• sastra
  • nerjemah
  • diari
  • link

Catatan Habis Nerjemah

Kalau ada yang perlu dicatat setelah nerjemah, maka di sinilah tempatnya.
  • Home
  • Tentang Catatan Habis Nerjemah
  • Contact
  • Log in
  • Catatan Habis Nerjemah

  • "The moment I translate, the moment I really read!" (ehem-ehem.... itu saya kutip dari omongan saya sendiri lho? :D)

  • Search




  • Categories

    • All
    • Eng-Ind
    • Idiom
    • Ind-Eng
    • On Nerjemah
    • Opening
  • The requested Blog doesn't exist any more!
  • XML Feeds

    • RSS 2.0: Posts, Comments
    • Atom: Posts, Comments
    • _rss: Posts, Comments
    What is RSS?

Masih Ngotot "Memenangi"?

By wawan on Mar 11, 2010 | In On Nerjemah | Send feedback »

Lagi-lagi saya ingin menegaskan lagi pandangan saya tentang hubungan antara bahasa dan "polisi bahasa." Di Indonesia, hubungan ini sudah tidak sehat lagi. Polisi bahasa ingin membetulkan praktik-praktik bahasa yang dianggap melanggar logika bahasa. Dan dibetulkanlah istilah-istilah yang "salah" itu. Menurut saya ini tidak sehat, bertentangan dengan kodrat bahasa yang selalu cair dan berkembang dan penuh improvisasi dan ... arbitrer, tak bisa dilogika hubungan antara isi dengan bentuknya.

Satu hal yang sudah agak lama dipromosikan para polisi bahasa adalah "memenangi". Dulu di koran-koran atau di buku-buku pelajaran, semua memakai "memenangkan." Tapi entah kenapa tiba-tiba para polisi mikir kalau "memenangkan" itu artinya berarti "membikin menang," sehingga "memenangkan" kejuaraan artinya "membikin menang kejuaraan itu." Maka, yang benar menurut para polisi bahasa itu adalah "memenangi."

Saya mencoba memakai istilah ini. Ah, saya selalu ingin menarik nafas panjang. Sumpah! Saya merasa munafik kalau terus-terusan memakai "memenangi" sementara hati saya berkata tidak, nalar kebahasaan saya berkata tidak. Dan tentunya saya tidak pingin nalar bahasa saya ditumpulkan para polisi bahasa itu.

Akhirnya, saya mencari-cari sekeliling. Dan ketemulah: siapa bilang "memimpikan seorang kekasih" berarti "membikin mimpi seorang kekasih"? Ahli bahasa macam mana yang menganggap "mendapatkan hadiah" berarti "membikin si hadiah dapat"? Siapa cobak yang berargumen kalau "membutuhkan minum" itu artinya "membikin minum butuh"?

Maka, saya memohon dengan sangat halus kepada para polisi bahasa, minal editor natiwan penerjemah natiwan balai bahasa natiwan pembikin kamus (artinya: yang berbentuk editor atau penerjemah atau balai bahasa atau pembikin kamus atau dll) untuk berhenti menyebarkan kebohongan ini!

Bagaimana dengan kerancuan antara "memenangkan" yang artinya "menjadi pemenang" dengan yang "membikin menang"? Hmm... masih ingat homonim? Seperti halnya kita bisa membedakan kata "bisa" dalam "eeee adik sudah BISA berdiri sendiri" dengan "eeee, dik, kalau main ular kobra yang hati-hati ya, kalau kena BISA nanti kapok lho," insya allah kita akan bisa mengenali kedua "memenangkan" itu. Yang penting, buka mata, buka hati, jangan curiga sama bahasa... oke?

Nikah Sirri itu .... Unregistered Marriage (bukan fatwa lho ya :D)

By wawan on Mar 1, 2010 | In Ind-Eng | Send feedback »

Seiring ramainya diskusi tentang "nikah sirri" akhir-akhir ini, mungkin Anda-anda para penerjemah par excellence sekalian kebanjiran job nerjemah ke bahasa Inggris tentang hal itu... mungkin... siapa tahu Sidney Morning Herald atau The Daily Telegraph atau Newsweek atau National Geographic pingin mendapat gambaran langsung dari Indonesia dan meminta Anda menerjemah berita-berita Indonesia, hehehe... mimpi kali ye...

Nah, untuk membekali Anda saat menerjemah nantinya, saya pingin membahas apa terjemahannya "nikah sirri" dalam bahasa Inggris:

Sebuah artikel kompas tentang pendapat Rhoma Irama menerjemahkan "nikah sirri" sebagai "unofficial marriage". Menurut saya ini kurang tepat, karena "unofficial" kesannya "tidak sah". Padahal, secara agama nikah sirri itu sah. Tolong jangan diterjemahkan "unofficial marriage" lho ya? Saya kecewa lho nanti... lho, memangnya sampean ini siapa, dik Pemimpi? Hehehe...

