a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Category : serbasuka

iPod Cina yang Kritis

Di rumah saya punya iPod China. Bentuknya mirip iPod Nano. Ceritanya, dulu ada teman di Indonesia minta dibelikan iPod China yang harganya murah banget, beberapa belas dolar kalau nggak salah, dengan kapasitas memori 8 GB. Karena tertarik super murahnya itu, saya pun ikut beli. (Moral cerita: jangan beli sesuatu hanya karena murahnya, belilah karena butuhnya!!!)

Waktu saya coba, ternyata sangat menyebalkan. Kalau mic-nya dimasukkan penuh, yang kedengaran cuma satu earphone saja. Kita baru bisa dengar suaranya kalau jack earphonenya kita colokkan “anggang-anggang,” atau antara nancep dan lepas. Nah, dalam keadaan kritis inilah kita baru merasakan kenikmatan suaranya. Tapi, bukankah kondisi kritis ini (seperti namanya) sangat mudah lepas, sangat “volatile,” dan dampaknya sangat mudah bikin marah.

Bayangkan, saat Anda mendengarkan iPhone sambil belajar dan tiba-tiba jack yang “anggang-anggang” itu tadi lepas. Apa nggak sumpek sampean? Tentu karena ini saya nggak berani-berani bermimpi membelikannya tali buat masang di lengan (biar kalau lari-lari sambil tetap dengar musik… btw, saya nggak pernah kok lari-lari sambil dengar musik seumur-umur, lha wong lari-lari saja seumur hidup paling juga dua tiga kali.)

Saking gregetannya, saya pun memberanikan diri melepas sekrup di bagian belakang, untuk mengetahui apa yang menyebabkan prilaku menyebalkan pada jack earphone-nya itu. Maka saya buka, ternyata konstruksinya sederhana sekali. Cuman LCD, solid state drive, sirkuit dan beberapa tahanan atau elco atau apalah itu. Saya jadi salah tingkat sendiri. Bagaimana tidak, dengan konstruksi yg sesederhana ini saja bisa ada masalah? Terus mau saya bagaimanakah lagi?

Akhirnya, demi mengurangi potensi stress, saya kubur lah iPod Nano China itu dalam-dalam di laci. Berbulan-bulan saya tidak membuka lacinya. Baru waktu tiba saatnya pulang ke Indonesia dan harus mengemas barang-barang, saya tidak bisa membawa semua barang saya. Sebagian buku saya masukkan ke peti plastik seperempat meter kubik dan saya titipkan di rumah teman (dengan harapan bisa balik lagi suatu saat untuk menjemput buku-buku itu.)

iPod Cina itu termasuk salah satu dari sedikit barang yang harus saya tinggal bersama buku-buku itu.

Baru setelah setahun kemudian saya ternyata berkesempatan balik lagi ke Arkansas, saya ketemu lagi dengan peti biru itu. Saya kaget waktu melihat iPod Nano hitam yang sangat cantik bersama dengan buku-buku saya. Baru saat itulah saya ingat pernah membeli sebuah iPod DAN DIBIKIN SEBAL SAMA DIA!

Tapi, kali ini, saya yang sudah satu tahun lebih tua, dan telah merasakan beratnya hidup (hahahaha), jadi lebih bisa menghargai iPod Cina itu. Saya memutuskan akan bersikap lembut kepadanya, akan saya colokkan jack earphone saya secara “anggang-anggang.” Saya pun memasukkan lagu-lagu kecintaan saya ke memorinya yang seluas samudera itu.

Ternyata, saya ketemu satu lagi tabiat ganjilnya: memorinya sangat lemot, lemot dalam artian yang sesungguhnya. Saya masukkan lagu “cuma” 3 GB, berisi semua album original soundtrack kecintaan, plus beberapa lagu metal, dua album Eddie Veder, Frank Zappa, Johnny Cash, Queen, the Kominas, Fourplay, Avenged Sevenfold, Ridho Rhoma dll. Ternyata, masya allah, hampir lima menit proses transfer datanya berjalan, cuman 2 album yang masuk.

Akhirnya, saya masukkanlah album demi album itu dengan sabar. Mungkin, setelah satu tahun cuti dari mengabdikan diri sebagai mp3 player, dia butuh latihan dulu, butuh peregangan dulu, biar otot-ototnya bisa bekerja dengan baik.

Tak apalah, akhirnya saya pun memindah lagu-lagu itu folder demi folder dengan sabar dan tumakninah…

(Saat ini saya sudah mulai mendengar “Warmness on the Soul,” lagu yang mungkin relatif “menye-menye” untuk ukuran band segarang A7X, tapi nggak tahu ya… seneng saja saya sama yg enak-enak di kuping, semacam sealiran sama “Maafkan Aku” dari Slang atau “Always”-nya Bon Jovi.)

