By a Round-Shaped Window Pane...
I know I should be telling some story here, story about anything, especially about my new life here in this quietly inspirational and academically conducive city. But well, since my classes have started and I gotta do lots of things, read lots of novels, translate lots of words every week, I should condition my self then. And the way to condition my self is ....? Alright, you're right brother (this time I'm seeing a man giving an answer
): doing anything in English, including making blog posts. Yeah, I just realize that it's quite hard for us non-native speakers to write in English, I know, I'm there
, but you know... I don't wanna lose the joy of blogging, see? Nah, I would ask your permission to write my blogposts in English, excellency, yeah, just to relieve my burden okay.
As for Kompas, sorry Ma'am and Sir editors, I can't promise you anything. I'm not sure I can write reviews
or essays or short stories in Indonesian for you. Sorry, terribly sorry for the inconvenience, hehehe...
And for you happy readers (ooops, do I have happy readers? Or are the "happy readers" only me and someone I see in the mirror? hmm...), I hope you don't mind if I write in English, and Indonesian occasionally.
Well, I guess that's all. I think I'm ready to continue working on my other stuffs. Btw, there's a beautiful view out there (ehem-ehem, I'm in Mullins Library of University of Arkanss, second floor, on the north wing, right beside a round-shaped window panes). Oooh so beautiful, I see people passing by, some walking some cycling some walking their dogs. Hmm... I wonder how they can love dogs sooooo much, while I'm afraid of them sooooo much!
Okay then, gotta go, I should get some stuffs taken care of (mostly reading novels, hehehe... dyou ever wish to study in a place where you just have to read novels and appreciate them, interpret them, study them minutely and closely? Hmm... that's all I'm doing these days.
). Have a good day, see you again tomorrow. Btw, I think I gotta tell you all about something tomorrow, something that I'm sure will beguile you sooooo much! Just a two word hint: approaching texts.
Ah... actually I wanna keep it secret. But, man!, I can't keep it secret any longer: CLOSE READING. I've been listening to people talking about close reading this and close reading that in Indonesia, and finally I experience myself the path of close reading, hehehe... So, still interested? Stay alert then.
Maem Dinner with an American Family
Mungkin saya pernah cerita kalau saya pernah punya sebuah cita-cita: nyetir mobil sendirian di pedesaan Amerika, tiba-tiba ban kempes tepat di depan sebuah rumah pedesaan lengkap dengan ranch dan kandang-kandang kudanya, terus si pemilik rumah yang tiba-tiba keluar dan iba melihat saya langsung mengajak mampir (yah... ini kan ceritanya di South, jadi ya orangnya ramah bin friendly lan guyup rukun gitu deh...) dan mengajak makan malam (kalau sama Masrizal, ditambah kebetulan waktu itu sedang Thanksgiving dan entah kenapa tiba-tiba kalkun yang disediakan itu halal hehehe... kalo yang ini ngayal...), dan melihat makan malam khas orang Amerika seperti yang sering kita lihat di tivi-tivi, bareng-bareng di meja bundar (atau persegi panjang). Begitulah, impian itu.
Dan ternyata, beberapa hari yang lalu saya benar-benar mengalami sesuatu yang bisa dibilang mirip. Bedanya, saya tidak perlu mengalami ban bocor, dan malahan saya dijemput sama si pemilik rumah.
Yah, lagi-lagi ini bagian dari orientasi mahasiswa internasional di U of A. Acaranya memang berjudul Dinner with American Family. Begini ceritanya:
Jam 4.20 sore, saya berangkat ke kampus seperti biasa, lewat Duncan Avenue. Kali ini saya agak grogi, karena kemarinnya saya habis diikuti anjing kecil (tapi bikin grogi juga
) pada waktu pulang dari kampus. Saya berjalan agak cepat dan celingak-celinguk jangan-jangan ketemu anjing itu lagi. Waktu mulai masuk kawasan kampus, saya agak tenang. Di belakang gedung Bell Engineering Center, saya ketemu Haptom si mahasiswa asal Eritrea yang pernah saya ceritakan tempo posting
. Sambil ngobrol, saya lihat ada seekor tupai melintas di atas jalanan batu-bata. Yah, di kampus U of A ini tupai bukan lagi binatang langka. Mereka sangat jinak dan suka berlarian ke sana kemarin dengan ekor cantiknya itu. Tapi hati-hati, ada beberapa mahasiswa yang pernah melapor makan siangnya diambil tupai waktu mereka sedang membaca di taman sambil makan dengan lunchbox terbuka. Hehehe... Saking akrabnya sampek nglunjak.
