a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Category : bahasa

Cara Praktis Mempelajari Peristilahan Bidang Tertentu

Anda adalah seorang penerjemah yang biasanya menerjemah, taruhlah, teks-teks umum. Tiba-tiba saja klien Anda meminta menerjemahkan satu bidang khusus, misalnya menerjemahkan bagian “Privacy Policy” yang bahasanya terkenal agak ruwet dan penuh jargon-jargon khusus itu.

Dalam keadaan seperti itu, ada satu hal yang bisa Anda gunakan–tapi jangan dijadikan patokan yang tak bisa diganggu-gugat lho ya? Yaitu, “mencuri” terjemahan orang lain. “Mencuri” di sini sebenarnya artinya tidak jauh-jauh dari melihat terjemahan orang yang terdahulu. Dan ini legal.

Caranya adalah, carilah satu situs yang cukup bagus reputasinya dan memiliki versi Inggris sekaligus Indonesia. Temukan kedua versi itu dan sandingkanlah. Praktisnya begini:

  1. Tentukan website yang akan kita ambil sebagai bahan belajar. Biar gampang, kita ambil saja Google.
  2. Buka halaman “Privacy Policy” google dalam bahasa Inggris, yang bisa ditemukan di sini: https://www.google.com/intl/en/policies/privacy/
  3. Buka halaman serupa dalam bahasa Indonesia, yang bernama “Kebijakan Privasi,” yang bisa ditemukan di sini: http://www.google.co.id/intl/id/policies/privacy/
  4. Setelah itu, mulailah proses mentheleng :) . Bandingkanlah bagaimana penerjemah situs tersebut menerjemahkan istilah-istilah khusus itu. Dan pelajari juga konstruksi kalimat (sintaksis) yang dipakai penerjemah untuk mengindonesiakan kalimat-kalimat aslinya dalam bahasa Inggris yang agak unik.

Oh ya, tapi jangan sampai sekali-kali Anda dipaksa harus menggunakan istilah-istilah yang ada di sana. Anda boleh menggunakan istilah-istilah yang menurut Anda bagus, cocok, dipahami, tidak berkonotasi negatif, dll, meskipun kata-kata itu menurut para penerjemah senior atau otoritas bahasa di Indonesia kurang bagus. Jangan kuatir, sejak zaman nabi Adam, tidak ada orang yang bisa mengontrol hak kita berpikir dan berbicara KECUALI otoritas-otoritas tak tahu diri dan tak punya hati :) .

Selamat menikmati. Kalau ketemu teman penerjemah lain dan belum sempat tahu cara ini, beri tahu dia ya? Salaam.

Logat Indonesia

Istri: Mas, kok tak rasa-rasakan logat Inggris sampean kesannya semakin Indonesia sih sejak kita tinggal di sini?
Suami: Begitu ya, Dik?
Istri: Iya lho mas. Dulu, waktu sampean baru balik dari sini, saya dengar sampean ngomong di telepon sama teman itu kelihatan kayak londooo banget bahasa Inggrisnya.
Suami: Kelihatan apa kedengaran?
Istri: Iya, iya, kedengaran. Sik ta, Mas, jangan nylimur.
Suami: Iya, iya. Aku sih gak ngerasa dik. Tapi dik, tak ceritani sebentar.
Istri: Sik ta, ngomong satu belum selesai kok sudah pingin cerita?
Suami: Ya cerita soal ini maksudku.
Istri: Lanjut mas.
Suami: Aku dulu kan pernah bilang, kalau urusan bahasa, yang penting itu kan bukan logat saja.
Istri: Iya, ingat. Isinya, kan, yang penting?
Suami: Nah, masih ingat gitu loh. Yang penting itu kita bisa ngomong secara, istilah londonya, ‘articulate’.
Istri: Hmm…
Suami: Terutama buat orang-orang kayak kita yang lidahnya sudah rusak kebanyakan makan dondong.
Istri: Ini mulai ngeles pasti.
Suami: Bisa jadi. Haha… Tapi, Dik, sampean nanti tak tunjukkan video klip-nya Zak Dekhida.
Istri: Apa?
Suami: Dekhida. Itu nama Perancis. Ejaannya Der-Ri-Da.
Istri: Kenapa si “Dekhidae” itu?
Suami: Bukan “Dekhidae” itu kan nama seksolog “Daniel Dakhidae”!
Istri: Iya. Terus?
Suami: Si Dekhida itu kalau ngomong Inggris logatnya Perancis banget. Perancis, cis. Tapi, Dik, penguasaan kebahasaannya sampean lihat. Super mbois. Bahasanya kalau ngomong di seminar-seminar. Ah, bikin mlongo lah.
Istri: Oke….
Suami: Belum lagi pemikirannya. Orang Amerika, terutama yang jurusan sastra, dia bikin nyembah-nyembah gara-gara pemikirannya.
Istri: Iya sih.
Suami: Jadi, bisa memahami?
Istri: Tapi tetep saja, sampean jadi nggak kayak Cinta Laura kalau ngomong. Nggak gaya, Mas!!! Blas!!!
Suami: ????

