a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Category : bahasa

Wah, kalau dirikip-rikip (tahu nggak dirikip-rikip? kata ulang itu berasal dari kata dasar “rikip” yang merupakan bahasa ngalam, yang SALAH SATU aturannya adalah “walikan”, soooo… dirikip-rikip adalah dipikir-pikir… ah, kok mbahas gini ya, hihihi…), bahasa Indonesia kita tercinta itu cukup unik ya. Well, pada dasarnya bahasa ini adalah bahasa buatan yang belum JADI (kayaknya, bahasa yang wajar memang nggak pernah JADI kok, karena bahasa selalu dipakai dan seiring dengan berkembangnya aktifitas manusia dan terciptanya hal-hal baru maka bahasa juga harus berkembang, tul nggak?). Wah, sori ya… paragraf pertama jadinya mbulet begini (sy terlalu takut menjerumuskan para pembaca ke satu hal sehingga saya harus menegasi-negasi atau menambahkan atau menyelipkan hal-hal baru, ke dalam kalimat-kalimat saya , yang mana mungkin mirip caranya Derrida nulis–hihihi… sok tahu buanget!!!!!).

Oke, sekarang sy akan mulai masuk ke satu topik secara khusus: SIKAP KITA TERHADAP BAHASA INDONESIA. Lebih fokus lagi: SIKAP KITA TERHADAP BAHASA INDONESIA YANG BANYAK DIMASUKI ELEMEN ASING. Lebih tambah fokus lagi: SIKAP KITA TERHADAP SELUNDUPAN ELEMEN ASING DALAM HAL STRUKTUR KALIMAT. Oke, fokus kan? Jadi inti saya bukanlah dalam hal sisipan istilah asing, tapi struktur kalimat, bukan diksi.

Nah, kongkritnya bagaimana? Begini: dalam bahasa Indonesia jaman sekarang, saya kok sering mendengar orang bilang bahwa tulisannya pak Anu biasanya berstruktur inggris, pak ini juga berstruktur inggris (tapi anehnya, kalo ada terjemahan yang strukurnya masih ke inggris-inggrisan orang-orang pada protes, hehehe).

Terus pasti Anda bertanya: bagaimana sih bahasa Indonesia yang berstruktur inggris itu? Begini misalnya (dalam iklan Indomie): … kita memang berbeda, TETAPI SATU HAL: kita sehati. Nah, apa menurut njenengan semua itu struktur bahasa Indonesia? Kayaknya nggak deh. Saya mensinyalir: TETAPI SATU HAL itu sangat dipengaruhi oleh bahasa inggris BUT ONE THING FOR SURE, atau BUT ONE THING. Ya, menurut saya itu struktur yang nginggris. Kalau struktur yang ngindonesia seperti apa? Kayaknya lebih ngindonesia itu kalo kita ngomong “…kita memang berbeda, TETAPI YANG PASTI: kita sehati”. Nah…. lebih kerasa ngindonesia kan?

Tapi, apa itu berarti kita harus bersikap antipati yang bilang: WAH, IKLAN ITU NGGAK NGINDONESIA BAHASANYA? Kayaknya nggak lah. Konyol itu. Dan mustahil “sang yang pemimpi yang blogger jelata yang mengagungkan bahasa berbasis pemakai nan ramah kemajuan dan kesadaran akan fitrah bahasa” ini menentang dan tidak menyetujui penggunaan bahasa seperti itu. Makanya di sini saya mengajak merenungkan sikap kita terhadap bahasa yang seperti itu.

Ya, bahasa Indonesia kita tercinta ini memang sangat rentan terhadap perubahan, karena ya … bagaimana lagi, lha wong bahasa kita ini dibuat untuk menyatukan segenap perbedaan bahasa yang memperkaya kita ini. Sejauh ini, bahasa Indonesia sangat berbeda-beda, baik dalam hal strukur maupun diksinya, bergantung bahasa ibu (yang umumnya bahasa daerah) pemakaianya. Orang jawa timur bahasa Indonesianya secara struktur dan diksi (kalau logat mah sudah beda-beda) akan sangat dipengaruhi coro jowo. Begitu juga di daerah-daerah lainnya.

