Nonton Death of A Salesman: Sederhana Kayak Teater Mantap Kayak Film
Saya tidak akan mengawali postingan kali ini dengan apologi “Saya bukanlah seorang kritikus teater, jadi ulasan kali ini… bla-bla-bla” karena bagaimanapun tulisan ini akan mengajukan semacam klaim yang pasti akan kontradiktif dengan apologi semacam itu. Jadi, saya mulai sajalah dengan:
Agak lupa, kapan terakhir kali lihat pementasan, kayaknya sekitar tahun 2004-an dulu ya. Ya, kayaknya begitu, waktu itu kalau nggak salah pementasan adaptasi karya A.A. Navis, “Robohnya Surau Kami”, oleh sutradara Bang Ber (Bang Berlian). Waktu itu aku terpesona dengan properti panggung yang terbilang rumit, hasil rancangan anak buah Bang Ber. Oh ya, waktu itu saya juga tertarik dengan peleburan antara realisme cerita pokok “Robohnya Surau Kami” dengan magisme dari subplot cerita tentang alam akhirat dalam cerita tersebut. Nah, kali ini saya ingin cerita pementasan yang barusan saya tonton, Death of a Salesman karya Arthur Miller yang disutradarai oleh Michael Landman, dosen jurusan program MFA Teater UofA.
Sekilasnopsis, lakon ini berkisah tentang seorang salesman tua yang sudah tidak produktif lagi dalam menggaet pembeli dan mengalami konflik batin tingkat akut sehingga terlalu banyak melamun hingga seolah-olah lamunan dan kenyataan sudah saling mempenetrasi. Sebentar-sebentar, begitu ada kesempatan sendiri untuk merenung, lamunan langsung menyerangnya, dan dia pun mulai “mengurusi” lamunannya, dan tentunya di mata orang lain dia jadi seperti orang yang bicara sendiri. Dia hampir beberapa kali kecelakaan karena ini. Buntutnya, dia yang sudah tua ini dipecat dari perusahaan yang dikepalai oleh seorang pemuda yang bahkan waktu masih bayi dia sendiri yang memberi nama (btw, si direktur muda ini anak bossnya terdahulu). Klaim lamunan atas wilayah kenyataan ini semakin parah, sampai-sampai ketika tengah berbicara dengan anaknya, tiba-tiba dia kepikiran sesuatu, dan lamunan pun menguasainya, perkataan anaknya tak lagi dia dengar. Ternyata, hal ini semua berkaitan dengan insiden psikologis besar masa lalu yang melibatkan dia dan anak pertamanya. Demikianlah, untuk lebih lengkapnya saya persilakan Anda membaca naskahnya atau menonton sendiri pementasannya jika ada kesempatan.
Dan yang ingin saya bicarakan di sini adalah hal-hal teknis yang sangat membantu saya menikmati cerita, meleburkan diri dengan emosi para tokoh, dan pemahaman atas seluruh kosmos cerita (wiyyuuuuuh! opo maneeeeeh iki?), atau bahasa megahnya: semesta cerita dengan segenap kompleksitas konfliknya.
Pertama, yang paling penting bagi saya tadi adalah bagaimana transisi dari alam pikiran dan kenyataan dan sebaliknya. Yah, mohon maaf, bukan bermaksud membandingkan dengan panggung pementasan dan properti teater jaman kuliah dulu, salah satu hal paling pokok dalam mendukung transisi-transisi itu adalah penggunaan pencahayaan yang sederhana tapi mantap. Saya bilang “sederhana” karena bisa dibilang tidak memakai lampu warna-warni, hanya sorotan cenderung putih dan sorotan cenderung kuning (tidak menggunakan lampu warna-warni yang mungkin malah bisa mendukung peruapan emosi, seperti saya pernah dengar dari Cak Mukhid). Tapi lightingnya “mantap” karena banyak sekali lampu sorot yang secara bergantian atau bersamaan mengisi bagian-bagian panggung tertentu sesuai dengan kebutuhan pementasan. Tokoh Willy Lawman, sang salesman, yang banyak berurusan dengan transisi lamunan dan kenyataan itu, dengan gesit dan pas mengisi spot-spot lampu yang disediakan untuk mendukung dialognya; atau, terkadang juru lighting yang seolah mengejar kemana Willy melangkah.
Kedua adalah properti yang sangaaaaaat sederhana tapi serbaguna dan tepat guna. Perlu saya daftar di sini: 1) latar belakang adalah tembok warna hitam polos, dan beberapa papan kasa hitam yang terkadang tampak polo, tapi terkadang bisa dibalik dan di baliknya itu ada semacam kubur setebal lutut yang bisa diibaratkan sebagai kasur hanya dengan diberi selembar selimut dan bantal–terkadang, ketika Willy akan diserang lamunan, tokoh-tokoh yang akan muncul dalam lamunannya itu akan ditampakkan di balik kasa hitam itu dengan pencahayaan yang tingkat keterangannya diatur sedemikian rupa untuk memberikan efek dramatis dan meninggalkan tempat di balik kasa itu dan muncul di bagian tengah panggung jika lamunan Willy sudah benar-benar menjadi nyata, 2) beberapa kubus hitam dengan sisi sekitar selutut panjangnya yang sangat serbaguna, terkadang menjadi meja dengan dibantu taplak, terkadang menjadi kasur, terkadang menjadi panggung, dan sebagainya–oh ya kubus-kubus ini memiliki semacam lobang di tepinya yang memudahkan pemindahan saat diperlukan pemindahan atau perubahan* fungsi, 3) beberapa kursi yang dipergunakan semaksimal mungkin oleh para tokoh, kadang diduduki secara normal, kadang dibalik, kadang dijadikan pijakan satu kaki, kadang dimainkan, tapi semua ini sangat jauh dari kesan terlalu banyak memainkan kursi (well, ini drama 2 jam), 4) dan barang-barang kecil lain yang mendukung kebutuhan cerita.
