The Chosen: Yahudi Ortodoks, Persahabatan, Zionisme, dan Diam
Biar Anda tidak beli kucing dalam karung, saya akan daftar dulu poin-poin resensi kali ini, atas buku The Chosen karya Chaim Potok (bacanya /khaim potok/): yahudi ortodoks, persahabatan remaja, zionisme, diam. Secara singkat, buku ini berkisah tentang persahabatan dua orang remaja, Reuven dan Danny, yang berasal dari dua latar belakang berbeda. Dengan sifat dan minat dan didikan serta kebiasaan yang juga tak kalah bertolak belakangnya mereka tumbuh menjadi sepasang sahabat yang klop. Di satu saat pandangan politik dan spiritual orang tua mereka menghalangi persahabatan itu, tapi ujung-ujungnya mereka tetap bersahabat hingga akhirnya mereka harus berpisah karena salah satu harus kuliah ke kota lain. Begitulah super-singkatnya. Dalam paragraf-paragraf selanjutnya saya akan lebih banyak membahas poin-poin penting dari buku ini seperti tercantum di kalimat pertama.
Paling utama: buku ini pada sebagiannya adalah hikayat mengenai dua kelompok Yahudi ortodoks di era modern Amerika Serikat. Kelompok pertama yang diperlihatkan adalah kelompok Yahudi ortodoks yang bisa dibilang tidak terlalu berbeda dengan masyarakat Amerika lain pada umumnya secara penampilan. Yang membedakannya dengan orang Amerika umum atau orang Yahudi yang non-ortodoks adalah bahwasanya mereka sekolah di “yeshiva”, yaitu sekolah khusus Yahudi dengan penekanan pada pelajaran Talmud, atau pembahasan hukum-hukum Yahudi. Kelompok ortodoks ini juga mengaji talmud di rumah, pergi ke sinagog, mengikuti perintah tidak bekerja pada hari Shabbat (harinya Sabtu), dan sejenisnya. Di antara dua sahabat di buku ini, Reuven adalah yang berasal dari kelompok ortodoks standar ini. Dalam praktik beragamanya, para rabbi dari kelompok ini sudah banyak yang menerima perkembangan pemikiran sosial modern, seperti penggunaan teori-teori filsfat dalam ilmu Talmud. Ayah Reuven, seorang guru yeshiva, juga suka menulis artikel dengan memasukkan pemikiran-pemikiran modern.
Kelompok yang kedua adalah kelompok Hasidik, yaitu satu kelompok Yahudi yang lebih ortodoks dibandingkan kaum ortodoks standar, atau seringkali disebut “ultra-ortodoks”. Kelompok ini secara penampilan saja sudah berbeda dengan warga AS pada umumnya. Mereka sehari-hari memakai jubah hitam dengan baju putih tanpa dasi, punya kuncir di bagian cambang, kalau sudah dewasa suka memanjangkan jenggot. Kelompok ini berdiri pada sekitar awal abad ke-17 mengikuti aliran penafsiran atau pemikiran Baal Shem Tov. Satu hal yang menonjol dari cara pandangan keagamaan kelompok ini adalah penekanannya yang lebih besar kepada emosi tinimbang kepada akal. Bagi mereka, penafsiran kitab dengan disusupi ilmu-ilmu modern adalah sama dengan bidah, atau mereka menyebut para pelakunya “apikoros” atau “apikorsim” (jamak). Di sini Danny merupakan putra seorang “tzaddik” (sebutan buat pemuka agama Yahudi Hasidik. Dalam perbincangan sehari-hari pun kelompok ini lebih menggunakan bahasa “Yiddish” tinimbang bahasa Inggris. Oh ya, maaf jadi sok tahu terus-terusan: Yiddish merupakan bahasa dari akar Jerman Pertengahan yang lazim dipakai di kalangan Yahudi, khususnya yang ortodoks.
Dalam hal poin kedua, yaitu “persahabatan remaja”, perlu dijelaskan bahwa Danny dan Reuven mengawali persahabatan mereka dalam sebuah kebetulan yang kurang menyenangkan: kecelakaan dalam pertandingan baseball. Danny memukul bola baseball lurus ke arah mata Reuven dan Reuven yang pada waktu itu bertindak sebagai pengumpan tidak menghindar dan akhirnya harus operasi mata karena ada pecahan kacamata yang menancap ke matanya. Sementara itu, di lain tempat Danny secara kebetulan mengenal ayah Reuven ketika si bocah ultra-ortodoks ini secara sembunyi-sembunyi mempelajari ilmu-ilmu modern di perpustakaan. Ayah Reuven menyarankan buku-buku yang kiranya cocok untuk Danny baca. Oh ya, Danny adalah seorang anak jenius yang punya ingatan fotografik, bisa mengingat secara detil, dan karenanya cepat belajar. Di sinilah kompleksitas antara dua kelompok ini: ayah Danny yang ultra ortodoks itu anti ilmu-ilmu modern, tapi anaknya yang jenius haus akan ilmu-ilmu modern. Konflik akan lebih banyak berkutat di kalangan keluarga Danny, sementara Reuven dan ayahnya merupakan orang luar yang akhirnya terlibat dalam penyelesaian konflik ini.
