On Borges yang di"transbahasa"kan(TM) ... Ehem-ehem, nama agen penerjemahnya siapa ya?
By wawan on Aug 21, 2008 | In On Nerjemah | 3 feedbacks »
Nah, tibalah kali ini ke bagian Translation-nya buku Borges on Writing (bang HAH, sori lho ya, bagian Poetrynya nanti dulu, saya harus hati-hatiiiii sekali bacanya
). Menurut saya, bagian ini sangat penting sekali untuk diketahui baik oleh para profesor sastra, profesor terjemahan, pembelajar terjemahan, maupun mereka yang bermimpi jadi penerjemah dan penulis sastra yang baik
.
Di sini, yang mendominasi pembicaraan bukan hanya Borges, tapi juga Norman Thomas di Giovanni, yang sekali lagi saya ingatkan merupakan penerjemah "resmi" karya-karya Borges pada masa akhir hidup panjenenganipun itu. Pertama-tama, perlu saya beritahukan (dengan segala kerendahan hati) bahwa proses penerjemahan karya-karya Borges ini unik, karena dilakukan dengan kolaborasi antara seorang penerjemah dan si penulisnya.
Oke, langsung saja kita menuju ke di Giovanni (d-nya sengaja huruf kecil lho ya?). Giovanni memandang penerjemahan dengan sikap yang bisa dibilang fundamentalis (
). Baginya, penerjemahan (dalam hal ini penerjemahan sastra) adalah sebuah proses yang lebih berpihak pada si pembuat teks asli. Menurut saya, sikap di Giovanni ini sedikit banyak mewanti-wanti seorang penerjemah agar sekali-kali tidak menganggap hasil terjemahannya terlalu mulia (dibandingkan buku aslinya lho maksudnya
). Lebih jauh lagi, di Giovanni dengan tegas menyatakan dia adalah penerjemah yang lebih berpihak pada makna (di sini yang dimaksud makna adalah apa yang dimaksud oleh si penulis pada saat menuliskannya). Nah, kelihatan sekali di sini betapa dia sangat memegang erat makna sebagai sesuatu yang suci, yang (setidaknya buat tidak) tidak boleh diuthik-uthik. Tidak ada istilah "penerjemahan" adalah proses interpretasi yang dilakukan murni oleh si penulis sendiri. Jadi, di sini di Giovanni dengan tegas memisahkan antara seorang penafsir dan penerjemah. Kita bisa bilang bahwa di Giovanni lebih memilih menyatukan dirinya dengan si penulis.
Apakah di Giovanni terkesan sebagai orang yang kaku? Bisa saja. Tapi, dia juga memaklumkan bahwa dirinya benar-benar beruntung karena dia bisa berdialog terus-menerus dengan penulis yang karyanya dia terjemahkan. Dan dia memaklumi bahwa sebagian besar penerjemah tidak seberuntung dia (lha gimana lagi... lha wong yang diterjemahkan biasanya malah sudah meninggal pada jaman kakek-nenek kita masih remaja je....).
Oke, kembali ke pandangan penerjemahan di Giovanni, sikapnya yang seperti ini membuat dia memperhatikan frase-demi-frase yang harus dia terjemahkan. Lihatlah bagaimana dia menghabiskan hari-harinya bersama Borges di Argentine National Library untuk berdiskusi. Lihatlah sejenak tahap-tahap penerjemahan di Giovanni yang saya parafrasesecarakasarkan terkhusus buat Anda sekalian:
1. dia (sendirian) membuat draf kasar terjemahan dengan tulisan tangan,
2. dia diskusikan hasilnya dengan Borges dan pada saat ini mereka berdua melakukan revisi atau Borges malah menyarankan perombakan karena ada terjemahan yang menurutnya berbeda (meskipun tipis) dengan yang dia maksudkan, atau bahkan dia meminta Borges mengkonfirmasi pemahamannya atas istilah-istilah tertentu, dan di sini pula dia berusaha membuat kalimat yang sounds English (yang mana menurutnya dia tidak hanya butuh pemahaman atas teks yang bersangkutan, tapi juga niat Borges), ... oh ya, dia juga merekam sesi ini.
3. dia bekerja sendiri (dengan dibantu hasil rekaman dan anotasi-anotasi yang dia buat di draf kasarnya tadi) untuk memaksimalkan kalimat-kalimat itu agar benar-benar jadi kalimat bahasa Inggris (yang tentu saja sastra), dan kalaupun dia sesekali masih mengintip teks aslinya, itu karena dia ingin memastikan "ritme dan penekanan"nya.
Hehehe... gimana? Gila nggak? Bayangkan kalau penerjemah sastra Indonesia melakukan itu? Pasti sangat sedikit buku terjemahan yang terbit, hehehe... tapi ya... hasilnya bagus-bagus pastinya
.
