a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Apakah Kita Kenal “Fact-checker”?

Sebagai orang yang sudah belajar bahasa Inggris secara formal sejak tahun 1993 (waktu masuk SMP), saya termasuk telat kenal istilah “fact-checker”? Pertama kali kenal malah kurang dari 2 tahun yang lalu, waktu saya membaca puisinya Geoff Brock yang berjudul “And Day Brought Back My Night.” Bagian sestet soneta itu berbunyi:

I woke in the morning, brimming with old joys
Till the fact-checker showed up, late, for work
And started in: Item: it’s years, not days.
Item: you had no dog. Item: she isn’t back,
In fact, she just remarried. And oh yes, item: you
Left her, remember? I did? I did. (I do.)

Saya bertanya-tanya, apaaaaa “fact-checker” ini? Ternyata, dia adalah orang yang tugasnya mengecek kebenaran isi tulisan. Biasanya, kalau kita masukkan artikel ke jurnal, ada dua orang profesor yang membacanya secara terpisah untuk menilai kelayakmuatan artikel tersebut. Terkadang, selain dua profesor itu, ada satu lagi orang yang tugasnya mengecek kebenaran fakta-fakta yang disampaikan di tulisan itu. Misalnya, kalau di situ ditulis Indonesia merdeka pada tahun 1492, si “fact-checker” langsung “Salah nih!” Atau kalau misalnya penduduk Indonesia dari sensus 2010 ditulis berjumlah “230 juta,” maka si fact-checker akan cari apa benar sebanyak itu, apa tidak ada komanya, apa itu penyederhanaaan. Pokoknya, intinya, karena artikel jurnal itu nantinya jadi bahan acuan tulisan-tulisan yang akan datang, maka sebisa mungkin meminimalkan kesalahan.

Nah, apa dalam kehidupan sehari-hari sebagai penulis kita pernah menggunakan jasa “fact-checker”–meskipun cuman seorang teman yang kita anggap lebih tahu? Saya sendiri sangat jaraaaaang sekali. Pertama, ada semacam malu-malu bagaimana gitu kalau ada satu orang saja yang membaca tulisan kita dan menemukan kesalahan. Kayaknya terlalu personal dan dampaknya terlalu memalukan :D . Mungkin ada dampak juga dari sifat narsistis yang sudah mendarah-daging-tulang. Akhirnya, lebih baik langsung saja difacebookkan atau diblogkan… Atau kalau itu tugas, biasanya langsung saja dikumpulkan ke dosen, biar kapok sekalian kalau memang ada yg salah. Padahal…

Nah, barusan tadi saya baca sebuah tulisan tentang s*** s*** tulisan seorang penulis yang lumayan tua dan agak dihormati. Di tulisan itu saya menemukan beberapa fakta yang lucu (seperti misalnya *** di*** pada tahun***, dsb.). Sebenarnya sih kalau cuman satu dua saja nggak papa. Apalagi kalau itu bukan sesuatu yang penting. Sayangnya data itu adalah di bagian pembuka tulisan. Saya agak miris sebenarnya dengan itu. Tapi ya, bagaimana lagi, mau mengingatkan kok sawangannya tidak sopan dan kasar dan kemeruh. Padahal tulisan itu mau dipakai untuk ***.

Andai saja si penulis mau sedikit menowel temannya yang dirasa agak tahu atau siapa saja yang mungkin tahu untuk sekedar membaca atau memfactcheckeri tulisan itu. Andai saja. Bagaimanapun, saya tetap berterima kasih atas bagian-bagian lain tulisannya yang informatif.

Jadi, mending saya tulis di sini saja biar jadi peringatan buat kita semua, terutama diri saya sendiri selaku khatib, eh, salah… selaku pemimpi, maksud saya.

Leave a Reply