Nah, jadi, kalau tiba-tiba orang-orang yang aktif di industri internasional semacam Indomie itu menggunakan TETAPI SATU HAL, bukannya memakai TETAPI YANG PASTI, sepertinya kita harus legowo mengakuinya. Karena, ya… bisa dibilang bahasa sehari-hari orang-orang di perusahaan gede itu oh… jargonnya sangat londo boooo’. Saya pernah nerjemah untuk sebuah produk waralaba internasional, di situ banyaaaaaak sekali istilah yang nggak boleh diterjemahkan. Mereka sangat banyak bergaul dengan literatur manajemen asing, ya wajarlah kalo tiba-tiba tim kreatifnya menggunakan “TETAPI SATU HAL”, yang agak gak nyaman di kuping tapi ya… mau gak mau harus kita terima sebagai imbas dari pergaulan kita dengan literatur asing (maklum lah… toh kita nggak bisa terus-menerus mengandalkan pada literatur bahasa Indonesia :D )

Sementara begitu dulu pernyataan sikap saya soal bahasa kita yang sudah mbau-mbau inggris. Geeethooooo….

Terus gimana gaya bahasa yang saya praktekkan sebagai penerjemah dan editor (terjemahan saya sendiri? :) ? Let’s wai’ n’ C!

Tiba-tiba Si Pemimpi Ulang Tahun !!!!

Baru beberapa waktu yang lalu saya ingat kalau di bulan April ini Berbagi Mimpi sudah genap setahun. Seingat saya, sejak berhenti latihan silat bertahun-tahun yang lalu… saya tidak punya pekerjaan selain pekerjaan wajib yang saya kerjakan secara kontinyu hingga setahun. Hehehe… Ya, baru mblogging inilah kegiatan non-wajib yang saya kerjakan secara dawwam, utun, reguler, (dan masih banyak lagi sinonimnya yang karena keterbatasan ruang … dan ingatan … tidak bisa saya sebutkan di sini, hehehe).

Ya, pada kesempatan model ini, sebenarnya saya ingin sekali ngimpi soal blogging (syukur-syukur bisa agak-agak ilmiah gitu deh)… Tapi, ya karena keterbatasan ini dan itu, akhirnya belum kesampaian juga ngimpi soal blogging yang sesungguhnya.

Ah, setahun sudah saya berbagi mimpi, mengoceh, meluapkan ketidakpedulipadaEYDan saya (ciyyeeee), berlagak GM di sejengkal blogspot dengan menulis catatan mimpi, berlagak sok sarjana sastra dengan menyumpah-nyumpahi tulisan yang saya benci dan memaussastrakan diri sendiri di hadapan diri sendiri dengan memuja-muja setinggi langit tulisan-tulisan yang meninggalkan kesan yang kuat di benak saya.

Ah, setahun sudah saya puas dengan yang namanya blog, setelah beberapa kali bikin blog di blog.com dan friendster.com tapi gagal karena terlalu mengikuti aturan (mungkin aturan yang diterapkan untuk tulisan koran dan karya sastra koran) dan akhirnya kurang gairah (dan butuh waktu lama)…

Ya, saya ingat sekali waktu itu saya mengunjungi http://sejuta-puisi.blogspot.com dan langsung terbetik keinginan untuk membloggerkan diri saya … tapi waktu itu karena kurang gaulnya akhirnya mencari www.blogspot.com untuk bisa mendapatkan blog yang domainnya blogspot.com, hahaha…

Oke… sepertinya kebiasaan non wajib ini harus saya pertahankan… setidaknya selama blogger purba di dalam kepala saya belum bosan mengoceh, selama saya masih punya pertanyaan, selama saya masih punya hasrat narsistik yang besar untuk tidak hilang…

Ah, kenapa jadi murung begini ya ujung-ujungnya? Kenapa jadi Hasif Aminis begini ya (heee…. madak-madakno, hahaha…)?

Well, akhirul posting, saya ucapkan selamat ulang tahun kepada Si Pemimpi, semoga panjang posting dan sejahtera dan semoga tetap eling-eling-eling marang impenmu!!!1

Saya ingin sekali mencurahkan agak banyak perhatian ke satu bentuk tulisan pendukung sastra: RESENSI. Iya, kalau dilihat-lihat, buanyaaaaaak sekali resensi bertebaran di koran-koran kita. Kebetulan sekali, yang ingin saya obrolkan kali ini adalah resensi-resensi atas buku-buku sastra. Ya, sebelum apa-apa kayaknya saya harus bikin batasan, cuman resensi atas buku-buku sastra. Kalau buku-buku sosial-antropologi-ekonomi dsb., kayaknya J. Sumardianta lebih cocok deh. hehehe (betul nggak, Pak?).

