a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)
Alhamdulillah, setelah nyungsep sekian waktu buat nonton film Pulp Fiction (beberapa belas kali lah ), dan baca sejumlah sumber tentang Pulp Fiction/Quentin Tarantino, sinema Hollywood, film noir, political correctness dan tentu saja pendekatan kritik sastra Marxist ala Fredric Jameson, saya pun dengan bangga menyajikan kepada sidang pemimpi sekalian tulisan terbaru saya yang berjudul “Unflinchingly Cool:…
Misdi: Apa memang itu barangnya? Sastro: Apa lagi? Misdi: (Hanya melongo) Sastro: Gimana? Misdi: Makanya orang2 sampai– Peh!
Datanglah Apa adanya Seperti adanya Seperti inginku Sebagai kawan Sebagai musuh Santai saja Buruan cepat Jangan terlambat Santai dulu Sebagai kawan Sebagai kenangan Sebagai Kenangan Datanglah Apa adanya Belepot lumpur Berlumur sabun Biasa saja Apa adanya Seperti musim Seperti kawan Sebagai kenangan Sebagai Kenangan Sebagai Kenangan Sumpah mati Tak ada pistol Di sini Tak ada…
Watching Pulp Fiction, a heavily referential movie both in its narrative as well as its formal aspects, we tend to believe that the movie is merely about other movies that Quentin Tarantino (the director) likes. However, before long, let me quote here a statement by Karl Marx in Communist Manifesto: “The history of all hitherto…