Sadisme Seolah Sah
By wawan on Aug 21, 2009 | In Hari-hari | Send feedback »
Lama setelah hari itu, aku hampir tak pernah lepas dari bayang-bayang itu. Bukan mengerikan, bukan memusingkan. Aku mencoba mengingat-ingat dia. Rambut pirang agak gelombang. Senyum miring elastis. Janggut lancip lentur. Aku mencoba-coba menerka namanya. Seingatku berbau-bau Itali. Pokoknya berbeda dengan wajahnya yang mengesankan Inggris atau Amerika.
Aku selalu berdesir kalau melihat wajah itu. Ada yang ganjil di situ. Aku merasakan adanya kebasahan tapi lengket, meleler-leler, merah. Aku melihatnya sebagai orang yang suka memukul ganas, dengan roti kalung melingkar di tinjunya, dengan taji di tumit sepatu, taji yang lancip menggerinjip kulit, memancing darah manjur. Tapi dia selalu punya senyum tak berdosa yang sewaktu-waktu muncul dari ujung bibir dan alisnya.
Dia mungkin jenis orang yang akan memukul dengan tangan terbuka. Bukan meninju hidungmu, bukan. Tapi menyentak janggutmu, berhenti beberapa mikrosekon, dan menyentakmu hingga terjengkang, dan memberikan hantaman tumit bergaya smack down. Jangan lupa, di tumitnya ada taji lancip itu. Dia melakukannya dengan gaya, dengan seksi, dengan tak terlupakan. Tapi anehnya, kau akan dibikin terpesona dengan gaya-gayanya itu--asalkan kamu bukan di pihak korban.
Apakah memang kita punya sisi binatangwi? Apakah dia yang berhasil merebut hati kita dengan mengalahkan dulu dirinya di awal-awal babak, sehingga dia punya alasan untuk membalas dendam. Dan untuk itu, apakah artinya dia boleh melakukan apa saja untuk melampiaskan dendamnya? Aku hanya berhati-hati saja kalau berurusan dengan dia. Seperti pagi setengah siang itu. Semoga saja dia tidak akan dapat lagi kesempatan melakukan pembunuhan-pembunuhan sadis tapi seolah sah itu.
No feedback yet
Leave a comment
| « Obsesi Artikel Tentang Jeans dan Malam Ramadhan | Pertemuan dengan Penulis Skenario Hollywood » |
