December
‘William Dean Howell, Menyerap Jaman, Meramal Depan
Posted by wawan at 5:39 AM. Placed in macem-macem category
Semingguan kemarin bisa dibilang saya nyungsep 24/7. Secara fisik sih pindah-pindah tempat nyungsepnya, kadang di ”dungeon” perpustakaan (halo kak dewi, istilahnya tak pinjem ya?), kadang di kos-kosan, kadang di lab komputer, kadang-kadang di kafe sambil ditemani coklat panas, kadang di tempat nongkrong ditemani teman-teman lalu lalang, kadang di kos-kosan teman, kadang di toilet perpustakaan (ups…), pokoknya di mana-mana deh, asal ada kertas atau wireless. Kenapa nyungsep? Ya gitu deh… namanya juga mahasiswa (ciyyeee… mahasiswa gitu loch!), ya ngerjakan tugas lah… Apa tugasnya? Nah, ini dia topik kita pada episode ini: Kemampuan William Dean Howells Menyerap Trend Jaman dan Meramal Trend Koran Kuning. Gimana? Kedengaran terlalu “koran kuning” ya? Hehehe…
Jadi begini intinya: menurut pembacaan saya, Howells ini dalam novel A Modern Instance bener-bener bisa menyerap trend jurnalism di Gilded Age dalam sejarah Amerika. Apa tren jurnalisme di jaman itu? Trennya antara lain adalah: 1) adanya jurnalisme idealis yang mengejar berita dengan susah payah meskipun upahnya juga payah (konon begitulah etika kerja jaman kapitalisme awal di Amerika) 2) adanya jurnalisme yang super kapitalis, sangat iklan-oriented, sehingga kebijakan-kebijakananya banyak dipengaruhi oleh urusan iklan-mengiklan ini, 3) adanya jurnalisme yang gila sensationalisme, sehingga banyak menyedot perhatian orang.
Nah, setelah saya pelototi novel A Modern Instance, terutama pada bagian-bagian karirnya si Bartley di bidang jurnalisme, saya melihat bagaimana Bartley ini berjuang untuk tidak sepenuhnya terbawa ke sisi yang idealis abis, tapi juga nggak jadi orang yang kapitalis-kapitalis amat. Di sinilah, saya menginceng si Bartley ini berdasarkan empat tahap dalam umur jurnalistiknya.
Pertama, selama dia masih di Equity, kota kecil fiksional yang kira-kira ada di negara bagian Maine. Selama di Maine ini si Bartley mempraktikkan jenis jurnalisme yang seimbang antara mencari uang dengan menuruti hasrat idealisnya. Dia menjalankan koran kota yang sudah hampir mati, dengan menggaji gadis-gadis pekerja magang dan seorang editor murah. Meskipun gak dapat untung banyak, dia lumayan bisa hidup dan menyalurkan hasratnya bikin komentar-komentar sinis demi pemromosian kotanya
.
Kedua, selama dia baru awal-awal hijrah ke Boston, setelah dia kawin (lari) dengan Marcia. Di sini dia mulai nulis lagi, awalnya tentang pengalaman tinggal di Kamp Perambah Hutan di Equity dan selanjutnya tentang sulitnya cari tempat tinggal yang dapat dijangkau di Boston. Di sini, yang banyak menjadi sorotan saya adalah kemampuan dia dalam mengolah data dan mengefek sensasionalisme agar bisa menghasilkan artikel yang memancing pembacanya. Di sini dia mulai terpengaruh oleh Mr. Ricker, seorang editor senior di Boston yang memegang koran bernama Chronicle-Abstract, di mana idealisme lebih ditonjolkan.
