnya diasuhkan ke Janda Douglas. Huck Finn disekolahkan. Dia juga mulai ke gereja. Namun, yang namanya Huck Finn, yang “mengandung” keras kepala diramu sama naif ditambah sedikit campuran konyol plus gak bisa becanda, dia seringkali membantah. Satu bagian yang tengil di awal cerita adalah ketika Janda Douglas menceritakan tentang Sulaiman kepada Huck. Huck ngotot ingin tahu siapa itu Sulaiman dan apa pentingnya dia mendengar tentang orang itu. Si janda bilang bahwa Solomon adalah orang dari masa lalu, sekarang sudah meninggal, dan hidupnya bisa menjadi contoh. Namun, Huck Finn malah ngotot tak mau dengar dan bahkan bilang “aku nggak peduli sama orang mati.” Suatu ketika, si Huck Finn yang sebenarnya agak-agak takut gimana sama bapaknya ini melihat jejak sepatu yang ganjil, sepatu bapaknya. Langsung saja dia kasihkan duit yang sekitar 6 ribuan dolar itu kepada si jaksa, dan dia cuman mau satu dolar saja karena takut uang itu akan diambil bapaknya. Akhirnya, waktu dia ditangkap bapaknya dia gak bisa ngasih apa-apa. Singkat kata, si Huck “diculik” bapaknya sendiri dan diajak hidup di hutan lagi. Singkat kata lagi dia meloloskan diri naik kano, terus nemu rakit, terus ketemu Jim, budak yang kabur, dan seterusnya, dst, dsl, dsb, dllajr (kisah detilnya saya ceritakan nanti saya sesuai kebutuhan topik yang akan saya bahas, oke?).

Nah, hal yang mencolok sejak paragraf pertama adalah penggunaan bahasa dalam novel ini. Bisa dibilang, bahasa Inggrisnya tidak standar. Bukannya apa, itu memang bahasa Inggris yang dipakai orang-orang Amerika bagian Selatan (kebetulan di sini ceritanya si Huck Finn tinggal di kota (fiktif) St. Petersbur, Missouri, yang bnayak terinspirasi dari kota Hannibal, Missouri, tempat masa kecilnya Mark Twain). Sudah begitu, si Huck Finn sendiri adalah orang yang baru saja diperadabkan, baru disekolahkan, baru diajak ke gereja, dll. Dia disebut separuh melek huruf. Di paragraf pertama novel ini ada kalimat:

“YOU don”t know about me without you have read a book by the name of The Adventures of Tom Sawyer; but that ain”t no matter.”

William Dean Howells, sang dekannya sastra Amerika jaman itu, pernah bilang bahwa di sini Mark Twain menunjukkan kecanggihan karena benar-benar menunjukkan bahasanya orang Amerika, bukan bahasa Inggris sebagaimana mereka warisi dari orang Inggris sendiri (saya sendiri sih nggak begitu ngerasa selain “ain”t no” itu–menurut Howells sendiri “withouth you have read” itu sangat salah menurut kaidah inggrisnya orang Inggris). Dan di sinilah letak pujian Howells. Dan dengan itu pula Mark Twain berada di kutub yang berbeda dengan Henry James yang lebih fokus ke penelusuran tema dan psikologi sementara bahasanya sangat “kemlandang” Inggris.

Selanjutnya, lebih ke dalam kita akan tahu bahwa grammarnya orang Selatan jaman itu memang amat beda dengan Inggris standar, 1) selalu menggunakan double negasi “I couldn”t do nothing but sweat”, “I don”t take no stock in dead people”, dst. 2) penggunaan to be dan auxiliary verb yang ganjil, “when we WAS waiting”, 3) penggunaan “by and by” untuk memaksudkan “then” (walah, sori, ini sih bukan bagian dari grammar :D ), 4) penggunaan kata kerja lampau yang unik dan terkesan kurang teratur, semisal “clumb” sebagai bentuk lampu “climb”, “brung” untuk “bring”, atau kadang-kadang tidak diubah seperti “give”, “done” untuk “do”, dst.

