March
Komentar Atas Perbandingan Sepotong Senja dan Sepotong Bibir
Posted by wawan at 2:35 PM. Placed in sastra category
Mas Sidik Nugroho menulis di blognya ini. Dan karena suka postingan itu, saya kasih komentar yang begini bunyinya:
akhirnya muncul juga telaah profile picture ini.
karena saya juga suka “sepotong senja,” tapi belum baca “sepotong bibir,” (mas agus, minta dong bukunya
) jadi saya cuman mau komentar terkait keksepotongsenjaan tulisan ini.
pertama, soal maneka. sebagai seorang senolog, saya sering ketemu maneka di prosa pak seno. pernah saya lihat maneka menari-nari tiada henti, pernah juga saya ketemu maneka waktu kerja jadi pelacur. jadi, mungkin mas sidik perlu menghubungkan maneka-nya pak seno dengan manekanya mas agus (“pak” dan “mas” di sini hanya soal umur saja, pak seno usianya hampir sama dengan ibu saya, sementara mas agus kira-kira berselang beberapa tahun dari saya (atau paling banter sekitar 10 tahunan lah
). dan mungkin sangat urgen juga disampaikan satu pertanyaan: kenapa yang dipilih maneka, bukan alina? apakah karena maneka adalah seorang cewek yang termarginalisasi oleh pak seno? ataukah karena ada derajat kecintaan? ataukah apa?
… See More
selanjutnya, mas penulis bilang kalau “sepotong senja” adalah kisah yang “berangkat dari keisengan” dan “AN membuat jurang yang begitu lebar dengan SGA” (terkait keisengan dan keademayeman tahun 1991). nah, itu dilematis, mas penulis. mungkin saja kedua-duanya juga berangkat dari keisengan
… saya pernah membaca bahwa cerpen sepotong senja berasal dari pengalaman pak seno suatu senja di pantai di sekitaran jakarta/sunda/jawa barat, dan membuat potret atas senja yang sempurna itu. dan dengan memotret itu pak seno jadi bisa “mengerat senja di keempat sisinya.” tapi, sebagai seorang pembaca pelan, saya juga merasakan adanya “suara” dalam cerpen itu. bahasa, kritik pak seno dalam cerpen itu, sudah berlebihan, sudah kelewatan. dan waktu itu adalah masa orde baru yang terkenal dengan politik bahasanya, dengan penggunaan jargon-jargonnya yang “masif.” sepertinya ada hubungan di situ. selain itu, masa-masa 90-an awal adalah masa yang sangat penting bagi pak seno. tahun 1992 pak seno terlibat kontroversi tim-tim-jakarta-jakarta-video-pembunuhan massal-tni. dan bukan tidak mungkin perhatian pak seno terhadap tim-tim sudah dimulai sejak tahun-tahun sebelumnya. sepertinya, ini juga perlu dieksplorasi mas.
selain itu, kenapa sepotong bibir? kenapa pak seno juga punya seorang tentara berdinas di tim-tim (eh, salah, git-git maksud saya
) yang suka mengirimkan sepotong kuping kepada kekasihnya, kuping orang yang dipotongnya.
wah, semoga saja saya tidak overinterpretasi pada paragraf terakhir itu
… kalau mas agus sendiri tidak pernah berniat menghubungkan dengan sepotong kuping yang dikirim tentara lewat pos itu… ya… dengan kesadaran bahwa mas agus “telah mati,” saya ingin menyarankan mas penulis untuk mengeksplorasi soal ini. btw, pengarang sudah mati bukan berarti kita tidak boleh menghubungkan dengan pengarang kan? pengarang telah mati, insya allah sepembacaan saya atas pembunuh si pengarang, berarti kita bisa melakukan apa saja terhadap karya maupun si pengarang. kita bebas menelototi karya. kita bebas mengotopsi pengarang. kita bebas menginterogasi istri pengarang (tentu dengan persetujuan yang bersangkutan). dan … kita boleh mengintip buku harian si pengarang. sementara si pengarang hanya boleh pasrah dan menunggu di alam kuburnya.
salam semangat!