Kahlil Gibran: His Life and World (4)

Let me begin with one question. Is Kahlil Gibran an American author or an Arab author? At one point in my life I heard people say that Gibran was an Arab/Lebanese author. However, one time a friend, an influential author in Yogyakarta, convinced me that Gibran was an English literature author (because he grew up as an author in the United States under the shadow of William Blake, both in his poetry and paintings).

His Life and World has revealed to me a lot about Gibran’s literary identity. Well, Gibran started writing when he was under the patronage of Fred Holland Day and when he was close with poetess Josephine Preston Peabody. It was around the first quarter of his twenties. He then began to write for an Arabic Newspaper in the US called al-Mohajer (“The Emigrant”) that was circulated among Arab Immigrants in the US.

 

Read More…

Tags:

Memperkaya Diri … Dalam Hal Kosakata

Pak Arif Subiyanto, dosen jurusan Bahasa & Sastra Inggris UM (Universitas Negeri Malang) yang sejak sekitar dua tahun lalu “go-public” di Facebook (dan telah menjaring banyak pengikut sejak saat itu, hehehe… kayak sekte apaaa gitu ada pengikutnya :D ), beberapa jam yang lalu membuat sebuah postingan yang sangat praktis dan efektif.

Postingan ini berisi tips untuk memperkaya vocabulary, yang sebenarnya merupakan jawaban Panjenenganipun atas pertanyaan salah satu muridnya (?). Untuk lebih jelasnya, silakan baca kutipan lengkap berikut. . Btw, foto yang ada di samping itu courtesy of Pak Arif Subiyanto.

Jawaban saya untuk pertanyaan Silvia Dwi Carolina ihwal tips/cara menguasai vocab bahasa Inggris. Saya korbankan tidur siang 1,5 jam karena pertanyaan dia sungguh penting buat semua mahasiswa dan ex-mahasiswa saya. Memang benar, salah satu kunci menguasai kosakata adalah membaca sebanyak-banyaknya. Matkul “Extensive Reading” di kampus adalah salah satu metode kami dalam memancing minat baca para mahasiswa yang rata-rata memiliki persoalan dengan vocab. Itulah mengapa di dalam MK tersebut kalian ditarget membaca novel sekian judul, artikel ilmiah sekian judul, artikel populer sekian judul, dan sebagainya. Pengalaman menempuh MK Extensive Reading sebenarnya sudah menjawab pertanyaan Silvia, namun kalau kalian lupa, dengan senang hati saya akan menyarikannya. The key to boosting your vocabulary (read: “The only time-honored method by which you acquire, accumulate and master a vast amount of amazing words) is Guided Reading, in which either you or your lecturer decides the topics or titles of the assigned reading materials. Memang bukan sekadar banyak membaca, tapi membaca dengan panduan atau target yang jelas. Dengan memilih judul novel yang tepat, kalian akan mendapat ratusan atau bahkan ribuan kosakata baru dengan tema tertentu yang kalian butuhkan, tergantung jenis novelnya: thriller, sex, sejarah, detektif, remaja, fantasi, dsb.
kalau mau lanjut, klik di sini dooooong

