a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Category : sastra

Alhamdulillah, setelah nyungsep sekian waktu buat nonton film Pulp Fiction (beberapa belas kali lah :D ), dan baca sejumlah sumber tentang Pulp Fiction/Quentin Tarantino, sinema Hollywood, film noir, political correctness dan tentu saja pendekatan kritik sastra Marxist ala Fredric Jameson, saya pun dengan bangga menyajikan kepada sidang pemimpi sekalian tulisan terbaru saya yang berjudul “Unflinchingly Cool: Commodification and Subversion in Pulp Fiction.” Tentu masih super banyak kelemahan dalam argumen dan terutama pendekatan dalam menulis paper ini. Tapi ya… saya bagi saja lah di sini, biar saudara sekalian juga bisa menikmatinya dan memberikan komentar atau koreksi … matur nuwun. Oh ya, ini abstraknya, dan untuk paper lengkapnya, silakan klik link di bawah abstrak itu.

Paper ini mengeksplorasi politik bawah sadar yang beroperasi dalam film Pulp Fiction yang ditulis/disutradarai oleh Quentin Tarantino. Pendekatan yang dipakai adalah penafsiran tiga horizon yang bisa dibilang langsung dipinjam dari Fredric Jameson, yang berpandangan bahwa karya sastra senantiasa memiliki keterkaitan dengan politik, meskipun tidak disadari oleh penciptanya sendiri. Ketiga horizon itu antara lain adalah horizon politik, horizon sosial dan horizon sejarah. Dalam horizon politik, Pulp Fiction menunjukkan satu pola yang terus-menerus muncul, yaitu selaan atau simpangan. Paper ini akan mengeksplorasi bagaimana simpangan tersebut merupakan simbolisasi dari penyimpangan yang dilakukan Tarantino atas norma-norma Hollywood. Sedangkan untuk horizon sosial, Pulp Fiction adalah film yang melakukan problematisasi atas gagasan “political correctness;” problematisasi ini membuat film ini dikecam karena disangka rasis dengan penggunaan kata-kata seperti “nigger” yang dianggap tidak pantas diucapkan selain oleh orang kulit hitam sendiri. Pulp Fiction menggunakan kata-kata yang problematis ini, tapi dalam cerita, sama sekali tidak ditunjukkan adanya perlakuan yang rasis. Pada horizon ketiga, paper ini membahas bagaimana gaya yang dipakai oleh Tarantino dalam Pulp Fiction ini sebenarnya adalah pinjaman dari berbagai genre dalam sejarah sinema Hollywood yang masing-masing memiliki ideologi tersendiri. Akhirnya, paper ini menyimpulkan bahwa Pulp Fiction adalah upaya membuat film “cool” dan secara konsisten mencoba menghindari komodifikasi. Pulp Ficton tidak terjebak pada fenomena lazim pembuatan film “hanya” untuk mengejar keuntungan, tapi juga melakukan pembaruan estetika.

Ini dia linknya. Silakan baca atau download. Mumpung masih gratis :D

Trio Macan Cerpen Amrik Indonesia

Sastro: [sambil berjalan menanjak di trotoar di belakang Misdi yang sesekali menoleh kepadanya] Terus gimana, Mis. Apa kali ini sampean tetep ndak mau nulis lagi tentang Amerika-amerikaan?

Misdi: Kali ini sejak awal sudah dilematis, Bos. [Sambil menoleh sebentar lawan bicaranya yang berjalan kira-kira dua langkah di belakangnya]

Sastro: Dilematis piye?

Misdi: [Membalik badan, tapi tidak berhenti berjalan, jadi dia berjalan mundur menanjak trotoar] Ada keinginan sedikit, Bos, mau nulis.

Sastro: Waduh, alamat bakal banyak yang ditulis. Konon sih begitu biasanya.

Misdi: Maksudmu? [Tetap sambil berjalan mundur]

Sastro: Lha dulu, tiga tahun lalu, sampean sejak awal bilang ndak bakal nulis cerpen berlatar Amerika-amerikaan. Gak bakal latah-latahan. Katanya Joyce saja yang lama tinggal di Paris, Trieste, Zurich nulisnya tetap tentang Dublin? Katanya sampean dulu pernah baca kalau Mark Twain bilang setelah tinggal 15 tahun, baru orang bisa nulis tentang daerah yang bukan tempat lahirnya secara legit.

Misdi: Peh. Kok kamu masih ingat, Bos?

Sastro: Haiyyah, sampean ini kok mempertanyakan hamba yang anak angkut–weis, anak angkat maksudku–sir Google dot com ini? Kan sampean tulis semua itu di blog?

Misdi: Hehehe… iya juga sih.

Sastro: Lha iya, dulu sampean mikir gitu saja ujung-ujungnya tetap nulis cerpen yang Seribu Tapal Kuda di Arkansas itu?

Misdi: Hehehe… iya juga sih.

Sastro: Lho? Kok diulang-ulang? Kok diulang-ulang? Kok diulang-ulang.

Misdi: Hehehe–

Sastro: Hayo, ngomong “iya juga sih” lagi?