Wah, sori, kok jadi membosankan begini. Maaf, sementara saya menganggap bahwa meski pahit kebenaran harus disampaikan, hehehe…

Selanjutnya kita akan ketemu dengan bahasa Inggris dialeknya orang-orang kulit hitam, yang masa itu masih menjadi budak (selanjutnya akan ada pembahasan terpisah tentang perbudakan dan rasisme, oke?). Bahasa Inggris yang mereka pakai ini pada dasarnya memang berbeda secara bunyi dan grammar, dan di sini Mark Twain tambah memaksimalkan keberbedaan bahasa mereka itu dengan menggunakan ejaan yang sepertinya dibikin Mark Twain berdasarkan bunyi yang dia dengar. Di sini kelihatannya benar-benar kacau, khususnya buat kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris. Tapi, begitu kita mulai sok tahu dan membayang-bayangkan bunyi dari kata-kata itu, insya allah kita bisa memahami kok maksud orang-orang itu. Berikut ini sampel gratis dari saya, silakan dicicipi:

“Who dah?,” atau…

“Say, who is you? Whar is you? Dog my cats ef I didn” hear sumf”n. Well, I know what I”s gwyne to do: I”s gwyne to set down here and listen tell I hears it agin.”

Bagaimana, kelihatannya saja to yang aneh, kalau sudah kita bayangkan bunyinya (dan apalagi kalau tahu konteksnya), sepertinya tidak akan sulit buat kita—paling-paling beberapa kosakata saja yang kita kurang akrab akan menjadi masalah, lain itu tidak. Tapi, di sinilah hebatnya Mark Twain, selain keberhasilan upayanya membuat bunyi yang unik itu, dia juga berhasil mengidentifikasi bahasa yang dipakai para budak nih (wah, kok kayak Upin dan Ipin ya? “mana budak-budak nih? lambat kali kayak siput!!!!” hahaha…). Sebelum masuk cerita, ada sebuah bagian yang namanya “Explanatory”, di situ Mark Twain membuat sebuah pernyataan yang, well… tidak bisa sepenuhnya dianggap guyon. Begini bunyi pernyataan itu:

“IN this book a number of dialects are used, to wit: the Missouri negro dialect; the extremest form of the backwoods Southwestern dialect; the ordinary “Pike County” dialect; and four modified varieties of this last. The shadings have not been done in a haphazard fashion, or by guesswork; but painstakingly, and with the trustworthy guidance and support of personal familiarity with these several forms of speech.

“I make this explanation for the reason that without it many readers would suppose that all these characters were trying to talk alike and not succeeding.”

Nah, unik bukan? Begitu ngototnya si Mark Twain ini dalam urusan bahasa kali ini. Makanya, tak heran kalau suatu kali Twain bilang jangan sampai kita menulis tentang suatu daerah dengan setting lokal kental sebelum tinggal di tempat itu selama 15 atau 20 tahunan gitu. Peh! Mengjengkelkan sekali ini buat banyak orang! Hehehe… Padahal, banyak sekali dari kita yang tinggal di suatu tempat beberapa bulan saja langsung bisa bikin novel atau kumpulan cerpen tentang daerah yang bersangkutan. Hmmm… tapi ya, namanya orang juga berbeda-beda… Bisa juga Mark Twain melebih-lebihkan. Tapi (lagi) Mark Twain memang membuktikan keakrabannya dengan daerah-daerah yang dia tulis memang sangat berpengaruh, seperti halnya Joyce yang meski lebih separuh masa hidupnya habis di Eropa tidak sekalipun menulis cerpen tentang Eropa. Sudahlah…

Nah, seperti itulah ngototnya seorang Twain dalam hal bahasa. Semoga pada resensi selanjutnya (halah!!! resensi kok bersambung :D ) saya bisa membahas yang lain, kalau bukan “kelucuan” ya “rasisme” ya “kedudukan otoritas” ya “otentisitas”… Well, pokoknya begitulah. Selamat menikmati. Saya akan senang sekali kalau saudara hadirin sekalian berkenan membaca novel ini dan ngasih komen sedikit banyak gitu. Piye? Piye?

Add a Comment Trackback

Add a Comment