Penerjemahan Bahasa Tak Biasa

Saat nerjemahbahasa yang biasa, apalagi HANYA untuk tujuan mendapatkan pemahaman atas kata-kata tertentu, mungkin kita tidak terlalu peduli dengan bentuk bahasa, atau tinggal nerjemah asal pembaca tahu maksudnya. Tapi, kalau yang akan kita terjemahkan merupakan kata-kata yang bentuknya harus dipertimbangkan, seperti misalnya kata-kata tak biasa, kata-kata SMS misalnya, atau kata-kata buatan, atau kata-kata dari (maaf) seseorang yang ada masalah wicara, maka di situlah kita harus memutar otak.

(Well, sebenarnya saya sudah banyak sekali blogging tentang penerjemahan bentuk dan isi semacam ini, hehehe, tapi senang saja rasanya bs mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lain :D )

Contoh kasus, seorang teman harus menerjemahkan sebuah buku tentang anak yang mengalami gangguan mental dan/atau wicara dan mengucapkan (kira-kira semacam) “my mom”s offish” dan di satu kesempatan lain “Mr. Bwown, you want mushwoom in yoh omelet?”

Nah, saya yang terlalu nganggur ini akhirnya menyarankan begini:

Mbak Dian (bisa nama sebenarnya bisa bukan nama sebenarnya),

Kalau saya boleh saran sih, sepertinya diterjemahkan dulu secara normal semuanya, baru setelah selesai mbak dian putuskan seperti apa gangguan bicaranya, apa cedal yang gak bisa ngucapkan r, atau s, atau apa saja, atau bicaranya agak sengau atau semacamnya.

Baru setelah itu dialog si anak di efek secara konsisten berdasarkan keputusan gangguan bicaranya. Dan dimulailah proses mengedit terjemahan pertama (yang literal) tadi.

Dengan begitu, penerjemahannya jadi bukan berbasis kalimat, tapi berbasis wacana (seingat saya begitu saya simpulkan dari presentasinya pak effendi di tempatnya Mas Tom dulu).

TAPI, setelah beberapa hari ada kejanggalan dalam saran saya itu, akhirnya saya kasih lagi pandangan yang lain (nggak tahu sih entah didengar atau enggak, hehehe… kan yang pertama sudah jadi meragukan :D ):

Saya jadi kepikiran sendiri (maklum akhir2 ini terlalu nganggur :D ), kira-kira ada berbagai pertimbangan kenapa kata2 yang dijadikan contoh itu mengandung bunyi “sy” (offiSH)sama “ww” (mushWoom). Mungkin gangguan bicara di bagian “s” dan “r” itu terkait satu gangguan fisik/mental tertentu. Jadi ya, rasanya kurang pas kalau akhirnya kita putuskan sendiri jenis gangguan bicaranya.

Jadi, ada dua kemungkinan solusi (menurut saya sih :D ): 1. memaksimalkan contoh kalimat itu untuk menunjukkan gangguan bicara pada “s” dan “r” tadi, atau 2. membuat contoh kalimat sendiri di mana kita bisa menyoroti ganguan bicara itu (tapi kayaknya yang kedua ini terlalu nekad dan pasti bisa panen massal kritikan :D ).

Akhirnya, saya kepikiran nerjemah jadi:
1. dadawnya mau dikasyih jamow, pak bwaun? (tapi kalimat lain harus mendukung agar pembaca jadi bisa mengira-ngira kalau yg dimaksud pak bwaun ini adalah Mr. Brown)
2. kantow ibu syaya

Semoga ndak mengganggu.

Kalau menurut sidang jamaah blog sekalian bagaimana?