Misdi: Tapi, Bos, waktu itu memang ada yang sangat memaksa.

Sastro: Ehem-ehem, saudara-saudara, apologi akan segera disampaikan oleh Bapak Misdi. Kepada Bapak Misdi, waktu dan tempat kami persilakan.

Misdi: Hahaha… Gini, Bos. [Misdi berhenti berjalan, kali itu mereka tepat berada di depan kompleks apartemen Pierce Properties yang di halaman depannya ada patung babi merah. Oh tidak, sejak beberapa minggu yang lalu, patung babi itu diganti cat jadi warna pink] Waktu itu memang aku merasa ada sekali yang perlu dituliskan. Dan yang aku tuliskan dulu–menurutku lho ya–bukan sesuatu yang sekadar setting Amerika, Bos. Aku coba sedikit banyak memasukkan sesuatu yang aku merasa paling aku mengerti, Bos. Kehidupan desa, lagu country–

Sastro: Okey, okey. Terima kasih Bapak Misdi atas apologi yang telah diberikan. Selanjutnya mari kita lanjutkan jalan ke kampus, kuliah sudah tinggal 7 menit lagi.

Misdi: Hehehe… Iya ya. [Misdi membalik badan dan mulai berjalan normal menanjak lagi. Tanjakan tinggal beberapa puluh meter lagi.]

Sastro: Terus yang sekarang piye, Bos? Kenapa sampean bilang sekarang kok dilematis dan ada kemauan sedikit?

Misdi: Nah, yang sekarang ini, begini… [Misdi menoleh lagi, sepertinya dia kesulitan menjelaskan konsep tanpa memandang mata lawan bicara dan menggunakan tangan untuk membantu menjelaskan.]

Sastro: Mendengarkan, Pak.

Misdi: Jangan sela dulu, Bos. Konsep sulit ini. Sstt [dia angkat tangannya, menghentikan Sastro yang hampir berbicara]… Ternyata, Bos, aku menemukan kalau beberapa cerpenis Indonesia yang nulis cerpen-cerpen Amerika itu melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Sastro: Antara lain?

Misdi: Trio Macan kita: Budi Darma, Umar Kayam dan Kuntowijoyo. Bapak-bapak bertiga itu memiliki sesuatu yang khas dalam cerpennya, yang tidak aku temukan di cerpen-cerpen bersetting luar negeri karya cerpenis-cerpenis muda yang latah.

Sastro: Yaitu?

Misdi: Ambil contoh Kuntowijoyo.

Sastro: Saya amb–

Misdi: Ssst, jangan disela dulu. Kuntowijoyo di cerpen-cerpen luar negeri yang ikut disertakan bersama cerpen-cerpen “normal” lainnya dalam buku Hampir Sebuah Subversi itu. Cerpen-cerpen luar negeri itu tidak sibuk memperbincangkan tentang setting luar negeri, taman-taman indah, salju yang anyes, musim gugur yang indah, musim semi yang penuh sakura–

Sastro: dst, dsb, dll, dllajr! Contohnya cukup, Pak. To the point saja.

Misdi: Hahaha… tetep aja kamu ini. Oke, begini, cerpen-cerpen Pak Kuntowijoyo itu repot mengurusi dampak dari permasalahan sejarah terhadap orang-orang jaman sekarang di luar negeri, tentu permasalahan sejarah di sini yang paling banyak berkaitan dengan orang Indonesia dan orang dari negara yang pernah menjadi bapak asuh-nya Indonesia, atau yang terlibat sendiri dengan proses kebapakasuhan itu.

Sastro: Yaitu sisa-sisa kolonialisme. So pasti. Lha wong panjenenganipun itu ahli sejarah. [Kali ini mereka sudah melewati tanjakan tertinggi dan trotoar mulai menurun.]

Misdi: Betul. Jadi, bisa dibilang, ada agenda tersendiri dalam proyek penulisan cerpen-cerpen luar negeri beliau. Beliau punya pandangan, punya obsesi, dan obsesi itu bisa terjadi di mana-mana. Dan kebetulan saja beliau berada, misalnya, di Amerika. Sehingga proyek beliau itu dilanjutkan di situ. Jadi, cobak sampean lihat, meskipun setting-nya Amerika, bisa saja keluar dari beliau kisah tentang orang Indonesia yang leluhurnya pernah bercita-cita jadi pegawai pabrik gula di Jawa. Ada juga kisah tentang mahasiswa Indonesia yang “kehilangan” istrinya karena direbut oleh orang Belanda.

Sastro: Oke, masuk akal, Pak.

Misdi: Point yang bagus, kan, Bos?

Sastro: Haiyyah, jangan dipuji-puji sendiri. Nanti kalau sampean blogkan, dikira narsis lho sama orang?

Misdi: Hahaha…

Sastro: Terus lainnya, Bos?

Misdi: Nah, kalau Umar Kayam lain lagi, Bos. Panjenenganipun almarhum itu gayanya adalah–lho?

