July
Bersepeda di Tengah Hiperrealitas
Posted by wawan at 10:59 AM. Placed in diari, sepeda, serbasuka category
Catatan Persepedaan
Beberapa waktu yang lalu, pulang ke kos-kosan sore-sore rasanya jenuh sekali. Ada banyak sekali hal yang menyebabkan kejenuhan itu, saya yakin (tak perlu disebutkan di sinilah). Akhirnya, meskipun banyak tugas menanti, saya putuskan untuk bergerak badan sedikit. Bersepeda.
Setelah melakukan hal-hal vital sebelum bergerak badan, semisal makan, minum, dan berdoa
, saya langsung buka komputer sebentar, ke google maps. Saya tahu ada track sepeda di dekat kosan saya. Ada 3 track yang sambung menyambung. Saya sudah hapal betul 2 di antaranya, tapi kali ini saya pingin yang lengkap, dari kepala track pertama sampai ekor track ketiga. Setelah yakin cara mencapai ujung track pertama, saya langsung genjot sepeda lewat jalan-jalan kampung dulu menuju kepala track pertama.
Frisco Trail
Itulah nama track pertama. Ini merupakan track olahraga perkotaan pertama yang dibangun di Fayetteville, Arkansas. Trail ini berupa jalan beraspal dengan ukuran sekitar selebar 3,5 meter dan dibagi menjadi 2 jalur yang dipisah garis kuning di tengahnya. Oh ya, sedikit belajar sejarah, ketiga trail ini merupakan bagian dari Heritage Trail yang merupakan penghormatan atas Trail of Tears, yaitu jalur yang ditempuh oleh para Indian di tahun 1830-an awal dari kampung halaman mereka di sekitar Timur Amerika, antara lain negara-negara bagian yang sekarang bernama Florida, Alabama, North Carolina, menuju teritori yang khusus dibuat untuk para Indian di negara bagian Oklahoma, demi kebebasan, demi hidup tidak dibawah hukum yang dibuat orang-orang Amerika. Jalur yang melewati Arkansas ini disebut jalur tangis karena memang banyak sekali penderitaan yang dialami para Indian ini selama perjalanan di jalur ini. Bayangkan, berjalan kaki (atau sebagian naik gerobak) di Amerika diawali pada musim gugur. Meskipun Arkansas adalah bagian Selatan Aa” Sam, yang relatif lebih dekat ke ekuator, suhu di musim dingin bisa mencapai -20 derajat celsius,
. Ada banyak kisah memilukan tentang ribuan warga pribumi ini yang meninggal karena kedinginan dan kelaparan, ada juga yang melahirkan di tengah kondisi super dingin itu, dan sebagainya. Mungkin sebagai permohonan maaf orang Arkansas jaman sekarang, maka dibuatkan Heritage Trail itu, yang salah satu perwujudannya adalah jalur olahraga ini.
Oke, sementara cukup dulu pelajaran sejarahnya. Akhirnya bersepedalah saya. Frisco Trail membelah semacam hutan-hutan kecil yang menjadi milik negara bagian. Trail ini meliuk sedikit ke sana kemari mengikuti sungai kecil yang sulit dilihat dari trail karena saat ini tertutup rimbun dedaunan. Di sepanjang jalur ini ada bangku-bangku besi yang disiapkan khusus untuk para pengguna yang capek atau apa. Tapi, sore itu saya melihat seorang bapak paruh baya sedang duduk di salah satu bangku sambil membaca buku, dengan kotak makanan di sebelahnya. Ah, nikmat sekali hidupnya. Membaca buku sore-sore menikmati semilir angin dan risik daunan””padahal, sebenarnya suhu udara sangat panas, lebih dari 35 derajat celsius di awal musim panas ini. Apakah seperti ini masa pensiun Anda nanti? Hehehehe… Selain itu, saya juga bertemu seorang ibu yang sedang mendorong kereta. Di kereta itu ada anaknya yang berusia sekitar 2 tahunan. Sesekali ibu itu berjongkok dan menyuapi si balita. Anjingnya setia menemani sambil menoleh kanan-kiri. Dia terikat tali yang terhubung ke kereta si balita. Salah satu peraturan yang wajib diikuti di jalur olahraga ini adalah “All pets must be on leash”.
