a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Category : fenomena

Pagi tadi saya mengantarkan anak saya ke sekolah TK seperti hari-hari biasanya. Tapi, hari ini istimewa. Saya tidak hanya mengantarkan dan kemudian pulang. Saya mengantarkan dan ikut masuk ke dalam sekolah bersama anak saya. Tapi saya bukan satu-satunya orang tua murid.

Kenapa?

Karena hari ini tadi ada lomba Menggambar dan Mewarnai Bersama Ayah Bunda. Intinya, di dalam lomba ini, para murid TK tidak hanya lomba sendiri, tapi ditemani orang tuanya. Kemarin malam, saya memutuskan bahwa saya akan mengantarkan anak saya ke TK dan ikut berlomba. Saya bersikap semacam heroik: saya akan menjadi satu-satunya ayah yang ikut menemani anaknya, saya akan menjadi ayah yang “feminis” yang mau mengurusi anaknya yang mengakui bahwa mengurus anak bukan hanya tugas ibunya.

Ternyata, meskipun bersikap sok feminis, saya ternyata kurang memperhatikan lapangan dan pikiran saya terjebak ke wacana dua puluhan tahun yang lalu. Bayangan saya, mengantarkan anak ke sekolah dan menunggu anak itu melulu urusan ibu, seperti halnya ketika masih SD saya melihat di depan TK Tunas Harapan di PG Kremboong banyak sekali ibu-ibu yang ngobrol sambil menunggu anaknya sekolah. Bayangan saya ada di sana…

Padahal, ketika datang tadi pagi, saya melihat ada beberapa bapak muda di antara kerumunan yang berdesak-desakan memasuki TK. Awalnya saya pikir, “ah, ini kan bapak-bapak yang datang bersama istri-istrinya, dan paling-paling bapak-bapak ini hanya akan memotret-motret sementara si ibu sibuk membantu anaknya menggambar.”

Tapi, ketika kami tiba di TKP, dan saya mendekati salah satu guru untuk meminjam meja gambar, saya melihat bahwa ada beberapa bapak yang datang tanpa ditemani istri-istrinya. Wah, ternyata memang sudah tidak terlalu ganjil lagi bapak yang mendukung perkembangan akademik :D anak-anaknya yang masih TK.

Dari situ, timbullah basuki, maksud saya timbul satu pertanyaan: Apakah ini karena lelaki mulai mengeri, ataukah ini indikasi bahwa para perempuan semakin sukses berkarir? Pertanyaan ini sederhana, dan mungkin salah kaprah, tapi yang pasti pertanyaan ini muncul dari seorang praktisi. Alah….

Memperingati HUT Jules Verne yang ke-183

Demi memperingati HUT Jules Verne, bapak fiksi ilmiah, yang ke-183 yang jatuh pada tanggal 8 Februari kemarin, mari kita canangkan bulan Februari ini sebagai bulan membaca fiksi ilmiah. Secara pribadi, si pemimpi membaca Twenty Thousand Leagues under the Sea (sebenarnya, terjemahan letterluks dari bahasa Perancis-nya adalah Twenty Thousand Leagues under the SEAS).

Saya mulai membacanya dua hari yang lalu, dan sekarang saya sudah 13 persen membaca buku itu dan rasanya mulai tersedot oleh ceritanya. Benarlah kata seorang ahli di National Geographic yang menyebutkan bahwa banyak sastrawan yang bisa meramalkan masa depan dengan segala teknologinya, tapi Jules Verne menonjol karena keunggulannya dalam bercerita…

Ya, dan saya membuktikannya… Salam fiksi ilmiah…

Crop Circle: Solusi Tepat Hiburan Rakyat

Kenapa solusi hiburan?

Karena rakyat Indonesia harus menerima berita-berita murung, menjengkelkan, memalukan, dan tidak layak diteladani di televisi.

Betapa tidak murung, ada berita tentang seorang kakek yang ditangkap karena menjual judi togel dan kemudian menyatakan hidup di bui lebih enak karena bisa makan teratur, sementara di luar dia hidup sebatang kara dan harus berjuang hanya agar bisa makan.