Danny yang tidak pernah berbicara dengan ayahnya itu menjalin persahabatan erat dengan Reuven karena dia menemukan tempat menuangkan segala keluh-kesahnya terkait keinginannya belajar psikologi setelah lulus SMA yang terbentur dengan harapan ayah dan kaumnya yang membutuhkan dia sebagai “tzaddik” di masa depan. Dalam hasidisme, posisi “tzaddik” merupakan posisi turun temurun. Jadi, bisa dibilang Danny terjebak dalam cita-cita kaum dan harapan keluarga. Tapi, dia terus-menerus belajar psikologi dan bahkan Freud secara sembunyi-sembunyi dari ayahnya. Psikoanalisis pada usia limabelas tahun!!! Ingat, dia jenius dengan ingatan fotografik!!! Namun, ayah Danny akhirnya mengendus bahwa anaknya suka membaca psikologi di perpustakaan secara sembunyi-sembunyi. Dan di sinilah peran Reuven muncul: bagian tertentu dalam kepercayaan hasidisme tidak memungkinkan ayah Danny berbicara dengan Danny, dan Reuven-lah yang menjadi mediator antara keduanya.
Belakangan, setelah usai Perang Dunia ke-II, dan AS menyingkap bahwa Hitler dan rezimnya telah melakukan pembunuhan massal terhadap sekitar 6 juta warga Yahudi, mulai muncullah gerakan yang menjadi topik bahasan ketiga kita: Zionisme. Ayah Reuven sedih bukan kepalang mengetahui kabar genosida itu, dan dia memulai dan memimpin gerakan moral pro-zionisme untuk mendukung terciptanya sebuah negara Yahudi di Palestina, yang dipercaya kaum Yahudi sebagai tanah mereka sesuai janji dari nabi Musa. Gerakan moral ini berkembang pesat dengan banyaknya pendukung dan juga sumbangan finansial dari pengusaha-pengusaha Yahudi yang mulai bangkit perannya pada dekade 1940-an itu. Sementara itu, Palestina masih di bawah kekuasaan Inggris, sebagai sisa-sisa imperialisme Inggris dan hasil kemenangan mereka di Perang Dunia I atas kekaisaran Ottoman. Migrasi orang-orang Yahudi yang sudah dimulai oleh gerakan proto-zionisme BILU pada tahun 1882 pada saat itu telah dianggap ilegal oleh Inggris, tapi kaum Yahudi terus menyelundupkan diri mereka ke Palestina pada tahun 1940-an itu (btw, jangan kuatir, informasi di bagian awal paragraf ini bukan saya dapatkan dari novel kok, tapi dari kuliah Dr. Mohja Kahf dan beberapa website, jadi bisa dibilang bukan fiksi, tapi salah satu VERSI sejarah). Ayah Reuven yang tergabung dalam Jewish National Fund terus berdemonstrasi, pawai, dan berkampanye agar Inggris menyerahkan urusan Palestina ke PBB. Di lain pihak, ayah Reuven tidak setuju dengan gerakan pendirian negara Yahudi ini karena kelompoknya lebih MENUNGGU datangnya mesiah. Dan dia berpandangan lebih baik tinggal di negara “goyim”, sebutan kafir dalam terminologi Yahudi, daripada tinggal negaranya “goyim Yahudi”””dia menganggap orang Yahudi yang terpengaruh pemikiran duniawi itu sama halnya dengan “goyim”. Pada saat konflik antara kaum Yahudi pro dan anti zionisme ini semakin memuncak, ayah Danny malah melarang anaknya berbicara dengan Reuven, yang merupakan anak pimpinan gerakan pro-zionisme. Bayangkan, kuliah di satu universitas, mengambil beberapa kelas yang sama, tapi tidak boleh berbicara””dan sekali mereka berbicara, pasti mata-mata ayah Danny akan melapor.