Selepas hutan-hutan kecil itu, trail harus menyeberang jalan raya kecil. Ada tanda stop dan lampu kuning berkedip-kedip menyiagakan saya. Nah, mungkin saking favoritnya trail ini, di sebelah trail itu, tepat di dekat persimpangan dengan jalan raya, ada sebuah “warung” yang namanya Trail Side Cafe and Tea House. Sayang sore itu tidak ada orang yang ber-alfresco, nongkrong di kafe luar ruangan. Kalau ada pasti puitis, kayak suasana di film-film Perancis.
Setelah itu trail lewat kawasan kos-kosan dan berujung di tempat parkir depan Walton Arts Center, sebuah gedung kesenian megah yang pembangunannya didanai oleh dinasti kapitalis Walton, pemilik Walmart.
Selepas tempat parkir, saya harus menggenjot sepeda di trotoar, menyeberangi jalan Dickson, pusat hiburan malam. Di lampu merah banyak sekali orang yang menunggu tanda boleh menyeberang (gambarnya orang berwarna putih). Semuanya berbaju rapi gaya musim panas. Rapi tapi santai. Baru kemudian saya tahu bahwa di Walton Arts Center ada pertunjukan balet. Lalu sepeda melaju di trotoar depan cafe-cafe sore dengan pengamen dan saksofonis berekspresi kanan kiri. Jalan agak memuncak bukit. Saya mulai pindah gigi belakang ke gir 3, dan gigi depan tetap di gir 2, gir favorit. Selepas bar jalanan semakin menanjak, terpaksa gigi belakang harus pakai gir 7, demi menghemat tenaga, karena saya masih harus melewati 2 trail lagi.
Wilson Park
Setelah tanjakan dan turunan, sampailah saya di sebuah taman yang lumayan melembah, Wilson Park. Tempat ini adalah tempat rekreasi ringan yang lumayan favorit di kalangan keluarga-keluarga dan pertemanan, dan tentunya juga para penggemar olahraga. Ada sejumlah playground buat adik-adik, lapangan poli pantai buat para muda, 7 court tennis buat para penggemar, dan juga kolam renang yang kebanyakan penggunanya adalah adik-adik dengan pelampung warna-warninya (saat ini lagi ngetren yang namanya “swimming noodle“, yaitu pelampung yang bentuknya cuman seperti tongkat lentur dengan diameter berkisar 10 ““ 15 centi dengan panjang setinggi badan kita).
Di sekeliling Wilson Park ada lintasan lari kecil juga. Demi menghormati si Wilson, saya pun keliling satu putaran, dan sayangnya waktu itu saya kayak melawan arus.
“Am I going the wrong way?” tentu saja dengan senyum mendrenges.
“Haha… don”t worry, there”s never a wrong way here,” kata seorang pemuda yang berlari dengan i-Phone terikat di lengannya.
Scull Creek Trail
Saya meninggalkan Wilson Park sambil terengah-engah, tenggorokan nyaris keris. Sepertinya jalur Wilson Park dengan tanjakannya yang lumayan itu punya taring juga. Selanjutnya saya menuju trail kedua, Scull Creek Trail, yang kalau diterjemahkan jadi kedengaran kayak setting film silat, Jalur Kali Tengkorak (oh ya, di sini kali yang kecil ricik-ricik itu disebut “creek”, saya baru tahu bahwa river itu hanya untuk kali yang besar, semacam Kali Brantas atau Kali Mississippi). Jalur ini lebih meliuk-liuk dibandingkan Frisco Trail, karena mengikuti Kali Tengkorak yang liak-liuknya lebih banyak. Pada bagian yang turunannya sangat tajam dan kalinya harus menyeberang rel kereta api, jalurnya dibikin memutar dan menerowong di bawah rel kereta api. Di Amerika, kereta api terasa memiliki otoritas yang cukup mengerikan. Berjalan di atas rel selain untuk menyeberang adalah melanggar hukum karena tanah itu milik Railroad, perusahaan kereta api””apalagi kalau sambil nggandol kereta api (lihat kan bagaimana si Chris di Into the Wild dihajar sampai babak belur saat ketahuan nggandol kereta api?). Oh ya, kalau dibilang Railroad, lebih seringnya itu mengacu ke kereta barang atau batu bara atau gas. Kalau buat orang ada Subway dan Amtrak.