Setelah ritual poto-poto, mengabadikan kesempatan langka yang mustahil saya temukan di kampus Brawijaya atau IKIP,
, kami lanjut, karena memang sudah agak telat.
Benarlah, sampai di Holcombe Hall (kantornya International Students and Scholars Office, yang merupakan tempat ngumpul kita untuk sesi ini) saya termasuk telat (Indonesia banget kan? hihihi...). Semua peserta sudah masuk ke daftar dan saya dikasih form yang masih kosong. Saya dan Haptom langsung ngisi form itu. Setelah itu, kami masuk dan di sana kami semua dipertemukan dengan host masing-masing. Satu host mengakomodir sekitar 10-12 orang mahasiswa. Tapi, sungguh hikmah (hikmah bukan buatan! kedengaran kayak Andrea Hirata gak?
), ketelatan saya tadi membuat saya masuk ke kelompok yang hanya empat orang isinya, yakni saya (wakil kontingen Indonesia), Haptom (Eritrea), Cvhen (bacanya Stef, unik ya?, Trinidad), dan Tamanjay (India). Dan host kami adalah pasangan Bob dan Rosa Edwards.
"Hello, I'm Bob, and this is my wife, Rosa," begitu kata Bob. Saya langsung tersenyum lebar alumni Pepsodent. Seperti biasa, saya masih agak wagu memanggil orang yang lebih pantas saya sebut bapak dengan nama depannya saja.
Karena mobil mereka hatchback kecil, jadi ya kami harus diimbal.
Saat dijemput kembali, saya tak sabar untuk bertanya: "Where do you live, Sir (saya kan masih grogi-grogi gitu manggil dengan nama depan,
)? Is it in the country side?"
Bob menjawab bahwa sebenarnya dia tinggal tidak di pedesaan, tapi di sebuah pinggiran kota Fayetteville yang asri dan dia punya halaman cukup luas, jadi bisa tanam-tanam. Dia suka sekali, soalnya kerjanya kan pegang komputer, jadi ya... semacam rekreasi begitulah. Di tengah-tengah cerita, Bob menyelipkan, "Well, we're not rich people, and, you know, sorry if I'm very informal."
Kami melewati kawasan Dickson St. (jantung kotanya Fayetteville, di mana banyak sekali bar-bar, nanti deh saya ceritakan) dan terus belok kanan lewat jalan besar dan ke kawasan yang rumahnya mulai terlihat jarang-jarang dan oldies-oldies gitu deh. Terus, sampailah kita di rumahnya Bob, rumah mungil dengan halaman luas dan tampak asri. Sungguh. Sungguh lumayan beda dengan american family yang di film-film keluarga, di mana biasanya rumahnya tingkat dua, balainya luas, semua kamar di lantai dua, dan makan barengnya di meja bunder dapur, dan kalo nonton tipi selalu duduk di sofa panjang (dan nggak pernah dikunci, hehehe...). Tapi, inilah the real American family. Sungguh asri.
Begitu masuk, saya dan teman-teman lepas sandal. "You don't have to take of your shoes," kata Bob. "It's okay of you do that, but I don't take off mine." Tapi saya lihat Rosa hanya berkaos kaki.
Begitu masuk, kami disambut dengan cerek-cerek jus, ada jus lemon dan ada yang campur-campur pisang pepaya guava (oh ya... jusnya yang kotakan itu lho,
, kayak di tipi-tipi deh).
