Children of Gebelawi: Nakal sih iya, tapi apa benar menghujat?
Kita lanjutkan, kali ini bersama almarhum Naguib Mahfouz dengan novel Children of Gebelawi.
Sekali lagi, ini dia novel yang mempengaruhi keselamatan penulisnya. Meskipun ditulis pada tahun 1959 dan dimuat secara serial di koran Mesir, novel kontroversial ini mundur lama dari hadapan pembaca. Novel ini dilarang terbit di sekujur dunia Arab, kecuali Lebanon, karena kisahnya merupakan alegori tokoh-tokoh di Alqur”an, dan dianggap mendiskreditkan Islam (?). Namun, setelah kontroversi Rushdie, dan Naguib Mahfouz ikut komentar (di satu sisi mendukung kebebasan berekspresi Rushdie, tapi di sisi lain tidak setuju dengan Rushdie yang “menghina” Islam), seorang Muslim ekstrimis menikamnya waktu sedang santai-santai di kafe kegemarannya. Tikaman di leher pada tahun 1994 itu membuat pak Naguib tidak bisa lagi menikmati kesantaian masa tua…
Children of the Alley berkisah tentang sebuah kampung bersama Kampung Gebelawi, diambil dari nama pendiri yang juga leluhur semua orang di kampung itu. Gebelawi awalnya adalah pemilik satu-satunya rumah besar di gurun. Suatu kali dia angkat anak bungsunya, Adham, dari istrinya yang mantan budak, untuk menjadi penerus mengelola propertinya. Idris, anak tertua dari istri pertamanya tidak terima karena dilangkahi Adham, yang cuman anak budak. Idris diusir oleh bapaknya dari rumah besar. Suatu saat Idris membujuk Adham membuka buku wasiat si ayah, dan Adham membukanya tapi kepergok di Ayah, dan dia pun diusir dari rumah besar. Beberapa generasi selanjutnya, mulai tumbuhlah kampung Gebelawi, yang isinya adalah anak cucu Adham dan Idris. Tapi, karena si Gebelawi–yang ternyata masih hidup itu–mengundurkan diri dari kehidupan sosial dan mengurung diri di rumah besar, maka urusan propertinya diserahkan ke seorang Pengelola, yang bertindak sewenang-wenang, menggunakan jasa tukang pukul untuk menindas warga kampung, meminta pungli keamanan, padahal sebenarnya warga kampung itu adalah anak cucu Gebelawi, yang juga ikut menjadi pemilik kawasan itu. Maka suatu kali muncullah tokoh Gebel, yang memimpin pemberontakan, dengan kisah hidup mirip2 tokoh nabi Musa, khususnya di surah al-Kahfi. Dia akhirnya bisa mengalahkan Pengelola, yang sebenarnya pernah menjadi bapak angkat si Gebel (hehehe… mirip Fir”aun tho?). Setelah penggulingan si pengelola, hidup aman sentosa sejenak hingga beberapa generasi. Lalu muncullah lagi tirani, kali ini orang-orang keturunan si Gebel yang menjadi sombong, ikut menindas kelompok lain di kampung yang sama. Hingga suatu kali muncullah tokoh Rifaa, yang sebenarnya anak cucu Gebel, tapi benci dengan kesombongan mereka. Si Rifaa merasa mendapat pesan dari Gebelawi (yang tidak pernah keluar rumah dan tidak ada lagi yang tahu seperti apa bentuknya) untuk mengajarkan kedamaian dan kesabaran kepada kelompoknya, jangan terlalu haus kekuasaan seperti anak cucu Gebel yang lain. Akhirnya, Rifaa menyampaikan ini kepada teman-temannya, mengajarkan kesabaran dan kedamaian sehingga terhindar dari roh jahat yang membuat orang haus kekuasaan. Kelompok Gebel dibikin geram karena Rifaa ini membuat orang cuek dengan penguasa. Akhirnya Rifaa dibunuh… dan seterusnya dan seterusnya….
Begitulah, kisah-kisah ini sekilas memang alegori dari kisah-kisah nabi versi Qur”an. Tapi, Naguib Mahfouz sendiri tidak terlalu membatasi ke sumber-sumber itu (antara lain Surah al-Kahfi, al-Baqarah, Ali Imran, surah Maryam, an-Nisa dll). Dia lincah mengolah nama dan tokoh, meleburkan beberapa tokoh jadi satu, mengambil tokoh dari silsilah nabi lain memasukkannya ke nabi lain dll. Tapi ya, sepertinya cukup di sini saja kita beralegori-alegori, rasanya banyak yang lebih penting dari alegori untuk dibahas tentang novel ini.
Pertama, betapa kita gampang sekali lupa dengan pelajaran masa lalu! Kedua, betapa tipisnya jarak antara pemberontakan dengan ortodoksi itu. Pemberontak bisa menjadi ortodoksi begitu kondisinya sudah mapan dan lupa dengan semangat anti-kemapanannya (hehehe… lagi-lagi promosi antiestablishmentarianism
). Ketiga, terkadang saling bentrok terutama dalam urusan agama itu karena orang sudah enggan menengok lagi sumber-sumber shariah. Bagaimana para Pengelola itu menyembunyikan “Ten Conditions,” yaitu sepuluh syarat yang dibuat oleh Gebelawi saat menyerahkan tanggung jawab atas propertinya kepada para pengelola, mengingatkan pada bagaimana umat beragama cenderung enggan menekuni sendiri sumber-sumber syariah, dan lebih mengandalkan syariah jadi dari orang lain. Jadi ya tidak tahu apakah sebuah praktik itu benar-benar sesuai dengan syariah apa tidak, tahu-tahu sudah konflik.
Ya kira-kira begitulah. Lagi-lagi, sayang al-sekali, karya sebagus ini malah dilarang hanya karena menggunakan kitab suci sebagai rujukan dan titik berangkat. Padahal lagi, tidak ada bau-bau menghujat menurut saya. Naguib gunakan sumber-sumber itu, tapi dikontekstualkan, dan dijadikan kisah kehidupan yang memantik rasa dan pikir. Kalau begini saja sudah dikira menghujat, well … jangan-jangan yang mengira itu terlalu peka hidungnya, atau bahkan teralu gampang curiga. Oh ya, padahal Naguib sendiri adalah seorang yang dibesarkan dalam lingkungan Muslim yang ketat, saking ketatnya dia sampai pernah bilang di sebuah wawancara: “Kalau Njenengan lihat sendiri keluarga saya, pasti njenengan nggak akan percaya kalau dari keluarga yang seketat itu bisa lahir seorang seniman.” Dia mungkin pemikir kritis yang sekuler, tapi … saya masih curiga kalau seorang sastrawan yang peduli dengan sepak terjang manusia sampai harus menghujat agamanya, atau agama apapun… Well, well, well…
Oh ya, tambahan lagi, mungkin yang juga bikin geram para ekstrimis itu adalah jumlah bab dalam novelnya ini, yaitu… 114 bab! Hahaha… Nakal sih, tapi apa yang nakal itu selalu menghujat?