Category: On Nerjemah
Kutipan dari Kyai Fritz Senn ttg Terjemahan
By wawan on Jun 28, 2009 | In On Nerjemah | Send feedback »
Terkait dengan terjemahan Ulysses yang diamati Kanjeng Kyai Senn:
[Translations of Ulysses] should be admired, not trusted.
Gitu deh, ![]()
Oleh-oleh dari Mbah Senn
By wawan on Jun 26, 2009 | In On Nerjemah | Send feedback »
Kayaknya blog yg ini sudah waktunya diganti jadi Catatan *** Nerjemah, dan *** adalah sesuatu yg masih perlu dipertanyakan, soalnya "habis" kayaknya sudah bukan kata yg tepat, soalnya saya sdh agak lama nggak mbahas cerita HABIS nerjemah.
Okelah, yg penting saya bagi dulu nih oleh-oleh dari esai Eyang Guru Fritz Senn tentang masalah-masalah yg panjenengangipun temui terkait Ulysses terjemahan dalam bahasa Perancis, Jerman, Spanyol, dan Belanda. Berikut ini paragraf penutup esai panjenenganipun yg berjudul Translation as Approach:
The student of Ulysses can learn from the translator, who is a neglected expert, often a modest one, more concerned about getting on with the job at hand than talking about it and not inclined to make a display of his insights and discoveries. He is also a creator, remaining within or behind or beyond of complete one, even if every individual gloss is incomplete (and some are wrong). We can benefit from his predicament and learn from his frustrations. They help show us just what makes Ulysses tick.
Begitulah... gimana hayo?
Kerangka Poligami yg Hilang (atau hasil beda interpretasi saja?) dari Terjemahan Quran Indonesia
By wawan on Jun 17, 2009 | In On Nerjemah | Send feedback »
Melihat:
Beberapa terjemahan quran surat An-Nisa ayat 3 (ditambah sedikit ayat 2) ke bahasa Inggris berikut:
Rodwell: 2) And give to the orphans their property; substitute not worthless things of your own for their valuable ones, and devour not their property after adding it to your own; for this is a great crime. 3) And if ye are apprehensive that ye shall not deal fairly with orphans, then, of other women who seem good in your eyes, marry but two, or three, or four; 2 and if ye still fear that ye shall not act equitably, then one only; or the slaves whom ye have acquired: this will make justice on your part easier. Give women their dowry freely; but if of themselves they give up aught thereof to you, then enjoy it as convenient, and profitable:
Palmer: 2) And give unto the orphans their property, and give them not the vile in exchange for the good, and devour not their property to your own property; verily, that were a great sin. 3) But if ye fear that ye cannot do justice between orphans, then marry what seems good to you of women, by twos, or threes, or fours; and if ye fear that ye cannot be equitable, then only one, or what your right hands possess.
Pickthall: 2) Give unto orphans their wealth. Exchange not the good for the bad (in your management thereof) nor absorb their wealth into your own wealth. Lo! that would be a great sin. 3) And if ye fear that ye will not deal fairly by the orphans, marry of the women, who seem good to you, two or three or four; and if ye fear that ye cannot do justice (to so many) then one (only) or (the captives) that your right hands possess. Thus it is more likely that ye will not do injustice.
Yusuf Ali: 2) To orphans restore their property (When they reach their age), nor substitute (your) worthless things for (their) good ones; and devour not their substance (by mixing it up) with your won. For this is indeed a great sin. 3) If ye fear that ye shall not be able to deal justly with the orphans, Marry women of your choice, Two or three or four; but if ye fear that ye shall not be able to deal justly (with them), then only one, or (a captive) that your right hands pos sess, that will be more suitable, to prevent you from doing injustice.
Mengingat:
terjemahan Indonesianya (tak ada nama personal di sini, yang pasti ini adalah terjemahan yang paling banyak beredar, dengan stempel departemen agama dst):
2) Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar. 3) Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil 265, maka (nikahilah) seorang saja 266, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. 4:3)
Menganalisis:
1. Keempat terjemahan Inggris yg saya perlihatkan di atas hanya menerjemahkan "yatama" sebagai "orphan" atawa anak yatim. Di situ tidak disebutkan sama sekali apakah kata "yatama" itu mengacu pada yatim perempuan atau yatim laki-laki (saya sendiri tidak tahu apakah kata "yatama" itu feminin atau maskulin, namun kalaupun kata itu termasuk kata "feminin" juga bukan berarti bahwa yang diacu itu yatim perempuan kan?). Sementara dalam terjemahan Indonesia jelas-jelas "yatama" diterjemahkan sebagai "perempuan yatim", DAN ITU PUN MASIH DITAMBAH DENGAN KLAUSA DALAM KURUNG "BILAMANA KAMU MENIKAHINYA". ???? ![]()
2. Poin pertama itu membuat kerangka pembolehan menikah sampai empat yang terlihat dalam terjemahan Inggris menjadi tidak ada dalam terjemahan Indonesia. Dalam terjemahan Inggris, pembolehan menikahi untuk yg kedua, ketiga, dan keempat kalinya itu adalah 1) "And if ye are apprehensive that ye shall not deal fairly with orphans", atawa 2) "But if ye fear that ye cannot do justice between orphans", atawa 3) "And if ye fear that ye will not deal fairly by the orphans", atawa 4) "If ye fear that ye shall not be able to deal justly with the orphans".