Tahap ketiga adalah masa ketika dia sudah menjadi ko-editor di koran Events di bawah ketiak Mr. Witherby yang money-oriented banget itu. Di sini, Bartley mulai mengingkari sendiri idealismenya yang dia sampaikan kepada Mr. Ricker tentang koran idamannya, koran independen dalam berita, nggak disetir politik maupun pengiklan, koran yang bisa menarik massa seluas mungkin. Di tahap ini, Bartley semakin menunjukkan gejala money-oriented dan mulai keluar jahat-jahatnya. Dia menulis artikel-artikel promosi perusahaan-perusahaan tertentu, dan dia bahkan “mencuri” bahan dari Mr. Kinney temannya dan menulis sebuah artikel dan menjualnya ke Chronicle-Abstract. Dia mulai berani melewati batas publik dan privat. Dan di sini inilah puncak karir Bartley sebagai wartawan di Boston. “Kejahatan-kejahatannya” itu malah bikin dia kehilangan teman-teman dan pekerjaan.
Tahap keempat adalah masa ketika dia tidak ada lagi dalam novel, masa ketika dia sudah terlempar dari novel dan hanya terdengar sesekali saja (dalam suasana yang tidak mengenakkan). Di sini dijelaskan bahwa Bartley itu hidupnya sudah sangat terpuruk sekali ke dalam “cinta harta”, dengan membuat majalah gossip di Arizona dan Indiana. Di bagian ini, karakter si Bartley sudah tidak endah lagi. Dia sudah mandek. Dia sudah jadi Bartley yang positif menjadi budak harta, bekerja hanya demi mendapatkan uang saja. Tidak ada lagi Mr. Ricker atau Mr. Witherby yang bikin dia terombang-ambing dalam idealisme. Semuanya sudah pasti, dan tidak menarik lagi… dan dengan itu ditutuplah kisah karir jurnalistik Bartley.
Nah, dari pengamatan saya atas sepak terjang Bartley, Mr. Witherby, dan Mr. Ricker itulah saya mendapatkan data-data (ciyyyeee… kayak mahasiswa beneran, ngomong data bo”!) bahwa Howells ini sebenarnya sedang “bermain-main” dengan semangat jaman Gilded Age, yang berupa kinerja tingkat keren, mulai digemarinya sensasionalisme, dll dan meramalkan bahwa ketidakbisadicegahan semangat-semangat tertentu dari jaman inilah yang kelak terkumpul jadi satu, dan kemudian terjadilah ledakan Koran Kuning dengan eksponennya The New York World punya Joseph Pulitzer (itu lho… orang yang gara-gara koran jadi super kaya sehingga duitnya sekarang masih jadi hadiah tahunan karya-karya artikel, sastra, dan fotografi bagus di Amerika) dan The New York Journal punya William Randolph Hearst, orang yang kelak menjadi jutawan koran Amerika pemilik jaringan koran terbesar dunia (ya… kalau di Indonesia mirip pak Dahlan Iskan gitu deh, “Halo pak Dahlan, dos pundi kabaripun? Tasik sehat mawon to?”, dan btw anak cucunya si Hearst ini ada yang jadi model lho… tapi saya lupa siapa ya… nanti deh kalau ada tambahan saya update catatan ini…).
Begitulah saudara-saudara, senang sekali rasanya bisa berbagi mimpi lagi. Semoga segera bisa banyak berbagi mimpi. Sangat banyak sekali yang ingin saya ceritakan.
P.S. Btw, ini saya nulisnya dari salah satu meja di perpustakaan umum Fayetteville, di luar pemandangannya sangat suram, matahari sudah beberapa hari “lupa” muncul, cemara sih tampak ceria, tapi saya nggak yakin di kedalaman hatinya dia ceria…. di sebelah saya ada buku karya Eric Stone berjudul Flight of the Hornbill, tadi buku itu menarik saya karena kovernya bergambar wayang kulit, kalau ini wayah kulit di lihat dari sisi penonton, jadi kelihatan cuma “ayang-ayangnya”, “bayang-bayangnya”. Wayangnya sendiri sih jelas-jelas Werkudoro Seno Bima Ayah Gatotkaca. Hehehe… adaaaa saja bule-bule ini, nulis buku kovernya wayang, setting ceritanya ternyata di Jakarta, nanti deh saya baca…
Btw, lagi, pingin baca artikel bikinan saya itu? Ambil saja di sini