Karena sudah nggak tahan dengan kekeringan tenggorokan dan kebasahan baju, saya memutuskan sejenak keluar jalur yang kebetulan lewat kos-kosan seorang kawan. Saya minta pinjam botol minuman dan sekalian sama air putihnya tentu saja
. Saya tadi lupa bawa air minum sendiri. Setelah puas minum dan membawa bekal. Saya pun melanjutkan nge-trail lagi. Scull Creek Trail meliuk-liuk dengan asyiknya dan jalannya relatif agak menurun. Saya bisa memaksimalkan genjotan dengan gigi depan di gir 3, gir paling besar, dan gigi belakang di gir 1, paling kecil. Sangat berat sih awalnya. Tapi rasanya dahsyat. Kecepatan tinggi! Tapi ya, kadang-kadang harus mengerem juga kalau di depan ada pelari atau orang-orang yang ngajak jalan-jalan anjingnya. Nah, ini dia, salah satu pengguna setia trail ini adalah orang-orang yang mengajak jalan-jalan anjingnya. Di sini saya jadi kenal yang namanya labrador, cihuahua, golden retriever, greyhound, sampai German shepherd yang terkenal dalam film rintintin itu. Untungnya saya bersepeda. Untungnya anjing-anjing itu harus diikat. Untungnya anjing-anjing itu sangat baik, sahabat setia para manusianya. Kalau enggak, wah-wah-wah… keringat dingin pastinya tanpa harus menggenjot sepeda keras-keras.
Meski angin berhembus, hawa terasa gerah, panas. Satu-satunya yang bikin saya puas adalah keringat yang mengucur tanpa henti di badan dan kepala. Ada sensasi tersendiri ketika keringat yang asin itu melewat pelipis atau berhasil menembus rimbun alis dan jatuh di mata. Ada pedih, tapi lega. Sesekali saya berhenti untuk meneguk air putih yang mulai hangat itu. Menyenangkan juga rasanya sambil berhenti sejenak melihat orang-orang berolahraga bersama keluarganya. Ada seorang bapak yang bersepeda dengan gandengan di belakangnya, gandengan itu adalah kereta kecil yang berisi anaknya yang sedang berbaring sambil ngedot. Ada sekeluarga lengkap dengan 2 anak bersepeda kecil dan satu anak paling kecil di boncengan bapaknya. Keluarga… oh keluarga…
Scull Creek Trail adalah jalur terpanjang di antara ketiga jalur ini. Di sini jalur sepeda beberapa kali menyeberang jalan raya. Tapi, karena jalan raya yang diseberangi adalah jalur sibuk, berbeda dengan jalur yang saya seberangi pertama tadi, jadi trail harus diterowongkan. Terowongan pertama kira-kira cuman sekitar 20-30 meteran, menyeberangi Jalan Gregg. Tapi, di terowongan kedua yang menyeberangi Fulbright Expressway, salah satu pecahan dari jalur lintas negara bagian Interstate 540, saya harus melewati terowongan sepanjang kira-kira 100 meteran. Semua terowongan adalah sebenarnya jalan menerobosnya kali melewati jalan, tapi dimodifikasi sedemikian rupa sehingga antara jalan air dan jalan orang tidak campur jadi satu. Tapi ya, namanya berdampingan dengan air, terowongan itu jadi agak-agak becek di beberapa bagiannya. Saya jadi ingat film kura-kura ninja setiap kali melewati terowongan di bawah Fulbright Expressway itu. Ada suara ricik-ricik air, tapi ada deru lalu lintas di atas jalan super raya yang menjadi urat nadi kapitalisme Amerika itu, didukung dengan tulang punggungnya yang disebut truk-truk gandengan 18 wheeler
.
Trail ini lebih variatif dibanding trail sebelumnya. Selain melewati pemukiman, jalan-jalan, terowongan, ada juga bagian yang melewati kawasan rerumputan ilalang, hutan-hutan yang menghijau di musim panas, dan juga melewati sebuah cross country club, sebuah lapangan hijau mulus dengan berbagai halang rintang yang kelihatan lumayan menggairahkan dari jauh. Sayangnya ada pagar yang menghalangi kami untuk masuk. Dan trail pun selesai di sekitar superswalayan Walmart. Di situlah Mud Creek Trail menjelang saya dengan pepohonannya yang lebih rimbun.
