a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Di Hostel Kota Dosa! (to be continued…)

Di jendela hanya hitam, hitam, hitam… entah, sudah dua jam lebih tidak ada apa-apa di jendela pesawat. Tapi, ketika pilot mengatakan bahwa sebentar lagi kita akan mendarat, kami mulai melihat-lihat kanan kiri, mencari-cari seberkas cahaya. Hingga akhirnya seorang bapak yang duduk di sebelahku, tepat di sebelah jendela kanan, menunjuk keluar. Mulailah terlihat, setelah hitam, hitam, hitam, ada lampu yang berbaris indah, membentuk pola petak-petak. Aku tunggu-tunggu mana kira-kira lampu-lampu kota yang katanya gemerlapan. Tidak kunjung muncul. Sampai seorang di bagian kiri mulai menunjuk2. Oh, luar biasa, gemerlap warna warni di sebelah kiri pesawat. Itu dia pusatnya, terlihat gedung-gedung bertingkat dengan berbagai warna dan bentuk: kawasan Strip kota Las Vegas. Akhirnya, pesawat mendarat di bandara internasional McCarran sekitar setengah jam lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Sepertinya angkasa sedang sepi malam itu. Pilot berani ngebut.

Di bandara, bapak yang tadi duduk di sebelah saya menanyakan mau ke mana, setelah saya sebutkan, dia langsung mengajak saya mengikuti dia. Dia bersama ibunya dan keponakannya laki-laki. Asalnya dari Jane, sebuah kota kecil di perbatasan Missouri-Arkansas. Saya tahu tempat itu, seperti desa. Dia suruh saya memasukkan dompet ke saku depan atau ke tas, dan mengeluaran semua uang yang ada di situ. Las Vegas terkenal dengan tukang copetnya yang ahli, apalagi di dalam kasino (tanpa Indro dan Dono!). Katanya, kita tidak akan tahu kalau kita kecopetan sampai kita ingat kalau kita punya dompet dan tidak bisa menemukannya. Dia tunjukkan tempat saya bisa naik shuttle ke tempat menginap saya. Dan berpisahlah kami.

Saya naik shuttle, semacam bus mini yang sangat lapang. Cuma 7 dollar sampai ke tujuan. Sopirnya seorang Ethiopia yang sudah lima tahun tinggal di Amerika dan baru 6 bulan ini menjadi supir perusahaan angkutan CLS di bandara McCarran. Dia tidak tahu pastinya di mana hostel yang saya tuju, dan baru tahu setelah mendapat instruksi dari teman kerjanya, seorang yang kelihatan pasti keturunan India. Saya ingat betul nama hostel saya, The Sin City Hostel, dan waktu kami lewat saya bisa mengenalinya. Tempatnya lumayan suram dan seram. Kata si sopir, “Scary? I”m sorry man.” Mau bagaimana lagi, namanya juga hostel murah yang hanya mau menampung “international traveler” dan “student” dan pemiliknya mengaku sebagai “traveler” juga.

Sampai di sana saya langsung masuk ke lobi yang kecil sekali, seperti kios. Ada dua komputer dengan monitor tipis di sana. Seorang pemuda memakai internet sambil ngobrol di telpon. Bahasa inggrisnya beraksen asing. Saya langsung temui gadis yang duduk di meja resepsionis. “Hi, I”ve made a reservation for tonight,” kata saya. “What”s your name?” Saya jawab dan kasih tahu asal saya. “Oh, you”re the guy,” jawabnya, ingat pembicaraan kami di telepon beberapa hari sebelumnya. Setelah urusan administrasi selesai, dia mengantar saya ke kamar, sambil dia tunjukkan dapur, tempat cuci, tempat nonton tivi dan meja biliar. Ada beberapa pemuda dan pemudi, semuanya beraksen asing–oh ya, si resepsionis juga asing, asalnya Romania. Ada yang main biliar, ada yang leyeh-leyeh di sofa depan tivi, ada yang berlaptop sambil makan spaghetti.

Dia tunjukkan kamar saya, nomer 7, katanya sudah ada 2 orang di situ (isinya 4 kasur). Waktu saya masuk, ada seorang penghuni di situ yang sedang berdandan mau keluar. Selain pintu masuk, ada dua pintu lain di situ: satu untuk kamar mandi dan satu untuk “private room,” sebuah ruangan kecil buat 2 orang saja, agar lebih privat. Sepeninggal si resepsionis, saya langsung menjatuhkan koper saya dan mengeluarkan sandal jepit dan mulai ngobrol dengan penghuni yang lagi berdandan. Namanya Lloyd, seorang mahasiswa asal Australia yang sudah beberapa hari tinggal di hostel ini. Saya bilang “So we”re neighbors, then.” Dia tanya “Are you from Singapore?” Baru kali ini saya ditebak dari Singapura. Biasanya kalau bukan dikira orang Meksiko ya Malaysia (sama-sama M :D ) atau China (yang tinggal di Malaysia :D ). Dia mau siap-siap jalan-jalan ke kasino. Dia juga habis dari Grand Canyon, dan waktu saya tanya bagaimana Grand Canyon dibandingkan dengan batu Uluru, dia bilang “They”re different, Grand Canyon is humongous, but Uluru is more spiritual.”

Tak berapa lama kemudian dia berangkat dan saya pun selesai mengeluarkan isi ransel yang saya perlukan buat malam ini dan besok buat jalan-jalan ke Ngarai Akbar (atawa Grand Canyon, hehehe…) dan saya masukkan ke tas punggung kecil. Selanjutnya saya bawa ransel saya turun dan saya titipkan ke resepsionis, Mikaela, yang sebelumnya bilang bahwa mereka menyediakan gudang penitipan gratis buat seharian besok, meskipun saya check out pagi harinya. Saya tanya di mana bisa cari makan sekitar sini, saya lapar sekali. Dia kasih ancer-ancer ke Walgreen terdekat yang buka 24 jam.

Sekitar 300-an meter sampailah saya di Walgreen, dan di depan situ ada seorang pemabuk yang menyumpah-nyumpah. Agak grogi juga lihat orang mabuk yang misuh-misuh gitu. Tapi ya saya cuek saja dan masuk Walgreen. Securitynya yang gemuk bikin hati saya tentram. Di dalam Walgreen saya ambil seperlunya, sekitar enam atau sepuluh donat seukurangan tinju, jus buah (ganjil, saya baru memperhatikan kalau ada jus buah ukuran kecil dengan rasa delima!!!! gak terlalu manis sih, jadi ya… lumayan nyelera), dan seperti biasa beli beberapa gantungan kunci dan magnet kulkas. Ini yang unik: di seluruh Amerika, Anda bisa menemukan gantungan kunci dengan model yang bisa dibilang agak-agak mirip dengan motif agak-agak sama, yang membedakan hanya tulisan nama negara bagiannya dan latar belakangnya. Bisa ditebak… semuanya MADE IN CHINA…

P.S. (ini ada gambar hostelnya dari google maps)

Leave a Reply