Berdasarkan sebuah berita di CNN dan The Jakarta Post, kayaknya sementara ini "nikah sirri" bisa diterjemahkan jadi "unregistered marriage" dengan asumsi ini "marriage" yang sah tapi tidak "registered". Atau kalau memang perlu ya ditulis saja "unregistere marriage" (sirri) ... atau, kalau pingin mendidik orang lain, hehehe... terjemahkan saja jadi "legally unregistered religiously official marriage". Hahaha...

Apa "Heresy" Benar-benar "Bid'ah"?

By wawan on Feb 18, 2010 | In Eng-Ind | 1 feedback »

Saya ragu dengan padanan kata "heresy" dalam bahasa Indonesia. Akhirnya saya tanyakan ke milis Bahtera yang isinya orang-orang pinter nerjemah :D. Saya dapat saran untuk menggunakan "bid'ah", "klenik" dan "penyimpangan". Dan saya memberikan jawaban berikut ini. Ingat, ini belum final lho ya?

(Untuk melindungi pemberi bantuan, identitas mereka saya kaburkan di sini. Jadi, nama-nama yang muncul ini bisa nama samaran, bisa nama sebenarnya, sangat kabur deh. Tapi saya sangat berterima kasih)

Mbak Meidy dan Mas Sutarto,

Makasih sekali buat sumbangan idenya. Ditunggu yang lain (apalagi yang punya gagasan berbeda :D).

Saya sedang bikin tulisan tentang karya-karya tulis yang dianggap "heretic", dan setelah penelusuran yang masih relatif singkat, saya temukan semacam (hanya semacam lho ya :D) kekurangpasan "bid'ah" sebagai padanan buat "heretic". Dan konsep "bid'ah" yang kita pahami sendiri seringkali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "innovation".

Saya sendiri di sejumlah terjemahan dulu menggunakan "bid'ah" untuk padanan "heretic", karena kamus bapak John M. Echols tercinta bilang begitu. Tapi, sejujurnya hati ini kurang sreg dengan penggunaan bid'ah di sini. Alasan utamanya karena istilah bid'ah yang mulai kecil saya dengar dari guru agama dan guru ngaji memiliki makna yang berbeda dengan, misalnya, Salman Rushdie yang dianggap "heretic" karena dalam The Satanic Verses sikapnya subversif terhadap kenabian Muhammad (damai untuknya).

Ternyata, menurut Encyclopedia of Islam and Muslim World, beberapa abad setelah turunnya Islam, "heresiografi" banyak mendaftar dan membahas aliran-aliran atau agama-agama yang dianggap bukan Islam. Dan baru beberapa lama kemudian "heresy" semakin dekat dengan bid'ah.

Jadi, apa ya kira-kira yang maknanya lebih dekat dengan "heretic" selain "bid'ah"?

Seperti Mas Tarto, saya sempat mencoba "penyimpangan" atau "menyimpang" atau, saking putus asanya :D, sampai mencoba istilah "murtad" (padahal kayaknya nggak banget :D).

Makasih bantuannya, saya tunggu bantuan Saudara-saudara semilis sepenanggungan yang lain.

Salam,
wawan

Penerjemahan Bahasa Tak Biasa

By wawan on Jan 1, 2010 | In Eng-Ind, On Nerjemah | Send feedback »

Saat nerjemahbahasa yang biasa, apalagi HANYA untuk tujuan mendapatkan pemahaman atas kata-kata tertentu, mungkin kita tidak terlalu peduli dengan bentuk bahasa, atau tinggal nerjemah asal pembaca tahu maksudnya. Tapi, kalau yang akan kita terjemahkan merupakan kata-kata yang bentuknya harus dipertimbangkan, seperti misalnya kata-kata tak biasa, kata-kata SMS misalnya, atau kata-kata buatan, atau kata-kata dari (maaf) seseorang yang ada masalah wicara, maka di situlah kita harus memutar otak.

(Well, sebenarnya saya sudah banyak sekali blogging tentang penerjemahan bentuk dan isi semacam ini, hehehe, tapi senang saja rasanya bs mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lain :D)

Contoh kasus, seorang teman harus menerjemahkan sebuah buku tentang anak yang mengalami gangguan mental dan/atau wicara dan mengucapkan (kira-kira semacam) "my mom's offish" dan di satu kesempatan lain "Mr. Bwown, you want mushwoom in yoh omelet?"

Nah, saya yang terlalu nganggur ini akhirnya menyarankan begini:

"Mbak Dian (bisa nama sebenarnya bisa bukan nama sebenarnya),

Kalau saya boleh saran sih, sepertinya diterjemahkan dulu secara normal semuanya, baru setelah selesai mbak dian putuskan seperti apa gangguan bicaranya, apa cedal yang gak bisa ngucapkan r, atau s, atau apa saja, atau bicaranya agak sengau atau semacamnya.

Baru setelah itu dialog si anak di efek secara konsisten berdasarkan keputusan gangguan bicaranya. Dan dimulailah proses mengedit terjemahan pertama (yang literal) tadi.

