Category: On Nerjemah
Resensi atas Terjemahan The Raids and The Cossacks
By wawan on Jun 16, 2010 | In On Nerjemah | Send feedback »
Barusan saya dengan narsisnya memantau di dunia maya bagaimana resepsi massa atas buku yang saya terjemahkan:
Di sini ada resensi atas buku itu. Syukurlah peresensinya puas dengan hasil penerjemahan dan editing. Alhamdulillah
...
Masih Ngotot "Memenangi"?
By wawan on Mar 11, 2010 | In On Nerjemah | 2 feedbacks »
Lagi-lagi saya ingin menegaskan lagi pandangan saya tentang hubungan antara bahasa dan "polisi bahasa." Di Indonesia, hubungan ini sudah tidak sehat lagi. Polisi bahasa ingin membetulkan praktik-praktik bahasa yang dianggap melanggar logika bahasa. Dan dibetulkanlah istilah-istilah yang "salah" itu. Menurut saya ini tidak sehat, bertentangan dengan kodrat bahasa yang selalu cair dan berkembang dan penuh improvisasi dan ... arbitrer, tak bisa dilogika hubungan antara isi dengan bentuknya.
Satu hal yang sudah agak lama dipromosikan para polisi bahasa adalah "memenangi". Dulu di koran-koran atau di buku-buku pelajaran, semua memakai "memenangkan." Tapi entah kenapa tiba-tiba para polisi mikir kalau "memenangkan" itu artinya berarti "membikin menang," sehingga "memenangkan" kejuaraan artinya "membikin menang kejuaraan itu." Maka, yang benar menurut para polisi bahasa itu adalah "memenangi."
Saya mencoba memakai istilah ini. Ah, saya selalu ingin menarik nafas panjang. Sumpah! Saya merasa munafik kalau terus-terusan memakai "memenangi" sementara hati saya berkata tidak, nalar kebahasaan saya berkata tidak. Dan tentunya saya tidak pingin nalar bahasa saya ditumpulkan para polisi bahasa itu.
Akhirnya, saya mencari-cari sekeliling. Dan ketemulah: siapa bilang "memimpikan seorang kekasih" berarti "membikin mimpi seorang kekasih"? Ahli bahasa macam mana yang menganggap "mendapatkan hadiah" berarti "membikin si hadiah dapat"? Siapa cobak yang berargumen kalau "membutuhkan minum" itu artinya "membikin minum butuh"?
Maka, saya memohon dengan sangat halus kepada para polisi bahasa, minal editor natiwan penerjemah natiwan balai bahasa natiwan pembikin kamus (artinya: yang berbentuk editor atau penerjemah atau balai bahasa atau pembikin kamus atau dll) untuk berhenti menyebarkan kebohongan ini!
Bagaimana dengan kerancuan antara "memenangkan" yang artinya "menjadi pemenang" dengan yang "membikin menang"? Hmm... masih ingat homonim? Seperti halnya kita bisa membedakan kata "bisa" dalam "eeee adik sudah BISA berdiri sendiri" dengan "eeee, dik, kalau main ular kobra yang hati-hati ya, kalau kena BISA nanti kapok lho," insya allah kita akan bisa mengenali kedua "memenangkan" itu. Yang penting, buka mata, buka hati, jangan curiga sama bahasa... oke?
Penerjemahan Bahasa Tak Biasa
By wawan on Jan 1, 2010 | In Eng-Ind, On Nerjemah | Send feedback »
Saat nerjemahbahasa yang biasa, apalagi HANYA untuk tujuan mendapatkan pemahaman atas kata-kata tertentu, mungkin kita tidak terlalu peduli dengan bentuk bahasa, atau tinggal nerjemah asal pembaca tahu maksudnya. Tapi, kalau yang akan kita terjemahkan merupakan kata-kata yang bentuknya harus dipertimbangkan, seperti misalnya kata-kata tak biasa, kata-kata SMS misalnya, atau kata-kata buatan, atau kata-kata dari (maaf) seseorang yang ada masalah wicara, maka di situlah kita harus memutar otak.
(Well, sebenarnya saya sudah banyak sekali blogging tentang penerjemahan bentuk dan isi semacam ini, hehehe, tapi senang saja rasanya bs mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lain
)
Contoh kasus, seorang teman harus menerjemahkan sebuah buku tentang anak yang mengalami gangguan mental dan/atau wicara dan mengucapkan (kira-kira semacam) "my mom's offish" dan di satu kesempatan lain "Mr. Bwown, you want mushwoom in yoh omelet?"