Mud Creek Trail
Sekitar seratus atau dua ratus meter dari awal Mud Creek Trail (yang lagi-lagi namanya dibuat berdasarkan nama kali yang mengalir di sebelah trail ini), sampailah saya tepat di belakang superswalayan Walmart (btw, sudah pernah saya kasih tahu belum kalau Walmart itu pusatnya di Northwest Arkansas sini, makanya banyak sekali gedung dengan nama keluarga ini, dan bahkan University of Arkansas punya satu fakultas yang bernama Walton School of Business karena sumbangan sekian puluh juta dari keluarga ini
). Air minum saya sudah habis karena sebentar-sebentar saya harus recharge kesegeran badan. Lagi-lagi saya memutuskan keluar jalur sebentar, memasuki kawasan parkir dan mengunci sepeda tepat di depan bagian Gardening Walmart supercenter. Dengan santainya, saya masuk Walmart. Mungkin persis seperti bagaimana saya tadi memasuki kos-kosan teman saya setelah dia membukakan pintu. Terlihatlah pemandangan yang tak jauh beda dengan Hypermart di Indonesia, orang-orang berbelanja tanpa lelah, penuh keceriaan, tentunya juga ada senyum artifisial si penerima tamu yang menyodori saya troli. Saya langsung menuju fountain, pancuran air minum, di dekat toilet””tapi gak dekat-dekat amat kok
. Saya langsung ambil posisi rukuk dan meminum air yang, anehnya, di sini terasa agak kuat klorinnya
. Tapi ya, namanya orang haus, asal masih dalam kisaran halal ya langsung disergap saja. Terus saya juga isi botol minum.
Selanjutnya, perjalanan harus dilanjutkan kembali. Sepeda kembali memasuki trail, Mud Creek Trail. Saya perhatikan, di Mud Creek Trail ini fasilitasnya paling bagus dibandingkan 2 trail sebelumnya. Setiap beberapa ratus meter saya lihat ada tempat sampah dengan sebuah kotak hijau yang berisi plastik dengan peringatan “All Pets Must Be on A Leash, Please Clean Up After Your Pet“. Ternyata plastik-plastik itu untuk kotorannya para guk-guk,
. Selain itu, ada juga bangku-bangku seperti yang saya lihat di sepanjang Frisco Trail tadi. Bedanya, di sini ada semacam tulisan yang menyatakan bahwa bangku itu dibuat sebagai pengingat tentang orang-orang tertentu, mulai orang-orang yang dikasihi sampai ada yang dibuat untuk mengingat salah satu mandor pembangunan trail ini.
Karena jalur sepeda di bagian ini relatif datar, saya kembali menggenjot sepeda dengan kecepatan tinggi. Tapi ada beberapa tikungan yang benar-benar tajam jadi, dengan mengikuti rambu, saya harus menurunkan kecepatan. Dan meskipun di kejauhan sana terlihat kawasan bisnis Fayetteville, mulai pertokoan, Northwest Arkansas Mall, Gedung bioskop Malco dan lain-lain, di kawasan trail ini alam terasa sekali sangat asri. Di beberapa bagian bahkan ada pohon-pohon besar yang didasarnya diliputi semak-semak merimbun dan menawarkan kesegaran sore hari. Cericit burung tak henti-hetinya mengiringi. Di satu bagian semak ada sebuah pemandangan yang asyik. Beberapa ekor kelinci liar keluar ke trail dan menoleh kanan kiri (mungkin mau menyeberang trail
). Demi menghormati dia, yang disebut “bunny“ oleh orang-orang lokal, saya pun turun sebentar dari sepeda dan mengagumi binatang yang dulunya tidak pernah saya sangka bisa hidup di alam liar ini””dulu, saya pikir kelinci itu hanya binatang ternakan yang dijualbelikan
. Musim gugur lalu, orang-orang di kawasan Arkansas tertentu agak khawatir dengan populasi “bunny” yang meningkat pesat. Ternyata, tidak terlalu jauh dari tempat si kelinci, ada sepasang bapak ibu senja usia berjalan dengan santai menikmati senja hari. Dan lagi-lagi itu membuat saya berhenti dan memotret mereka. Wah, betul-betul banyak berhenti olahraga saya kali ini. Tapi nggak papa lah. Tanpa bergerak saja rasanya sudah seperti sauna dan keringat bercucuran ruar biasa. Selain pasangan senja usia di senja hari ini, saya sebelumnya juga berpapasan dengan sekelompok orang-orang tua yang sedang beristirahat di salah satu bangku sambil mengagumi kali kecil yang agak menggenang di satu bagian. Sepertinya ini cukup membuktikan efektifitas trail ini sebagai tempat berolahraga sekaligus rekreasi.