Tapi, dari sikap di Giovanni yang fanatik makna itu, Borges juga akhirnya kena batunya. Begini ceritanya: saking hati-hatinya dengan makna, di Giovanni benar-benar menthelengi teks maupun segala yang ada di belakang teks, misalnya latar belakang sosial dan sejarah yang mendukung keabsahan teks itu. Nah, pada saat inilah Borges kena batunya. Di Giovanni menunjukkan sejumlah kekurangvalidan "data-data" yang ada dalam karya-karya Borges (misalnya salah ambil kutipan dari "Through-the Looking Glass" yang diambil Borges untuk "The Circular Ruins". Sampai-sampai dia berani bilang "In the Spanish-language editions of Borges' work nothing can be taken for granted". Saya bayangkan Borges cengengesan waktu di Giovanni bilang itu. Selanjutnya dia juga buktikan bahwa Borges juga bikin kesalahan-kesalahan dalam sejumlah fakta historis.
Namun, ada yang agak gimanaaaa gitu (untuk menghindari pakai istilah "ambivalen" terlalu sering, halah... keceplosan, keluar lagi deh kata itu
) dalam sikap kepenerjemahanan di Giovanni. Yakni ketika dia ceritakan tentang bagaimana dia sangat perhatian dengan kualitas sastra sebuah tulisan hingga ketika dia menerjemahkan karya Roberto Arlt (nggak tahu kan siapa dia? saya sendiri juga ndak tahu kok, hehehe...), dia menganggap cerita Arlt itu tidak akan layak diterbitkan andaikan dia menerjemahkannya dengan apa adanya. Dia sampai curiga dan tanya ke anaknya Arlt yang kemudian memberitahu bahwa bapaknya seringkali "sloppy" kalau lagi nulis. Hehehe... Ini dia, penerjemah kok pingin ngedit karya yang dia terjemahkan. Tapi, dia sendiri pernah kecolongan, ada kesalahan dalam karya Borges yang tidak di Giovanni ketahui dan baru diketahui kelak setelah ada seorang editor The New Yorker yang mempertanyakan, akhirnya baik Borges maupun di Giovanni mengedit hasil kerja masing-masing. Di sini sekali lagi tampak hebatnya Borges, yang menganggap tulisannya bukan sebagai sesuatu yang tidak bisa diedit meskipun sudah berulang kali cetak ulang. Aduuuuh.... betapa rendah hati dan tidakmempertuhankandirinyanya... Dengan kata lain, sungguh "supel" karya-karyanya. ![]()
Akhirul resensi, saya pingin sedikit mbahas soal sikap Borges dan di Giovanni yang agak bertentangan tentang idealnya bahasa hasil terjemahan. Bagi Borges, karya yang aslinya adalah bahasa Spanyol slang abad ke-19 paling pas kalo diterjemahkan menjadi bahasa Inggris abad ke-19 yang polosan. Sementara, di Giovanni menganggap karya yang semacam itu akan lebih enak kalo diterjemahkan menjadi bahasa Inggris slang lingkungan "hoodlum", atawa ganster, Amerika pada jaman yang sama. Bagi Borges, meskipun sama-sama slang, rasanya pasti beda. Terasa di sini, masing-masing punya sejumlah perbedaan pandangan, tapi kesamaan tujuan (yakni mempersembahkan hasil terjemahan yang bagus) telah mempersatukan mereka.
Oke, untuk bonus track, saya kutipkan di sini sejumlah kalimat di Giovanni yang layak diketahui:
"Now, on another plane, the worst fault in translation is not getting a word wrong but getting the author's tone, or voice, wrong."
"I sometimes liken our work, when we make our own new translations, to cleaning a painting." (terkait dengan karya-karya Borges yang dulunya pernah diterjemahkan orang lain dan Borges sendiri kurang puas, btw, Hasif Amini dan Arif B. Prasetyo dulu nerjemah Borges dari terjemahannya siapa ya?
)
"You see (tentang terjemahan yang kabur), the translator puts the reader in some dim no-mans's-land, when what Borges is saying couldn't be clearer. [...] They equated being deep with being obscure, and they also associated Borges with dreams and a dreamlike, or vague, prose."
Post resensitum: kayaknya saya sendiri yang paling kena batunya kali ini
. Doeng!!!