Hokeh, tentang resensi sastra, saya pingiiiiin sekali meluangkan lebih banyak waktu untuk membacanya dan ya… sok-meneliti gitu deh, menggolong-golongkan jenisnya, memilah-milah dsb. Ya, saya pingin tahu resensi mana saja yang 1) sukanya pamer retorika dan suka pamer referensi dan menggunakan sudut pandang filsafat sampai-sampai sebuah karya yang biasa saja jadi kelihatan daleeeeem banget (dan sulit diakses khalayak awam seperti Si Pemimpi dan baladewanya, hehehe), 2) sukanya hanya membuat ringkasan atas sebuah karya sastra dan mengutip kalimat-kalimat kuat dari karya yang bersangkutan (kalau kata The Guru sih, resensi macam ini patut dihargai semangat-untuk-berbaginya, :D meskipun toh sebenarnya masih perlu dielaborasi), 3) mana resensi yang kecenderungannya mengutamakan PENGUNGKAPAN DAMPAK DARI KARYA SASTRA YANG BERSANGKUTAN DI PIHAK SI PERESENSI, 4) mana resensi yang sukanya menyoroti dengan detil (bahkan lebih detil dari yang diharapkan hampir semua orang) dan melontarkan kritik-kritik keras (yang mana seringkali dimuatkan di media-media yang nggak punya kepentingan, atau media-media yang sudah buwesar), 5) mana resensi yang bahasanya datar tapi bisa menimbang dengan bijak, 6) dsb.

Banyak kan jenis-jenis resensi? Lha ya itu, saya pinginnya me-sok-neliti mereka dan mengorek-orek apa ya kira-kira yang bisa dipetik dari mereka, mana yang baik-baik ya. Dan tentunya, pada ujung-ujungnya, saya pinginnya memandang resensi itu WITH THE LIGHT OF resensi-resensinya Martin Amis (nah!). Bukannya menjadikan Martin Amis sebagai standar resensi yang baik dan benar wal sangkil dan mangkus. Bukan. Hanya saja, saya belum pernah menemukan resensi-resensi yang lebih unik daripada resensinya Martin Amis yang bisa dijadikan benchmark (walah!) penulisan resensi.

So, Anda-anda para peneliti sastra (dan di sini resensi saya sertakan, maaf, :D ) nuswantara, silakan goenawan, ehh… sori, SILAKAN GUNAKAN peltikan mimpi ini untuk meneliti dan mengembangkan resensi-resensi anak negeri. Sementara saya… ya, saya bermimpi lagi saja lah WITH THE LIGHT of Martin Amis (halah, ke sini lagi). Iya, Martin Amis. Soalnya apa? Soalnya … saya ingin sekali mencurahkan agak banyak perhatian ke salah… (lho? kok kesini lagi? :D )

Jumpa lagi…. dengan Pemimpi di sini… (ini bacanya harus kayak Maisy Chikita. Hahaha…) Senang sekali rasanya bisa kembali bermimpi dengan wajah sumrigah dan melupakan segala kemarahan.

Kali ini ada satu tema yang akan saya angkat (aduh, klise ya, makalah abis!!!): Kedudukan Bahasa Daerah dalam Prosa Berbahasa Indonesia Karya Penulis Lokal. Nah, judulnya sudah cukup mbulet kan untuk diakui sebagai makalah. Hehehe…

Kalau ngomong soal puisi, kita mungkin akan sepakat kalau puisi–dalam ukuran standarnya–adalah kata-kata yang INDAH dan BERTUAH. INDAHnya mungkin bisa dipenuhi dengan cara menggunakan kata-kata yang berasosiasi bunyi antara satu sama lain (berrima, beraliterasi), atau bunyi-bunyi yang berasosiasi dengan tema (kakofoni, eufoni), atau kata-kata yang langka namun indah (kalau kata teman saya, mungkin bisa disebut “kata-kata yang KOLOM-PUISI-KOMPAS-MINGGU banget”, semisal: lindap, berkelindan, sangsai etc, dll, so on, dsb). Pendeknya, bahasa puisi adalah bahasa yang dibuat-bikin, bukan bahasa standar. Atau, ekstrimnya, menurut para formalis Rusia, bahasa puisi adalah bahasa yang sejauh mungkin dengan bahasa sehari-hari. Kalau soal BERTUAHnya, ya pastilah itu mengacu ke isinya, ajarannya, renungannya, permasalahannya. Pendeknya lagi, dalam puisi, di mana yang ingin “diceritakan” adalah hasil renungan, hasil kriya, bukan kehidupan di “lapangan”, bahasa adalah satu hal yang bisa dipermain-plintirkan

