Hati Molak-malik, Ramadhan Tetap Ramadhan
Ramadhan datang bersahutan, usia terkikis perlahan, hati manusia molak-malik tak tentu arah.
Saya merasakan bolak-baliknya hati dan jaman pada saat ramadhan. Ketika saya 3 SMP dan 1 SMA, saya sedang gandrung-gandrungnya mendengarkan lagu-lagu Indonesia, sekitar dua tahun sebelumnya saya gandrung-gandrungnya mendengarkan musik-musik pop dan rock luar negeri. Saat itu saya merasa bahwa musik Indonesia, terutama yang disajikan oleh band, sedang pada puncaknya. Band-band semacam Kla Project dan Dewa19 menggawangi, dan band-band baru semacam Kaimana, Lakky, Fifty-fifty, Five Minutes, Nugi dan ALV menunjukkan taring dan meraih simpati massanya sendiri-sendiri.
Di Sidoarjo sendiri, saat itu ada sebuah stasiun radio baru yang pilihan musiknya sangat mendukung selera saya: radio GIGA FM. Radio ini tutupnya jam 12 malam dan bukanya jam 2 atau 3 pagi. Waktu itu orang tua saya beli semacam radio tape recorder yang stereo dengan model seperti Polytron Bazooka itu lho. Tapi, punyak saya merknya Sunny, dan kualitas stereonya tidak semantap yang asli Polytron itu. Biar pun begitu, saya terus-terusan memanjernya (karena kebetulan stereo itu ditaruhnya di kamar saya) khususnya pada bulan Ramadhan. Sebelum tidur saya nyalakan radio yang acaranya biasanya adalah musik-musik Indonesia top 40.
Antara jam 2 dan 3 saya akan mulai bangun karena radio yang capek mendesis selama 2 jam itu mulai nyala lagi. Saya masih ingat beberapa kali mimpi saya memiliki soundtrack, tentu saja soundtracknya adalah lagu dari radio yang merembes masuk ke bawah sadar itu. Sampai sekarang, yang masih saya ingat adalah ketika saya mulai terbangun sambil diiringi beat lagu Kla Project waktu tersisa, “dep tak dep dep tak dep tak dep dep tak dep… menyusur keramaian, sepanjang sisi kotaAa… dep tak dep dep tak dep tak dep dep.” Sering juga lagi Fifty-fifty yang oh saya suka amiiiiir.
Itu dulu, ketika saya masih kelas 3 SMP atau 1 SMA.
Beberapa tahun terakhir, sejak sekitar Ramadhan tahun 2005, saya punya kecenderungan musik yang lain. Saya selalu mempersiapkan MP3 lagu-lagunya Gigi dari album Raihlah Kemenangan untuk menjadi soundtrack Ramadhan saya. Kadang lagu-lagu itu saya mainkan ketika sahur, siang hari sambil baca-baca, atau kapan saja kalau ingat. Saya semacam mengkultuskan album Gigi tersebut, sebagai sajian wajib Ramadhan kapan pun dan di mana pun. Kadang, memang kita membutuhkan soundtrack untuk saat-saat tertentu.
Pertama kali saya menggunakan album itu untuk memberi warna Ramadhan saya adalah ketika masih mengajar di EF Nusantara Kediri. Sesekali, di saat bikin lesson plan siang-siang, saya memutar lagu-lagu tersebut dari CD yang saya burning sendiri, mutarnya di tape yang biasanya kami gunakan untuk memutar kaset-kaset dan CD pelajaran listening. Saya lupa apakah waktu itu saya minta ijin ke beberapa teman yang bukan Muslim ya?
… Untungnya seingat saya mereka tidak pernah keberatan. Suwun bos!
Sekarang, tahun 2010, tahun pertama setelah tanpa sengaja saya hapus folder “My Music” di komputer saya (karena seingat saya ada salinan folder tersebut di external hard drive), tidak ada lagi yang namanya album Raihlah Kemenangan. Sesaat saya merasa “Ah… hambarlah Ramadhan tahun ini tanpa lengkingan Arman dan petikan Budjana.” Tapi, hidup kita berubah selalu dan hati manusia molak-malik. Ternyata, musik country yang sudah mulai saya dengarkan sejak insiden lagu “Little Rock” di atas Red Dragon saat saya memarkirnya di parkiran Silas Hunt pada musim gugur 2009 lalu adalah jawabannya.
Tahun ini, saya mengandalkan weker untuk membangunkan saya. Tapi, alih-alih menggunakannya sebagai weker yang bunyinya tit-tit-tit, saya ubah biar yang nyala adalah radionya pada jam 4.15 pagi. Dan stasiunnya sudah pasti 103.9 KiXX Fayetteville, stasiunnya country. Jadi ya… seringkali yang membangunkan saya adalah musik-musik yang liriknya semacam “Rain makes corn, corn makes whisky, whisky makes my baby a little frisky” atau “Cold beer on Friday night … so we don”t have to sacrifice all the things we loOoOoOve…” atau “so began my love affaiIir with water.” Hehehe…
Begitulah, hati manusia molak-malik, selera manusia juga molak-malik, malam semakin dingin dan kita tetap bergoyang bersama Soneta dan penyanyi dari kota dingin Pandaan Bung Syahrul Jambalaya!!!!