Ketika perjalanan terus berlanjut, ketika trail bersinggungan dengan halaman belakang rumah-rumah kecil yang kelihatan mewah, saya lihat beberapa pengguna trail yang lumayan unik: seorang ibu dengan dua anak kecilnya, satu anak memakai sepeda yang masih dengan roda bantuan dan seorang anak lagi sudah mengendarai sepeda biasa tapi dengan cangguh. Oh, ternyata si anak yang lebih besar ini tengah belajar naik sepeda. Wah-wah-wah, betapa berbahayanya, belajar bersepeda di trail olahraga di mana banyak orang-orang seperti saya yang ingin ngebut.
Tak begitu lama kemudian sampailah saya di ekor (atau kepala ya?) Mud Creek Trail. Di situ jalur membentuk sebuah lingkaran kecil yang menutup. Di sekitar tempat itu terdapat sebuah tempat parkir kecil yang dipenuhi mobil. Biasanya itu adalah mobil orang-orang yang berolahraga. Jadi, dari tempat-tempat yang lumayan jauh mereka datang hanya untuk berolahraga. Di bagian belakang beberapa mobil itu terdapat rak yang biasa dipakai untuk pangkuan sepeda. Mungkin mereka ingin menikmati musim panas, dan daripada berlari di treadmill atau bersepeda di gym, mending menggunakan trail outdoors yang cukup panjang dan serasa rekreasi ini.
Saya sendiri teringat bagaimana asyiknya ketika di Sidoarjo dulu lagi ngetrend yang namanya fun bike. Hampir setiap minggu ada rally sepeda santai keliling kecamatan. Sejauh ini saya lihat ada dua bedanya: 1) di sana pesertanya bisa beratus-ratus orang dan berkumpul di lapangan dan ramaiiiiii sekali orang ngobrol, dan 2) jalur yang ditempuh juga jalur kendaraan umum yang ramai, sehingga pengguna jalan biasa harus mengalah kalau sedang ada event fun bike. Sementara di sini, bersepeda menjadi sebuah ritual personal dan menempuh jalur yang dibuat khusus untuk itu. Memang sih, sesekali kelompok pecinta sepedaan di kampus mengadakan event bersepeda, tapi biasanya event itu tidak terlalu besar, karena yang mengadakan adalah klub, dan saya mendapat kesan bahwa orang-orang lebih suka bersepeda sendiri-sendiri. Ah, tapi bisa saja kesan yang saya terima itu salah.
Saya pulang kembali ketika waktu sudah menunjukkan pukul 7.30. Sekitar satu jam lagi matahari akan tenggelam. Dan karena tidak punya lampu di sepeda saya, jadi saya harus ngebut, sebisa mungkin saya tidak berhenti, meskipun sebenarnya rasa haus ini pingin berhenti berulang kali. Akhirnya, ketika sudah mendekati tempat pulang, senja sudah nyaris sempurna, dan demi menghormati Seno Gumira Ajidarma, saya pun berhenti sejenak dan memotret senja dengan menyandarkan kamera di sebuah pagar jembatan demi mendapatkan poto senja yang cerah dengan kecepatan agak rendah. Dan sepertinya begitu saja dulu catatan persepedaan kali ini. Semoga bisa menghibur.
*) berikut ini peta 3 jalur heritage trail tersebut
**) salah satu rambu yang bisa ditemukan di mud creek trail
***) pelajaran geografi yang ada di pinggir jalan
****) setelah keluar jalur sebentar dan masuk ke rimbunan yang lebih rimbun
*****) gambar satelit dari google maps dari kepala hingga ekor trail… tentu saja jalur yang ditawarkan google bukan mengikuti trail
Tags: creative non-fiction, seno gumira