a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Category : diari

Kahlil Gibran: His Life and World (review)

So, for the umpteenth time, here I am, reading yet another biography of the Great Poet Kahlil Gibran. This time, it’s one written by a couple called Jean Gibran and Kahlil Gibran. The second Kahlil here is the Poet’s own niece who goes by the same name.

I just started reading the book and have only read about the possible origins of the Gibrans in a small lonely limestone city of Besharri, under the looming white apparition called Mt. Lebanon and Kahlil’s first months in South End, home to the immigrant community in the city of Boston.

Many years ago I read a biography of Kahlil Gibran by Suheil Bushrui. Thinking about the book in retrospect, I think Bushrui doesn’t have very much to say about the social condition of the South End during Gibran’s childhood. But this current book I’m reading has more to say. It combines information from Gibran’s own accounts (that he wrote years and years later), newspaper bits, and statistical documents kept by the city of Boston. Pretty much, His Life and World aims to re-create the atmosphere of South End that helped the birth of the Poet as a young man.

Well, I’ll see you again soon here when I have anymore to say about the book. As of now, this is what I got to offer.

Tags:

Kunci

Pada hari pertama ketika baru datang ke kampus, dia menemui pegawai di kantor jurusan. Sejak sebelum tiba di kota kecil itu dia sudah mendapat email dari si pegawai jurusan, seorang perempuan rambut hitam berombak yang sangat murah senyum dan mengenakan kacamata persegi panjang dengan frame tebal. Email itu memberitahukan bahwa dia mendapat jatah kotak surat dan kantor. Ketika dia datangi kantor jurusan, barulah dia tahu bahwa kotak surat dan kantor itu berhubungan dengan kunci. Dia akan mendapat tiga kunci: kunci kantor jurusan (tempat kotak surat), kunci kantor kerja (berbagi dengan profesornya), dan kunci pintu belakang gedung bertingkat di mana kantor-kantor itu berada.

Si pegawai jurusan memberinya secarik kertas karton berisi tiga poin, dua nama ruangan dan satu kode pintu belakang. “Silakan bawa ini ke Kantor Kunci buat mengambil kunci yang sampean perlukan,” kata pegawai jurusan yang diselimuti senyum abadi itu. Begitu ada kesempatan dia langsung ke Kantor Kunci. Di kantor kecil yang merupakan bagian dari gedung Fasilitas itu, dia memberikan kertas yang dia dapatkan dari jurusan, menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa, menandatangani secarik kertas tadi, dan kemudian mendapat tiga kunci kekuningan. Setelah itu dia pun pulang sambil menggenjot sepedanya.

Kini dia punya tambahan tiga kunci terbendel di gantungan kuncinya. Sebelumnya di gantungan kunci itu hanya ada tiga: kunci apartemen, kunci kotak surat dan kunci sepeda. Kini, dia punya enam kunci. Entahlah, dia merasa gagah memegang gantungan kunci yang kini isinya sangat banyak itu. Mungkin akses dan kendali membuatnya merasa aman. Apalagi, khusus untuk kunci kantor yang dia pakai bersama profesornya itu memungkinkannya “menguasai” buku-buku yang ada ada di rak milik profesornya itu.

Ternyata, urusan kunci belum selesai. Sebagai mahasiswa pasca sarjana, dia berhak meminta diberi ruangan kecil untuk membaca di lantai tiga dan empat perpustakaan utama kampusnya. Dia dulu memang suka membaca di ruangan itu kalau ingin suasana membaca yang tanpa gangguan. Di ruangan yang lebarnya kira-kira hanya satu kali satu meter itu dia bisa membaca dan menulis tanpa terganggu siapapun. Tapi, buat dia dan teman-temannya, yang lebih penting dari ruang mungil itu adalah karena mereka bisa menggunakannya untuk sholat tanpa merasa risih atau tidak nyaman.

Maka, begitu ada kesempatan dia langsung meminta diberi ruangan tersebut kepada perpustakaan. Dia mengisi aplikasi, dan petugas memberitahunya bahwa kalau disetujui, beberapa hari lagi dia akan mendapat email dari perpustakaan. Akhirnya, setelah genap tiga hari dia pun mendapat email dari perpustakaan yang menyatakan bahwa permohonannya disetujui dan dia bisa mengambil dokumen terkait kuncinya. Maka, dari perpustakaan dia mendapat lagi secarik kertas bertuliskan nomor bilik belajar.

Dia pun kembali mengunjungi kantor kunci untuk mendapatkan kunci bilik belajar itu. Ketika di sana, dia berkesempatan melihat petugas kunci membuka lemari seng yang bergemerincing karena isinya adalah kunci, kunci, kunci dan kunci. Dia juga menginting ke bagian belakang kantor kunci itu. Dia melihat kunci berjajar berbaris-baris, rapi jali, indah sehati. Semuanya kunci. Semuanya menunggu jemputan. Terdengar lagi gemerincing kunci ketika si petugas kunci menutup pintu lemari seng. Ternyata, bukan gemerincing yang dia dengar. Ternyata kunci-kunci itu menyampaikan rasa syukur dan salam perpisahan kepada temannya yang menangis karena aku adopsi.

Bertemu Singa

Dia berjalan menaiki bukit menuntun dua sepeda. Satu sepeda adalah sepedanya sendiri: sebuah sepeda dual-suspension versi murah yang dia beli seharga 60 dolar dari seorang mahasiswa yang membelinya senilai 80 dolar dari mantan roommate-nya yang membeli langsung dari Walmart seharga 160 dollar. Si pemilik pertama menjualnya karena sepeda itu terasa terlalu besar/tinggi buat dia. Pemilik kedua juga begitu. Sedangkan dia sendiri, tokoh kita ini, membelinya karena sepeda itu kelihatan masih baru tapi sangat murah. Sepeda satunya lagi adalah sepeda milik kampus yang dia pinjam beberapa hari yang lalu karena dia harus pulang cepat-cepat dari kampus sementara waktu itu dia berangkat ke kampus jalan kaki.

Yang penting dari cerita ini bukanlah sepedanya. Kedua sepeda itu hanya untuk menunjukkan bahwa dia sedang dalam keadaan lambat tak berdaya. Dia harus menuntun dua sepeda yang terkadang satu ingin ke kanan dan satu ingin ke kiri. Dia juga harus menjaga agar kedua sepeda itu tetap berdiri tegak. Itu yang sepertinya menguras tenaga. Pundaknya kanan kiri terasa kaku dan sakit. Padahal dia baru berjalan dua blok dari apartemennya. Tentu saja, jalan North Leverett Avenue ke arah kampus memang menanjak. Kampusnya berada di atas bukit. Dalam hati, dia merancang kalimat yang akan dia lontarkan andai berpapasan dengan orang dan ditanya apa tidak sulit menuntun dua sepeda seperti itu. Dia akan menjawab: “Nggak juga, bayangkan saja kayak mengajak jalan dua anjing pulang dari taman. Satu pingin ke kanan dan satunya pingin ke kiri.” Dua blok ini–sekarang menjelang blok ketiga–belum ada yang bertanya.

Mendekati ujung blok ketiga, tepat di asrama Chi Alpha Ministry, entah mengapa pandangannya tergiring ke tempat sampah tepat di belakang bangunan fraternity itu. Di dekat tempat sampah itu dia melihat seperti anjing besar berwarna keemasan, coklat-coklat madu, mirip warna singa. Sekilas dia meyakinkan hatinya: oh anjing, sepertinya diikat.

Dia terus perhatikan binatang itu. Dia punya riwayat takut anjing. Dia perhatikan saja sekadar jaga-jaga. Lama-lama dia mulai curiga. Anjing itu tidak terikat. Selain itu, jalannya sangat elok. Dia merasa sangat akrab dengan gaya jalan nan elok itu. Pundak binatang itu naik turun dengan gagahnya. Dia langsung merasa jangan-jangan itu singa gunung. Singa gunung yang turun gunung. Atau setidaknya lepas dari taman safari di Gentry. Lagipula, Arkansas punya riwayat pernah memiliki singa gunung, meskipun keberadaannya saat ini masih diperdebatkan.

Dia sendiri terus menuntun sepedanya menaiki bukit. Dia bersiap, begitu “singa” tersebut menoleh kepadanya atau bersiap mengejar, dia akan segera melepaskan satu sepedanya. Dia putuskan akan melepaskan sepeda kampus, yang meskipun terasa lebih ringan tidak bisa lari lebih cepat karena gir depannya kecil. Oke, dia akan pakai sepedanya sendiri. Dia berencana menggenjot sepedanya naik ke bukit di ujung blok, dan selanjutnya dia genjot terus agak turun sampai di pertigaan dan belok ke kiri karena di situ jalannya menurun. Tidak jauh dari situ, kalau turun terus, dia akan sampai ke bar dan masuk ke salah satunya. Atau, dia juga bisa minta tolong mobil-mobil yang bersliweran sedikit-sedikit itu.

Sambil merencanakan itu semua, dia melihat ke belakang. Dia perhatikan singa itu sudah berjalan melewati rerumputan dan sudah ada di trotoar yang tadi dilewatinya. Singa tidak mengejarnya atau melihatnya. Dia hanya menoleh kanan kiri. Orang-orang seperti tidak ada yang mempedulikannya. Dari arah depan dia melihat seorang pengendara motor gede, gundul, berjenggot, menyapanya. Dia menyapa balik. Dia ingin mengatakan berhati-hati karena sepertinya ada singa di jalur yang akan dilewatinya. Tapi tentu saja tidak ada kesempatan untuk itu. Dia teruskan saja sampai singa itu tidak lagi terlihat karena tertutup punggung bukit. Dia pun semakin aman.

Di pertigaan, dia memutuskan berbelok ke kanan. Jalanan agak naik bukit lagi. Dia berpapasan dengan seorang mahasiswa gondrong berkacamata hitam, berjalan santai. Dia ingin sekali mengingatkan pemuda itu tentang singa yang baru saja dia lihat. Tapi, tentu saja akan konyol kedengarannya. Di film-film Hollywood saja orang akan menertawakan laporan semacam itu, apalagi di kehidupan nyata seperti ini. Akhirnya, dia biarkan dirinya dipapasi. Tapi dia perhatikan terus si gondrong itu sampai dia tiba di pertigaan. Untungnya dia lurus, tidak berbelok ke arah singa. Maka dia pun melanjutkan perjalannya.

