February
Ketanpanamaan dalam Invisible Man
Posted by wawan at 3:40 PM. Placed in sastra category
Satu hal yang sangat menonjol dalam novel Invisible Man adalah anonimitas. Anonimitas digunakan oleh Ralph Ellison dalam sebagian besar novel. Dan ada kesan anonimitas itu dilakukan secara sadar sebagaimana terlihat pada bagian-bagian di mana si narator dalam sebuah dialog ditanya namanya dan tiba-tiba saja tidak ada ucapan langsung melainkan “aku sebutkan namaku”. Hal ini juga tampak ketika si narator tidak sadar setelah sebuah kecelakaan kerja di perusahaan cat milik keluarga Emerson. Di situ dikisahkan bagaimana si narator mendapatkan pertanyaan bertubi-tubi tentang siapa namanya, siapa nama ibunya, dan siapa Jack the Rabbit. Begitu juga dalam hal nama-nama kota, di antara sekurang-kurangnya 3 kota di mana si narator pernah tinggal, hanya New York City yang disebutkan. Dengan konsistensi semacam ini, saya merasa ada sesuatu yang penting dalam anonimitas ini. Dan sepengamatan saya, anonimitas ini memang memberikan dampak positif bagi pembaca. Berikut akan dibahas tiga jenis anonimitas yang ada dalam Invisible Man, yakni anonimitas tokoh, kelompok, dan kota.
Anonimitas pertama, yakni anonimitas tokoh utama, seperti bertujuan untuk memfokuskan kita pada gerakan-gerakan si tokoh utama. Tokoh utama di dalam novel ini tidak menyebut namanya sama sekali. Setiap kali dihadapkan pada pertanyaan siapa namanya, dia hanya menarasikan, “Aku sebutkan namaku”. Kelak hal ini semakin kompleks, terutama ketika si narator masuk perkumpulan yang gerakannya terdengar sangat “komunis” dan mendapatkan nama baru, yang sekali lagi tidak disebutkan. Hal ini mungkin bertujuan agar pembaca tidak menghubung-hubungkan dia dengan tokoh-tokoh lain dalam sejarah, baik itu orang kulit hitam maupun orang non-kulit hitam. Dengan menghentikan asosiasi dengan tokoh-tokoh lain itu, pembaca jadi terfokus pada tokoh utama, terutama pada pikiran-pikiran dan tindakannya. Dia bisa menjadi orang kulit hitam manapun yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk belajar di universitas. Siapa saja yang kaget menghadapi kenyataan di universitas. Bisa saja dia menjadi seorang kulit hitam dari Selatan yang hijrah ke Harlem sejak tahun 1904. Dia bisa menjadi orang kulit hitam siapa saja yang masuk ke Partai yang memperjuangkan hak sipil. Dan pembaca juga akhirnya tidak menghubung-hubungkan si narator dengan orang-orang tertentu saat dia keluar masuk ke berbagai dunia. Dia meninggalkan namanya bukan karena “What’s in a name?” tapi lebih karena “There’s something in a name”. Hal tersebut terbukti ketika orang-orang mulai memanggilnya Rinehart dan setiap kali memasuki satu lingkungan berbeda dan orang-orang memanggilnya dengan nama yang sama dia jadi bingung. Tapi, dengan “Rinehart” si narator akhirnya menyimpulkannya sebagai seorang bunglon yang bisa berpindah-pindah. Kalau dihubung-hubungkan dengan James Joyce, di sini bisa dibilang dia senada dengan Joyce, yang beranggapan bahwa nama selalu penting dan nama semua tokohnya memiliki signifikansi tertentu. Tapi, karena tokoh-tokoh Joyce relatif memiliki peran sendiri-sendiri, terutama dalam epik sehari semalam Ulysses, maka memungkinkan bagi Joyce untuk memberikan nama-nama tersebut. Sementara, untuk narator Invisible Man yang berpindah-pindah dunia ini, dengan logika yang sama dengan yang dipakai Joyce, satu nama tidak akan bisa mewakili. Dan dengan ketanpanamaan itu, kebingungan identifikasi bisa dikurangi, dan perhatian terfokus pada segala tingkah laku sang tokoh.