Lalu, yang ketiga adalah hal sepele yang sangat membuat saya kagum: para kru properti. Untuk drama dengan berbagai latar dan alam (maksud saya alam kenyataan dan alam lamunan
) dan cerita, tapi dengan panggung yang terbilang sedang-sedang saja ini, kru properti memiliki peran yang super penting, keluar masuk panggung untuk mengubah-ubah posisi properti (ya boks-boks dan kursi-kursi tadi). Memang seringkali penggunaan lighting yang bagus dan panggung yang hitam bersih (maaf, bukan geber yang dipinjam bergantian oleh UKM-UKM antar universitas, dan dengan bagian-bagian yang sobek maupun bekas selotip yang kadang-kadang masih nempel, dan kadang-kadang kurang begitu hitam
…) memungkin para kru properti ini tidak kelihatan sama sekali. Tapi ada juga saatnya ketika para kru ini harus bekerja di bagian-bagian yang dekat dengan penonton dan mau tidak mau jadi kelihatan. Nah, di situlah, ternyata kru properti pun terlihat sangat rapi. Memakai baju putih lengan panjang, rompi hitam, dasi kupu-kupu, celana hitam. Profesional. Saya jadi ingat satu bagian dalam memoar Sidney Sheldon The Other Side of Me ketika Sidney Sheldon menjadi sutradara di Broadway dan pada suatu kesempatan terjadi insiden sehingga kru properti di belakang panggung terlihat oleh penonton, dan para kru ini ternyata pakai baju lengan pendek, dan itu menjadi masalah! Begitulah, ternyata kerapian para kru ini penting.
Oh ya, terkait para kru properti, pada kesempatan yang pas, para kru properti yang tugasnya merapikan kubus-kubus serbaguna tadi harus bekerja dan lighting dalam keadaan normal. Ternyata waktu itu latarnya adalah sebuah restoran. Dan para kru ini seolah berperan ganda, menjadi pegawai restoran yang tugasnya merapikan perabot dan juga kru teater yang merapikan properti. Dan sesekali mereka juga berinteraksi dengan para tokoh saat dibutuhkan, dan tokoh-tokoh itu membutuhkan interaksi mereka.
Dan saya harus bilang bahwa saya selalu kagum dengan pementasan lakon realis yang sangat realis, yang semua aktornya berinteraksi tidak hanya dengan dialog, tapi juga dengan blocking, tapi juga dengan kontak sesama aktor (baik kontak fisik maupun kontak dengan bantuan benda, semisal saling lempar bola), tapi juga dengan properti, tapi juga dengan… Semacam tidak ada bedanya nonton film dengan nonton teater. Jadi ya saya sempat mikir: bersyukur sekali saya nggak pernah tahu ceritanya Death of a Salesman, karena rasanya tadi mirip pergi ke gedung bioskop dan nonton film. Well, kalau ini sih kayaknya soal selera, hehehe…
Nah, setelah ngobrasbrol sana-sini soal teknis, bagaimana dengan isi ceritanya sendiri? Wah, ini dia, saya selalu kurang kritis melihat isi cerita, sebab bisa dibilang hampir semua cerita bagus buat saya asal masuk dilogika. Dan cerita yang–well, mungkin tragis ya namanya–tragis ini benar-benar memiliki simpul-simpul logika yang terjalin kuat, hingga bisa dibilang bahkan cerita tidak bisa dilolosi. Kehadiran barang-barang kecil semacam stoking, sepatu olahraga, bunga, maupun pena tidak bisa begitu saja dilepaskan. Semuanya mendukung kengerian saya mendapat betapa tidak bisa diundonya jalinan masalah dalam lakon ini. Ah, sangat abstrak sekali. Maaf, saya menghindari penyampaian konkret cerita karena tidak mau menspoileri Anda dengan jawaban cerita (well, bisa dibilang, selain tema, plot memiliki proporsi yang besar dalam cerita ini, jadi ya… atas nama daya kejut, saya sembunyikan saja deh klimaks dan resolusi ceritanya).
Sepertinya begitu saja terkait teknis dan isi lakon (ah, kenapa ya tiba-tiba jadi ingat “feri fadli sebagai brama, teknik dan montase oleh bla-bla-bla
). Oh ya, mohon maaf karena beberapa kali keceplosan membandingkan dengan pementasan teater yang pernah saya saksikan di UM atau di tempat-tempat lain sekitar UM. Memang sih tidak adil membandingkan pementasan dengan properti sederhana yang dibelikan universitas (atau bahkan teman-teman yang urunan sendiri) dengan peralatan panggung Nadine Baum Studios yang merupakan bagian dari Walton Arts Center Fayetteville yang disponsori keluarga pemilik raksasa kapitalis Walmart. Semoga Njenengan sekalian yang berkesempatan baca postingan ini bersedia memaafkan saya dan menerima ini sebagai bagi-bagi cerita yang mungkin saja berguna. Dan di sini saya secara pribadi merasakan “kemenangan” dibandingkan kawan-kawan dari jurusan teater UofA ini, dalam artian: kita yang di Malang dengan properti sederhana saja bisa bikin cerita yang mengagumkan, bagaimana kalau teman-teman sempat main di Nadine Baum Studios? Pasti tidak kalah dengan orang-orang ini
.
*btw, tolong jangan dikritik ya saya pakai “perubahan” hanya dengan asumsi asal katanya “ubah” bukan “rubah”, karena teori itu tidak laku buat saya, hehehe (gak penting sekali footnote ini, hehehe)