Nah, saya yang terlalu nganggur ini akhirnya menyarankan begini:
"Mbak Dian (bisa nama sebenarnya bisa bukan nama sebenarnya),
Kalau saya boleh saran sih, sepertinya diterjemahkan dulu secara normal semuanya, baru setelah selesai mbak dian putuskan seperti apa gangguan bicaranya, apa cedal yang gak bisa ngucapkan r, atau s, atau apa saja, atau bicaranya agak sengau atau semacamnya.
Baru setelah itu dialog si anak di efek secara konsisten berdasarkan keputusan gangguan bicaranya. Dan dimulailah proses mengedit terjemahan pertama (yang literal) tadi.
Dengan begitu, penerjemahannya jadi bukan berbasis kalimat, tapi berbasis wacana (seingat saya begitu saya simpulkan dari presentasinya pak effendi di tempatnya Mas Tom dulu)."
TAPI, setelah beberapa hari ada kejanggalan dalam saran saya itu, akhirnya saya kasih lagi pandangan yang lain (nggak tahu sih entah didengar atau enggak, hehehe... kan yang pertama sudah jadi meragukan
):
"Saya jadi kepikiran sendiri (maklum akhir2 ini terlalu nganggur
), kira-kira ada berbagai pertimbangan kenapa kata2 yang dijadikan contoh itu mengandung bunyi "sy" (offiSH)sama "ww" (mushWoom). Mungkin gangguan bicara di bagian "s" dan "r" itu terkait satu gangguan fisik/mental tertentu. Jadi ya, rasanya kurang pas kalau akhirnya kita putuskan sendiri jenis gangguan bicaranya.
Jadi, ada dua kemungkinan solusi (menurut saya sih
): 1. memaksimalkan contoh kalimat itu untuk menunjukkan gangguan bicara pada "s" dan "r" tadi, atau 2. membuat contoh kalimat sendiri di mana kita bisa menyoroti ganguan bicara itu (tapi kayaknya yang kedua ini terlalu nekad dan pasti bisa panen massal kritikan
).
Akhirnya, saya kepikiran nerjemah jadi:
1. dadawnya mau dikasyih jamow, pak bwaun? (tapi kalimat lain harus mendukung agar pembaca jadi bisa mengira-ngira kalau yg dimaksud pak bwaun ini adalah Mr. Brown)
2. kantow ibu syaya
Semoga ndak mengganggu."
Kalau menurut sidang jamaah blog sekalian bagaimana?
Lagi, Tentang Penerjemahan Puisi
By wawan on Dec 3, 2009 | In On Nerjemah | Send feedback »
Nah, kali ini saya pingin cerita tentang pertimbangan lain yang mungkin pernah saya temukan tanpa sadar sebelumnya tapi baru saya temukan secara sadar belakangan ini. Pertimbangan ini berasal dari pengalaman penerjemahan puisi dalam bahasa Inggris.
Kemarin, kami mendiskusikan versi Inggris dari beberapa sonetanya Jorge Luis Borges yang dalam bahasa spanyol ternyata wow!!! sekali lagi, wow!!!! sekali lagi, WOW!!! Kalau saya tadi bilang "bahasa Spanyol", itu artinya saya bukan lagi ngomong soal maknanya (yang, kalau soal Jorge Luis Borges, meskipun diterjemahkan ke bahasa lain akan tetap bikin bulu kuduk meremang), tapi lebih ke soal teknis bahasanya. Insya allah lain kali saya akan cerita soal ini. Tapi saat ini, yang saya pingin ceritakan tentang pemilihan kata.
