Penerjemahan Bahasa Tak Biasa
Saat nerjemahbahasa yang biasa, apalagi HANYA untuk tujuan mendapatkan pemahaman atas kata-kata tertentu, mungkin kita tidak terlalu peduli dengan bentuk bahasa, atau tinggal nerjemah asal pembaca tahu maksudnya. Tapi, kalau yang akan kita terjemahkan merupakan kata-kata yang bentuknya harus dipertimbangkan, seperti misalnya kata-kata tak biasa, kata-kata SMS misalnya, atau kata-kata buatan, atau kata-kata dari (maaf) seseorang yang ada masalah wicara, maka di situlah kita harus memutar otak.
(Well, sebenarnya saya sudah banyak sekali blogging tentang penerjemahan bentuk dan isi semacam ini, hehehe, tapi senang saja rasanya bs mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lain
)
Contoh kasus, seorang teman harus menerjemahkan sebuah buku tentang anak yang mengalami gangguan mental dan/atau wicara dan mengucapkan (kira-kira semacam) “my mom”s offish” dan di satu kesempatan lain “Mr. Bwown, you want mushwoom in yoh omelet?”
Nah, saya yang terlalu nganggur ini akhirnya menyarankan begini:
“Mbak Dian (bisa nama sebenarnya bisa bukan nama sebenarnya),
Kalau saya boleh saran sih, sepertinya diterjemahkan dulu secara normal semuanya, baru setelah selesai mbak dian putuskan seperti apa gangguan bicaranya, apa cedal yang gak bisa ngucapkan r, atau s, atau apa saja, atau bicaranya agak sengau atau semacamnya.
Baru setelah itu dialog si anak di efek secara konsisten berdasarkan keputusan gangguan bicaranya. Dan dimulailah proses mengedit terjemahan pertama (yang literal) tadi.
Dengan begitu, penerjemahannya jadi bukan berbasis kalimat, tapi berbasis wacana (seingat saya begitu saya simpulkan dari presentasinya pak effendi di tempatnya Mas Tom dulu).”
TAPI, setelah beberapa hari ada kejanggalan dalam saran saya itu, akhirnya saya kasih lagi pandangan yang lain (nggak tahu sih entah didengar atau enggak, hehehe… kan yang pertama sudah jadi meragukan
):
“Saya jadi kepikiran sendiri (maklum akhir2 ini terlalu nganggur
), kira-kira ada berbagai pertimbangan kenapa kata2 yang dijadikan contoh itu mengandung bunyi “sy” (offiSH)sama “ww” (mushWoom). Mungkin gangguan bicara di bagian “s” dan “r” itu terkait satu gangguan fisik/mental tertentu. Jadi ya, rasanya kurang pas kalau akhirnya kita putuskan sendiri jenis gangguan bicaranya.
Jadi, ada dua kemungkinan solusi (menurut saya sih
): 1. memaksimalkan contoh kalimat itu untuk menunjukkan gangguan bicara pada “s” dan “r” tadi, atau 2. membuat contoh kalimat sendiri di mana kita bisa menyoroti ganguan bicara itu (tapi kayaknya yang kedua ini terlalu nekad dan pasti bisa panen massal kritikan
).
Akhirnya, saya kepikiran nerjemah jadi:
1. dadawnya mau dikasyih jamow, pak bwaun? (tapi kalimat lain harus mendukung agar pembaca jadi bisa mengira-ngira kalau yg dimaksud pak bwaun ini adalah Mr. Brown)
2. kantow ibu syaya
Semoga ndak mengganggu.”
Kalau menurut sidang jamaah blog sekalian bagaimana?