Bersahaja dalam Ketersanderaan

Membaca 168 Jam dalam Sandera karya Meutya Hafid (pasti Njenengan sekalian ingat kejadian tahun 2005 ketika reporter dan kamerawan Metro TV diculik di Irak), saya timbul rasa hormat yang amat besar kepada Meutya. Buku ini bersifat deskripsi yang “berimbang”, tentu di sini saya memakai “berimbang” bukan dalam artian yang biasanya dipakai di bidang jurnalistik. Maksud saya, Meutya semacam ikhlas untuk tidak menjadikan kisah penculikannya ini sebagai sebuah bombasme, sentimental, hiperbolik dll.

Meutya menceritakan penculikannya sebagai sesuatu yang (selain adegan penodongan dan peringkusan) wajar saja. Kalau pun ada yang tidak nyaman dalam “acara” penculikan itu, dari keseluruhan kisah kita bisa menyimpulkan bahwa hal-hal tersebut dikarenakan terdesaknya para penculik itu sendiri oleh kekuatan lain. Dia bergaul akrab dengan penculiknya. Dia tidak merasa dibatasi gerak-geriknya. Dan, terpenting, dia diperlakukan atau bahkan “dijamu” dengan baik layaknya seorang tamu. Bayangkan, sebagai seorang “terculik” dia bisa protes dan bahkan merajuk ke penculiknya.

Meutya yang kebetulan penuh prestasi itu tidak membumbui kisah suksesnya sebagai anchor yang sering ditugasi melakukan peliputan sulit itu dengan bunga-bunga tentang mimpi dan pencapaian keberhasilan. Dia kebetulan berasal dari keluarga terdidik dan mampu, dan karena aksesnya yang bagus atas informasi akhirnya beroleh kesempatan belajar di luar negeri. Dan ketika dia harus menceritakan hari-hari susahnya di Australia sebagai mahasiswa asing yang mendapat wesel minim dari orang tua, dia menceritakannya tak lebih dari satu halaman. Ah, Andai saya Meutya, pasti saya akan bikin bab khusus tentang ini, membayangkan bahwa obsesi terbesar saya untuk menjadi reporter internasional atau apapun lainnya muncul ketika saya direjam masa-masa sulit ini.

Sementara begitu dulu nilai yang bisa saya berikan kepada Meutya atas buku memoar penculikannya ini. Saya yakin, kita semua bisa mengambil hikmahnya, seperti halnya ketika kita membaca buku-buku memoar. Tapi, asyiknya, di sini kita tidak perlu dibuai dulu oleh mimpi-mimpi :) . Berimbangkah ini?

Terwujud, Berselimut Kabut Ranu Kumbolo

Alhamdulillah, terwujud juga akhirnya keinginan silaturahmi ke Ranu Kumbolo. Danau di ketinggian 2.400 meter dpl ini sudah lama menjadi sebuah tempat paling eksotis di kesadaran saya. Entah kapan pertama kali muncul keinginan untuk sowan ke Ranu Kumbolo ini.

Seingat saya, dulu waktu masih SMP, ketika saya masih suka baca cerpen-cerpen misterinya majalah Liberty, saya pernah membaca sebuah cerpen berjudul Gadis Ranu Kumbolo atau apa gitu. Isinya mungkin tentang sekelompok pendaki yang ditemui seorang gadis yang meminta bantuan atau semacamnya di Ranu Kumbolo, di gelap malam, di liputan kabut.

Terus, waktu SMA, ketika mulai kenal Dewa 19 lebih jauh, saya terbius oleh lagu yang menurut saya secara sound kurang jernih tapi syairnya sangat membius: “Mahameru”. Saat pertama kali mendengar Ari Lasso mendesah “berselimut kabut ranu kumbolo,” saya langsung sadar bahwa saya ingin melihat sendiri tempat penuh kabut itu.

Di jaman facebook, saya sudah sangat sering melihat foto-foto Ranu Kumbolo dari para ahli poto, kayak Fadli Rozi yang mungkin menetapkan Ranu Kumbolo sebagai tempat tujuan hunting pertamanya setelah pulang dari Australia. Melihat foto-foto penuh warna itu, saya jadi ingin melihat Ranu Kumbolo yang cerah dan penuh warna.

Tapi, mungkin alam raya berpihak kepada alam bawah sadar saya, yang ingin melihat Ranu Kumbolo dalam liputan kabutnya. Maka, kemarin, ketika terwujud keinginan saya sowan ke Ranu Kumbolo, saya benar-benar merasakan berselimut kabutnya mulai sore, malam dan pagi esok harinya. Sampai kini, masih terlalu sulit saya menuliskan apa yang harus saya tuliskan tentang Ranu Kumbolo. Tidak tahu, mungkin saya memang tidak harus menuliskannya. Biarkan dulu saya menikmatinya. Biarkan saya menikmatinya. Biarkan saya.