Nah, itu kalau puisi. Tapi kalau prosa, ada sesuatu yang beda: karena dia berpijak pada dan “bercerita” tentang HIDUP DI LAPANGAN, maka SEYOGYANYA (ini menurut saya lho ya) dia lebih mendekati bahasa yang dipakai orang-orang di LAPANGAN. Kalau yang disebut lapangan itu adalah kehidupan di Jakarta, ya akan lebih baik kalau prosa tersebut memakai bahasa yang Njakarta (saya masih loading… cari contoh), kalau di Irlandia, ya seyogyanya pakai bahasa sehari-hari orang Irlandia (ingat karya-karya James Joyce dalam Dubliners dan Ulysses kan?), kalau di New York, ya bahasanya harus New York abis (ingat J.D. Salinger dalam The Cather in the Rye, Nine Stories, dan Franny and Zooey, kan?).

Oh ya, mungkin ada karya-karya fiksi yang memilih untuk memperberat sisi plot-bin-tema-al-keasyikan-pembaca dan memandang bahasa secara sambil lalu, macam karya-karya Sidney Sheldon, James Patterson, Mira W., N.H. Dini, Pramoedya Ananta Toer. Well, sayangnya mereka tidak bisa ikut dalam pembahasan kita kali ini.

Begitulah hasil penerawangan saya.

Tapi, ada satu fenomena yang unik di negara macam Indonesia, yang terdiri dari beratus-ratus suku bangsa, beratus-ratus bahasa, dan satu bahasa nasional yang belum sempurna (hehehe…), yakni cara ucap para sastrawan yang bukan berlidah asli bahasa Indonesia. Menurut pengalaman saya (alah, sok berpengalaman, rek!), ada beberapa cara yang dipakai para sastrawan macam itu, yakni 1) menulis dalam bahasa Indonesia EYD (mungkin macam cerpen2 awalnya Si Pemimpi ini, hahaha…, atau mungkin sebagian AGAK besar karya-karya Budi Darma–selain Olenka yang dengan santainya memakai “sampean” meskipun settingnya Amrik itu–dan Danarto, atau Hubbu-nya Cak Huri) 2) menulis dalam bahasa Indonesia yang beraroma bahasa lokal (misalnya Ahmad Tohari, Umar Kayam, Kuntowijoyo), dalam artian (ciyeeeh, ini makalah pol bahasanya!!!) bahasa Indonesia tapi diselingi kata-ungkapan bahasa Jawa dan kadang-kadang konstruksi kalimat yang Njawani, atau 3) nulis dalam bahasa daerah sekalian.

Nah, secara pribadi saya sendiri pernah mengalami suatu “keterbelahan” (alah!) dalam hal pemilihan bahasa. Di satu sisi, kenarsisan saya menginginkan agar tulisan saya bisa diakses oleh lebih banyak orang, dan segera memutuskan menulis dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, karena saya sendiri kurang “lanyah” atau menginternalisasi bahasa Indonesia (dan dalam pergaulan pun saya memilih berbahasa Jawa dan sebisa mungkin berbahasa Jawa kalau berbicara dengan teman non-native-speaker-bahasa-jawa yang agak ngerti bahasa Jawa dan selalu canggung jika berbicara bahasa Indonesia, :D ), akhirnya saya tanpa sadar memilih bahasa Indonesia yang “aman-aman saja”. Nah, dampaknya apa, cerpen-cerpen saya kata seorang kritikus Jawa Timur terlalu “EYD” dan, “kurang spontan”. Nah, betul itu! Saya merasakan ke-EYD-an cerpen-cerpen saya itu sejak awal, tapi baru sadar kalau dampaknya malah bikin cerpen menjadi “kurang spontan”. Well, thanks a zillion, Mas Kritikus, it means a lot to me. Ya, betul, terlalu EYD!