"Before we do anything, I'd like to tell you how we met," mulailah Bob cerita sambil sesekali dibantu Rosa tentang pertemuan mereka. Mereka bekerja di satu tempat, kenal dua tahun, hingga suatu ketika tiba-tiba Bob merasa jatuh cinta dan mengirimkan surat sepanjang "26 pages in both sides". Dia sangat ikhlas waktu itu
. Kalau cintanya diterima, alhamdulillah, dan kalau tidak ya tidak apa-apa, yang penting sudah mengungkapkan perasaan...
Dan syukurlah Rosa menerima cinta si Bob. Dan mereka pun menikah, hidup sederhana, bersama ibu Bob. Bob cerita bahwa suatu ketika dia menjalani 2 full time job sekaligus. Dan pada saat ibunya sakit keras, dia berhenti bekerja dan total merawat ibunya. Pada saat itulah dia sadar betapa Rosa yang notabene "hanya" seorang mantu ternyata sangat menyayangi ibu Bob, bahkan lebih dari sayang seorang anak.
"Btw, let me show you around," ajak Bob, sambil menunjukkan kami kamar yang ada di ujung paling kiri rumahnya, ada tulisan "Grandma Room." Dia tunjukkan sebuah kamar yang tertata rapi, dibersihkan "on daily basis". Itulah kamar ibunya ketika melewat masa-masa akhir hidupnya. Di kamar itu, ada juga seekor beo yang berkoak-koak begitu kami masuk. Bob cerita bagaimana ibunya melewati masa-masa akhir hidupnya di kamar itu.
"Somebody wants to be introduced, sweetheart," kata Rosa dengan lembut kepada suaminya (beneran lho ini!). Bob langsung kaget dan segera memperkenalkan kami kepada si Beo, yang katanya adalah peliharaan ibunya. "He can sing the Razorback song," kata bob. Yah, orang Fayetteville sangat fanatik dengan tim futbolnya yang bernama Razorback itu (yang, ngomong-ngomong, artinya adalah babi celeng). Lalu Bob bersiul, tapi si Tuckoo nggak mau ikut kali ini.
Setelah itu, dalam perjalanan ke dapur, Rosa menunjukkan foto-foto anak mereka yang sekarang sudah berusia 21 tahun. Selain itu, Bob juga menunjukkan sebuah kamar kosong dengan meja belajar dan buku-buku tempat Rosa suka membaca buku, "My wife is very studious. She reads a lot on the weekend." Di dapur, Bob menunjukkan lukisan-lukisan yang dibuat ibunya. Tak lupa, Bob juga menunjukkan sebuah kamar garasi yang terkunci. Ternyata di sana ada anjing mereka. Hiii... saya langsung menyingkir, "I have a dog phobia," kata saya sambil ndrenges. Dan lagi-lagi, seolah-olah Bob sangat tahu bahwa mungkin saja ada mahasiswa internasional yang nggak mau terjilat anjing. ![]()
Kami langsung dijamu dengan vegetarian lasagna, pasta, dan saus (yang ada chickennya dipisah dengan yang cuman saus). Saya curiga, sepertinya orang-orang ini sudah sangat akrab dengan kultur internasional.
Kami makan di ruang tamu sambil berbincang-bincang tentang banyak hal. Haptom menceritakan tentang kebiasaan makan bersama dari satu loyang di Eritrea. Chven bercerita soal kehidupan guyup rukun di Trinidad. Tamanjay bercerita tentang kebudayaan India dan gangga. Saya bercerita bahwa di Indonesia panti jompo sangat tidak lazim karena orang tua (selain yang tak punya sanak tak punya kadang) dan Bob bertepuk tangan dan kemudian memberi acungan jempol mendengar cerita itu. Dinner ditutup dengan dessert brownies dan es krim (dik, ndik kene es krim muraaah banget, wong-wong nek tuku sak ember, gak sak kothak, sumpah! ayo sampean melok wis).
Bob berkisah tentang pengalamannya dua tahun hidup di Thailand (nah, ketahuan kan, di sinilah tumbuh wawasan internasional Bob,
) dan Rosa bercerita (setelah saya picu dengan pertanyaan tentang Mt. Squoyah) tentang Mt. Sequoyah, kawasan retreat di sekitarnya, tanda salib yang kelihatan terang dari kampus U of A, dan "be careful if you go there at saturday night, because it's where teenagers go for a date," (yang tentu saja menciptakan ledakan tawa di antara kami semua).