Sastro: Kenapa, Mis? Terus saja. Waktu dan tempat kami per–

Misdi: Sas, ada bis, ayo cepet lari ke halte. Lumayan, biar lebih cepet. Ayo [Mereka berdua lari terus menuruni bukit sekitar dua puluhan meter. Tujuan mereka adalah pertigaan Mapple St. dan Leverett Ave. Tempat itu adalah juga halte bus. Dan biasanya bis tidak menunggu terlalu lama. Setelah berlari sekuat tenaga, mereka pun bisa sampai ke pertigaan tepat ketika bis membuka pintu depan. Dan sopirnya, yang berwajah mirip Lorenzo Lamas dan suka membaca novel itu Menyapa dengan senyum dan kacamata hitam "Good morning!"]

Sastro: Morning, man. [Sastro masih terengah-engah. Tapi dia masih antusias mendengar cerita Misdi.] Terus gimana … [engah-engah] … terusannya, Mis? [engah-engah]

Misdi: Halah [engah-engah] sudah dulu [engah-engah] bos. Ambekan sik! [engah-engah]

Langsung Dagingnya (2)

Satu hal lain yang mendukung gaya langsung dagingnya ini tampak pada keluwesan jurusan Sastra Inggris dalam hal mata kuliah yang ingin ditawarkan. Sekadar bandingan, di kampus saya waktu kuliah S1 di Malang dulu, kami para mahasiswa sudah tahu mata kuliah apa yang ditawarkan kampus dan apa saja yang harus kami ambil untuk memenuhi persyaratan kelulusan (seperti saya obrolkan di sini). Nah, beda halnya dengan yang terjadi di jurusan Sastra Inggris University of Arkansas.

Di kampus Arkansas ini, para mahasiswa (baik S1 maupun S2) hanya tahu bahwa syarat-syarat kelulusan adalah mengambil mata kuliah “klasifikasi-klasifikasi” tertentu dalam jumlah tertentu. Yang dijelaskan adalah “klasifikasinya,” dan nama mata kuliahnya sendiri bisa berubah-ubah. Jenis klasifikasinya antara lain: Sastra Dunia, Sastra Inggris, Teori, dll. Baru sekitar satu semester sebelumnya kita bisa tahu bahwa mata kuliah tertentu akan ditawarkan.

Contoh kongkrit, pada semester Spring 2009, saya baru tahu bahwa pada semester musim panas nanti akan ada mata kuliah “Marxism in Literary Criticism” atau pada musim gugur depannya akan ada mata kuliah “Jewish, Muslim and Catholic American Literature” atau “Contemporary African-American Literature” atau “19th Century Irish Poetry” atau “Arab-American Literature” atau lainnya.

Judul-judul mata kuliah ini sangat spesifik dan–khusus bahasan postingan ini–fokusnya adalah teks/karya sastra yang akan dibahas dalam mata kuliah tersebut. Sebagai misal, dalam mata kuliah “Contemporary African-American Literature,” batasannya sangat jelas: karya-karya sastra dari penulis Afrika-Amerika yang terbit sekitar tahun 40-an (pasca Harlem Renaissance 1920-30-an) yang dalam hal ini diwakili oleh Richard Wright hingga karya-karya yang terbit pada tahun 2000-an seperti misalnya Percival Everett atau Octvia E. Butler.
silakan lanjut

Tags:

Kahlil Gibran: His Life and World (4)

Let me begin with one question. Is Kahlil Gibran an American author or an Arab author? At one point in my life I heard people say that Gibran was an Arab/Lebanese author. However, one time a friend, an influential author in Yogyakarta, convinced me that Gibran was an English literature author (because he grew up as an author in the United States under the shadow of William Blake, both in his poetry and paintings).

His Life and World has revealed to me a lot about Gibran’s literary identity. Well, Gibran started writing when he was under the patronage of Fred Holland Day and when he was close with poetess Josephine Preston Peabody. It was around the first quarter of his twenties. He then began to write for an Arabic Newspaper in the US called al-Mohajer (“The Emigrant”) that was circulated among Arab Immigrants in the US.

 

Read More…

Tags:

Kahlil Gibran: His Life and World (3)

In this submission of Gibran’s Biography review, I’d like to focus on how much the biographers, Jean and Kahlil Gibran, rely on diary materials from people whose life paths have crossed Gibran’s. One thing to notice is how people around Gibran liked to keep diaries. I’m not sure if it is the custom back then to keep a diary.

The first lady that catches Gibran’s attention, as narrated in this biography is Josephine Preston Peabody, a prominent female self-taught poet. A lot of the materials used to write this biography come from Peabody’s journal entries. She puts her emotion in those entries. And she does it regularly. From there, we can see when her relationship with Gibran starts and when it starts waning. Reading those entries, I feel like I am reading a narrative from some sort of novel. The difference is, this one is from a real life person.

The second significant contributor to the material of Gibran’s biography is Mary Haskell’s diary entries. A straightforward educator, Mary is not the kind to put her emotion even into her diary. Jean and Kahlil Gibran don’t fail to highlight Mary’s intention with regards to her diaries. She writes her journal entries to document her life, with the language of newspaper reporting, so that when a need to reconstruct the past (by someone) arises, the diary entries could come in handy. Here we are now, reading a biography that relies a lot on her journal entries. Open-mouthed smile

Tags: