June
On Bahasa Indonesia yang Strukturnya Nginggris … An Ineluctable Trait of Bahasa Indonesia
Posted by wawan at 3:11 AM. Placed in bahasa category
Wah, kalau dirikip-rikip (tahu nggak dirikip-rikip? kata ulang itu berasal dari kata dasar “rikip” yang merupakan bahasa ngalam, yang SALAH SATU aturannya adalah “walikan”, soooo… dirikip-rikip adalah dipikir-pikir… ah, kok mbahas gini ya, hihihi…), bahasa Indonesia kita tercinta itu cukup unik ya. Well, pada dasarnya bahasa ini adalah bahasa buatan yang belum JADI (kayaknya, bahasa yang wajar memang nggak pernah JADI kok, karena bahasa selalu dipakai dan seiring dengan berkembangnya aktifitas manusia dan terciptanya hal-hal baru maka bahasa juga harus berkembang, tul nggak?). Wah, sori ya… paragraf pertama jadinya mbulet begini (sy terlalu takut menjerumuskan para pembaca ke satu hal sehingga saya harus menegasi-negasi atau menambahkan atau menyelipkan hal-hal baru, ke dalam kalimat-kalimat saya , yang mana mungkin mirip caranya Derrida nulis–hihihi… sok tahu buanget!!!!!).
Oke, sekarang sy akan mulai masuk ke satu topik secara khusus: SIKAP KITA TERHADAP BAHASA INDONESIA. Lebih fokus lagi: SIKAP KITA TERHADAP BAHASA INDONESIA YANG BANYAK DIMASUKI ELEMEN ASING. Lebih tambah fokus lagi: SIKAP KITA TERHADAP SELUNDUPAN ELEMEN ASING DALAM HAL STRUKTUR KALIMAT. Oke, fokus kan? Jadi inti saya bukanlah dalam hal sisipan istilah asing, tapi struktur kalimat, bukan diksi.
Nah, kongkritnya bagaimana? Begini: dalam bahasa Indonesia jaman sekarang, saya kok sering mendengar orang bilang bahwa tulisannya pak Anu biasanya berstruktur inggris, pak ini juga berstruktur inggris (tapi anehnya, kalo ada terjemahan yang strukurnya masih ke inggris-inggrisan orang-orang pada protes, hehehe).
Terus pasti Anda bertanya: bagaimana sih bahasa Indonesia yang berstruktur inggris itu? Begini misalnya (dalam iklan Indomie): … kita memang berbeda, TETAPI SATU HAL: kita sehati. Nah, apa menurut njenengan semua itu struktur bahasa Indonesia? Kayaknya nggak deh. Saya mensinyalir: TETAPI SATU HAL itu sangat dipengaruhi oleh bahasa inggris BUT ONE THING FOR SURE, atau BUT ONE THING. Ya, menurut saya itu struktur yang nginggris. Kalau struktur yang ngindonesia seperti apa? Kayaknya lebih ngindonesia itu kalo kita ngomong “…kita memang berbeda, TETAPI YANG PASTI: kita sehati”. Nah…. lebih kerasa ngindonesia kan?
Tapi, apa itu berarti kita harus bersikap antipati yang bilang: WAH, IKLAN ITU NGGAK NGINDONESIA BAHASANYA? Kayaknya nggak lah. Konyol itu. Dan mustahil “sang yang pemimpi yang blogger jelata yang mengagungkan bahasa berbasis pemakai nan ramah kemajuan dan kesadaran akan fitrah bahasa” ini menentang dan tidak menyetujui penggunaan bahasa seperti itu. Makanya di sini saya mengajak merenungkan sikap kita terhadap bahasa yang seperti itu.
Ya, bahasa Indonesia kita tercinta ini memang sangat rentan terhadap perubahan, karena ya … bagaimana lagi, lha wong bahasa kita ini dibuat untuk menyatukan segenap perbedaan bahasa yang memperkaya kita ini. Sejauh ini, bahasa Indonesia sangat berbeda-beda, baik dalam hal strukur maupun diksinya, bergantung bahasa ibu (yang umumnya bahasa daerah) pemakaianya. Orang jawa timur bahasa Indonesianya secara struktur dan diksi (kalau logat mah sudah beda-beda) akan sangat dipengaruhi coro jowo. Begitu juga di daerah-daerah lainnya.
Nah, jadi, kalau tiba-tiba orang-orang yang aktif di industri internasional semacam Indomie itu menggunakan TETAPI SATU HAL, bukannya memakai TETAPI YANG PASTI, sepertinya kita harus legowo mengakuinya. Karena, ya… bisa dibilang bahasa sehari-hari orang-orang di perusahaan gede itu oh… jargonnya sangat londo boooo’. Saya pernah nerjemah untuk sebuah produk waralaba internasional, di situ banyaaaaaak sekali istilah yang nggak boleh diterjemahkan. Mereka sangat banyak bergaul dengan literatur manajemen asing, ya wajarlah kalo tiba-tiba tim kreatifnya menggunakan “TETAPI SATU HAL”, yang agak gak nyaman di kuping tapi ya… mau gak mau harus kita terima sebagai imbas dari pergaulan kita dengan literatur asing (maklum lah… toh kita nggak bisa terus-menerus mengandalkan pada literatur bahasa Indonesia
)
Sementara begitu dulu pernyataan sikap saya soal bahasa kita yang sudah mbau-mbau inggris. Geeethooooo….
Terus gimana gaya bahasa yang saya praktekkan sebagai penerjemah dan editor (terjemahan saya sendiri?
? Let’s wai’ n’ C!