Category: Hari-hari
Orang Baik di Mana-mana, Orang Nggak Baik Juga
By wawan on Jun 22, 2010 | In Hari-hari | Send feedback »
Istri saya adalah seorang yang saya yakin sangat baik. Satu kejadian belum lama ini menegaskan hal tersebut. Selama sekitar sebulan dia mendampingi dua orang relawan Peace Corps di Malang. Teman-teman yang didampinginya itu suatu kali mengajak istri saya ke teman mereka, seorang relawan Peace Corps lain yang lebih senior, sebuah saja namanya Ibu Sarah. Entah karena penuturan teman-teman istri saya itu atau dari kesan pertama, Ibu Sarah bilang ke istri saya:
"Saya sangat sedih," katanya.
"Kenapa Ibu Sarah?" tanya istri saya.
"Anda sangat baik kepada saya dan teman-teman saya, sementara banyak orang Amerika yang mungkin tidak akan baik kepada Anda atau suami Anda yang sekarang ada di Amerika."
"Oh..."
Maka berlanjutlah pembicaraan istri saya dengan Ibu Sarah, yang isinya mungkin tidak akan relevan lagi dengan pokok postingan kita kali ini. Intinya, saya ingin menanyakan: apakah benar orang Amerika tidak baik kepada Muslim?
Memang bukan rahasia lagi kalau ada beberapa negara yang warga laki-lakinya harus melewati pemeriksaan khusus kalau memasuki Amerika. Memang terdengar di berita bahwa ada daerah yang penduduk ekstrimnya mempersulit waktu ada sekelompok Muslim ingin membangun masjid. Tapi apa dengan itu kita akhirnya harus berkecil hati saat ada kesempatan mendatangi dan tinggal di Amerika untuk urusan tertentu? Apakah lantaran kejadian2 itu kita jadi harus bilang bahwa Amerika tidak ramah kepada Muslim?
Saya tidak begitu peduli dengan identitas kelompok. Menurut saya, semestinya kita berjabat tangan tanpa harus mengenakan sarung tangan (apalagi sarung tinju!). Menurut saya, saat bertemu dan mengenal seseorang kita harus lepaskan sarung tangan identitas kita dan berpandangan positif bahwa dia bukan orang yang memakai sarung tangan identitas tertentu. Saat menjabat tangan orang, saya ingin menilai orang ini dari kehalusan telapak tangannya, bukan dari sarung tangannya. Lagipula, tidak semua orang memakai sarung tangan nasionalitas atau identitas kelompok.
Entah Ibu Sarah akan ngomong apa kalau tahu bahwa tadi siang, waktu lagi santai-santai di rumah, setelah begadang semalaman, seorang tetangga mengetuk pintu dan mengajak saya ke apartemennya. Dia memasak kari dan dia ingin saya ikut makan. Tidak pakai pork, katanya. Saya langsung ke sana, meskipun dia belum selesai masak. Selama dia masak, kami ngobrol sambil saya main gitarnya. Dia bilang:
"Pokoknya, kalau aku masak--nggak pakai pork kok!--aku ketok pintumu dan ajak kamu makan di sini."
Padahal, menurut Freud, makan merupakan simbol persaudaraan dan perkawanan, dan kita tidak akan membiarkan musuk makan di meja makan kita, bersama kita. Ditambah lagi, di kawasan selatan Amerika ini, makanan terbilang sangat penting, dia hadir di semua acara intim. Saya tak habis berpikir tentang itu selama saya berjalan pulang kerepotan membawa piring yang baru diisi kari penuh, tangan kiri memegang mug kopi, dan di ketiak saya ngempit sekotak telor dikasih teman yang mengundang makan itu...
Kira-kira, apa kata Ibu Sarah kalau tahu kejadian ini?