Update: Kalau disuruh ngopi beberapa folder sekaligus, kecepatan transfernya bisa serendah 650 kbps. Tapi kalau diperintah transfer folder demi folder, kecepatan nulisnya bisa sampai 2,5 mbps. Hehehe… ganjil tho?

Para Tokoh Utama Cars 2

Alhamdulillah, setelah nyungsep sekian waktu buat nonton film Pulp Fiction (beberapa belas kali lah :D ), dan baca sejumlah sumber tentang Pulp Fiction/Quentin Tarantino, sinema Hollywood, film noir, political correctness dan tentu saja pendekatan kritik sastra Marxist ala Fredric Jameson, saya pun dengan bangga menyajikan kepada sidang pemimpi sekalian tulisan terbaru saya yang berjudul “Unflinchingly Cool: Commodification and Subversion in Pulp Fiction.” Tentu masih super banyak kelemahan dalam argumen dan terutama pendekatan dalam menulis paper ini. Tapi ya… saya bagi saja lah di sini, biar saudara sekalian juga bisa menikmatinya dan memberikan komentar atau koreksi … matur nuwun. Oh ya, ini abstraknya, dan untuk paper lengkapnya, silakan klik link di bawah abstrak itu.

Paper ini mengeksplorasi politik bawah sadar yang beroperasi dalam film Pulp Fiction yang ditulis/disutradarai oleh Quentin Tarantino. Pendekatan yang dipakai adalah penafsiran tiga horizon yang bisa dibilang langsung dipinjam dari Fredric Jameson, yang berpandangan bahwa karya sastra senantiasa memiliki keterkaitan dengan politik, meskipun tidak disadari oleh penciptanya sendiri. Ketiga horizon itu antara lain adalah horizon politik, horizon sosial dan horizon sejarah. Dalam horizon politik, Pulp Fiction menunjukkan satu pola yang terus-menerus muncul, yaitu selaan atau simpangan. Paper ini akan mengeksplorasi bagaimana simpangan tersebut merupakan simbolisasi dari penyimpangan yang dilakukan Tarantino atas norma-norma Hollywood. Sedangkan untuk horizon sosial, Pulp Fiction adalah film yang melakukan problematisasi atas gagasan “political correctness;” problematisasi ini membuat film ini dikecam karena disangka rasis dengan penggunaan kata-kata seperti “nigger” yang dianggap tidak pantas diucapkan selain oleh orang kulit hitam sendiri. Pulp Fiction menggunakan kata-kata yang problematis ini, tapi dalam cerita, sama sekali tidak ditunjukkan adanya perlakuan yang rasis. Pada horizon ketiga, paper ini membahas bagaimana gaya yang dipakai oleh Tarantino dalam Pulp Fiction ini sebenarnya adalah pinjaman dari berbagai genre dalam sejarah sinema Hollywood yang masing-masing memiliki ideologi tersendiri. Akhirnya, paper ini menyimpulkan bahwa Pulp Fiction adalah upaya membuat film “cool” dan secara konsisten mencoba menghindari komodifikasi. Pulp Ficton tidak terjebak pada fenomena lazim pembuatan film “hanya” untuk mengejar keuntungan, tapi juga melakukan pembaruan estetika.

Ini dia linknya. Silakan baca atau download. Mumpung masih gratis :D

Itukah?

Misdi: Apa memang itu barangnya?

Sastro: Apa lagi?

Misdi: (Hanya melongo)

Sastro: Gimana?

Misdi: Makanya orang2 sampai– Peh!

Apa Adanya (Oi, Kurt!)

Datanglah
Apa adanya

Seperti adanya
Seperti inginku

Sebagai kawan
Sebagai musuh

Santai saja
Buruan cepat

Jangan terlambat
Santai dulu

Sebagai kawan
Sebagai kenangan
Sebagai
Kenangan

Datanglah
Apa adanya

Belepot lumpur
Berlumur sabun

Biasa saja
Apa adanya

Seperti musim
Seperti kawan

Sebagai kenangan
Sebagai Kenangan
Sebagai
Kenangan

Sumpah mati
Tak ada pistol
Di sini
Tak ada belati
Di sini
Tak ada golok
Di sini
Tak ada samurai
Di sini

Hanya Kenangan
Hanya
Kenangan
(Tentu saja diterjemahkan dari ‘Come As You Are’ di Nevermind karya Chris Novoselic, Dave Grohl, dan Kurt Cobain)