Category: Hari-hari
Accessibility Options (Fatwa Baru= Bikin Gedung yang Tidak Accessible Hukumnya HARAM)
By wawan on Jul 13, 2010 | In Hari-hari | Send feedback »
Maaf, saya belum sempat cari istilah Indonesia yang enak untuk istilah "accessible" dalam konteks ini (saya harap Saudara sekalian bersedia memberitahu saya kalau kebetulan tahu).
Accessibility hukumnya fardlu dalam membangun sarana prasarana publik di negara Aa' Sam atau Amrikiiyya Syarekat dan negara-negara maju lainnya. Accessibility memungkinkan sebuah prasarana dipakai oleh siapa saja, baik orang-orang secara umum maupun mereka yang menyandang ke-tuna-an. Atau, apakah kira-kira akan lebih dimengerti jika saya mengganti "mereka yang menyandang ke-tuna-an" ini dengan istilah "mereka yang memiliki kebutuhan khusus." Di sini saja sudah kelihatan betapa sulitnya saya menyampaikan gagasan secara halus. Entah, sejak kecil saya diajari menggunakan eufemisme "tuna rungu" untuk "tuli," "tuna netra" untuk "buta," dan sebagainya, tapi ternyata masih saja kesulitan mencari istilah yang memayungi para penyandangnya tanpa harus menggunakan kata sekasar "cacat fisik" atau sejenisnya. Dalam bahasa Inggris mungkin kita bisa dengan gampang menggunakan istilah "the challenged" atau "people with special needs." Dan saya merasakan kedua istilah itu lebih netral dibanding "cacat" atau "tuna" yang tetap mengesankan adanya "derajat kenormalan."
Dalam serial sitkom "Little Mosque in the Prairie," dikisahkan bahwa Masjid Mercy ingin diliput berita dan memberikan citra keterbukaan kaum Muslim di sebuah kota kecil Kanada. Semua bagian masjid telah diperbaiki. Sekilas tidak ada yang kurang barang sedikit pun. Tapi, waktu reporter dari TV lokal datang, langsung ketahuan kekurangannya, dan kekurangan itu sangat vital. Reporter yang datang adalah seorang perempuan pemakai kursi roda. Dia tidak bisa melakukan reportase karena masjid indah itu tidak punya jalur masuk buat pemakai kursi roda. Akhirnya gagallah upaya menunjukkan bahwa Masjid Mercy adalah masjid yang "terbuka."
Sejak awal-awal memakai Windows XP dulu, saya memperhatikan satu ikon pemakai kursi roda warna hijau di Control Panel, tulisannya "accessibility option." Saya tidak pernah benar-benar tahu kapan ikon itu dipakai, dan siapa pemakainya. Hingga tadi siang, waktu saya pinjam laptop dari perpustakaan, menyalakannya, menjalankan Firefox, dan menemukan tampilan yang terasa kurang nyaman, kurang indah: warnanya kontras hitam putih, garis-garisnya jadi tebal, gambarnya minimal, dan huruf-hurufnya hampir semua cetak tebal. Saya langsung ingat ikon "accessibility options" itu. Saya masuk Control Panel dan klik ikon hijau itu. Memang, di bagian "display" tercawang "high contrast." Ya, mungkin pemakai sebelumnya membutuhkan setting khusus untuk bisa membaca dengan baik.
Kalau diperhatikan, di mana-mana memang terlibat banyak orang yang entah memakai kursi roda, memakai anjing buat menunjukkan jalan, pakai semacam sepeda khusus, atau pakai tongkat untuk berjalan-jalan. Mereka ini memiliki kebutuhan khusus. Tapi kebutuhan khusus itu tidak menghalangi mereka melakukan kegiatan-kegiatan seperti halnya saya yang mungkin secara tidak sadar kurang mensyukuri ketakberkebutuhankhususan saya. Ke segala penjuru kota atau kampus pun mereka tidak terhalang, karena sarana dan prasarana umum wajib "accessible," harus bisa digunakan oleh yang berkebutuhan khusus. Mau pakai komputer, ada komputer yang mejanya lebih besar, yang bisa menampung lengan kursi roda. Toilet khusus juga ada. Kalau dirasa sulit membuka pintu juga ada pintu yang tinggal pencet. Dan, kalau naik bis pun, bisnya bisa semacam "jongkok" dan punya semacam "jembatan" yang memudahkan naiknya kursi roda.
Saya merenung-renung sendiri, apakah di negara kita yang kaya dengan pembuat fatwa ini kita sudah mengakomodir saudara-saudara yang berkebutuhan khusus ini? Atau, apakah tidak terlihatnya para pemakai kursi roda di pasar-pasar itu karena memang pasar kita tidak "accessible"? Entah lah, saya cuman ingat puisi yang pernah saya terjemahkan: The States is an Islamic country...