Seusai makan malam, pukul 7.45 (padahal matahari belum surup, kok makan malam, hehehe..) Rosa yang mengantar kami pulang. Tapi, dia berjanji menunjukkan kepada kami Mt. Sequoyah (yang ternyata bukan tempat untuk hiking, hehehe...). "I hope this is not our last meeting. I hope we can keep in touch and if you want to have dinner together again, just let me know. But of course, during Ramadhan, we have to do it after sunses, right? Hahaha..." Begitulah kata Bob sambil menoleh ke saya.
Akhirnya, kami pun pulang dan ke Mt. Sequoyah dulu. Dari puncak sana, dekat lampu salib, kami bisa melihat Old Main, gedung tertua di U of A yang dibangun pada tahun 1870an, setelah perang saudara. Oh ya, kalau pingin lihat Old Main dari puncak Mt. Sequoyah, bisa kok. Klik saja ini, ada webcam di dekat salib Mt. Sequoyah itu.
Akhirul posting, sepertinya akan sangat asyik kalau saya kasih sedikit cerita tentang Old Main. Old Main ini dibangun seusai perang saudara antara orang Selatan dan Utara. Arsiteknya adalah seorang dari Selatan. Si Arsitek membuat rancangan tower sebelah selatan Old Main lebih tinggi dari tower sebelah kiri. Tapi, pada saat pembangunan, pembangunnya adalah orang dari Utara, sehingga dia bangun tower utara lebih tinggi enam batu-bata daripada yang selatan. Hehehe... unik kan?
Wassalaam....
Drive-in is Misbar
Sebagai salah satu bagian dari orientasi mahasiswa internasional di University of Arkansas, kami dibawa "kakak-kakak" sophomore (tingkat 2), junior (tingkat 3), dan senior (tingkat 4) ke Drive In di kawasan tepi Fayetteville. Karena kawasan tepi, atawa country side, jadi ya relatif nggak ada apa-apa selain hamparan rumput dan alang-alang, yang letaknya tak jauh-jauh amat dari Wilson Park dan bagian lab-lab jurusan Pertanian, Peternakan, dll-nya University of Arkansas.
Kalau diingat-ingat lagi, yang namanya Drive In itu pernah ngetrend sekali di tahun 1970-an dan 1980-an. Ingat kan serial Happy Days yang dibintangi Henry Winkler (serial tahun 70-an itu)? Ya, Drive In ngetrendnya jaman itu. Dan yang ada di Fayetteville ini juga sudah tua. "It's been here since forever," kata seorang pria pindahan dari California yang punya minitruck double cabin (kayak di Smallville) yang mengantarkan salah satu rombongan kami ke kawasan Drive In itu, sambil bawa kursi-kursi lipat. Buat apa kursi lipat? Tunggu saja jawabannya
.
Sebelum berangkat ke Drive In, kami semua berhenti di Wilson Park dulu untuk makan pizza dan soda (hehehe... ini nih budaya Amerika). Ya... kali ini saya milih cheese pizza (masak terus-terusan vegetarian pizza, hehehe...). Sebagian teman-teman main frisbi (nah, ini budaya Amerika lagi), sebagian main bola, dan banyak di antara kami yang hanya bercakap-cakap. Saya ngobrol sama seorang maba bachelor asal Korea Selatan (yang dulunya pernah gabung Army wajib militer), dua orang mahasiswa Russian Federation (tepatnya dari Republik Tatarstan, nah... nggak tahu kan di mana negara itu?), dan seorang lulusan bachelor asal Missouri yang bekerja di U of A.