Kekurangtepatpandanankataan dalam Terjemahan (Sebuah Studi Iseng)
By wawan on Jul 27, 2008 | In Eng-Ind | Send feedback »
Saat membaca buku terjemahan, sebenarnya saya tidak bermaksud hati saya untuk membaca menilai kualitas terjemahan buku itu dengan membandingkannya dengan teks aslinya. Bukan. Saya ini bukan, belum, jadi seorang mahasiswa yang fokus studinya terjemahan dan melakukan error analysis terus-menerus. Tapi, apa lacur, sering kali saat membaca buku terjemahan dan menemukan frase-frase atau kalimat-kalimat yang mengganjal. Nah, saat itulah, sebagai seorang yang juga nerjemah (dan sepertinya masih suka melakukan kekurangtepatkataan-kekurangtepatkataan seperti itu), saya langsung menebak-nebak seperti apa kira-kira bunyi teks aslinya.
Nah, kali ini, sumpah tanpa berniat pembunuhan karakter, dan dengan rendah hati saya sampaikan ini dengan semangat akademis
, saya ingin menyampaikan sejumlah kekurangtepatpadanan dalam terjemahan Indonesia buku Barthes: A Very Short Introduction karya Jonathan Culler yang diterjemahankan oleh Ruslani dan disunting oleh Alia Swastika.
Sekedar awal saja,
1) saya menemukan frase "Manusia Huruf", hmm saya tebak-tebak kayaknya ini berasal dari Man of Letters, yang mana lebih enak kalau diterjemahankan "Sastrawan", atau orang yang bergelut dengan aksara, tapi ya tentu saja akan sangat lucu kalau diterjemahkan "Manusia Huruf", meskipun toh huruf itu aksara,
.
2) Terus, agak ke dalam saya juga sesekali menemukan penerjemahan kata "we" yang kurang pas. "Bagaimanakah kami menilai orang seperti ini?", untuk konteks retorika buku, saya hampir seratus persen yakin kalau "we" di sini bukan "kami", karena seorang penulis dalam konteks ini selalu melibatkan pembaca, jadi ya semestinya diterjemahkan menjadi "kita".
3) Ada penerjemahan tentang bapaknya Roland Barthes yang katanya "terbunuh dalam pertempuran". Nah, sebenarnya ini sama sekali tidak salah (kan memang di sini kita cuman mbahas kekurangtepatpadanankataan
), tapi alangkah lebih muantapnya kalo kita mengubah kata ini menjadi "gugur dalam pertempuran". Di dalam pertempuran, memang ada orang berbunuhan, tapi korbannya mendapatkan istilah kehormatan, yakni "gugur" itu
.
Nah, sementara begitu dulu, menurut saya, sejauh ini penerjemahannya bisa dinikmati, tapi ya ada beberapa koreksi kecil itulah yang mengganggu penikmatan baca. Lagipula, buat saya yang nggak punya edisi inggrisnya, terjemahan ini sudah cukup memadai secara umum dan bagus untuk transfer pengetahuan.
Nerjemah Buat Seminar OLPC
By wawan on Jul 16, 2008 | In Opening, On Nerjemah | Send feedback »
Akhirnya, tiba juga kesempatan buat si Pencatat Habis Nerjemah ini untuk menjadi penerjemah lisan (oral interpretor). Kesempatannya asyik banget, seminar "Quality Education using ICTs and the OLPC project" di salah satu ruangannya Puskom Universitas Brawijaya, Gedung PPA (belakang rektorat, alah... kok lengkap ya... kayak pengumuman saja hehehe)
Meskipun seminar ini terbilang kecil, pesertanya juga nggak terlalu banyak, tak urung (weleh... bosone rek!) hati saya dibikinnya berbunga-bunga.
Awalnya, saya hanya menjadi salah satu anggota saja (meskipun sudah kenal pembicaranya lewat imel sejak beberapa minggu berselang, namanya Yama Ploskonka, seorang kelahiran Bolivia yang tinggal di Austin, Texas, dan ikut menjadi salah satu konsultan & anggota komunitas OLPC). Tapi, karena penerjemahnya (seorang Amrik yang bahasa Indonesia sebenarnya sangat bagus) agak kesulitan menerjemahkan sejumlah hal dan bertanya ke peserta, akhirnya saya deh menyukarelakan diri untuk mencoba bantu-bantu nerjemah.
Akhirnya... jalanlah proses penerjemahan itu.
Everything went very smoothly. Well, karena hamba ini bukan native speaker, tak urung (halah... lagi2 tak urung
) ada beberapa idiom yang saya tidak paham, dan untungnya saat saya tanyakan ke pak Yama, dia bisa menjelaskannya. Jadinya, (menurut saya) tidak banyak kendala penerjemahan yang berarti. (Semoga saja pesertanya juga beranggapan demikian....).
Tapi, lutuna.... pada sesi-sesi akhir, ternyata lumayan banyak peserta yang bisa ngomong Inggris. Hehehe... well, well, well, jadi salah tingkah juga saya.
Anyway, semoga saja deh, penerjemahoralan yang saya lakukan tadi cukup berguna.