Betapa tidak menjengkelkan melihat berita persidangan kasus mafia pajak yang tersangkanya suka membolak-balik pernyataan dan bahkan menuduh tim yang menjeratnya dengan berbagai alasan dan tuduhan mempolitisasi kasusnya dan politisi dan pengusaha yang sebenarnya ikut terancam kasus itu menjadi ikut balik menuduh tim penjerat mafia pajak.

Betapa tidak memalukan, presiden curhat bahwa sejak menjabat gajinya tidak naik, dan komisi III DPR membuat kotak sumbangan yang bertuliskan “koin untuk presiden” dan kemudian menteri keuangan menggulirkan wacana akan menaikkan gaji presiden dan para menterinya dan juga termasuk para gubernur yang katanya gajinya masih rendah padahal segala keperluan mulai baju hingga operasional sudah disediakan negara dan padahal seperti kembali ke pembahasan di atas ada kakek-kakek yang bahkan hidup sehari-hari pun tidak pasti bisa atau tidak makan dan merasa hidup di bui lebih enak.

Maka… crop circle adalah hiburan yang tepat untuk rakyat. Crop memberikan kesegaran visual dan fenomenal bagi rakyat. Tapi, tentu saja saya mengatakan ini tanpa melupakan Saudara Aldo yang terpeleset dan meninggal saat ingin melihat crop circle dari atas bukit. Semoga keluarga yang ditinggalkan di Timor Leste tabah menghadapi ini. Kembali ke crop circle, kemauan pihak MIPA UGM untuk mengapresiasi hasil karya ini serta mengganti kerugian yang dialami pemilik sawah juga cukup menggetarkan. Tentunya menggetarkan secara positif, berbeda dengan berita tentang mafia pajak, presiden naik gaji, dan kakek yang lebih menikmati bui tadi…

Ulah Angin: 2 Flu dan 1 Pohon Tumbang

Malang (Pos Mimpi) — Angin keras yang mengoyak-moyak Malang pada hari Selasa, Rabu dan Kamis (11-13/1) ternyata tidak hanya membawa angin dan debu. Berjuta-juta ekor virus juga ikut berterbangan riang bersama angin. Sukotjo (30), seorang penerjemah dan blogger, pada awalnya menikmati angin yang berhembus keras pada Selasa (11/1) dini hari.

Sebagai seorang blogger yang haus inspirasi, dia beranggapan angin keras yang membuat seng di bagian genting tetangganya berisik sepanjang malam itu bakal memberinya inspirasi untuk membuat postingan blog yang inspiratif. Tapi, pekerjaan yang menumpuk membuat Sukotjo menahan diri dulu untuk tidak menulis postingan blog yang dia ramalkan sendiri bakal seinspiratif tetralogi Laskar Pelangi karya karya Andrea Hirata, seorang penulis muda asal Belitong yang merupakan salah seorang pegawai PT. Telkom.

Ternyata, pada Selasa (12/1) sore hari, dia mendapati rumahnya sangat “ngeres,” penuh debu, dan daun-daun kering. Kepada Pos Mimpi dia menyatakan bahwa debu dan daun-daun kering itu masuk rumahnya lewat celah di bawah daun pintu dan celah-celah ventilasi. Sejak saat itulah dia mulai resah. Impian membuat postingan blog yang inspiratif tidak juga terwujud, tapi angin malah membawakan debu dan daun-daun kering. Dia pun mulai melaporkan ulah angin yang kurang ajar itu kepada pihak berwajib.

Dikonfirmasi secara terpisah, seorang petugas dari Polsekta setempat yang tidak mau disebutkan namanya menyatakan bahwa memang ada delik aduan atas nama Sukotjo yang datang pada hari Selasa sore perihal debu dan daun-daun kering yang masuk rumahnya dibawa angin. Jangan sampai ketinggalan kisah Sukotjo, klik di sini…

Tags:

Klaim

(sssst… kayak judul catatan pinggir nggak boooo”?)