Menjelang senja, kira-kira pukul 7.45 (well, maghribnya di Fayetteville sekarang 8.16, hehehe... bayangkan kalo puasa nanti!!!!), kami berangkat dengan kelompok masing-masing (masing-masing bawa mobil). Di jalan, kami melihat lingsirnya matahari ke peraduan di antara rerumputan dan hutan-hutan di kejauhan. Seperti biasa, senja selalu indah (nggak percaya? tanya Seno Gumira Ajidarma). Begitu sampai di tempat Drive In, kami langsung bisa melihat layar raksasa yang putih bersih. Saya langsung teringat misbar (gerimis bubar), dengan layar tancapnya dan lapangan hijaunya. Bedanya, di drive ini ini kawasan nonton filmnya kelihatan putih dan di sekelilingnya ada rerumputan. Entah ada masalah apa, mobil-mobil yang di depan belum bisa masuk ke lapangan nonton film. Yah, suasananya seperti di gerbang tol. Ada sebuah bilik kotak persis seperti tempat petugas penarik karcis tol dan mobil-mobil berjajar mengular. Suasana masih terang.
Sekitar 15 menit kemudian "pintu tol"pun dibuka. Ternyata, petugas tiket Drive In hanya satu, seorang pemuda awal dua puluhan bertopi merah. Ketika mobil yang saya tumpangi sudah sampai di "gerbang tol", Taylor, Cross Cultural Mentor yang menyupiri sedan kami langsung memberikan sebelas dollar sambil menyapa khas orang Fayetteville:
"How're you doin?"
"Good, you?"
"Good."
Dan si penjaga loket memberi tiket sambil bilang: "92,75 oke?". Dan dijawab "Oke" oleh Taylor.
Saya tanya Taylor, "What did he mean by 92,75?"
"The frequency." Saya pun diam. Padahal masih sangat bertanya-tanya, hehehe...
Selepas loket, terlihatlah ternyata tempat-tempat memarkir mobil kami itu adalah batu-batu kerikil putih yang ditumbuhi sedikit rumput di sana-sini. Ada tiang-tiang setinggi kira-kira semeter (atau satu yard hehehe...) yang menandai di mana masing-masing mobil harus parkir. Begitu sampai, saya lihat seorang lelaki besar keluar dari minitruck double cabin dan menurunkan kursi-kursi santai dari sana dan mengeluarkan sebuah stereo. Saya pun keluar dari sedan saya dan melihat sekeliling. Suasana surup. Rerumputan menggelap. Lapangan parkir pun menggelap. Tempat parkir itu tampak bergunduk-gunduk sehingga setiap mobil bisa terparkir dalam posisi agak mendongak (dengan begitu, para penumpang di kursi belakang pun bisa melihat layar putih raksasa itu dengan jelas). Saya langsung melepaskan diri dari kelompok dan pergi ke teman saya si Eric (mahasiswa fulbright dari Rwanda) dan Habtom (mahasiswa master ilmu komputer asal Eritreia ... ngerti nggak di mana negara ini?
).
Layar putih raksasa itu tampak putih bersih, di depannya ada rerumputan dan ada playground kecil lengkap dengan prosotan dan tangga lengkungnya. "That's where the kids go while waiting for the movie to start," begitu kata si lelaki besar yang sedang mempersiapkan stereonya. Sementara itu, semua orang sudah duduk di kursi lipat yang sudah diturunkan dari truk-truk double cabin.
"So, where's the sound system?" tanya saya ke si lelaki besar.
"Here," katanya sambil menunjuk stereonya.
"Ah, I see," ternyata 92,75 tadi frekuensi radio yang harus kita tangkap sendiri. Yah, ternyata kalo drive in itu biasanya sound systemnya dari radio mobil masing-masing. Hahaha... Betapa osed*-nya saya (*bahasa Ngalam).
Lalu saya ceritakan tentang misbar di desa-desa nuswantara tercinta kepada si bapak besar itu. Dia tertawa ngakak begitu tahu kepanjangan misbar (yang tentu saja dijelaskan dalam bahasa Inggris).