Sementara, dalam bahasa Indonesia, kerangkanya sama sekali tidak "mengerangkai", karena: "Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya)". Well, I hate to say this, but ... terjemahan Indonesia berbau-bau pro-poligami (jadi mengingatkan saya kepada omongan teman saya bertahun-tahun lampau bahwa terjemahan Alquran dalam bahasa Indonesia edisi departemen agama sangat patriarkal). PADAHAL, seruan pertama yg saya dengar dari teman saya setelah mendengar penjelasan Dr. Kahf tentang Ayat 3 surat An-Nisa ini tadi (sekalian dengan asbabun-d'aitre atau raison de nuzul-nya [heeeehehehehehehe] yg terkait dengan perang Uhud) adalah: "IT REALLY MAKES SENSE THEN".
Menyimpulsementarakan:
1. Kayaknya sebelum menggunakan dalil ini pada kesempatan-kesempatan diskusi liar kita di jalan, kita perlu mempelajari dulu deh bahasa Arabnya, atau kalau memang kita nggak bisa bahasa Arab ada sangat baiknya kalau kita melakukan perbandingan terjemahan dulu, jangan sekali-kali menggunakan dalil hasil terjemahan dari satu sumber sahaja (manusia memang tempatnya salah grammar dan lupa telusuri sumber
).
2. Saya harus segera minta pendapat orang2 yg ngerti bahasa Arab tentang ini. ![]()
Penelope yang Menelol Peneljemahnya...
By wawan on Jun 10, 2009 | In Eng-Ind, On Nerjemah | Send feedback »
Bab terakhir Ulysses, yg awalnya dijuduli Joyce "Penelope", bisa dibilang merupakan bagian Ulysses yang paling seksi, paling sering digosipkan, paling kelihatan lain-sendiri, paling 'ngeriiiiii' di kalangan penggemar, kritik, dan apalagi.... eng-ing-eng.... penerjemah!
Gimana nggak, lha wong bab yang sepanjang 80-an halaman itu tidak dilengkapi dengan perangkat kalimat standar semacam tanda baca dan kapitalisasi pada bagian-bagian yg semestinya dikapitalisasi. Menurut Joyce, bab 18 ini terdiri dari 8 "kalimat". Bab yang merupakan luapan pikiran pra-tidur Molly Bloom ini tak habis dibahas para kritikus dalam kaitannya dengan alasan kenapa Joyce membentuki bab itu sedemikian rupa maupun implikasi-implikasi dari gaya narasi yg aneh itu.
Kali ini, saya pingin mencurhatkan sedikit yg masih tertinggal di pikiran saya dari artikel Derek Attridge mengenai bab ini.
Pertama, Attridge mencoba menelaah kenapa kira-kira bentuk bab 18 itu sedemikian rupa. Dia mengawali dengan pendapat beberapa kritikus yang menganggap bahwa bentuk ini terkait dengan pandangan Joyce bahwa kaum perempuan cenderung mengabaikan tanda baca dalam menulis (dan tentunya terkait dengan pikirannya yg cenderung mengalir deras), dan kecenderungan mereka untuk berbicara lebih banyak. Attridge menyanggah soal lebih banyak bicara ini dengan argumen bahwa pada kenyataannya dalam kelompok orang berlainan jenis kelamin perempuan cenderung lebih pendiam ketimbang laki-laki.
Selain itu, ada juga yg berpendapat bahwa perempuan lebih sering melanggar aturan sintaksis. Sementara, menurut Attridge, kalau saja dikasih tanda baca di sana-sini, bahasa Molly Bloom ini sebenarnya lebih rapi kalau dibandingkan bahasa Leopold Bloom kalau saja titik-komanya dihapus.
Pendapat yang menitikberatkan pada keperempuanan Molly sebagai penyebab munculnya bentuk khas bab 18 itu bisa dibilang sangat mudah disanggah.
Attridge jg menyinggung para kritikus yg menganggap bahwa kekurangteraturan tata bahasa dan ketiadaan tanda baca ini terkait dengan "kengantukan" si Molly. Menurut Attridge, tidak sepantasnya kita beranggapan demikian, soalnya di sebuah jengkal kalimat terlihat bahwa si Molly mencoba berhitung agar mengantuk dan kemudian tertidur. Artinya, si Molly tidak mengantuk.
