Category: Opening
mata berkaca-kaca...
By wawan on Jun 9, 2009 | In Opening | Send feedback »
do you know what "mata berkaca-kaca" is in english?
it's "glazing eyes"...

Ternyata URATnya Asam URAT itu bukan URAT yang itu (walah)
By wawan on Oct 22, 2008 | In Opening | 1 feedback »
Tengah-tengah baca novel akhir abad ke-19 The Portrait of a Lady, saya nemu karakter bernama Mr. Touchett yang di sepanjang buku kelihatan tidak sehat. Dia kesulitan jalan dan kerjanya cuman duduk-duduk saja--tapi dia memang sudah sangat sukses dan sudah cukup sukses untuk bisa mengerjakan tugas-tugas kantornya secara 'remote' (bayangkan saudara-saudara, kerja 'remot', di akhir abad ke-19!!!
).
Nah, yang jadi sorotan perhatian saya adalah penyakitnya, yaitu GOUT. Definisi penyakit ini adalah pembengkakan (yang menyakitkan) pada jari-jari kaki dan kaki secara umum karena ketidakberesan metabolisme URIC ACID yang menyebabkan penumpukan asam dan garam-garamnya di dalam darah dan persendian (ini saya comot dari kamus gratis Wordweb. Cobak perhatikan bahwa metabolisme yang nggak beres itu adalah URIC ACID. Rupanya, inilah yang diterjemahkan menjadi ASAM URAT.
ASAM URAT itu ternyata tidak ada hubungannya dengan URAT (yang gampangannya bisa diartikan sebagai 'otot', atau 'nadi', atau sejenisnya lah yang alot-alot--jadi ingat sama bakso urat nih
) sama sekali.
Kalo yang dipakai adalah logikanya menerjemahkan ASCORBIC ACID menjadi ASAM ASKORBAT, mungkin bisa diterima ya. Sayangnya, well, kata URAT itu sendiri sudah lumayan mendarah daging dan mengURAT syaraf dalam hidup kita. Jadi, waktu ada istilah baru yang mengandung URAT dan berhubungan dengan apa yang ada di bawah kulit manusia, saya pribadi jadi bertanya-tanya, celingukan, apa URAT yang itu ya yang dimaksud? Belum lagi ada yang menghubung-hubungkan dengan AURAT (halah..... kalo ini ngaco
).
Bagaimanapun, karena tampaknya kata ASAM URAT ini sudah berhasil masyuk dengan manis ke dalam kosakata sehari-hari, sepertinya konyol kalo kita berusaha membetulkannya. Paling-paling kita hanya bisa menjelaskan kepada orang-orang terdekat kita bahwa sebenarnya yang dimaksud URAT di sini bukan URAT yang otot itu. Insya allah, penjelasan yang sedikit2 dimulai dari orang terdekat seperti ini akan menyebar dengan baik
.
Saya hanya bisa berpesan (walah... kok kayak mbah buyut gini?
) agar kapan-kapan lagi mbok ya dipertimbangulangkan sebelum bikin istilah, biar gak terjadi semacam pembliyuran asosiasi dan berpotensi menghadirkan orang-orang sok tahu di luar sana yang menjelaskan tentang asam urat terkait dengan ruat
.
Selamat berjuang...
Nerjemah Buat Seminar OLPC
By wawan on Jul 16, 2008 | In Opening, On Nerjemah | Send feedback »
Akhirnya, tiba juga kesempatan buat si Pencatat Habis Nerjemah ini untuk menjadi penerjemah lisan (oral interpretor). Kesempatannya asyik banget, seminar "Quality Education using ICTs and the OLPC project" di salah satu ruangannya Puskom Universitas Brawijaya, Gedung PPA (belakang rektorat, alah... kok lengkap ya... kayak pengumuman saja hehehe)
Meskipun seminar ini terbilang kecil, pesertanya juga nggak terlalu banyak, tak urung (weleh... bosone rek!) hati saya dibikinnya berbunga-bunga.
Awalnya, saya hanya menjadi salah satu anggota saja (meskipun sudah kenal pembicaranya lewat imel sejak beberapa minggu berselang, namanya Yama Ploskonka, seorang kelahiran Bolivia yang tinggal di Austin, Texas, dan ikut menjadi salah satu konsultan & anggota komunitas OLPC). Tapi, karena penerjemahnya (seorang Amrik yang bahasa Indonesia sebenarnya sangat bagus) agak kesulitan menerjemahkan sejumlah hal dan bertanya ke peserta, akhirnya saya deh menyukarelakan diri untuk mencoba bantu-bantu nerjemah.
Akhirnya... jalanlah proses penerjemahan itu.
Everything went very smoothly. Well, karena hamba ini bukan native speaker, tak urung (halah... lagi2 tak urung
) ada beberapa idiom yang saya tidak paham, dan untungnya saat saya tanyakan ke pak Yama, dia bisa menjelaskannya. Jadinya, (menurut saya) tidak banyak kendala penerjemahan yang berarti. (Semoga saja pesertanya juga beranggapan demikian....).
Tapi, lutuna.... pada sesi-sesi akhir, ternyata lumayan banyak peserta yang bisa ngomong Inggris. Hehehe... well, well, well, jadi salah tingkah juga saya.
Anyway, semoga saja deh, penerjemahoralan yang saya lakukan tadi cukup berguna.
Alhasil, setelah acara, pak Yama memberikan "bingkisan" berupa sebuah buku semacam "aplikasi filsafat pemrograman komputer (coding)"! Well, well, well, ... ![]()
Yah, sedikit renungan, menjadi penerjemah oral itu memang tugas yang ... well ... lumayan berat buat newbie kayak saya. Tapi... untungnya tema seminarnya sendiri lumayan menyenangkan buat saya, antara lain pendidikan dengan ICT, hal ihwal free open source software, gerakan One Laptop per Child-nya yayasan OLPC bin Nicholas Negroponte, dll. Kesenangterhadaptemaan ini sungguh benar-benar mbantu. Ya... gitu deh.
Tentang (Penidak) Terjemahan (Lagu-lagu) Backyardigans
By wawan on Jul 15, 2008 | In Opening, On Nerjemah | Send feedback »
Sembari nunggu belajar caranya ngimport postingan-postingan catatan habis nerjemah di www.wawaney.cn, ayo deh kita menilik sejenak terjemahannya The Backyardigans.
The Backyardigans, yang edisi bonus dari pembelian susu Frisian Flag, menurut saya cukup menyenangkan. Memang sih, sejauh ini saya masih melihat adanya sedikit-sedikit penerjemahan yang kurang tepat. Tapi ... sungguh penerjemahan versi bonus susu ini cukup representatif.
Kenapa?
Pertama, karena di sini lagu-lagunya tidak diterjemahkan. Kenapa asyik? Kan Tidak diterjemahkan? Karena... dalam lagu anak-anak, sudah jamak diketahui bahwa pemilihan kata-katanya (dalam hal ini lagu anak-anak yang berhasil melegenda, mengklasik, dan dinikmati dari jaman ke jaman) tidaklah semena-mena dilandasi oleh kebermaknaan, tapi keenakdidengaran. Cobak deh lihat lagi lagu cicak-cicak di dinding, naik kereta api, bapak pucung, dll. Yah, semua itu urusan makna sangaaaaaat sederhana, tapi urusan bunyi... sangat dijaga man.
Nah, karena itulah, penidaknerjemahan lagu ini sangat patut dihargai sebagai keluasan wawasan si penerjemah dan penyelia bahasanya. Banyak sekali saya melihat film kartun yang lagunya diterjemahkan dari Inggris ke Indonesia. Dan apa dampaknya? Sungguh, lagu versi indonesianya jadi lucu, karena yang diterjemahkan, tentu saja, maknanya, bukan elemen-elemen bunyinya. Itulah! Itulah!
Terus apa keasyikan kedua? Well, sementara ini belum dulu deh, biar saya ambekan dulu hehehe... oke?
