Penelope yang Menelol Peneljemahnya...
By wawan on Jun 10, 2009 | In Eng-Ind, On Nerjemah | Send feedback »
Bab terakhir Ulysses, yg awalnya dijuduli Joyce "Penelope", bisa dibilang merupakan bagian Ulysses yang paling seksi, paling sering digosipkan, paling kelihatan lain-sendiri, paling 'ngeriiiiii' di kalangan penggemar, kritik, dan apalagi.... eng-ing-eng.... penerjemah!
Gimana nggak, lha wong bab yang sepanjang 80-an halaman itu tidak dilengkapi dengan perangkat kalimat standar semacam tanda baca dan kapitalisasi pada bagian-bagian yg semestinya dikapitalisasi. Menurut Joyce, bab 18 ini terdiri dari 8 "kalimat". Bab yang merupakan luapan pikiran pra-tidur Molly Bloom ini tak habis dibahas para kritikus dalam kaitannya dengan alasan kenapa Joyce membentuki bab itu sedemikian rupa maupun implikasi-implikasi dari gaya narasi yg aneh itu.
Kali ini, saya pingin mencurhatkan sedikit yg masih tertinggal di pikiran saya dari artikel Derek Attridge mengenai bab ini.
Pertama, Attridge mencoba menelaah kenapa kira-kira bentuk bab 18 itu sedemikian rupa. Dia mengawali dengan pendapat beberapa kritikus yang menganggap bahwa bentuk ini terkait dengan pandangan Joyce bahwa kaum perempuan cenderung mengabaikan tanda baca dalam menulis (dan tentunya terkait dengan pikirannya yg cenderung mengalir deras), dan kecenderungan mereka untuk berbicara lebih banyak. Attridge menyanggah soal lebih banyak bicara ini dengan argumen bahwa pada kenyataannya dalam kelompok orang berlainan jenis kelamin perempuan cenderung lebih pendiam ketimbang laki-laki.
Selain itu, ada juga yg berpendapat bahwa perempuan lebih sering melanggar aturan sintaksis. Sementara, menurut Attridge, kalau saja dikasih tanda baca di sana-sini, bahasa Molly Bloom ini sebenarnya lebih rapi kalau dibandingkan bahasa Leopold Bloom kalau saja titik-komanya dihapus.
Pendapat yang menitikberatkan pada keperempuanan Molly sebagai penyebab munculnya bentuk khas bab 18 itu bisa dibilang sangat mudah disanggah.
Attridge jg menyinggung para kritikus yg menganggap bahwa kekurangteraturan tata bahasa dan ketiadaan tanda baca ini terkait dengan "kengantukan" si Molly. Menurut Attridge, tidak sepantasnya kita beranggapan demikian, soalnya di sebuah jengkal kalimat terlihat bahwa si Molly mencoba berhitung agar mengantuk dan kemudian tertidur. Artinya, si Molly tidak mengantuk.
Ada jg kritikus yang menganggap bahwa bab 18 ini merupakan pembahasaan dari pikiran Molly yg sebenarnya berada dalam paradigma lisan. Maksudnya, si Molly ini sebenarnya berpikir seperti orang ngomong. Dengan demikian, jika dilisankan, bab 18 ini menjadi tidak terlalu sulit dipahami. Dan, bisa ditebak, Attridge kurang menyetujui hal ini, karena dia menemukan sejumlah bagian dalam bab ini tidak bisa dilisankan, seperti misalnya kata yg salah satu hurufnya dicoret dan penggunaan angka untuk 1st (padahal yg lazim dalam bahasa fiksi adalah "first").
Pada akhirnya, Attridge beranggapan bahwa retorika pada bab ini merupakan hasil tuntutan dari seluruh buku, bukan hanya berdasarkan sebuah konvensi baku yg diciptakan Joyce sendiri untuk bab ini. Dia jg berargumen bahwa, alih-alih merupakan realisasi dari 'kelisanan' Molly Bloom, bab ini merupakan cerminan betapa, bagi manusia modern, kelisan dan keaksaraan tidak bisa lagi dipisahkan. Saat menulis, seseorang pasti tak pernah lepas dari bagaimana "bunyi" audio dari kalimat tersebut, dan ketika berbicara dia tidak bisa tidak menghindar dari bentuk fisik kalimat itu saat dituliskan.
Dan... pertanyaannya sekarang, bagaimana terus nerjemahnya? Apakah si penerjemah harus juga melanggar sintaksis bahasa Indonesia saat terjadi pelanggaran sintaksis pada teks aslinya? Dan ketika si Molly bilang "symph(di sini h-nya dicorek)thy I always make that mistake and new(w-nya dicorek)phew with 2 double yous", sebebas apakah seorang penerjemah mencari padanan yang sedekat mungkin memberikan perwakilan rasa?
Nah, karena itulah: NGERIIII BROOOOOO!!!!!
No feedback yet
Leave a comment
| « Kerangka Poligami yg Hilang (atau hasil beda interpretasi saja?) dari Terjemahan Quran Indonesia | mata berkaca-kaca... » |
