a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Category : diari

Trio Macan Cerpen Amrik Indonesia

Sastro: [sambil berjalan menanjak di trotoar di belakang Misdi yang sesekali menoleh kepadanya] Terus gimana, Mis. Apa kali ini sampean tetep ndak mau nulis lagi tentang Amerika-amerikaan?

Misdi: Kali ini sejak awal sudah dilematis, Bos. [Sambil menoleh sebentar lawan bicaranya yang berjalan kira-kira dua langkah di belakangnya]

Sastro: Dilematis piye?

Misdi: [Membalik badan, tapi tidak berhenti berjalan, jadi dia berjalan mundur menanjak trotoar] Ada keinginan sedikit, Bos, mau nulis.

Sastro: Waduh, alamat bakal banyak yang ditulis. Konon sih begitu biasanya.

Misdi: Maksudmu? [Tetap sambil berjalan mundur]

Sastro: Lha dulu, tiga tahun lalu, sampean sejak awal bilang ndak bakal nulis cerpen berlatar Amerika-amerikaan. Gak bakal latah-latahan. Katanya Joyce saja yang lama tinggal di Paris, Trieste, Zurich nulisnya tetap tentang Dublin? Katanya sampean dulu pernah baca kalau Mark Twain bilang setelah tinggal 15 tahun, baru orang bisa nulis tentang daerah yang bukan tempat lahirnya secara legit.

Misdi: Peh. Kok kamu masih ingat, Bos?

Sastro: Haiyyah, sampean ini kok mempertanyakan hamba yang anak angkut–weis, anak angkat maksudku–sir Google dot com ini? Kan sampean tulis semua itu di blog?

Misdi: Hehehe… iya juga sih.

Sastro: Lha iya, dulu sampean mikir gitu saja ujung-ujungnya tetap nulis cerpen yang Seribu Tapal Kuda di Arkansas itu?

Misdi: Hehehe… iya juga sih.

Sastro: Lho? Kok diulang-ulang? Kok diulang-ulang? Kok diulang-ulang.

Misdi: Hehehe–

Sastro: Hayo, ngomong “iya juga sih” lagi?

Misdi: Tapi, Bos, waktu itu memang ada yang sangat memaksa.

Sastro: Ehem-ehem, saudara-saudara, apologi akan segera disampaikan oleh Bapak Misdi. Kepada Bapak Misdi, waktu dan tempat kami persilakan.

Misdi: Hahaha… Gini, Bos. [Misdi berhenti berjalan, kali itu mereka tepat berada di depan kompleks apartemen Pierce Properties yang di halaman depannya ada patung babi merah. Oh tidak, sejak beberapa minggu yang lalu, patung babi itu diganti cat jadi warna pink] Waktu itu memang aku merasa ada sekali yang perlu dituliskan. Dan yang aku tuliskan dulu–menurutku lho ya–bukan sesuatu yang sekadar setting Amerika, Bos. Aku coba sedikit banyak memasukkan sesuatu yang aku merasa paling aku mengerti, Bos. Kehidupan desa, lagu country–

Sastro: Okey, okey. Terima kasih Bapak Misdi atas apologi yang telah diberikan. Selanjutnya mari kita lanjutkan jalan ke kampus, kuliah sudah tinggal 7 menit lagi.

Misdi: Hehehe… Iya ya. [Misdi membalik badan dan mulai berjalan normal menanjak lagi. Tanjakan tinggal beberapa puluh meter lagi.]

Sastro: Terus yang sekarang piye, Bos? Kenapa sampean bilang sekarang kok dilematis dan ada kemauan sedikit?

Misdi: Nah, yang sekarang ini, begini… [Misdi menoleh lagi, sepertinya dia kesulitan menjelaskan konsep tanpa memandang mata lawan bicara dan menggunakan tangan untuk membantu menjelaskan.]

Sastro: Mendengarkan, Pak.

Misdi: Jangan sela dulu, Bos. Konsep sulit ini. Sstt [dia angkat tangannya, menghentikan Sastro yang hampir berbicara]… Ternyata, Bos, aku menemukan kalau beberapa cerpenis Indonesia yang nulis cerpen-cerpen Amerika itu melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Sastro: Antara lain?

Misdi: Trio Macan kita: Budi Darma, Umar Kayam dan Kuntowijoyo. Bapak-bapak bertiga itu memiliki sesuatu yang khas dalam cerpennya, yang tidak aku temukan di cerpen-cerpen bersetting luar negeri karya cerpenis-cerpenis muda yang latah.

Sastro: Yaitu?

Misdi: Ambil contoh Kuntowijoyo.

