Iklan
By wawan on Sep 5, 2009 | In Hari-hari | 1 feedback »
Saya termasuk orang yang selalu curiga dengan iklan. Iklan, yang saat ini merupakan ujung tombak kapitalisme ini, menurut saya lebih banyak "mudaratnya" daripada "manfaatnya" dalam kaitannya dengan konsumerisme. Seringkali gara-gara iklan kita jadi beli sesuatu yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat buat kita.
Ah, kalau ngomong soal ini saya jadi ingat salah satu "dosa" terbesar saya sepanjang masa. Waktu itu saya masih SD, kalau nggak kelas 4, ya 5, ya 6. Yang pasti saat itu sudah ada SCTV, dan masih pada masa balitanya SCTV. Di situ ada dua iklan yang paling "ganas" meneror benak kanak-kanak saya: iklan Silverqueen dan Nyam-nyam. Khusus untuk Silverqueen, saya sampai nangis-nangis minta bapak membelikan, akhirnya saya pun dikasih uang 500 dan berangkat ke toko di pinggir jalan raya diantarkan Dhe Dami membeli itu. Ah. 500 rupiah waktu itu sangat banyak seingat saya, apalagi untuk anak seusia saya waktu itu. Begitu juga dengan Nyam-nyam. Dan waktu saya menginjak SMP kelas 1 dan ingat masa itu, saya sempat pingin nangis: betapa teganya saya membelanjakan uang 500 rupiah untuk bersenang-senang seperti itu.
Nah, sekarang, ternyata iklan menunjukkan sisi positifnya buat saya. Ramadhan di kota ini, di antara orang-orang yang bukan muslim (meskipun satu dua tahu bahwa ini adalah bulan Ramadhan dan mengucapkan selamat berpuasa), saya tidak merasakan suasana puasa yang sangat menggetarkan, kecuali pada saat-saat antara berbuka di masjid dan sholat tarawih. Dan baru beberapa menit yang lalu saya merasakan suasana puasa. Tahu nggak lewat apa? Lewat menonton iklan-iklan di tivi-tivi Indonesia melalui www.mivo.tv. Ah!!!! Kerasa lagi iklan-iklan ramadhan, termasuk iklan paling dahsyat dalam hal memancing liur: IKLAN SIRUP MARJAN!!!!
Tuhan, ternyata ramadhan ada di mana-mana! Dan ternyata, kali ini yang menjadi kurir yang mengirimkan suasana ramadhan itu bernama iklan. Oh iklan.
P.S. Aku jadi ingat sebuah puisi Sapardi Djoko Damono yang menceritakan tentang seorang bapak yang mati di depan televisi. Ternyata si bapak mati terkena serangan jantung setelah melihat sebuah iklan. Dan selanjutnya keluarganya harus memelototi tivi terus-menerus untuk mencari iklan apa yang menyebabkan si bapak terkena serangan jantung.
1 comment
Leave a comment
| « Hiburan Jamaah Subuh: Analisis Cara Duduk :P | Obsesi Artikel Tentang Jeans dan Malam Ramadhan » |
