a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Category : macem-macem

Waktunya berpesta

Beberapa minggu terakhir ini saya berpesta dengan rekening2 jaringan sosial saya yang lain dan baru kali ini berkesempatan berpesta di sini. Semoga belum terlambat.

Selanjutnya saya akan sebisa mungkin berpesta di sini juga.

Salam

Thesis statement: When Freddie Mercury wrote the song “Princes of the Universe”, he might have had Rostam and Sohrab in mind, instead of Connor MacCleod the Highlander.

Lagu “Princes of the Universe” pertama kali ditampilkan Queen pada tahun 1986 untuk film bioskop Highlander yang dibintangi oleh Christopher Lambert. Lagu tersebut memang dibuat untuk film ini. Di video klipnya, bahkan Christopher Lambert muncul dan adu pedang dengan Freddie Mercury (tentu Freddy Mercury bersenjatakan batang mike!).

Tapi, waktu saya baca salah satu bagian epik Shahnameh (atau Kitab Para Raja), saya tiba-tiba punya pikiran lain: sepertinya di balik kepala Freddie Mercury yang indah itu ada Rostam dan Sohrab saat dia menulis lirik lagu itu.

Biar saya ambilkan lirik yang paling menghentak saja, yang kelak dipakai terus untuk versi serial TV Highlander (yang diperankan oleh Adrian Paul—dengan penampilan Christopher Lambert sekali saja, pada episode pertama, mungkin sekadar menyerahkan tongkat estafet kehighlanderan) yang sempat diputar sampai 6 musim tayang. Begini lirik menghentaknya itu:

I am immortal, I have inside me blood of kings (yeah!)
I have no rival, no man can be my equal
Take me to the future of your world!

Memang sih, kalau kita hanya nonton film dan serial TV itu, kita langsung saja menghubungkan lagu ini dengan para manusia abadi, termasuk kedua highlander (oh ya, highlander hanya sebutan bagi Connor dan Duncan MacCleod yang asalnya dari dataran tinggi Skotlandia—sori, sok tau banget haha). Alasannya adalah, karena di situ disebutkan bahwa mereka immortal bin langgeng lestari abadi lugitosari al-forever!
Tapi, lihatlah di situ, ada kata “blood of kings”. Jelas-jelas MacCleod bukanlah anak-anak raja. Dia hanya anak gunung Skotlandia. Jadi, bisa dibilang, ada ketidaktepatan yang mendekam di lagu ini. Lagu ini seperti bukan sepenuhnya didedikasikan untuk Highlander, meskipun secara kontrak memang lagu ini ditulis untuk film Highlander.

Terus, bagaimana dengan epik Shahnameh, terutama di bagian kisah Rostam dan Sohrab? Btw, sekadar info saja, Rostam dan Sohrab ini termasuk salah satu elemen dari epik Shahnameh yang paling populer bagi bangsa Persia (yang di sini tidak hanya terbatas pada bangsa Iran modern saja, tapi juga mencakup Iran secara luas, yang antara lain Turkmenistan, sebagian Afghanistan, dan beberapa bangsa lain di kawasan Republik Federasi Rusia). Lihat saja di novel The Kite Runner, di situ kedua tokoh kecil kita menunjukkan kekaguman mereka pada kisah Rostam dan Sohrab. Sampai sekarang, banyak sekali orang yang bernama Rostam atau Sohrab dari negara-negara di kawasan Greater Iran itu. Yang dari budaya populer, hayo diingat-ingat siapa nama gitaris grup musik Vampire Weekend? Yah, betul, Rostam Barmanji. Dia anak imigran Iran!

Kita lanjut. Dalam dunia Shahnameh, ada satu ciri yang unik: para kesatria pembela Syah (oh ya, dalam bahasa aslinya, Persia Modern Awal (yang sebisa mungkin dijaga oleh penulisnya Abolqasem Ferdowsi dijaga agar tidak memasukkan elemen bahasa Arab) kata yang dipakai untuk menunjukkan kesatria itu adalah pahlavan, hehehe) itu usianya bisa sampai beratus-ratus tahun. Salah satu yang paling terkenal di antara para pahlavan ini adalah Rostam. Tapi memang sih, mereka tidak abadi. Dan para manusia abadi di Highlander pun sebenarnya tidak abadi, kan mereka mati kalau dipenggal?

Salah satu ciri retorika Shahnameh adalah bahasa yang bombastis dan diulang-ulang, seperti misalnya: Pahlavan Rostam, the man with no equal atau The chest and shoulders of Pahlavan Sohrab the like of which are never found in Turan atau With his Head touching the sky dan lain-lain. Alkisah, Rostam adalah kesatria yang memiliki ukuran badan luar biasa dan, otomatis, kekuatan yang luar biasa. Tidak ada orang yang menyamai kebesaran dadanya (atau, istilah jaman sekarang, pectoral muscle-nya massive banget :D ) dan lengan (atau biceps) super kuat yang memungkinkannya menjebol pohon untuk dipakai memanggang onager buruannya). Begitulah. Di antara manusia standar, Rostam (dan, kelak, putranya si Rostam) tidak punya “equal”.

Apalagi, waktu Rostam sang bapak berhadapan di medan laga dengan Sohrab (keduanya saling tidak mengetahui), saya menemukan deskripsi tentang peperangannya yang, well, bagi saya hanya bisa dijelaskan dengan film Highlander, yaitu: Ketika pedang berdentingan, percikan apinya serupa hujan. Nah, begitulah. Dan, si Rostam ini adalah anak bangsawan (atau bisa disebut raja) di Zabolestan. Si Sohrab sendiri, karena merasa memiliki kekuatan super dan memiliki darah raja, dia pun ingin menjadi penguasa Iran.

