Mari kita mulai dengan seingat saya: ketika baru mulai kuliah S1 Bahasa dan Sastra Inggris dulu, saya mendapat daftar mata kuliah yang bisa saya ambil selama 4 tahun ke depan. Kuliah2 itu antara lain English Intensive Course, mata kuliah ketrampilan dasar (Reading, Writing, Listening, Speaking I-IV), mata kuliah Extensive Reading, mata kuliah linguistik (Intro to Ling., Syntax, Semantics, Phonology dll), mata kuliah sastra (Intro to Lit., Prose, Poetry, Drama), dan kalau sudah ambil jurusan Linguistik nantinya akan ambil Psycholinguistics, Sociolinguistics, dll, dan kalau ambil jurusan Sastra nantinya akan ambil Literary Theory and Crit., Advanced Prose, Poetry, Drama, Trends and Issues in Literature, dll. Setelah itu, kita jadi sarjana sastra atau sarjana linguistik.
Tapi tentu saja, karena baca karya sastranya terbatas pada kuliah Prose, Poetry, Drama plus Advanced Prose, Poetry, Drama plus Extensive Reading, dan belajar kritik, teori dan sejarah sastranya hanya di Intro to Lit. dan Literary Theory and Crit. dan Trends and Issues in Lit., maka menyebut diri Sarjana Sastra pun jadi agak kurang pede.
Tentu, kekurangbanyakan bacaan sastra (dengan kata lain, kekurangbanyakan kemampuan dalam bidang yang semestinya menjadi bidang keahlian kita sebagai “sarjana”) banyak disebabkan oleh banyaknya waktu yang harus saya habiskan untuk belajar ketrampilan dasar bahasa Inggris DAN mata kuliah yang, well, kurang penting buat bidang keahlian saya tapi wajib saya ambil (mis., Agama, Kewiraan, Ilmu Alamiah Dasar, dll).
Monggo klik di sini kalau mau lanjut
Tags: studi banding