Dengan begitu, penerjemahannya jadi bukan berbasis kalimat, tapi berbasis wacana (seingat saya begitu saya simpulkan dari presentasinya pak effendi di tempatnya Mas Tom dulu).
"

TAPI, setelah beberapa hari ada kejanggalan dalam saran saya itu, akhirnya saya kasih lagi pandangan yang lain (nggak tahu sih entah didengar atau enggak, hehehe... kan yang pertama sudah jadi meragukan :D):

"Saya jadi kepikiran sendiri (maklum akhir2 ini terlalu nganggur :D), kira-kira ada berbagai pertimbangan kenapa kata2 yang dijadikan contoh itu mengandung bunyi "sy" (offiSH)sama "ww" (mushWoom). Mungkin gangguan bicara di bagian "s" dan "r" itu terkait satu gangguan fisik/mental tertentu. Jadi ya, rasanya kurang pas kalau akhirnya kita putuskan sendiri jenis gangguan bicaranya.

Jadi, ada dua kemungkinan solusi (menurut saya sih :D): 1. memaksimalkan contoh kalimat itu untuk menunjukkan gangguan bicara pada "s" dan "r" tadi, atau 2. membuat contoh kalimat sendiri di mana kita bisa menyoroti ganguan bicara itu (tapi kayaknya yang kedua ini terlalu nekad dan pasti bisa panen massal kritikan :D).

Akhirnya, saya kepikiran nerjemah jadi:
1. dadawnya mau dikasyih jamow, pak bwaun? (tapi kalimat lain harus mendukung agar pembaca jadi bisa mengira-ngira kalau yg dimaksud pak bwaun ini adalah Mr. Brown)
2. kantow ibu syaya

Semoga ndak mengganggu.
"

Kalau menurut sidang jamaah blog sekalian bagaimana?

Bagaimana "You" Bisa Berarti "Kita"

By wawan on Dec 28, 2009 | In Eng-Ind | 1 feedback »

Pasti secara tidak sadar Anda pernah menerjemahkan "You" menjadi "kita". Kalau tidak pernah, saya ingin mengajak sidang jamaah blog sekalian untuk mulai coba-coba menerjemahkan "You" menjadi "kita".

Dalam tulisan atau perbincangan berbahasa Inggris, seringkali kita menemukan kalimat semacam ini: "At a first glance … it looked like [Islam] didn't have [a mediator between you and God], it was just you and Allah... We don't have this institution, we don't have a formal priesthood." Dikutip dari wawancara radio Michael Muhammad Knight di acara Inside Islam, sebagai acara radio yang dipancarkan dari University of Wisconsin, Madison.

Kalau dalam bahasa Indonesia, bisa saja kita terjemahkan menjadi "... yang ada hanyalah Anda dan Tuhan..."

Tapi, saya merasanya ada yang lebih ngepas di sini, yaitu "... yang ada hanyalah kita dan Tuhan ..."

Gimana? Masuk akal nggak? Apa mau saya kasih contoh lain? :D Selamat mencari contoh-contoh Anda sendiri, dan cobalah ramuan ini. Insya Allah tidak ada ruginya, asal...

Anda tidak sampai menerjemahkan "I love you" menjadi "Aku cinta kita" Heheheh...

1 2 3 4 5 6 7 >>
  • Contents

    • Masih Ngotot "Memenangi"?
    • Nikah Sirri itu .... Unregistered Marriage (bukan fatwa lho ya :D)
    • Apa "Heresy" Benar-benar "Bid'ah"?
    • Penerjemahan Bahasa Tak Biasa
    • Bagaimana "You" Bisa Berarti "Kita"
    • Nyaris saja "All But" Lho...
    • Betapa "Outstanding" Sungguh Menonjol Meskipun Dia Adalah Tanggungan
    • Apa Terjemahannya "Menjarah" Hayo?
    • Apa Terjemahannya "Things"?
    • Lagi, Tentang Penerjemahan Puisi
    • Apa Hayo Inggrisnya Disinyalir?
    • Mengapa Menerjemah Ulang?
    • Mana yg Dipertahankan: Bentuk? Isi? atau Kewarasan? :D
    • Kutipan dari Kyai Fritz Senn ttg Terjemahan
    • Oleh-oleh dari Mbah Senn
    • "I was like, whaaaaat?" Dalam Bingkai Lintas Bahasa :P
    • Kerangka Poligami yg Hilang (atau hasil beda interpretasi saja?) dari Terjemahan Quran Indonesia
    • Penelope yang Menelol Peneljemahnya...
    • mata berkaca-kaca...
    • Gimana Kalo Baca Ulyssess Bukan Penguasaan Tekstual?
    • Recently
    • Archives
    • Categories
    • Latest comments
  • Perhatian

    Creative Commons License
    This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 3.0 United States License.
powered by b2evolution free blog software

©2010 by wawan eko yulianto | Contact | evoCamp skin | Recommended sites: Best Web Hosting and Domain Name Registration. Created with Website Builder Software | | blog software | UK hosts | advertising