November
On Mengkritik Sastra
Posted by wawan at 3:33 AM. Placed in macem-macem category
Nah, tibalah akhirnya pada masa yang saya tunggu-tunggu: masa mengkritik sastra (ciyyeee…). Dalam posting yang berbahagia ini, saya pingin lagi menumpahkan segenap kegelisahan yang meski saya coba hindarkan dengan berbagai aktifitas tetap saja tak tertepiskan. Jangan katakan ini masalah sederhana, sebab buat saya hal paling sepele pun sangat mengkhawatirkan. Yah, pasti Anda sekalian tahu saya telah mencoba menabrak rambu dalam penulisan, mencoba membuka mata lebar-lebar agar bisa menyerap semua tanpa tersilaukan, mencoba memasang sejenis detektor di paru-paru saya agar meskipun saya menghirup segala udara yang ada di hadapan mata masih tetap saja ada proses seleksi untuk menentukan mana yang akan saya proses untuk dijadikan bahan bakar di dalam darah dan mana yang harus dibuang seperti sedia kala… Halah!!! Kok mbulet begini. Intinya, saya ingin belajar tanpa harus terbutakan oleh apa yang saya pelajari!
Akhir-akhir ini, saya bertanya-tanya, bagaimana sih asyiknya sebuah kritik sastra itu. Sekedar mengingatkan saja, yang dimaksud kritik di sini bukan saja menyoroti kejelekan sebuah karya sastra dan kemudian mengatakan bahwa inilah yang jelek. Saya coba selalu mengingat yang itu. Selain itu, saya selalu berhati-hati untuk tidak terlalu terpesona oleh teori-teori mutakhir yang biasanya akan membuat seseorang tampak pinter kalau mengutipnya dalam tulisan. Atau, yang lumayan mengganggu saya, jangan sampai saya tertarik membahas satu bagian dalam karya sastra secara berlebihan, dan menghubung-hubungkannya dengan fakta sejarah, sementara karya itu sendiri sebenarnya memiliki banyak kecacatan–atau, setidaknya, jika saya ingin melakukan itu, saya harus membuat semacam apologi kepada pembaca yang menyatakan bahwa yang saya bahas ada satu elemen saja dengan alasan-alasan yang masuk akal.
Ya, sementara itulah yang menjadi rambu-rambu di pikiran saya sebelum mengapresiasi sebuah karya–seperti biasa, saya hanya percaya kesementaraan, jadi ya hal-hal itulah yang berlaku SEMENTARA INI… (Weh… kok saya rasa-rasakan gaya kalimat saya ini kayak testimoni seorang kritikus T O P B G T ya? Hehehe… Padahal ngritik apaaaaa juga saya ini hehehe…).
Nah, terus apa yang sejauh ini saya pakai? Karena satu lain hal, sahaya menempuh jalan konvensional yang harus diperhatikan sebelum mengkritiksastra.
Pertama, bacalah karya sastranya!!!! Hahahaha… Bukannya apa sih, ada lho orang yang sokmengkritiksastra tanpa membaca sepenuhnya karya yang bersangkutan. Wah, kalau sampai ada yang ketahuan mengaku seperti ini di hadapan hamba yang berbahagia ini, ya pastilah seumur hidup tidak akan saya baca tulisannya, kecuali dia bertobat dan dibasuh tujuh kali dan salah satunya dengan dicampur tanah, hehehehe…
Kedua, lewati dulu ”pembacaan” elemen-elemen mendasar. Karena saya lebih tertarik ke prosa, ya setidaknya kita lihat dulu karakterisasi, setting, plot, dan kemudian masuk ke tema, dst. Nggak tahu lagi ya, apa karena terlalu kesengsem sama yang namanya tema-tema eksternal dan teori-teori myutyakhyir, kita cenderung langsung mengarahkan mikroskop literer kita ke tema dan mengkait-kaitkannya dengan teori-teori sosial, filsafat (biyyyuuuuuh… mbok yao eling marang sangkan paraning dumadi, heleh!). Parahnya, seringkali mereka-mereka yang ”khilaf” itu menggunakan teori-teori yang kelincipen itu untuk menelaah penulis-penulis muda yang baru mengeluarkan satu buku dan belum teruji baik oleh tolok ukur ilmu maupun oleh jaman baik akurasi data-data yang mereka sampaikan dalam karyanya itu (ingat Marquez yang suka bilang bahwa kalau ada satuuuuu saja kesalahan dalam sebuah karya sastra, tidak salah jika kita meragukan keabsahan bagian-bagian lain dalam karya itu) atau akurasi semangat jaman yang dia coba cerap. Eit!!! jangan pikir saya sentimen pada penulis yang baru menerbitkan buku pertama ya. Kalau sampai Njenengan beranggapan demikian, cobak deh baca lagi kalimat yang dimulai dengan “Parahnya…” dan diakhiri dengan “…cerap” itu, dan gunakan seluruh imajinasi dan pemahaman logika, silogisme, dst. dll. dllajr njenengan
.
Ketiga, saya akan mencoba mengkait-kaitkan antara tema dengan karakterisasi, karakterisasi dengan setting, setting dengan plot, dan lain-lainnya… untuk mengetahui secara menyeluruh bagaimana keutuhan karya yang bersangkutan. Well, seperti halnya hadits yang mengatakan ”kita tidak tahu di bagian mana letaknya gizi dalam sebuah makanan itu”, kita juga sebenarnya tidak pernah seratus persen tahu di bagian mana seorang penulis meletakkan gizinya, dan kita juga tidak tahu kenapa seorang penulis memilih meletakkan salah satu tokoh di bagian tertentu dalam cerita, dll. Di situlah asyiknya menelaah karya sastra. Asyik sekali rasanya kalau kita ”menemukan” bahwa: ketika Huck Finn dan Jim menganggur di atas rakit, mereka ngobrol tentang penciptaan dan lain-lainnya di hadapan langit telanjang yang menunjukkan spot-spot cantiknya, di situ ada banyak hal, misalnya 1) mengkontraskan dengan tokoh Duke dan King yang berpretensi menjadi orang yang lebih beradab tapi pada saat menganggur malah merencanakan bagaimana menipu orang, 2) menyoroti bagaimana Huck Finn menebak2 bahwa alam mungkin saja tidak diciptakan tapi ada begitu saja, atau 3) menunjukkan keseimbangan cerita setelah melewati klimaks kecil dan sedang menata batu-batu literer yang selanjutnya akan menuju ke klimaks-klimaks yang lain. Well, begitulah… Btw, bagian-bagian yang seperti inilah yang insya allah dalam kacamata orang Amerika dianggap sebagai close reading. Well,…. terus-terang bukan seperti caranya seorang penyair yang membahas karya seorang penyair muda berbakat dengan menggunakan teori-teori filsafat bahasa canggih tanpa bahasan kongkrit yang memadai atas elemen2 karya yang bersangkutan…
Selanjutnya, kalau masih belum puas dengan close reading, mungkin saya akan lanjutkan dengan yang lebih tinggi lagi, yakni pembahasan tema-tema yang lebih meluas. Bisa saja kita bahas material sejarah karya itu, jika karya itu memang layak kita pandang sebagai artefak budaya/sejarah. Bisa juga kita ”mendemistifikasi” karya itu kalau kita menganggap ada proses signifikansi ”nakal” yang perlu diwaspadai di baliknya. Biasanya sih yang seperti ini disukai para pelaku poskolonial studies dan cultural studies. Well, sejauh ini, karena kurang modal, saya masih belum sampai ke tahap ini (ya… ada sih beberapa studi semacam ini, tapi ya… kurang pantaslah kualitasnya untuk dipamerkan
).
Saya nggak tahu lagi, akan bagaimana lagi saya bisa menjalankan kritik sastra ini. Sementara ini, begitulah yang saya yakini, entah esok hari, entah lusa nanti, entah….