Melepas Naga
By wawan on Apr 16, 2010 | In Hari-hari | 2 feedbacks »
Klik "publish." Lalu aku ketak-ketik, surfang-surfing, baca Fledgling, kisah "vampir" yang adat-istiadatnya sangat kompleks tapi menggairahkan, mengingatkan kisah Kesatria Templar, sosok nabi Nuh, perbudakan, rasisme, dll.
Satu jam kemudian, ada telpon masuk dari nomer tak dikenal.
"Halo. Saya mau tanya soal Mazda Protege sampean."
"Oh, monggo," jawabku. "Masih ada kok mobilnya." Dalam hati aku sebenarnya ingin ngomong "Masih ada kok 'Red Dragon'-nya." Sejak ditemukan namanya orang teman kos dulu, aku sudah berusaha menghindari menyebutnya dengan merek. Dia punya nama: The Red Dragon. Seperti halnya kakak seperguruannya dulu "Titan."
"Manual apa otomatis?"
"Otomatis, 5 speed."
"Otomatis?"
"???"
"5 speed?"
"Iya, otomatis," jawabku, terus baru sadar. "Oh sori, maksud saya manual, 5 speed. Sori, sori."
"Oh ya, mangkanya saya agak heran."
Dan percakapan pun berlanjut tentang kondisi interior mobil. Aku kasih tahu kalau kaca depannya retak, tapi sudah tidak bakal tambah, karena retaknya sudah sampai tepi. Juga aku beritahu tentang tutup di atas setir yang hilang. Dia oke-oke saja. Menurut dia tidak vital. Dan akhirnya dia tanya alamatku dan bilang satu jam lagi akan sampai, tinggalnya di Lincoln, jaraknya sekitar 15 menit barat daya kampungku.
Aku langsung buru-buru cari kunci dan ke parkiran, tentu saja sambil bawa Fledgling, dengan harapan sambil memanaskan mesin bisa baca-baca. Ternyata panas sekali di dalam mobil, rasanya kayak sauna di Balai Hper bersama pak tua jenggot putih yang sebentar-sebentar suka nambah air ke batu pemanas. Berarti aku harus bersih-bersih dulu.
Ada gelas plastik bening di pegangan gelas di dashbor. Ada mug kopi yang kopinya sudah mengering dan bersedimentasi. Ada juga kertas-kertas resit yang entah sejak kapan ada di mobil. Semuanya masuk kantong plastik sampah. Di belakang jok belakang mobil, di atas corong sound system ada beberapa barang yang harus segera kusingkirkan. Topi koboi anyaman dan payung Texas A&M tidak mungkin dibuang, terlalu penting buat seorang penggemar musik contry di musim gerimis seperti ini. Di kantong belakang kursi depan ada lembaran-lembaran print dari file "Biarkan Baduy Bicara" catatan perjalanan Matahari Timoer yang sangat aku suka dan sebuah bab novel. Dengan segala hormat harus aku masukkan kantong sampah. Dan seterusnya dan seterusnya. Di bagasi juga banyak barang berserakan, mulai buku kumpulan puisi tentang Tsunami yang saya temukan dari serakan barang-barang sortiran seorang teman--tentu haram hukumnya membuang buku. Sebagian masuk rumah dan sisanya masuk kantong sampah.
Tidak lama setelah aku kelar bersih-bersih, ada lagi telpon dari nomer yang sama tadi. Dia sudah di tempat parkir. Waktu aku lihat, wajah dan penampilannya khas sekali bapak-bapak Ar-Khansaw. Tinggi besa, pakai topi, pakai polo shirt dan celana jeans. Bedanya, dia pakai SUV, bukan truk pick-up.
"Halo, saya Craig."
"Saya W**."
"Apa? W**?"
"Iya."
Aku langsung ajak dia ke Red Dragon. Aku lihat lagi debu kekuning-kuningan di sekujur bodinya. Aku tadi sempat terpikir ke tempat cuci Boomerang, tapi nggak jadi.
"Maaf, nih, belum sempat ke tempat cuci," sambil memberi isyarat ke sekujur tubuh mobil. "Hari-hari ini pollennya banyak banget."
"Nggak masalah, namanya juga musim semi," jawabnya, tangan kirinya menerima kunci yang aku kasihkan.
Dia segera membungkukkan badan mencari tuas buat menyesuaikan tempat duduk. Dia mungkin lebih tinggi satu kaki dibanding aku. Kemudian dia nyalakan mesin dan menimbang-nimbang suaranya.
"Tahun lalu saya juga jual mobil persis kayak gini, tapi tahunnya 91," katanya sambil tangan kanannya mencoba-coba memasukkan ke gigi satu dua dan kanan kiri. "Mobil gini, biar manual ringan sekali pindah giginya."
"Memangnya kayak gini ringan ya?"
"Iya lah," katanya. "Kalau truk berat banget." Tentu saja, pikirku.
Terus perbincangan berlanjut soal detil-detil mobil sambil aku tunjukkan yang aku bilang kurang maksimal tadi. Dia bilang bahwa mobil ini jauh lebih bagus interiornya dari punya dia dulu. Selanjutnya aku tawarkan keliling-keliling nyoba si Red Dragon. Dia setuju tapi mau manggil putranya dulu di dalam mobil. Aku ambil topi dulu ke dalam rumah. Aku baru sadar bahwa selama itu aku pakai topi koboi. Waktu aku kembali ke Red Dragon, ada anak balita di jok belakang. Aku pikir tadi putranya ABG. Rambutnya pirang penuh dan bulu matanya juga pirang.
"Kayaknya saya harus ikut, soalnya registrasi sama asuransinya sudah kadaluarsa," kataku sambil buka pintu. "Paling nggak kalau ada polisi saya bisa ngasih penjelasan."
"Oke, lagipula kalau ada apa-apa sama mobil ini saya juga bisa tanya sampean," katanya.
Kami pun meluncur ke jalan Treadwell, belok kanan ke jalan Duncan. waktu melewati depan Apartemen Duncan, dia bilang "Waktu saya masih kuliah dulu ini masih rumah-rumah."
"Gitu ya, waktu saya datang, dua tahun lalu, ini masih baru proyek."
Setelah putar-putar sebentar dia bilang pingin nyoba gigi limanya. Aku tawarkan ke Highway. Kami segera masuk ke Martin Luther sambil terus ngobrol. Dia pernah tinggal di Mississippi, tepatnya di Jackson. Aku kasih tahu tentang Starksville, satu-satunya kota di Mississippi yang paling akrab buatku, sangat sepi. Dia ketawa dan bilang, "Saya tadi agak heran, kok sampean bilang 'kota.' Memang sepi banget Starksville itu, kayak padang gembala sapi malahan." Perbincangan menjalar ke soal kota-kota besar dan kecil, kriminalitas dan gang-gang di kawasan Jackson, dan seterusnya.
Sebentar kemudian kami masuk ke jalan besar Interstate 540. Dia coba masukkan sampai gigi lima, kecepatan juga dia maksimalkan, sesekali dia coba agak banting-banting setir.
"Allignmentnya bagus mobil ini," katanya sambil melepaskan setir. "Punya saya dulu setirnya suka berguncang-guncang."
Sebentar saja kami keluar jalan besar lewat Exit 64, masuk ke jalan Wedington.
"Remnya juga lumayan pakem," katanya. "Tapi nggak sangat pakem, tapi nggak masalah."
"Ini mobil pertama saya, jadi waktu beli dulu ya saya cari yang sekiranya paling nggak merepotkan," kataku. "Tapi ya yang semurah mungkin." Kataku sambil meringis. Dia tertawa. Waktu nunggu lampu merah, ada beberapa pekerja proyek menambal jalan, pembicaraan berlanjut hingga soal pekerjaannya di bidang peternakan ayam, dan penggunaan imigran. Aku cerita tentang anak-anak imigran di SD Green Forest. Dia tahu kalau ada pabrik pemrosesan ayam Tyson di sana. Aku tambahkan kalau aku pernah ngobrol sama anak-anak SD yang ada di sebelah pabrik itu. Dalam hati aku masih suka ketawa kalau ingat perkataanku sendiri ke teman-teman, "Ayamnya Tyson itu nggak halal, soalnya nggak disembelih, tapi ditinju Mike Tyson!"
Beberapa belas menit kemudian kami sampai lagi di kawasan kampus, lewat jalan Dickson. Dia cerita kalau sebenarnya di jalan Dickson dulu cuma ada beberapa biji bar. Aku heran, soalnya kesannya jalan Dickson itu sudah tua sekali. Dan juga, ternyata menurut dia festival Bike, Blues and Barbeque yang ada di jalan itu dulunya cuman diikuti para pengendara Harley Davidson yang preman-preman, semacam korak. Kataku, "Padahal sekarang jadi kayak ajang rekreasi keluarga, lha wong mereka datang sama anak istrinya gitu."
Aku kasih tahu kalau aku cuman pakai sekitar 4 ribu mil mobil ini. "Paling jauh saya pakai ke Sarang Setan, saya suka sepedaan di sana." Terus dia kasih tahu tentang trail sepeda gunung yang nggak terlalu jauh dari kampungku.
Dan akhirnya kami pun sampai kembali di tempat kosku.
"Saya pingin lihat mesinnya," dia tarik kenop kap dan aku pun buka kapnya.
"Sampean bersihkan ya?" tanyanya.
"Nggak, saya nggak pernah nyentuh mesinnya," kataku sambil mesem. "Saya pingin sampean lihat dia apa adanya. Hahaha... Dulu waktu beli sudah kayak gini, lumayan bersih."
Kemudian dia tutup kembali kapnya, aku yang merapatkan. Dia bilang, "Oke kalau begitu. Saya tadi dari rumah kepikiran mau beli mobil ini seharga **00 dolar (300 dolar lebih murah dari harga di iklan baris yang aku pasang), tapi setelah makai, saya kasih harga penuh yang sampean minta saja deh, asal sampean mau antarkan mobilnya ke tempat saya di Lincoln."
"Alhamdulillah," batinku. Aku pun memutar otak cepat-cepat bagaimana caranya membawa Red Dragon ke Lincoln.
Setelah itu, segalanya berlangsung dengan sangat cepat. Aku masuk rumah dan ambil surat kepemilikan mobil. Aku ajak teman kosku mengantar mobil. Craig menunggu di parkiran. Aku dan Craig dan Elkin (si bocah balita) pergi ke bank. Dia tuliskan cek dan aku langsung transfer ke rekeningku. Kemudian kami balik lagi ke kosan. Terus kami berangkat. Craig dengan Elkin di SUV-nya. Aku dengan Red Dragon (untuk terakhir kalinya). Teman kosku dengan mobilnya di belakang.
Kami lewat jalan Martin Luther King, terus sampai jalannya jadi US-62. Langit biru cerah dengan awan bergumpal-gumpal indah. Pepohonan sudah mulai lebat hijaunya. Bunga-bunga di sana sini. Dandelion di kanan kiri sudah mekar kuning, sesekali juga terlihat biji-biji dandelion yang putih lembut. Sesekali bunga dogwood terlihat di depan rumah. Waktu masuk ke kawasan Prairie Groove, suasana semakin indah. Dan aku nikmati Red Dragon untuk terakhir kalinya. Di satu bagian yang batas kecepatannya 55 mph, aku coba genjot dia sampai nyaris 70 mph, tentu di gigi 5. Ah, ringan sekali rasanya. Enak sekali rasanya menunggang Naga. Cendela kiri belakang terbuka, cendela depan terbuka semua, Zac Brown Band menyanyi "Chicken Fried." Aku beraksi berlagak drummer dengan mengetuk-ngetuk setir sambil teriak "Cold beer and Friday night, a pair of jeans that fit just right, and the radio ooo00000ooooon." Aku ingat bagaimana dulu aku tanpa sadar menyukai country gara-gara radio di Red Dragon ini mengarah ke 103.9 KiXX Fayetteville, stasiunnya country. Ah, indahnya masa-masa jadi borjuis, kemana-mana bawa Red Dragon. Dan beberapa puluh menit kemudian aku akan menjadi seperti dulu lagi, penunggang sepeda. Dan biarlah kunikmati dulu musik country sambil menunggang Naga, yang sebentar lagi akan kulepaskan... Dia sudah cukup dewasa, waktunya menemukan penunggang baru, yang tentunya masih harus belajar "How to train a Dragon."
Bagaimanapun, aku harus bersyukur, kepergian Red Dragon terbilang cepat dan mudah. Mungkin inilah kepergian yang khusnul qotimah, yang indah di penghujungnya...
2 comments
Nasib Red Dragon-mu kok yo sama kayak Blue-Bebek punyaku..kaca depan retak dari ujung ke ujung. Cuma kebalikan di harga, Dragon terjual 300 lebih tinggi dr kisaran pembeli semula. Bebek Corolla-ku terjual justru 300 lebih rendah dari hargaku, haha..
Tak lepas aja krn registration tinggal 2minggu menuju kadaluargsa, yah..lumayan laku drpd musti bayar untuk recycle.
I also enjoy reading it anyway..
Leave a comment
| « Corat-Coret (di Toilet) Lucu (Lagi-lagi) | Sungguh... » |