Ada jg kritikus yang menganggap bahwa bab 18 ini merupakan pembahasaan dari pikiran Molly yg sebenarnya berada dalam paradigma lisan. Maksudnya, si Molly ini sebenarnya berpikir seperti orang ngomong. Dengan demikian, jika dilisankan, bab 18 ini menjadi tidak terlalu sulit dipahami. Dan, bisa ditebak, Attridge kurang menyetujui hal ini, karena dia menemukan sejumlah bagian dalam bab ini tidak bisa dilisankan, seperti misalnya kata yg salah satu hurufnya dicoret dan penggunaan angka untuk 1st (padahal yg lazim dalam bahasa fiksi adalah "first").
Pada akhirnya, Attridge beranggapan bahwa retorika pada bab ini merupakan hasil tuntutan dari seluruh buku, bukan hanya berdasarkan sebuah konvensi baku yg diciptakan Joyce sendiri untuk bab ini. Dia jg berargumen bahwa, alih-alih merupakan realisasi dari 'kelisanan' Molly Bloom, bab ini merupakan cerminan betapa, bagi manusia modern, kelisan dan keaksaraan tidak bisa lagi dipisahkan. Saat menulis, seseorang pasti tak pernah lepas dari bagaimana "bunyi" audio dari kalimat tersebut, dan ketika berbicara dia tidak bisa tidak menghindar dari bentuk fisik kalimat itu saat dituliskan.
Dan... pertanyaannya sekarang, bagaimana terus nerjemahnya? Apakah si penerjemah harus juga melanggar sintaksis bahasa Indonesia saat terjadi pelanggaran sintaksis pada teks aslinya? Dan ketika si Molly bilang "symph(di sini h-nya dicorek)thy I always make that mistake and new(w-nya dicorek)phew with 2 double yous", sebebas apakah seorang penerjemah mencari padanan yang sedekat mungkin memberikan perwakilan rasa?
Nah, karena itulah: NGERIIII BROOOOOO!!!!!
Gimana Kalo Baca Ulyssess Bukan Penguasaan Tekstual?
By wawan on Jun 4, 2009 | In On Nerjemah | Send feedback »
Silakan intip satu kutipan dari Derrek Attridge ini:
Above all, readers would have to give up the fundamental presupposition that reading is an attempt at textual mastery; that is, that the words on the page possess a meaning which can be obtained from them by the appropriate process of translation, a process which, if successful, entirely exhausts the text's potential for meaning.
Dengan statement yang ngepoststruturalis macam ini, setidaknya ada dua hal yang terimplikasikan (halah... boring banget bahasanya
):
Pertama, beban pikiran seorang penerjemah saat mengerjakan novel ini jadi lebih ringan karena tidak dihantui oleh pikiran-pikiran semacam: "bagaimana kalau pembaca menyadari apa yang diacu oleh kata-kata tertentu seperti halnya kesadaran yang ada di benak Don Gifford saat menemui kata-kata tertentu dalam Ulysses", atau "bagaimana kalau pembaca mengartikan hal-hal tertentu dalam Ulysses secara berbeda dengan penafsiran Stuart Gilbert", dan seterusnya, dan sebagainya, dandangdula, dandang, dinding, dundung... Si penerjemah yang bebannya agak terringankan ini selanjutnya akan lebih bisa berkreasi dalam penerjemahannya berdasarkan pemahamannya SENDIRI atas Ulysses...
TAPI, bukannya kalau begini, dan si penerjemah melewatkan hal-hal tertentu dalam Ulysses, artinya dia juga mempersempit ruang gerak penafsiran pembaca-pembaca lain yang mengkonsumsi Ulysses hasil terjemahannya? Oke, silakan dipikirkan, Saudara yang budiman...
Kedua, seorang penerjemah jadi harus berpihak kepada Almarhum Eyang Joyce, tetap menciptakan padanan-padanan sastra, tetap menghadirkan hal-hal yang sama-sama samar-samarnya dengan hal-hal samar-samar yang ada di halaman-halaman Ulysses (oh... betapa segarnya dunia saat-saat terlalu banyak pengulangan-pengulangan...
), agar pembaca juga merasakan kesamar-samaran yang dicobahadirkan oleh Almarhum.
TAPI, mungkinkah seorang pembaca-penerjemah (maksudnya penerjemah yang masih dalam tahap membaca, atau pada tahap sedang menerjemah) selalu mengetahui hal-hal samar-samar itu sepanjang waktu? Selain itu, yang lebih penting lagi, APAKAH INI ARTINYA SI PENERJEMAH INI HARUS MENJADI JAMES JOYCE SENDIRI?
Di sinikah ajaran WAHDATUL WUJUD menemukan bentuknya dalam dunia penerjemahan? Di sinikah meleburnya penerjemah dan penulis yang dia terjemahkan?
(anda boleh meringis, saya juga boleh meringis, tapi... waktu akan menunjukkan siapa yang meringis paling akhir...)
