Kekurangtepatpandanankataan dalam Terjemahan (Sebuah Studi Iseng)
By wawan on Jul 27, 2008 | In Eng-Ind | 1 feedback »
Saat membaca buku terjemahan, sebenarnya saya tidak bermaksud hati saya untuk membaca menilai kualitas terjemahan buku itu dengan membandingkannya dengan teks aslinya. Bukan. Saya ini bukan, belum, jadi seorang mahasiswa yang fokus studinya terjemahan dan melakukan error analysis terus-menerus. Tapi, apa lacur, sering kali saat membaca buku terjemahan dan menemukan frase-frase atau kalimat-kalimat yang mengganjal. Nah, saat itulah, sebagai seorang yang juga nerjemah (dan sepertinya masih suka melakukan kekurangtepatkataan-kekurangtepatkataan seperti itu), saya langsung menebak-nebak seperti apa kira-kira bunyi teks aslinya.
Nah, kali ini, sumpah tanpa berniat pembunuhan karakter, dan dengan rendah hati saya sampaikan ini dengan semangat akademis
, saya ingin menyampaikan sejumlah kekurangtepatpadanan dalam terjemahan Indonesia buku Barthes: A Very Short Introduction karya Jonathan Culler yang diterjemahankan oleh Ruslani dan disunting oleh Alia Swastika.
Sekedar awal saja,
1) saya menemukan frase "Manusia Huruf", hmm saya tebak-tebak kayaknya ini berasal dari Man of Letters, yang mana lebih enak kalau diterjemahankan "Sastrawan", atau orang yang bergelut dengan aksara, tapi ya tentu saja akan sangat lucu kalau diterjemahkan "Manusia Huruf", meskipun toh huruf itu aksara,
.
2) Terus, agak ke dalam saya juga sesekali menemukan penerjemahan kata "we" yang kurang pas. "Bagaimanakah kami menilai orang seperti ini?", untuk konteks retorika buku, saya hampir seratus persen yakin kalau "we" di sini bukan "kami", karena seorang penulis dalam konteks ini selalu melibatkan pembaca, jadi ya semestinya diterjemahkan menjadi "kita".
3) Ada penerjemahan tentang bapaknya Roland Barthes yang katanya "terbunuh dalam pertempuran". Nah, sebenarnya ini sama sekali tidak salah (kan memang di sini kita cuman mbahas kekurangtepatpadanankataan
), tapi alangkah lebih muantapnya kalo kita mengubah kata ini menjadi "gugur dalam pertempuran". Di dalam pertempuran, memang ada orang berbunuhan, tapi korbannya mendapatkan istilah kehormatan, yakni "gugur" itu
.
Nah, sementara begitu dulu, menurut saya, sejauh ini penerjemahannya bisa dinikmati, tapi ya ada beberapa koreksi kecil itulah yang mengganggu penikmatan baca. Lagipula, buat saya yang nggak punya edisi inggrisnya, terjemahan ini sudah cukup memadai secara umum dan bagus untuk transfer pengetahuan.
1 comment
sepertinya ini sejalan dengan pikiranku.
baru2 ini aku sempat berpikiran untuk mengaitkan terjemahan dengan linguistik (menyambung pesan pak benny h hoed bahwa linguis bisa menjadi seorang penerjemah yang handal, halah).
bidang yang ingin aku kaitkan dengan terjemahan adalah critical discourse, pragmatics, and sosiolinguistics.
cuman skrg msh meraba2 pisau bedahnya apa krn ketiga bidang tsb bagiku masih tumpang tindih.
oleh krn itu, saya harap Anda bs terus memberi info mengenai terjemahan.
FYI (psssstttt!!!) u inspire me a lot.
Soale biasane ak cmn berkutat di historical linguistics, hehehehe
bravo... bravo...!!!
Leave a comment
| « On Borges yang di"transbahasa"kan(TM) ... Ehem-ehem, nama agen penerjemahnya siapa ya? | Nerjemah Buat Seminar OLPC » |