Dalam satu terjemahan puisi yang dikerjakan Willis Barnstone, seorang penerjemah sastra dan profesor yang terbilang cukup dihormati, ada muncul kata "futiley". Kalau buat saya yang well bahasa Inggrisnya begini-begini saja ini, kata "futiley" yang tidak lazim itu kelihatan unik. Jadi ya mungkin saya akan meloloskan kata itu kalau ada penyaringan kata-kata yang "nggak jalan" dalam terjemahan puisi itu. Tapi, ternyata, buat teman-teman saya yang dari umur 1,5 tahun sudah bisa ngomong Inggris ini
, kata itu kedengaran ganjil dan memiliki asosiasi kurang enak (saya bayangkan, mungkin asosiasi kata itu semacam berlendir dan lengket atau bagaimana, hehehe). Padahal, sekali lagi, secara logika morfologi kata itu benar-benar masuk akal. Dan itu jelas-jelas "nggak jalan" sebagai sebuah kata dalam soneta, yang mestinya adalah tatanan kata-kata indah untuk mengusung makna yang (kalau mengingat ini adalah soneta borges) ulterindah, terjemahan dari "ultra-beautiful".
Jadi ya, lagi-lagi, kalau penerjemahan puisi, kayaknya kita harus masuk lebih dalam dari sekedar logika bahasa, baik itu dalam tataran fonologi, morfologi, atau sintaksis.
P.S. ini nggak cuman berlaku dalam penerjemahan ke bahasa Inggris lho ya! ![]()
Mengapa Menerjemah Ulang?
By wawan on Sep 16, 2009 | In On Nerjemah | Send feedback »
(Di balik edisi ulang tahun emas The Tin Drum)
Apa perlunya sebuah buku yang pernah diterjemahkan puluhan tahun lalu diterjemahkan lagi oleh penerjemah yang berbeda?
Itulah pertanyaan yang menggantung di benak saya ketika membaca curriculum vitae Breon Mitchell, seorang profesor comparative literature asal Indiana University, Bloomington yang hadir di kampus kami sebagai penerjemah tamu. Prof. Breon Mitchell telah menerjemah ulang The Trial (Franz Kafka) dan sedang menyelesaikan penerjemahan The Tin Drum (Günter Grass) dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris. Sebenarnya, masing-masing buku itu telah diterjemahkan puluhan tahun sebelumnya. The Trial, dalam edisi bahasa Inggris yang terkenal, diterjemahkan oleh pasangan Muir, dan The Tin Drum diterjemahkan oleh Ralph Manheim.
Mungkin akan terlintas di benak kita pertanyaan-pertanyaan semacam: “Apakah ada kesalahan pada masing-masing edisi terjemahan tersebut, sehingga harus 'dikoreksi'?” Namun, apa yang disampaikan oleh Breon Mitchell sendiri ternyata lebih dari sekedar salah dan benar. Banyak fakta menarik yang layak diambil sebagai pelajaran. Khusus untuk kesempatan ini, saya akan banyak menyoroti hal-hal yang terkait dengan proses penerjemahan The Tin Drum, mengingat tahun 2009 ini adalah peringatan 50 tahun penerbitan novel itu sejak diterbitkan pertama kali dalam bahasa Jerman. Lagipula, masih hangat di benak para pemerhati sastra bagaimana Günter Grass yang telah menjadi otoritas moral di negaranya itu membuat pengakuan mengejutkan dalam sebuah wawancara sebelum peluncuran bukunya Peeling the Onion (2006) bahwa dia terlibat dengan Waffen-SS, sayap militer partai Nazi.
Yang Personal
Di pihak sastrawan, Günter Grass sendiri ternyata telah sekitar 35 tahun menginginkan penerbitnya menerjemah ulang The Tin Drum. Grass menginginkan ada alternatif bagi pembaca, dan dia menunjukkan kesan kekurangpuasan dengan hasil terjemahan Ralph Manheim. Namun, penerbitnya kurang menggubris keinginan Grass tersebut. Ada kesan di pihak penerbit muncul semacam pertanyaan, 'Kenapa harus diterjemahkan ulang, mengeluarkan duit ulang, kalau edisi yang sudah ada di pasaran saja, yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah kawakan, sudah bisa menyedot pembaca dan membuat Grass seterkenal ini di kalangan publik pembaca bahasa Inggris?'. Memang, fakta itu tak bisa dipungkiri. Bahkan, menurut Breon, terjemahan Manheim ini punya andil besar mengajak publik melirik sastra Jerman secara umum. Dan sangat besar kemungkinannya edisi Inggris inilah yang akhirnya membuka jalan sehingga banyak orang tertarik kepada Grass dan karya-karyanya selanjutnya hingga akhirnya dia bisa berkesempatan menyampaikan pidato penganugerahan Nobel Kesusastraan yang legendaris itu.