Dan, yang paling penting, Freddie Mercury ini kan secara etnis orang Parsi (meskipun lahirnya di Zanjibar, Afrika, dan sempat tinggal di India [well, India juga pernah dikuasai bangsa Moghul dari Persia]).

Maka, setelah menimbang dan memandang, saya pun memutuskan bahwa bukan tidak mungkin Rostam dan Sohrab juga bercokol kuat di benak Freddie Mercury saat dia menulis lirik “Princes of the Universe.” Bisa jadi bayangan Rostam dan Sohrab, yang sudah mengakar di kesadaran bangsa Parsi itu, lebih kuat ketimbang bayangan tentang para manusia abadi dalam film Highlander.

Langsung Dagingnya (1)

Mungkin ini cicilan pertama tulisan tentang yang bisa dipelajari dari pengajaran sastra di universitas-universitas di Amerika Serikat. Sebenarnya, yang diamati di sini adalah Universitas Arkansas.

Satu hal tentang kuliah sastra yang mencolok adalah “langsung dagingnya.” Mungkin ini istilah yang saya ambil entah dari mana (mungkin dari Damhuri Muhammad). Maksud saya di sini adalah, mahasiswa benar-benar harus mengunyah karya sastra, tidak hanya diajari tentang karya sastra.

Contoh kongkrit. Saat mengambil mata kuliah Realisme Sastra Amerika beberapa tahun yang lalu, profesor yang ngajar langsung menyebutkan sejak awal bahwa kuliah akan berfokus pada karya-karya Henry James, Mark Twain dan William Dean Howells, tiga orang kampiun sastra realis Amerika. Pelajaran satu semester itu isinya adalah membahas karya-karya ketiga kampiun itu satu per satu.

monggo dipun klik

Tags:

Terjatuh dalam Mimpi

Pasti Anda sekalian pernah terbangun dari tidur gara-gara bermimpi jatuh dari sepeda, kecebur ke sungai atau semacam itulah. Postingan ini akan sedikit membicarakan soal itu. Argumen utama saya adalah: penglihatan memainkan peran yang luar biasa dalam kesadaran kita.

Dalam film Inception, untuk membangunkan dari mimpi diperlukan “jatuh” (ah, saya lupa apa istilah yang dipakai di film itu, entah “fall” entah apa). Jadi, dalam Inception, untuk membangunkan orang dari mimpi, kita perlu menjatuhkan mereka dari kursi atau mencelupkan orang tersebut ke air. Kira-kira begitu. Mungkin saja hal itu benar. Logika sederhananya, kita bisa membangunkan orang tidur pada umumnya dengan cara menggoyang-goyangkan dia.

Tapi, saya baru sadar bahwa sebenarnya tanpa itu pun kita bisa saja terbangun, yaitu melalui perasaan tergoncang atau terganggu yang luar biasa. Dan perasaan tergoncang itu bisa timbul dari apa yang kita lihat. Contohnya sangat sederhana tapi jelas. Kalau kita bermimpi jatuh dari sepeda, kita akan bangun sendiri, karena kita merasa badan kita akan terbentur. Sepersekian detik perasaan akan terbentur itulah yang membuat kita terbangun. Kita jadi terlempar dari kesadaran mimpi dan jatuh ke kesadaran biasa.

Sepertinya, itu pula yang disasar oleh para pembuat film 3D. Dengan membuat kita melihat dan mempersepsi bahwa akan ada kereta api yang melindas kita, kita langsung kaget dan berteriak. Itulah yang seringkali terjadi saat kita melihat film 3D. Di sini terlihat bagaimana para ahli teknologi itu sebenarnya menciptakan sesuatu yang mendekati kehidupan pada umumnya.

Tulisan ini masih mbulet. Monyet-monyet pikiran berlompatan dengan liar di kepala saya. Kalau saja monyet-monyet itu bisa saya tangkapi satu per satu, mungkin tulisan ini akan lebih jelas dan lebih berguna buat saya sendiri, dan mungkin Anda sekalian.

Kahlil Gibran: His Life and World (3)

In this submission of Gibran’s Biography review, I’d like to focus on how much the biographers, Jean and Kahlil Gibran, rely on diary materials from people whose life paths have crossed Gibran’s. One thing to notice is how people around Gibran liked to keep diaries. I’m not sure if it is the custom back then to keep a diary.

The first lady that catches Gibran’s attention, as narrated in this biography is Josephine Preston Peabody, a prominent female self-taught poet. A lot of the materials used to write this biography come from Peabody’s journal entries. She puts her emotion in those entries. And she does it regularly. From there, we can see when her relationship with Gibran starts and when it starts waning. Reading those entries, I feel like I am reading a narrative from some sort of novel. The difference is, this one is from a real life person.

The second significant contributor to the material of Gibran’s biography is Mary Haskell’s diary entries. A straightforward educator, Mary is not the kind to put her emotion even into her diary. Jean and Kahlil Gibran don’t fail to highlight Mary’s intention with regards to her diaries. She writes her journal entries to document her life, with the language of newspaper reporting, so that when a need to reconstruct the past (by someone) arises, the diary entries could come in handy. Here we are now, reading a biography that relies a lot on her journal entries. Open-mouthed smile

Tags: