Obsesi Artikel Tentang Jeans dan Malam Ramadhan
By wawan on Aug 23, 2009 | In Hari-hari | Send feedback »
Saat duduk, melihat ujung celana jinsku menggantung dari gantungan dua mata yang dipasang di dinding partisi, bukan di balik daun pintu seperti umumnya, mendengar lamat-lamat suara imam membacakan ayat-ayat alfatihah, merinding sendiri di tengah memori dan suasa bulan puasa, aku ingat masa-masa kelas 1 SMP di Krembung.
Terlintaslah bangunan sekolah berumur puluhan tahun, tapi lumayan terawat. Suasana malam. Ada lampu menyala di ujung jajaran kelas-kelas. Sementara di depan ruang kelas yang berada di tengah, hanya ada biasan-biasan cahaya. Tipis. Tapi bisa kulihat garis-garis. Daun pintu. Tiang kayu. Jendela kaca. Undak-undak tangga. Taman-taman kelas yang menjadi tanggung jawab kami dan dilombakan keindahannya setiap Jumat. Aku jongkok. Mengagumi celana jins yang masih agak baru. Tidak jelas tampak warnanya, tapi terasa barunya.
Belum lama sebelumnya, aku beli, ah, lebih tepatnya pesan, celana jins dari Pesona Taylor. Mereka punya bahan-bahan jins yang siap garap. Waktu datang, aku pilih satu warna biru yang agak gelap, warna yang tidak lazim bagiku saat itu, ada sebaran biru lebih gelap di beberapa bagiannya. Warna yang menerbitkan kagum. Oleh si penjahir, ditulislah namanya di tanda terima pemesanan "biru denim". Pikirku denim adalah warna khusus biru kegelap-gelapan gelap kebiru-biruan itu. Harganya aku agak lupa. Mungkin 15 ribu. Yang pasti terasa agak mahal waktu itu. Aku pakai salah satu celana drillku sebagai model. Model yang kusuka saat itu, kecil di bagian bawah dan besar di sekitar paha. Waktu itu pikirku tak ada model celana yang lebih keren dari yang "mbegi" seperti itu, dan aku tak habis pikir kenapa orang-orang jaman dulu kebangetan sekali sampai menyukai celana model komprang!
Aku agak lupa, entah beberapa waktu sebelumnya aku membaca sebuah artikel di majalah, entah Anita Cemerlang, entah Femina, entah Kartini, yang jelas bukan Hai, tentang sejarah jins. Disebutkan di situ jins pada awalnya ditemukan oleh Levi Strauss untuk pakaian para pekerja tambang. Bahannya dari kain kanvas yang sebelumnya untuk tenda. Diceritakan juga bagaimana jins mengalami evolusi dari celana yang jahitannya dipenuhi keling sampai model sekarang yang kelingnya cuma lima. Diceritakan pula di situ dengan heroiknya bahwa ada remaja di Amerika yang tak pernah melepas jinsnya selama 7 bulan, kecuali pada waktu mandi. Juga ada cerita tentang tren jins stonewash, hasil cucian batu apung. Sungguh heroik saat itu kedengarannya, di mataku, remaja yang baru saja beli jins bukan Levi's 501, bahkan hanya jins buatan ahli jins di tingkat kecamatan.
Aku memutuskan untuk mencuci celana jinsku itu hanya sebulan sekali. Aku memakainya pada saat-saat tertentu. Seingatku, waktu itu hanya beberapa kali saja dalam seminggu aku pakai celana, selebihnya aku memakai celana pendek pada siang hari, dan mulai jam 3 sore pakai sarung karena memang perginya ke langgar dan mengaji, dan jam 9 baru lepas sarung siap-siap tidur. Hanya pada saat-saat tertentu, seperti misalnya acara pondok ramadhan di sekolah, atau (salah satu yang paling kuingat) menghadiri pengajian K.H. Zainuddin M.Z. di lapangan desa sebelah, suatu siang kesore-sorean sore kesiang-siangan.
Obsesi artikel majalah itu akhirnya membuatku menstonewash celana jins kecintaan itu. Pada saat mencuci, sambungan sampingnya aku gosok dengan batu kali yang bagus, kugosok sedemikian rupa hingga serat-serat birunya lepas tapi tidak merusak benang sambungannya yang berwarna oranye itu. Akhirnya, aku punya jins bergaris putih di sebelahnya, seolah hasil stonewash. Dan waktu aku memakainya untuk menghadiri pengajian Zainuddin M.Z. itu, kondisi jinsku sudah "mengandung swastonewash. Hmmm...
Dan malam gelap di depan kelas yang melintas di ingatanku saat ini adalah malam pondok ramadhan di SMP Negeri I Krembung. Tapi tak ada satupun teman yang ikut serta dalam ingatanku kali itu.
No feedback yet
Leave a comment
| « Iklan | Sadisme Seolah Sah » |