Lihatlah bagaimana dampak kontroversi munculnya Tari Pendet di Discovery Channel. Di facebook dan twitter dan forum-forum internet terjadi diskusi yang panjang dan penuh hujatan dan kembali memuncul-munculkan lagi frase gak asyik dari masa kurang asyiknya Soekarno. Kenapa?

Berita yang segera muncul di internet: Malaysia MENGKLAIM Tari Pendet. Kata “mengklaim” harus disoroti di sini. Well, dunia media, dunia yang umurnya cuman 15 menit itu, memang sukanya begitu: mencari retorika yang selayak diingat mungkin, dengan harapan daya tarik yang lazimnya cuman 15 menit di kalangan pembaca itu bisa diulur.

Dan kali ini kata “klaim” yang dipakai. Kata yang mulai agak lazim sejak beberapa waktu berselang, sejak Malaysia mendaftarkan angklung di Unesco sebagai alat musiknya dengan sebutan “music bamboo malay” dan kemunculan reog di satu iklan turisme Malaysia. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah “munculnya sekilas jelas gambar 2 penari pendet dalam promo acara Enigmatic Malaysia”. Hmmmm… memang sih klausa yang saya tawarkan ini tidak efektif, dan mungkin kurang menggairahkan buat penikmat berita dan para pemilik kepentingan :D , dalam hal ini media massa di Indonesia. Lihatlah kalimat awal berita Metro TV tentang kemunculan tari pendet ini: “Pemirsa, klaim Malaysia terhadap produk kesenian Indonesia semakin menjadi-jadi!”

Jadinya, muncullah kata “klaim” itu, yang pinginnya merangkum keseluruhan fenomena itu. Hmmm… apakah itu pilihan sinonim yang pas? Yang bijak? Silakan nilai sendiri: orang-orang menjadi panas, mungkin orang-orang yang tidak tahu dengan mata kepala sendiri seperti apa bentuk “klaim” itu, tidak tahu bagaimana tari pendet itu bisa muncul. Bahkan, berita Metro TV itu sendiri mengatakan bahwa tari pendet itu muncul dalam iklan Malaysia Truly Asia 2009, padahal sebenarnya muncul dalam promo Enigmatic Malaysia. Akhirnya terjadilah caci maki di internet. Netter Indonesia dan Malaysia yang suka emosian karena, mungkin, sama-sama tidak tahu rupa lawan gontok-gontokannya itu, saling mengutuk. Bahkan sampai merembet ke isu-isu TKI, mengubah lagu Indonesia Raya, mengangkat isu lama ganyang Malaysia, dsb. Bahkan seorang teman yang mestinya sangat terbuka wawasannya sampai bikin status facebook “kalau Pak Karno yang jadi presiden, langkah apa yang akan beliau ambil untuk hubungan Indonesia-Malaysia hari ini?” yang pastinya akan memancing orang yang sedikit saja tahu sejarah untuk bilang “ganyang Malaysia itu”; dia lupa bahwa dalam pergaulannya ada teman-teman yang berasal dari Malaysia, yang mungkin sudah menahan diri untuk tidak tersulut.

Apa awalnya? Dari retorika, tuntutan media (yang digerakkan siapa hayo saudara? yak betul yang baju hijau: kapitalisme!!!!), dan miskinnya padanan kata. Dan ketika metro TV menayangkan permintaan maaf Discovery Channel Malaysia seperti di sini, mereka langsung menyampaikannya kepada pemirsa sebagai berita. Dan mereka pun amnesia dengan retorika mereka saat pertama kali menyampaikan berita itu. Tidak sedikit pun ada permintaan maaf atas pilihan kata mereka. Ya, seolah permainan retorika seperti itu dalam media adalah hal biasa, dan wajar diterima, natural. Padahal, sekali-kali jangan menganggap natural sesuatu yang sebenarnya buatan!!!!

Disclaimer: Analisis ini adalah hasil penthelengan bandingan atas pemberitaan pertama dan “terakhir” tentang tari pendet di promo Malaysia.