Akhirnya, penerbit pun mengiyakan keinginan Grass tersebut. Itupun karena memang momennya sedang tepat, yaitu peringatan 50 tahun penerbitan edisi pertama novel tersebut.
Di pihak penerjemah, ada kisah menarik sebelum dimulainya proses penerjemahan. Sebagai seorang profesor yang harus membimbing disertasi beberapa calon doktor dan menjadi direktur Lilly Library, salah satu perpustakaan buku langka terbesar di Amerika Serikat yang merupakan bagian dari Indiana University, Breon sendiri sudah lama tidak lagi berminat mencari order menerjemah karya sastra. Namun, dia langsung berminat ketika tawaran yang terakhir datang kepadanya itu adalah tawaran menerjemahkan The Trial dan The Tin Drum.
Namun, muncul dilema karena penerjemah pertama The Tin Drum, Ralph Manheim, adalah seorang sahabat karib Breon selama 7 tahun terakhir masa hidupnya. Dan Breon sendiri terlihat sangat menghargai terjemahan versi Ralph Manheim. Waktu mendapat kabar bahwa The Tin Drum akan diterjemahkan ulang, dan penerjemahnya adalah Breon Mitchell, istri almarhum Manheim langsung menelpon Breon dan bilang, “Kenapa kamu menghianati Ralph?” Mendapat pertanyaan yang tak butuh jawaban itu, Breon segera pesan tiket pesawat dan berangkat ke Cambridge, tempat tinggal Ny. Manheim, dan menjelaskan duduk persoalannya. Alhasil Breon pun bisa mulai mengerjakan penerjemahan buku itu, dan kekagumannya kepada terjemahan versi Manheim terlihat dengan tak henti-hentinya dia gunakan terjemahan Manheim sebagai salah satu sumber utamanya dalam bekerja. Dan Breon pun menulis catatan penyerta di akhir buku yang juga membahas peran karya terjemahan Ralph Manheim dan hal-hal lain yang terkait dengan proses penerjemahannya—mungkin serupa pengantar yang dia buat untuk terjemahan The Trial olehnya yang terbit pada tahun 1999 lalu.
Yang Teknis
Kalau sebelumnya saya menyinggung bahwa banyak detil dari karya Grass yang tak tersampaikan dalam terjemahan Manheim, itu bukan berarti bahwa Manheim adalah penerjemah yang buruk. Terjemahan bahasa Inggris novel The Tin Drum itu bisa dibilang sangat mulus—Breon menyebutnya sebagai 'terjemahan yang indah'. Pembaca sangat bisa menikmati ceritanya novel tersebut dengan membaca terjemahan versi Manheim tersebut. Di sinilah yang menjadi 'masalah'. Dalam bahasa Jerman, novel itu sebenarnya bukan novel yang secara bahasa benar-benar mulus. Ada kalimat-kalimat yang dengan sadar dibuat agak susah. Ada kata-kata yang dibuat dengan pertimbangan bunyi dan ritme. Dan hal-hal yang semacam itu menjadi hilang ketika novel tersebut dihadirkan ke dalam bahasa Inggris yang lancar, yang tentunya menuntut adanya pemenggalan di sana-sini untuk menyingkirkan hal-hal yang dirasa janggal. Padahal, Grass sendiri memendam keinginan pembaca berbahasa Inggris juga merasakan tekstur kebahasaan yang dirasakan para pembaca Jerman.
Uniknya, Breon mensinyalir ada sejumlah faktor di balik hadirnya 'kemulusbacaan' tersebut. Pertama-tama, Günter Grass ketika itu adalah seorang penulis muda yang berusia 30 tahun. Tak bisa dipungkiri, meskipun berusaha bersikap obyektif, pasti ada kecenderungan seorang pembaca—tak terkecuali penerjemah—untuk tidak langsung menggali dalam-dalam karya seorang penulis yang masih muda atau masih pemula. Karena itulah, dalam proses penerjemahan itu penerjemah atau editor cenderung menganggap hal-hal agak ganjil di dalam novel itu sebagai sesuatu yang tidak memiliki signifikansi dan bisa dilewati. Lagipula, pesan yang diusung novel The Tin Drum itu sendiri sudah terasa kuat. Jadi wajar saja penerjemahnya kurang memberi perhatian pada sisi teknis bahasa novel tersebut. Ditambah lagi, sudah bukan rahasia lagi kalau penerbit, yang memberi perhatian besar kepada daya jual sebuah buku—dan ini tidak bisa dibilang salah, karena bagaimanapun ini adalah sebuah bisnis—cenderung menginginkan sebuah novel yang enak dibaca. Maka, jadilah edisi Inggris pertama novel The Tin Drum itu sebuah novel mulus-baca seperti yang bisa kita temui.
