Masih Ngotot "Memenangi"?
By wawan on Mar 11, 2010 | In On Nerjemah | 2 feedbacks »
Lagi-lagi saya ingin menegaskan lagi pandangan saya tentang hubungan antara bahasa dan "polisi bahasa." Di Indonesia, hubungan ini sudah tidak sehat lagi. Polisi bahasa ingin membetulkan praktik-praktik bahasa yang dianggap melanggar logika bahasa. Dan dibetulkanlah istilah-istilah yang "salah" itu. Menurut saya ini tidak sehat, bertentangan dengan kodrat bahasa yang selalu cair dan berkembang dan penuh improvisasi dan ... arbitrer, tak bisa dilogika hubungan antara isi dengan bentuknya.
Satu hal yang sudah agak lama dipromosikan para polisi bahasa adalah "memenangi". Dulu di koran-koran atau di buku-buku pelajaran, semua memakai "memenangkan." Tapi entah kenapa tiba-tiba para polisi mikir kalau "memenangkan" itu artinya berarti "membikin menang," sehingga "memenangkan" kejuaraan artinya "membikin menang kejuaraan itu." Maka, yang benar menurut para polisi bahasa itu adalah "memenangi."
Saya mencoba memakai istilah ini. Ah, saya selalu ingin menarik nafas panjang. Sumpah! Saya merasa munafik kalau terus-terusan memakai "memenangi" sementara hati saya berkata tidak, nalar kebahasaan saya berkata tidak. Dan tentunya saya tidak pingin nalar bahasa saya ditumpulkan para polisi bahasa itu.
Akhirnya, saya mencari-cari sekeliling. Dan ketemulah: siapa bilang "memimpikan seorang kekasih" berarti "membikin mimpi seorang kekasih"? Ahli bahasa macam mana yang menganggap "mendapatkan hadiah" berarti "membikin si hadiah dapat"? Siapa cobak yang berargumen kalau "membutuhkan minum" itu artinya "membikin minum butuh"?
Maka, saya memohon dengan sangat halus kepada para polisi bahasa, minal editor natiwan penerjemah natiwan balai bahasa natiwan pembikin kamus (artinya: yang berbentuk editor atau penerjemah atau balai bahasa atau pembikin kamus atau dll) untuk berhenti menyebarkan kebohongan ini!
Bagaimana dengan kerancuan antara "memenangkan" yang artinya "menjadi pemenang" dengan yang "membikin menang"? Hmm... masih ingat homonim? Seperti halnya kita bisa membedakan kata "bisa" dalam "eeee adik sudah BISA berdiri sendiri" dengan "eeee, dik, kalau main ular kobra yang hati-hati ya, kalau kena BISA nanti kapok lho," insya allah kita akan bisa mengenali kedua "memenangkan" itu. Yang penting, buka mata, buka hati, jangan curiga sama bahasa... oke?
2 comments
Saya rasa semua kembali ke konteks kalimatnya, apakah me-kan lebih tepat daripada me-i dan sebaliknya. Imbuhan "me-kan" menurut Pak Mahmudi, guru bahasa Indonesia saya di kelas 1 SMP dulu, SALAH SATU nosinya adalah "melakukan sesuatu untuk orang lain". Misalnya, "Ibu membuatkan aku wedang jahe." Dalam dikotomi memenangkan vs memenangi, sepertinya memang ada jebakan makna. Kalimat "Wasit memenangkan A dalam pertarungan itu" dapat berarti "menjadikan A sebagai pemenang" (mungkin dengan cara yang tidak elok). Cerna juga: "A memenangi pertandingan itu tanpa bantuan wasit."
So, bagi saya memenangkan dan memenangi ... mmm, gimana ya menyimpulkannya :-D
(Saya akan menggunakan keduanya selama konteksnya memungkinkan. Wis ngono wae:-D)
Leave a comment
| « Terjemahan Kutipan Soe Hok Gie | Nikah Sirri itu .... Unregistered Marriage (bukan fatwa lho ya :D) » |