Saya meraba-raba akhirnya, bahasa macam apakah yang idealnya dipakai oleh sastrawan Jatim? Apa kayak Pak Kunto-Kayam-Tohari? Mungkin. Apa menulis dalam bahasa Jawa sekalian? Wah, itu dia sulitnya, lha wong bahasa Jawa kita sekarang gak karuan kasarnya. hehehe…

Makanya, saya iriiiii sekali kalau melihat bagaimana Joyce bisa menulis bahasa Inggris dengan dialek yang sangat Dublin di Ulysses, atau J.D. Salinger yang dialeknya sangat New York dalam cerita-cerita Nine Stories. Kenapa iri? Soalnya mereka bisa menulis dengan bahasa “lapangan” tapi tetap berpotensi dimengerti banyak orang. Sementara saya, saya setengah mati ingin menulis dengan bahasa saya sendiri, tapi saya merasa terlalu repot kalau harus menerjemahkannya lagi jika saya ingin saudara saya di Aceh, Makassar, Papua, bisa membacanya. Di satu sisi, saya ingin berbagi pengalaman dengan para saudara yang tak terlalu jauh itu. Tapi di sisi lain, saya ingin menjaga orisinalitas ungkap alias kesastraan karya sastra saya (alah!!!). Saya kok masih belum sreg akan harus seperti apa? Seperti bapak-bapak yang berkompromi seperti pak Kayam-Kunto-Tohari? Ataukah sekalian ekstrim ke Sitok Srengene? Ah, sementara saya lebih condong ke Pak Tohari. Tapi saya masih bimbang (ah, ini milih bahasa kok kayak milih agama ya? hahaha…).

Sudahlah, let’s stop talking about me, let’s start talking about works. Sekira dua bulan yang lalu, saat berangkat Jumatan, terlintaslah di pikiran saya sebuah penyelesaian atas kegamangan saya soal berbahasa itu. Caranya: saya akan menulis dalam bahasa Indonesia, tapi dengan kesadaran bahwa bahasa Indonesia saya hanya sebatas agar bisa dimengerti oleh sesama orang Indonesia (jangan pakai Indon lho ya, kurang asyik!!!), dan kesadaran bahwa bahasa yang berjalan di pikiran saya adalah bahasa Jawa. Dan kongkritnya, saya akan mengawali novel pertama saya nanti seperti ini (tolong jangan dijiplak dulu yaaaaa…):

“Akhirnya, kalau sudah jadi seperti ini, terbaring di kasur selama hampir seminggu karena kecapekan, barulah saya berkesempatan bercerita kepada Anda bagaimana hidup saya telah terjungkir balik hingga 180 derajat (bukan 360 derajat lho ya, saya kemarin baru diingatkan teman saya).

Wah, agak janggal juga ya ngomong bahasa Indonesia. Wagu juga rasanya. Tapi ya gimana lagi, kalau saya ngomong bahasa Jawa, bahasa asli saya, pasti Anda-anda sekalian nggak akan mengerti. Dan lagi, saya takut dianggap tidak cinta persatuan dan kesatuan Indonesia. Saya takut kehilangan saudara karena itu. Padahal, alasannya cuman karena saya agak kagok bicara bahasa Indonesia. Yah, sudahlah, biar saya lah yang berkorban, pakai bahasa Indonesia saja.

Balik lagi ya ke cerita saya:

Ya, akhirnya saya baru tahu rasanya diaduk-aduk oleh perasaan dan ketakutan. Ya, kejadian yang dimulai dua minggu yang lalu itu sungguh tak ketulungan dampaknya bagi saya. Semoga saya bisa membaginya dengan Anda sekalian.

Ceritanya dimulai di pertigaan Porong, titik pertemuan jalur dari arah Surabaya-Krembung-Malang. Waktu itu puanaaas sekali, ya standar panasnya Sidoarjo lah…”

Yah, begitulah paragraf-paragraf pembuka novel pertama saya. Pokoknya, untuk lebih lengkapnya, tunggu lah barang beberapa tahun, siapa tahu selesainya bisa lebih cepat ketimbang A Portrait of the Artist (yang butuh 10 tahun itu!!!!!).

Sampai ketemu lagi dalam mimpi-mimpi selanjutnya. Senang rasanya ada Anda-anda yang menyudikan diri membaca mimpi-mimpi saya. Salam sayang.