Lagipula, Ralph Manheim waktu itu hanya diberi penerbit waktu menerjemahkan selama 6 bulan!
Dengan tujuan menghidupkan detil-detil yang ingin ditampilkan Günter Grass itu, Breon Mitchell pun memulai proses penerjemahan dari awal—dengan kesadaran sepenuhnya bahwa dirinya sedang menerjemahkan sebuah karya pemenang Nobel, karya yang banyak dibahas oleh para sarjana sastra, karya yang tak hanya isi ceritanya tapi juga bentuk bahasaannya juga dibuat dengan pertimbangan masak. Breon mengaku sudah menyukai novel The Tin Drum itu sejak pertama kali dia membaca edisi Jerman-nya ketika novel itu baru diterbitkan. Bahkan, dia menganggap The Tin Drum itu adalah novel berbahasa Jerman paling penting selama paruh kedua abad ke-20. Meski demikian, Breon masih membutuhkan buku-buku referensi untuk membantunya menerjemahkan novel tersebut. Referensi itu mencakup terjemahan karya Ralph Manheim dan buku-buku telaah kritis yang telah ditulis banyak sarjana atas buku tersebut. Di sini Breon mengembalikan lagi kalimat-kalimat panjang Grass yang telah 'dicacah' Manheim menjadi kalimat-kalimat pendek yang lebih akrab bagi pembaca berbahasa Inggris. Grass sendiri agak keberatan kalimat-kalimat panjang yang menurutnya memiliki ritme khusus itu dicacah sedemikian rupa oleh Manheim dengan alasan lebih mengakrabkan bahasanya bagi pembaca berbahasa Inggris. Sebab, menurut dia, bahkan pembaca berbahasa Jerman pun juga merasakan semacam ketidaknyamanan dengan kalimat-kalimat panjang itu. Dan dia juga ingin pembaca bahasa Inggris merasakan hal yang kurang lebih sama dengan yang dirasakan para pembaca Jerman. Dengan bekal cinta dan 'amunisi' semacam itu, Breon menerjemahkan The Tin Drum sambil bisa memperhatikan hal-hal renik yang penting, dan tentunya menghadirkannya kepada pembaca berbahasa Inggris dengan penguasaan seni penerjemahan yang terasah selama puluhan tahun.
Untungnya, Breon mendapat waktu tiga tahun untuk menyelesaikan terjemahan tersebut...
Ada satu pernyataan Breon Mitchell, yang dia sampaikan dalam diskusi dan pembacaan The Tin Drum di Goethe Institute New York pada tahun 2005, yang kiranya perlu dikutip di sini: “Sebagai teks, buku ini sangat kaya. Saya berani bilang tidak akan pernah ada yang bisa menerjemahkannya hingga seratus persen. Namun yang penting menurut saya adalah si penerjemah harus menyadari bahwa di situ ada masalah, dan bertanya 'Terus bagaimana kita menyiasatinya? Apa yang bisa kita lakukan?' Ada kalanya kami tidak bisa mendapatkan jawabannya.”
