April
Pesawat Murdock
Posted by wawan at 7:01 PM. Placed in macem-macem category
Kita bayangkan saja waktu itu adalah sebuah siang, sekitar tengah hari. Aku dan Nanang mungkin sedang ngobrol dengan serius. Ndi-E-Tim selalu menghadirkan diskusi yang serius. Nanang dengan penuh semangat menceritakan kalau B.A. itu takut naik pesawat dan teman-temannya harus membiusnya biar bisa dibawa naik ke pesawat yang disetir Murdock si pilot yang nggak waras. Yoyok keluar dari satu-satunya lubang di bagian depan rumahnya. Rumahnya besar dan kelihatan kokoh. Ada tiga undak-undak yang memanjang di sepanjang depan rumahnya. Dindingnya anyaman bambu, sesek namanya, warna putih kapuran gamping.
“Ke, Nang, mau ikut nggak?”
“Ke mana?” tanya Nanang.
“Ke kali, berak,” teriaknya, matanya berbinar.
“Roger!”
Kami pun berangkat ke kali melewati celah antara rumah Yoyok dan Papa. Dinding rumah itu nggak diplester, batu-batanya kelihatan kasar menggaruk siang gerah–sepertinya sampai sekarang tembok rumah itu tetep telanjang. Kami melewati rumah-rumah lain, terus kebon tetangga, dan sampailah di Kali Cilik. Kali itu membatasi RT 12 dengan RT 11. Di bagian yang kami tuju itu bibir kali disemen dengan bagus di kedua sisinya. Menyenangkan sekali melihat kali yang cuma selebar dua meter itu dengan bibir yang lurus rapi. Ada satu cekungan di bibir kali itu, spot berak. Cekungan yang satu ini lumayan lapang, kami bertiga langsung berdiri berjajar di situ, sangat ngepas, dan kemudian kami pelorot celana secara bersamaan dan langsung jongkok.
Dalam posisi jongkok, tangan terlipat di atas lutut, di kengepresan spot berak, sikut ketemu sikut, kami lepaskan semua beban biologis. Tak lupa, kami cekikikan entah ngomong apa. Aku dan Yoyok mengapit nanang.
Sebentar saja ketawa kami semakin liar, selalu ada alasan untuk bercanda dan tertawa, tubuh kami bergoncang-goncang di kengepresan itu. Aku dan Yoyok masih bisa berpegangan ke bibir kali saat dibutuhkan. Tetapi, Nanang yang ada di tengah benar-benar sial, dia tak punya pegangan lain, dan…
“Byur”
Nanang tercebur ke kali. Memang tidak terlalu dalam kali itu, kalau berdiri, kira-kira mungkin cuma selutut. Tapi, karena Nanang tercebur dalam keadaan jongkok, dia pun hampir tenggelam sampai kepala. Aku dan Yoyok cepat-cepat menaikkan lagi celana pendek kami dan segera menolong Nanang.
Nanang keluar dari kali dalam keadaan basah kuyup. Bagian belakang kepalanya basah, tapi rambut depannya kering. Dia meringis, dan kami langsung tertawa terbahak-bahak. Dalam perjalanan pulang orang-orang bertanya sambil tertawa-tawa.
Yoyok berkata, “Nang, tadi waktu kamu jatuh, ada pesawat Murdock warna kuning melayang cantik di dekatmu.”
Tags: creative non-fiction