Sastro: Saya amb–

Misdi: Ssst, jangan disela dulu. Kuntowijoyo di cerpen-cerpen luar negeri yang ikut disertakan bersama cerpen-cerpen “normal” lainnya dalam buku Hampir Sebuah Subversi itu. Cerpen-cerpen luar negeri itu tidak sibuk memperbincangkan tentang setting luar negeri, taman-taman indah, salju yang anyes, musim gugur yang indah, musim semi yang penuh sakura–

Sastro: dst, dsb, dll, dllajr! Contohnya cukup, Pak. To the point saja.

Misdi: Hahaha… tetep aja kamu ini. Oke, begini, cerpen-cerpen Pak Kuntowijoyo itu repot mengurusi dampak dari permasalahan sejarah terhadap orang-orang jaman sekarang di luar negeri, tentu permasalahan sejarah di sini yang paling banyak berkaitan dengan orang Indonesia dan orang dari negara yang pernah menjadi bapak asuh-nya Indonesia, atau yang terlibat sendiri dengan proses kebapakasuhan itu.

Sastro: Yaitu sisa-sisa kolonialisme. So pasti. Lha wong panjenenganipun itu ahli sejarah. [Kali ini mereka sudah melewati tanjakan tertinggi dan trotoar mulai menurun.]

Misdi: Betul. Jadi, bisa dibilang, ada agenda tersendiri dalam proyek penulisan cerpen-cerpen luar negeri beliau. Beliau punya pandangan, punya obsesi, dan obsesi itu bisa terjadi di mana-mana. Dan kebetulan saja beliau berada, misalnya, di Amerika. Sehingga proyek beliau itu dilanjutkan di situ. Jadi, cobak sampean lihat, meskipun setting-nya Amerika, bisa saja keluar dari beliau kisah tentang orang Indonesia yang leluhurnya pernah bercita-cita jadi pegawai pabrik gula di Jawa. Ada juga kisah tentang mahasiswa Indonesia yang “kehilangan” istrinya karena direbut oleh orang Belanda.

Sastro: Oke, masuk akal, Pak.

Misdi: Point yang bagus, kan, Bos?

Sastro: Haiyyah, jangan dipuji-puji sendiri. Nanti kalau sampean blogkan, dikira narsis lho sama orang?

Misdi: Hahaha…

Sastro: Terus lainnya, Bos?

Misdi: Nah, kalau Umar Kayam lain lagi, Bos. Panjenenganipun almarhum itu gayanya adalah–lho?

Sastro: Kenapa, Mis? Terus saja. Waktu dan tempat kami per–

Misdi: Sas, ada bis, ayo cepet lari ke halte. Lumayan, biar lebih cepet. Ayo [Mereka berdua lari terus menuruni bukit sekitar dua puluhan meter. Tujuan mereka adalah pertigaan Mapple St. dan Leverett Ave. Tempat itu adalah juga halte bus. Dan biasanya bis tidak menunggu terlalu lama. Setelah berlari sekuat tenaga, mereka pun bisa sampai ke pertigaan tepat ketika bis membuka pintu depan. Dan sopirnya, yang berwajah mirip Lorenzo Lamas dan suka membaca novel itu Menyapa dengan senyum dan kacamata hitam "Good morning!"]

Sastro: Morning, man. [Sastro masih terengah-engah. Tapi dia masih antusias mendengar cerita Misdi.] Terus gimana … [engah-engah] … terusannya, Mis? [engah-engah]

Misdi: Halah [engah-engah] sudah dulu [engah-engah] bos. Ambekan sik! [engah-engah]

Pulp Facts

Proyek pembuatan Pulp Fiction itu saja sudah menunjukkan fakta tak terbantahkan keberhasilan seseorang berkelit dari alienasi. Mbah dulu bilang: salah satu wujud alienasi adalah ketika seseorang terkucil-garing-terpisah dari hasil kerjanya. Di tingkat yg lain, alineasi juga bisa berupa ketidakbahagiaan seorang pekerja dalam melakukan pekerjaannya, yang tentunya akan banyak memberikan keuntungan bagi pemilik modal kalau memang berhasil dijual.

Nah, orang yg kerja di pabrik sepatu Ecco di Candi, Sidoarjo, adalah contoh klasiknya—my heart goes to them, my sisters and brothers. Mereka memasang bagian-bagian sepatu sepanjang hari tapi tidak akan sekali pun merasakan hasil pekerjaan mereka, dan mungkin tidak tahu kalau di Dillards atau JCPenny (di mal-mal Amerika) sepatu yg mereka buat itu dibandrol 100-an dollar.

Itu cuman contoh klasik. Sebenarnya hampir semua sektor pekerjaan diwarnai yg semacam ini. Bahkan, ekstrimnya, sutradara Hollywood, yang kelihatannya berlimpah harta itu (kalau dari sudut pandang kita), ternyata banyak juga yang tidak “berbahagia” dengan pekerjaannya. Salah satu unsur penekannya adalah aturan-aturan ketat yang diterapkan pemilik studio terkait aturan “tata aturan” dalam produksi film yang berorientasi pada keberterimaan film berdasarkan kepatutan politis (R. Barton Palmer dalam Hollywood’s Dark Cinema ngomong banyak soal ini).