The Sea (1): Canggih Berbahasa bukan Berarti Mempuisikan Prosa

Saya tak pernah habis terhantui The Sea-nya John Banville. Bagaimana The Sea–yang tidak menceritakan terlalu banyak kisah, tanpa action-action atau scene-scene yang membikin pembaca bergairah untuk terus membaca, alur yang kalem dan mundar-mundur (semacam maju mundur tapi kebanyakan mundurnya :D hehehe…), kalimat-kalimat yang konon dipoles dengan kejeniusan oleh penulisnya tapi membuat pembaca beberapa kali membuka kamus (bahkan pembaca Inggris asli lho, katanya sih), dan tidak menunjukkan perjuangan mengangkat derajat umat manusia itu–bisa meraih Man Booker Prize? Betul, nggak habis heran saya.

Tapi, yang bikin gregetan, ada sesuatu yang kuat, yang nggak mudah hilang dari otak dan hati (wih…. di mana ya hati itu?), yang memaksa saya untuk mengatakan ‘ini bukan novel sembarangan, ayo baca lagi, ayo baca lagi!’.

Nah itu dia kenapa sudah lama selesai baca novel ini, dan sudah lama mengakui novel ini bukan barang gampangan, saya nggak rela untuk membiarkannya berlalu begitu saja.

Karena baru-baru ini saya dapat wangsit lagi, maka saya akan beberkan sedikit dua dikit di sini:

Pertama, kehandalan John Banville dalam menyulam kata-kata.

Kalimat-kalimat John Banville, secara struktur, adalah kalimat-kalimat yang sangat mudah sekali ditemui dalam perbincangan bahasa Inggris (orang Irlandia) sehari-hari. Saya ambilkan secara acak: “I find the autumn stimulating, as spring is supposed to be for others. Autumn is the time to work, I am at one with Pushkin on that. Oh, yes, Alexandr and I, Octobrists both.” Kerasa kan bagaimana si narator–Max Morden namanya–sangat ‘berbicara’. Bahasanya sangat lisan sekali. Kalimatnya minim santai gaya orang ngomong sama teman sambil bilang ‘kamu tahu lah maksudku’.

Tapi, biar pun sangat lisan, ada kalanya dia kepentok satu kata yang terasa unik atau tidak lazim (tapi di daerah tertentu masih digunakan), dan kemudian dia bahas kata itu (tentu secara solilokuis). Hasilnya, kita jadi tahu bersitan perenungan tentang kata-kata yang unik semacam ‘…’ atau ‘…’.

Tapi lagi, ada kalanya dia menggambarkan sesuatu dengan detil yang meresahkan seolah-olah memaksa kita harus tahu pemandangan (benda, ruangan, luar ruangan) yang ada di hadapannya dan menurutnya penting. Hebatnya, ketimbang membuat kita bosen sama deskripsi barang-barang yang terlalu banyak, dia memilih benda-benda tertentu yang menurutnya menarik (dan kira-kira penting juga diketahui pembaca–karena terkait dengan masa lalu si tokoh atau suasana hati si narator) dan mati-matian menggambarkannya. Lagi-lagi, kalimat yang dia pakai biasa.

Dari memperlakukan bahasa macam inilah–bukan bermain sastra kosakata macam prosa-prosa Sitok Srengenge, atau menampilkan kegilaan berbahasa macam Finnegans Wake’nya pak Guru James Joyce, atau bertutur ganjil ala Cala Ibi-nya Nukila Amal (yang maaf masih belum sempat saya selesaikan, :D ), atau menyajikan kemelambai-lambaian berbahasa seperti dalam sejumlah cerpen Isbedy Setiawan ZS–dewan juri Man Booker Prize 2005 beserta sejumlah kritikus menganggap John Banville sebagai ‘lord or language’ dengan memiliki ‘kejeniusan linguistis [yang] membantu menyampaikan emosi’ dan ‘mengolah novel berbasis keapikan kalimat’ dsb.

Ya, begitulah dia mendapatkan predikat sebagai penguasa bahasa. Dan tentu saja orang tidak terlalu repot mempermasalahkan apakah karyanya ini bisa disebut prosa, atau prosa liris, atau prosa puitis. Tidak! Semuanya mufakat ini prosa, tapi yang nulis adalah ‘lord of language’.

Nah, sementara satu poin dulu bincang-bincang soal John Banville. Kapan-kapan dilanjutkan kembali, oke? Kalau belum apa-apa Anda sudah menuduh si Pemimpi ini anti novel prosais, well, tunggu saja lah. Hehehe… Tapi sementara saya ingin bilang, ADA CARA UNTUK MEMAKSIMALKAN PENGGUNAAN BAHASA DALAM PROSA, DAN ITU TIDAK HARUS DENGAN MEMBELOKKAN PROSA KE PUISI.