Alhasil, setelah acara, pak Yama memberikan "bingkisan" berupa sebuah buku semacam "aplikasi filsafat pemrograman komputer (coding)"! Well, well, well, ... ![]()
Yah, sedikit renungan, menjadi penerjemah oral itu memang tugas yang ... well ... lumayan berat buat newbie kayak saya. Tapi... untungnya tema seminarnya sendiri lumayan menyenangkan buat saya, antara lain pendidikan dengan ICT, hal ihwal free open source software, gerakan One Laptop per Child-nya yayasan OLPC bin Nicholas Negroponte, dll. Kesenangterhadaptemaan ini sungguh benar-benar mbantu. Ya... gitu deh.
Kelanjutan Terjemahan Lagu Kanak-kanak
By wawan on Jul 16, 2008 | In On Nerjemah | Send feedback »
Postingan kemarin saya posting juga ke milis "Masyarakat Penerjemah Malang" dan mendapat tanggapan dari adi penerjemah, pak Sukono. Begini tanggapannya:
O ya....gak diterjemahkan to? Setahu saya yang dulu diputar di (Alm.) LaTivi di-Indonesia-kan ("Kita punya seluruh dunia untuk dijelajahi.....sekarang waktunya....dst).
Terjemahan lagu di serial anak yang "enak didengar" ya Sinchan, tapi cobalah digandheng2 kalimat-kalimat dalam lagu tsb, kayaknya gak membentuk sebuah lirik yang padu deh. Saya bahkan tidak yakin apakah itu terjemahan atau memang liriknya dirombak total oleh tim Indonesia.
Lalu, saya pun menanggapinya seperti ini:
kalau untuk lativi memang diterjemahkan pak, semuanya!!!! jadinya ya... lagu-lagu yang terkesan maksa. karena (ternyata) dalam versi inggrisnya, banyak sekali lagu-lagunya yang secara makna biasa-biasa saja tapi secara bunyi asyik, karena memainkan rima.
kalo pingin agak berhasil mungkin ya harus merekreasi, mencari kata-kata yang berima yang (kalau memang berkenan) maknanya gak terlalu jauh beda. ya, seperti saya sinyalir. dalam lagu anak-anak, biasa (biasanya sih
) elemen bunyi jauh melebihi (biasanya, para penulis bahasa indonesia yang keren suka pakai kata "mengatasi"
) elemen maknanya.
kalo lagunya sinchan, gimana ya... sy sendiri sudah lupa versi jepangnya, dulu pernah punya .mp3nya. mungkin (mungkin saja) di versi jepangnya pencipta lagu juga banyak memberdayakan rima. ah... ini sih asli menebak-nebak tanpa didasari ruiset (riset yang sangat mendalam
).
Terus, kira-kira gimana menurut Njenengan sekalian?
Tentang (Penidak) Terjemahan (Lagu-lagu) Backyardigans
By wawan on Jul 15, 2008 | In Opening, On Nerjemah | Send feedback »
Sembari nunggu belajar caranya ngimport postingan-postingan catatan habis nerjemah di www.wawaney.cn, ayo deh kita menilik sejenak terjemahannya The Backyardigans.
The Backyardigans, yang edisi bonus dari pembelian susu Frisian Flag, menurut saya cukup menyenangkan. Memang sih, sejauh ini saya masih melihat adanya sedikit-sedikit penerjemahan yang kurang tepat. Tapi ... sungguh penerjemahan versi bonus susu ini cukup representatif.
Kenapa?
Pertama, karena di sini lagu-lagunya tidak diterjemahkan. Kenapa asyik? Kan Tidak diterjemahkan? Karena... dalam lagu anak-anak, sudah jamak diketahui bahwa pemilihan kata-katanya (dalam hal ini lagu anak-anak yang berhasil melegenda, mengklasik, dan dinikmati dari jaman ke jaman) tidaklah semena-mena dilandasi oleh kebermaknaan, tapi keenakdidengaran. Cobak deh lihat lagi lagu cicak-cicak di dinding, naik kereta api, bapak pucung, dll. Yah, semua itu urusan makna sangaaaaaat sederhana, tapi urusan bunyi... sangat dijaga man.
Nah, karena itulah, penidaknerjemahan lagu ini sangat patut dihargai sebagai keluasan wawasan si penerjemah dan penyelia bahasanya. Banyak sekali saya melihat film kartun yang lagunya diterjemahkan dari Inggris ke Indonesia. Dan apa dampaknya? Sungguh, lagu versi indonesianya jadi lucu, karena yang diterjemahkan, tentu saja, maknanya, bukan elemen-elemen bunyinya. Itulah! Itulah!
Terus apa keasyikan kedua? Well, sementara ini belum dulu deh, biar saya ambekan dulu hehehe... oke?