Yang Unik
Satu hal yang menarik di balik penerjemahan The Tin Drum ini adalah bentuk kolaborasi antara sastrawan dan penerjemah. Günter Grass dan penerbitnya rupanya ingin 'merayakan' 50 tahun penerbitan The Tin Drum secara besar-besaran, yaitu dengan penerjemahan (termasuk penerjemahan ulang) novel ini ke dalam 10 bahasa untuk diterbitkan pada tahun 2009 ini. Tidak hanya itu, Günter Grass kali ini tidak mau 'kecolongan' seperti yang terjadi dengan terjemahan karya Manheim. Dia mengundang 10 penerjemah yang sedang menggarap The Tin Drum untuk menyatukan visi di Gdansk, sebuah kota di Polandia.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama seminggu ini, menurut Breon sebagai salah satu peserta, para penerjemah menyerahkan pertanyaan/komentar terkait kalimat-kalimat dalam novel yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan di antara mereka. Dari kesepuluh penerjemah itu, terkumpul sekitar 3500 poin pertanyaan/komentar. Selama seminggu itu, Grass dan 10 penerjemah ini mengadakan konferensi yang berlangsung antara pukul 9 pagi sampai 5 sore, persis seperti orang kantoran. Mereka membaca novel itu dan membahas poin-poin pertanyaan dari para penerjemah. Selain itu, Günter Grass sendiri menyoroti bagian-bagian yang menurutnya penting untuk dijadikan perhatian para penerjemah. Pembacaan dengan sumber yang seperti itu semakin diperkuat lagi dengan 'napak tilas' ke tempat-tempat yang menjadi latar novel tersebut dengan dipandu oleh Günter Grass sendiri yang menunjukkan benda-benda, bangunan, dan sebagainya, yang diacu juga dalam novel itu.
Ini mengingatkan kita tentang hubungan erat antara sastrawan Argentina Jorge Louis Borges dengan penerjemah 'resminya', Norman Thomas di Giovanni, yang menghabiskan banyak waktu bersama-sama dan membahas tuntas karya-karya Borges yang sedang diterjemahkan.
Ada proses yang unik di sini. Di satu sisi si penerjemah seolah-olah 'tak lebih dari sekedar' mengantarkan apa yang ingin disampaikan si penulis ke bahasa yang berbeda. Seolah-olah, si penerjemah membiarkan egonya melebur dan menyerahkan diri sepenuhnya mengalihbahasakan apa yang diinginkan si penulis. Si penerjemah benar-benar mengekang dirinya menafsir dengan semaunya sendiri. Sebaliknya, dia sepenuhnya tunduk kepada teks dan si pencipta teks. Seolah mereka bersinergi, kembali ke masa sebelum buku aslinya diterbitkan.
Dengan begini, tidak penting lagi yang namanya 'penghianatan', sebuah tema yang kerap diusung para penerjemah atau pengkritik penerjemahan. Yang ada hanyalah bersama-sama masuk ke dalam pikiran si sastrawan dan mencoba mengikuti apa yang dimaksud si sastrawan ketika dia sedang menciptakan novel itu—meskipun tak bisa diingkari bisa saja yang dia ceritakan kepada para penerjemah ini bisa-bisa berbeda dengan perasaan si penulis ketika menulis karya tersebut.
Namun, demi menyadari kemustahilan mencari padanan untuk setiap hal yang ada dalam bahasa Jerman ke dalam bahasa-bahasa lain dunia, Grass juga memberi kebebasan kepada para penerjemahnya untuk berkreasi terkait dengan hal-hal tersebut. Di sini tampak ada yang perlu diperhatikan, yaitu 'penghianatan' itu hanya bisa terjadi pada tahap pembahasaan, sementara pada tahap pemahaman isi karya, penerjemah dituntut selaras dengan si sastrawan.
Demikianlah, meskipun penerjemahan ulang bukanlah sesuatu yang harus dilakukan atas karya-karya yang terjemahannya sudah usang, ternyata banyak yang bisa dipelajari dari situ. Selain itu, sepertinya para penerjemah Indonesia juga harus mengikuti langkah yang ditempuh Breon, yaitu membaca habis-habisan karya sekunder yang mendukung pemahaman pembaca atas karya sastra yang sedang digarap. Tapi, lagi-lagi muncul pertanyaan, apakah memungkinkan melakukan penerjemahan yang 'doyan' seperti itu dengan upah penerjemahan seperti yang ada di pasaran seperti sekarang ini.
The Tin Drum edisi peringatan ulang tahun emas ini akan diluncurkan pada bulan Oktober tahun 2009 ini. Sementara itu, saat ini Breon sedang merampungkan detil terjemahannya tersebut di tengah kesibukannya membimbing para calon doktor dan mengelola Lilly Library. Oh ya, dia juga langsung bergairah ketika tahu bahwa ada dua karya sastra penting Indonesia yang mengambil latar kota tempat tinggalnya, yaitu kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington dan novel Olenka, dan otomatis langsung menyatakan keinginannya untuk mendapatkan buku-buku tersebut buat perpustakaan manuskrip dan buku langka yang dipimpinnya.