Di paragraf di atas, akan ketahuan bahwa di kalangan orang Yahudi pun terjadi perbedaan pandangan terkait zionisme. Tapi, di novel ini diceritakan bahwa pada akhirnya kelompok ultra-ortodoks tidak lagi menentang kelompok pro-zionisme setelah terjadinya pembunuhan warga Yahudi oleh warga Arab dan karena pada akhirnya negara Israel itu berhasil juga didirikan, meskipun pada prinsipnya ayah Danny sang rabbi hasidik itu masih belum setuju dengan pendirian Negara Yahudi dengan pemerintahan non-relijius. Di sini setidaknya ada sedikit titik terang buat kita orang Indonesia yang negaranya termasuk salah satu yang tidak mengakui kedaulatan Israel: sebijaknya kita tidak rancu antara Israel dengan agama Yahudi, dan Israel lebih merupakan gerakan politik tinimbang gerakan agama, dan sebagai agama Yahudi termasuk agama yang harus dihormati jika kita merujuk ke hadits-hadits yang mengisahkan persentuhan Rasulullah Muhammad SAW dengan kaum Yahudi. Dr. Kahf berargumen bahwa Israel lebih bersifat sekuler, dan dia menyatakan tiga hal terkait konflik Israel-Palestina, yaitu: 1) konflik itu bukan bersifat keagamaan, 2) bukan konflik yang berlangsung selama ribuan, atau bahkan ratusan, dan 3) bukan konflik antara bangsa Arab dan Yahudi, tapi konflik perebutan tanah. Dan satu hal yang disoroti Dr. Kahf dari dua novel Yahudi yang dia bahas dalam kuliahnya (yaitu novel Portnoy”™s Complaint oleh Philip Roth dan novel The Chosen karya Chaim Potok ini): bahwa kedua penulis ini tidak “memandang” orang Arab di Palestina, atau setidaknya tidak menunjukkan simpati kepada orang-orang Arab, atau, dalam bahasa saya sendiri, tidak ada pembahasan tentang “wajar saja mereka berontak, lha wong tanah mereka diduduki orang luar”.
Oke, langsung ke poin terakhir: diam. Diam merupakan modus operandi yang terus-menerus muncul dalam novel ini. Ayah Danny tidak pernah lagi berbicara dengan Danny sejak dia mulai beranjak remaja, kecuali pada saat belajar Talmud. Salah satu alasannya adalah dengan diam ini Danny bisa bertanya kepada dirinya sendiri, atau “look into one”™s soul”, untuk menemukan jawaban atas problema-problema yang ditemuinya. Pada awal masa remaja itu, Danny seringkali “sebel” dengan gaya ayahnya ini membesarkan dia, yang “digadang-gadang” untuk menjadi penerusnya””dengan saudara-saudaranya yang lain, yang tidak direncanakan untuk menjadi “tzaddik” ayahnya tetap berbicara seperti biasa. Tapi, Danny selalu percaya ayahnya punya alasan dan kebijaksanaan tersendiri di balik ini. Dan betul saja, setelah mendekati lulus kuliah, Danny seolah-olah sudah menyerap ajaran diam itu, dan menemukan jawaban-jawaban dalam diamnya. Kalau dipikir-pikir sih, sepertinya ajaran diam ini semacam mendorong seorang anak untuk tidak menggantungkan pada jawaban orang tua dan merenungkan sendiri jawaban yang mungkin tepat untuk dia. Nah, ada satu sifat diam si ayah ini yang menarik dan bersinggungan dengan saya sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan Jawa: yaitu “level diamnya” ayah Danny kepada orang lain. Ayah Danny ternyata suka “mengatakan tanpa mengatakan”, yang juga lazim dalam budaya Jawa. Waktu ingin berbicara kepada Reuven yang menjadi perantara antara dia dengan anaknya, ayah Danny hanya bilang “Reuven kok tidak pernah belajar Talmud lagi dengan kita”. Ketika hanya sekali disampaikan, pertanyaan ini biasa, tapi ketika disampaikan untuk yang kedua kalinya, sisi Jawa saya langsung tergelitik: ini seperti ketika ibu saja mengirim SMS yang bunyinya “Eko, ibuk baik-baik saja, sehat-sehat saja kan di sana?” (tapi tentunya pakai bahasa Jawa dong
), saya langsung introspeksi diri dan sadar bahwa sudah seminggu lebih saya tidak telpon ke rumah.
Sepertinya saya harus berhenti dulu di sini. Masih banyak sekali tema-tema humanis dan penting yang bisa kita telusuri dari novel ini (saya belum membocorkan bagaimana konflik ini memuncak dan bagaimana resolusinya, bukan?). Dan bisa dibilang, secara umum buku ini berhasil mengangkat isu-isu universal yang membuat kita berpikir, tapi juga pada akhirnya berhasil memberikan penyelesaian yang membuat kita menghela nafas panjang seolah-olah tak mau selesai saking puasnya kita dengan resolusi cerita (sepertinya memang sudah waktunya saya berhenti, retorika saya sudah seperti blurb murahan di sampul belakang buku
). Semoga gambaran yang sedikit ini bisa menjadi taster yang memancaing Anda sekalian untuk membaca buku ini secara langsung. Salaam.