Mengenal Unsur Gaya

William Strunk (bersama E.B. White) memang benar-benar membuat saya stung. Buku Elements of Style, yang pertama kali saya dengar dari Stephen King dalam bukunya On Writing, menyentak saya dengan fatwa-fatwa kepenulisannya. Bahasa yang dipakai sederhana dan jenial, tepat sasaran, berupa perintah-perintah “jangan begini” atau “jangan begitu” atau “hindari ini” atau “usahakan begitu.” Kalau saya tidak membaca pengantar dari E.B. White sebelum mulai membaca buku ini, pasti saya akan menganggap Pak Strunk ini orang yang arogan dan totaliter. E.B White mengawali buku dengan menunjukkan bahwa pak Strung adalah orang yang sangat keras dalam urusan bahasa tapi juga jenaka, seolah menegaskan bahwa kekerasannya itu demi kita-kita juga.

Beberapa fatwanya menyentak buat saya, yang cenderung membiarkan hasrat urakan saya dalam menulis, misalnya ketika dia bilang bahwa kita lebih baik menggunakan bahasa yang wajar dan mengikuti kaidah yang lazimnya diterima orang sehingga pembaca lebih terfokus memperhatikan isi tulisan kita, dan perhatiannya tidak teralih oleh penggunaan bahasa kita. Tapi saya juga merasa sangat terdukung oleh pak Strunk waktu beliau menyarankan agar saya lebih mempercayai kuping saya dan menghindari penggunaan bahasa-bahasa yang, dalam terminologi bahasa kita, “baik dan benar” jika yang katanya baik dan benar itu tidak wajar di telinga (terutama dalam menulis prosa). Saya agak sebal waktu Pak Strunk bilang bahwa menolak mentah-mentah aturan tata bahasa sama dengan membiarkan bahasa dalam kekacauan. Itu agak bertentangan dengan apa yang saya percayai, tapi mungkin saya juga perlu merenung lagi dan mungkin ada saatnya saya harus merubah pandangan kelak ;) ).

Satu hal yang saya hargai adalah pandangan pak Strunk sendiri terhadap yang dia ajarkan dalam buku ini. Alih-alih berpretensi menjadikan buku ini sebagai buku pegangan tentang penggunaan bahasa Inggris yang baik dan benar, dia bilang, “sedari tadi saya menganjurkan Anda untuk menghindari hal-hal tertentu bukan karena bahasa Inggris Anda jadi jelek kalau menulis begitu, tetapi lebih karena GAYA Anda jadi jelek kalau tidak menghindarinya.” Jelaslah di sini dia tidak berpretensi memberikan buku panduan bahasa Inggris yang baik dan benar, tapi buku panduan GAYA menulis (dalam bahasa Inggris) yang baik, dan juga memudahkan pembaca. Karena itulah saya di sini menyebut apa yang pak Strunk ajarkan itu sebagai “fatwa” bukan regulasi hukum negara (Ingat, kan, kalau fatwa itu adalah pendapat ulama berdasarkan penafsirannya atas pandangan2 fiqh atau dari penafsiran atas sumber-sumber shariah dan sifatnya tidak mengikat atau memaksa karena tidak ada yang bisa mengklaim bahwa fatwanya adalah kebenaran mutlak? Hehehe… kok jadi ke sini? :D ). Anda tahu lah ke mana arah omongan saya ini. :D

Secara umum, menurut saya buku Unsur-unsur Gaya Kepenulisan (kira-kira beginilah judul yang akan saya pakai kalau versi adaptasi saya dari buku ini kelak terbit :D ) sangat penting buat yang berniat menulis secara serius. Yang tak kalah perlunya membaca buku ini adalah semua orang yang menerjemah ke dalam bahasa Inggris. Saya sungguh berharap kelak ada seorang editor tangguh Indonesia yang bersedia mengadaptasi buku ini ke dalam bahasa Indonesia (kalau memang belum ada) berdasarkan pengalamannya dalam menyuntung buku…

Sepenuh harap…

Add a Comment Trackback

Add a Comment