Maka, tidak heran kalau waktu Quentin Tarantino berhasil mengegolkan naskah Pulp Fiction ke tangan Lawrence Bender (Produser Pulp Fiction) dan si Bender berhasil mendapatkan penyandang dana untuk proyek itu, banyak sutradara, penulis cerita, atau artis Hollywood yang menyampaikan rasa iri positif mereka karena Quentin bisa melakukan sesuatu yang dia senangi dan ada orang yg mau menyandang pendanaannya. Apalagi bila sesuatu yang dia senangi itu menurut sebagian besar orang (sekilas) tampak tidak patut secara politis (penggunaan bahasa keras, adegan keras [yg ini debatable], dll). Tentu lah, dia berhasil meloloskan diri dari jebakan alienasi yg sebenarnya berhasil menjangkau hingga ke kecamatan!

Di Sunyi Dini Hari

Pasti kau tidak tahu, bahwa dia suka berlama-lama di kantornya. Sebagai asisten dosen, dia mendapat kantor di gedung jurusannya. Dosen yang dia asisteni berbaik hati menyerahkan kantornya agar bisa digunakan si asisten. Si dosen sendiri sedang sibuk dengan urusan luar kampus (yang dia sebut sebagai ‘pengabdian masyarakat’) sehingga dia hanya datang ke kampus saat mengajar. Selain itu, dia membiarkan kantornya sebagai ‘tempat’ memarkir buku. Karena itulah, dia beri izin asistennya untuk memakai kantor itu.

Demikianlah, tokoh kita ini suka berlama-lama memakai kantornya itu. Alasan utamanya adalah karena tempatnya sangat luas, banyak sekali buku untuk bidang studinya, dan sangat tenang. Tapi, yang paling menarik dari kantor itu adalah karena dia bisa menggunakannya kapan saja. Sama sekali tak ada batas waktu.

Sebagai asisten dosen, dia mendapat akses sepenuhnya atas gedung jurusan itu. Tentu, ‘sepenuhnya’ di sini adalah dalam batas kewajaran. Dia mendapat kunci untuk memasuki gedung ini dari pintu darurat, sehingga dia bisa masuk ke gedung ini kapan saja dia perlu, meskipun gedung secara resmi sudah tutup. Dia juga dapat kunci untuk membuka kantor jurusan, di mana dia punya kotak surat, tempat mahasiswa-mahasiswanya menyerahkan tugas, atau tempat dia mendapat kiriman. Kunci untuk kantor jurusan itu juga bisa dipakai untuk membuka lap teknologi cukup lengkap khusus untuk asisten dosen, di mana dia bisa mencetak, memfotokopi, dan menscan secara lebih leluasa (berbeda dengan fasilitas serupa yang ditawarkan di perpustakaan utama kampus.
coba teruskan dan temukan misterinya

Andai Kau Di Sini (terjemahan lagu Pink Floyd)

Percobaan pertama, menerjemahkan “I Wish You Were Here” dari Pink Floyd

Andai Kau Di Sini

Begitukah…
Kau kira kau tahu
Beda sorga dan neraka,
biru langit dan pedih sakit?
Apakah ada bedanya
antara padang membentang dan rel memanjang,
antara senyuman dan topengan?

Kaupikir kau tahu bedanya?

Apa kau tukarkan
pahlawanmu dengan hantu,
Abu panas dengan pohon,
Hawa gerah dengan sepoi angin
Kenyamanan dengan perubahan?
Ataukah kau tukarkan
kepunggawaan di medan tempur
demi kepemimpinan di dalam sangkar?

Andai kau di sini.

Kita hanyalah sepasang jiwa sesat
yang berenang di baskom ikan,
tiada henti berputar,
tiada henti berkitar.
Yang kita dapati
hanya ketakutan abadi.

Andai kau di sini.

Andaikan Semua Ini di Malang

Tokoh kita bangun pagi-pagi di tempat kosnya di Jl. Jombang 1A. Setelah mandi dingin-dingin, dia pun berangkat ke kampus. Dia kuliah di Program Pasca Sarjana, di Universitas Negeri Malang, mengambil Magister untuk Bahasa & Sastra Indonesia. Ketika itu tahun 2005.

Di jalan dia berpapasan dengan seorang teman sekelasnya, seorang mahasiswa asal Malaysia yang mengambil Magister Bahasa dan Sastra Indonesia dan sedang melakukan penelitian tentang Sastra Indonesia Angkatan 66. Mereka berbincang-bincang sejenak, si teman Malaysia harus segera naik ke mikrolet begitu ada Mikrolet datang ke arah kota (jalur LG).
Temukan kejutan dengan klik di sini (bila Anda beruntung :D )