Begitu mulai gelap, kira-kira sudah ada 10an menit selepas adzan maghrib (sebenarnya sih nggak terdengar adzan, di Fayetteville adzan tidak boleh diperdengarkan keras-keras), lagian posisi kami di tengah padang, hehehe), layar tancep pun mulai menyala dan dari stereo terdengar suara musik. Dan iklannya adalah: Coca Cola. Saya segera meninggalkan TKP untuk ke toiletnya toko popcorn yang berdiri sebagai satu di antara dua bangunan di padang itu (bangunan satunya adalah "gerbang tol" tadi). Di atas toko popcorn ada ruang proyektor. Di dalam toko popcorn saya beli seember popcorn dan minta ijin solat di sudut ruangan, dan alhamdulillah diijinkan.
Setelah mendapat seember popcorn, saya keluar lagi ke tempat nonton. Udara mulai dingin, jadi ya saya pakai baju lengan panjang sebagai rangkapan. Dan mulailah saya duduk manis di atas kursi lipat sambil nonton film. Filmnya "Hancock", si super hero konyol tapi agak psikologis (agak lho ya). Setengah jalan, terasa rintik-rintik hujan mulai turun. Beberapa maba mulai melipat kursi dan masuk mobil. Saya bertahan karena masih pakai topi biru baru (tulisannya Portland, hehehe... padahal hampir semua mahasiswa Fayetteville yang bertopi hanya pakai topi Razorback, alias babi celeng). Nah, ini dia, Drive-in jadi MISBAR. Untungnya tak lama kemudian suasana terang kembali, orang-orang pun mulai duduk lagi dan menonton. Hehehe.... nggak jadi misbar deh.
Yah, sepertinya begitu saja kisah Fayetteville hari ini. Oh ya, sebenarnya waktu balik dari Drive-In hari sudah gelap sekali. Tapi, untungya Taylor ngantarkan saya sampai ke tempat parkir apartemen saya. Jadi ya... alhamdulillah, nggak harus minta tolong polisi universitas mengantarkan saya pulang (halah!).
Apa Itu Negeri Orang?
Berkat segala rizki yang didapatkannya, akhirnya Si Pemimpi terlontar juga dari negeri tercintanya di mana anak istri dan keluarganya tinggal. Dengan segala kesingkatan yang karena belum terlalu penting untuk diceritakan secara mendetil, sampailah si Pemimpi di Singapura. Tidak ada pendaratan heroik semacam seorang Malin Kundang yang datang ke negerinya sendiri, turun dari kapal, langsung menyentuh bumi, meraup tanah. Di Singapura, si Pemimpi keluar dari pesawat lewat garbarata dan langsung disambut karpet. Singapura tak mengijinkannya barang sedetik untuk menyentuh tanahnya,
.
Dan, dihadapkan dengan seorang petugas bandara perempuan yang menanyakan paspornya dengan ... ya ... singlish yang sudah melegenda itu. Pertama kalinya si Pemimpi mendengar Singlish dengan telinga telanjang. Well, belum seseram yang dia bayangkan,
.
Dan, tentu saja, seperti yang wajib diceritakan dalam semua kisah tentang bandara Changi, dia berjalan menyusuri terminal tiga mencari jadwal keberangkatannya selanjutnya. Dia bertemu free internet access. Dan segeralah dia cek imel.
Hari Terakhir Seorang Blogger di Ruang Komputernya
Malam tak lagi dingin. Sesunyi ini? Ah, tak biasanya jalan raya enggan bahkan untuk berbisik. Istrinya terbaring didekap selimut. Anaknya, yang selalu menghindari selimut, tidur menghadap tembok. Desis komputer tak kunjung mengeras--padahal itu yang ditunggunya. Detik-detik kibord memburu pikirannya. Ah, itu, akhirnya jalanan membisikkan derung samar motor.
Sejuta smiley berderet di atas writing pad B2evolution-nya. Smiley yang bergambar mata berputar-putar itu menjengkelkannya.
Terbuat dari apakah hari terakhir seorang blogger di ruang komputernya itu? Terbentuk dari apakah kerinduan yang sudah pasti akan tercipta itu? Oh ya, aku hampir lupa, apakah bahan-bahan sebuah posting blog yang ingin menjerit tapi tak mampu ini?
:: Next >>