Kalau Putih Bermacam-macam, Dingin pun Juga...
By wawan on Dec 13, 2009 | In Hari-hari | Send feedback »
Mohon maaf, bukan sok-sokan karena pernah kebetulan tinggal di tempat yang punya musim dingin (saya bersyukur kepada Dia karena ini), saya ingin berbagi tentang pengalaman dingin-dinginan.
Seingat saya, pertama kali merasakan tempat yang sangat dingin, bahkan waktu itu saya menganggapnya sebagai tempat terdingin, adalah waktu saya ikut bapak ibuk rekreasi ke Bali bersama guru-guru anggota Koperasi Pegawai Negeri Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto.
Tempat yang paling dingin itu adalah Bedugul. Ah, super dingin deh. Seingat saya, dulu pakai jaket tipis gitu, dan kerasa dingin. Itu waktu kelas 2 SMP.
Selanjutnya, waktu saya ikut ujian kenaikan tingkat di Perguruan SIKAFU (Silat-Karate-Kungfu) Bayu Putih di lapangan kecamatan Pacet, Mojokerto. Waktu bangun pagi, pakai jaket kain, dan dalamannya cuman seragam karate itu, saya merasa super dingin. Saya merasa itu paling dingin sepanjang jaman deh.
Setelah itu, bertahun-tahun selanjutnya, saya naik gunung Arjuno, bersama 2 teman lain. Kami salah pasang tenda, menghadap ke puncak gunung, sementara katanya orang kalau malam itu angin arahnya datang dari atas. Super dingin memang. Saya merasakan itu yang paling dingin (waktu itu belum punya sleeping bag). Itu juga saya rasakan paling dingin sepanjang jaman.
Sekitar setahun kemudian, saya jalan ke Bromo. Waktu sore hari sampai di desa Ngadas, dusun Njarak Ijo, rasanya duingiiiiin sekali. Saya lihat anak-anak Tengger yang wajahnya merah, kayaknya terlalu biasa kenak dingin. Itu paling dingin menurut saya.
Bertahun kemudian, suatu pagi saya berangkat ke kampus mau ikut acara kerja bakti. Pakai sweater biasa, rasanya dingiiiin sekali. Ternyata waktu itu suhunya 7 derajat celcius. Saya merasa itu paling dingin sepanjang masa saya.
Selanjutnya, saya berkesempatan pergi ke Minnesota, salah satu state paling selatan di negara Aa' Sam. Waktu sampai di sana, menjelang badai salju. Suhunya dingin, dan besoknya semakin dingin setelah pulang ski. Saking dinginnya sampai rasanya sakit di kulit. Begitu juga setelah kami puter-puter Mall of America di Minneapolis besoknya. Saya cek, ternyata suhunya di bawah -20 derajat celcius. Itu rasanya paling dingin.
Tapi, saya yakin, setelah tinggal di Sidoarjo atau Malang sebentar, ke gunung arjuno lagi rasanya seperti ke tempat yang paling dingin di dunia. Saya yakin, asal berhasil ikhlas, setiap saat adalah saat yang "paling"...
No feedback yet
Leave a comment
| « Ice Storm (Lagi?) | Corat-Coret (Lucu) di Toilet » |