Anonimitas kedua adalah anonimitas kelompok, yakni the Brotherhood, yang dampaknya adalah membuat segalanya menjadi universal dan bisa berlaku buat semua kelompok yang mendukung perjuangan hak sipil warga kulit hitam. Sejak pertama kali dipertemukan dengan seorang lelaki kulit putih yang ikut turun campur dalam dispossession seorang wanita tua, dan seorang gadis kulit putih yang menunjukkan jalan keluar, kita terutama yang tahu sejarah perjuangan hak sipil kulit hitam tahun 30-40-an atau yang kebetulan pernah membaca Native Son (seperti saya misalnya,
) akan bisa menebak bahwa yang dimaksud di sini adalah Partai Komunis Aa’ Sam. Dan ketika beberapa lembar kemudian disebutkan bahwa nama perkumpulan itu adalah Brotherhood, kita juga tetap akan menghubungkannya dengan partai komunis. Tapi, santai partai Brotherhood mulai menarik diri dari gerakan Black Nationalism dengan alasan hal itu akan semakin menjauhkan mereka dari poros kepemimpinan yang mereka coba jangkau dengan cara halus demi mulusnya revolusi, kita akan mulai bertanya-tanya. Apalagi, di tahun-tahun itu Partai Komunis Amerika mulai mendapat orang dekat seperti misalnya Anggota Dewan Adam Clayton Power, Jr. Brotherhood seperti semakin menjauhkan diri dari cita-cita perjuangan orang kulit hitam, dan pembaca akan lebih dibawa ke permasalahan ras, di mana orang kulit putih lebih fokus pada perjuangan demi kesejahteraan bersama, bukan hanya orang kulit hitam, sementara orang kulit hitam yang hidupnya masih belum normal setelah perlakuan kasar rasialisme selalu memiliki alasan “ras” dalam segala perjuangannya. Dan dengan ini, permasalahan jadi kembali terfokus kepada isu rasialisme, bukan sekedar isu politik kepartaian Marxisme.
Anonimitas terakhir, yakni anonimitas geografis, bertujuan memberikan fokus antara selatan dan Harlem saja, antara semua daerah selatan yang ditandai dengan penerapan hukum Jim Crow dengan Harlem, sebuah kawasan yang pada masa itu disebut sebagai ibukota kulit hitam Amerika, berbeda dengan Chicago maupun Detroit, meskipun di sana juga banyak orang kulit hitam. Di sini, yang penting dari dua kota awal tempat si narrator tinggal, yakni kota tempat asal dan kota tempat kuliah si narrator, tidak disebutkan namanya, tapi yang pasti adalah keduanya merupakan representasi dari kawasan Selatan di masa Hukum Jim Crow. Satu kota adalah kota yang ororitas pasca-Rekonstruksi didominasi oleh orang kulit putih, sebagaimana diindikasikan oleh pesan kakeknya tentang menjadi “yes man” (atau dalam dialek kulit hitamnya “yessum-yessuh”) dan adegan adu tinju mahasiswa kulit berprestasi di hadapan para tokoh kaya kulit putih. Kota lainnya merepresentasikan kondisi orang kulit hitam yang berpendidikan tapi ternyata dikuasai oleh sosok Uncle Tom, atau orang kulit hitam yang menjilat orang kulit putih. Dengan kota-kota Selatan yang tak disebut nama ini, pembaca hanya akan diarahkan pada kawasan selatan yang menerapkan segregasi ras, tanpa harus membuat pembaca menghubungkannya dengan kota-kota tertentu secara khusus. Sementara Harlem disebutkan karena Harlem adalah kota yang istimewa di dalam sejarah Kulit Hitam Amerika sebagai–bersama Chicago, Detroit, dan Los Angeles–satu sasaran hijrah orang-orang kulit hitam dari Selatan pada dekade-dekade awal abad ke-20. Harlem pada tahun 30-40-an merupakan tempat yang mayoritas penduduknya adalah orang kulit hitam yang tercatat pernah memiliki beberapa kejadian yang memberikan kekuatan politik pada tingkat tertentu bagi orang kulit hitam, seperti misalnya kesempatan kerja. Gejolak pergerakan juga terlihat marak di Harlem: Marcus Garvey mendapatkan banyak pengikut di Harlem, partai komunis mendapatkan banyak pendukung dan mendukung banyak hal dalam perjuangan orang kulit hitam, gerakan Black Panther juga berkembang sangat pesat. Jadi, penyebutan Harlem menjadi sebuah keharusan, karena dia merupakan kebalikan kongkrit dari selatan yang berbau Jim Crow. Dan anonimitas kota-kota Selatan itu semakin membantu menyoroti jukstaposisi ini.
Dengan fungsinya dalam membantu apresiasi pembaca akan keluwesan tokoh dalam keluar masuk golongan dan memfokuskan pada tindakan-tindakan dan pikiran-pikirannya, menghindari penyebutan secara langsung partai-partai tertentu yang menyempitkan pemaknaan pembaca akan kelompok yang ada dalam novel ini, dan memberikan gambaran yang relatif “universal” tentang kota-kota Selatan dan mempertajam jukstaposisinya dengan Harlem, anonimitas dalam Invisible Man memberikan kemungkinan yang lebih besar kepada kisah novel ini untuk menjadi lebih universal, lebih memberi kebebasan pembaca, terutama pembaca yang tidak tahu latar belakang pasti si penulis, untuk mengidentifikasi orang-orang, kelompok-kelompok, dan tempat-tempat secara lebih bebas. Jadi, bisa dibilang, novel ini bisa menjadi catatan sejarah yang universal aktivisme hak sipik orang-orang kulit hitam Amerika.