Ternyata URATnya Asam URAT itu bukan URAT yang itu (walah)
By wawan on Oct 22, 2008 | In Opening | 1 feedback »
Tengah-tengah baca novel akhir abad ke-19 The Portrait of a Lady, saya nemu karakter bernama Mr. Touchett yang di sepanjang buku kelihatan tidak sehat. Dia kesulitan jalan dan kerjanya cuman duduk-duduk saja--tapi dia memang sudah sangat sukses dan sudah cukup sukses untuk bisa mengerjakan tugas-tugas kantornya secara 'remote' (bayangkan saudara-saudara, kerja 'remot', di akhir abad ke-19!!!
).
Nah, yang jadi sorotan perhatian saya adalah penyakitnya, yaitu GOUT. Definisi penyakit ini adalah pembengkakan (yang menyakitkan) pada jari-jari kaki dan kaki secara umum karena ketidakberesan metabolisme URIC ACID yang menyebabkan penumpukan asam dan garam-garamnya di dalam darah dan persendian (ini saya comot dari kamus gratis Wordweb. Cobak perhatikan bahwa metabolisme yang nggak beres itu adalah URIC ACID. Rupanya, inilah yang diterjemahkan menjadi ASAM URAT.
ASAM URAT itu ternyata tidak ada hubungannya dengan URAT (yang gampangannya bisa diartikan sebagai 'otot', atau 'nadi', atau sejenisnya lah yang alot-alot--jadi ingat sama bakso urat nih
) sama sekali.
Kalo yang dipakai adalah logikanya menerjemahkan ASCORBIC ACID menjadi ASAM ASKORBAT, mungkin bisa diterima ya. Sayangnya, well, kata URAT itu sendiri sudah lumayan mendarah daging dan mengURAT syaraf dalam hidup kita. Jadi, waktu ada istilah baru yang mengandung URAT dan berhubungan dengan apa yang ada di bawah kulit manusia, saya pribadi jadi bertanya-tanya, celingukan, apa URAT yang itu ya yang dimaksud? Belum lagi ada yang menghubung-hubungkan dengan AURAT (halah..... kalo ini ngaco
).
Bagaimanapun, karena tampaknya kata ASAM URAT ini sudah berhasil masyuk dengan manis ke dalam kosakata sehari-hari, sepertinya konyol kalo kita berusaha membetulkannya. Paling-paling kita hanya bisa menjelaskan kepada orang-orang terdekat kita bahwa sebenarnya yang dimaksud URAT di sini bukan URAT yang otot itu. Insya allah, penjelasan yang sedikit2 dimulai dari orang terdekat seperti ini akan menyebar dengan baik
.
Saya hanya bisa berpesan (walah... kok kayak mbah buyut gini?
) agar kapan-kapan lagi mbok ya dipertimbangulangkan sebelum bikin istilah, biar gak terjadi semacam pembliyuran asosiasi dan berpotensi menghadirkan orang-orang sok tahu di luar sana yang menjelaskan tentang asam urat terkait dengan ruat
.
Selamat berjuang...
1 comment
bagaimanapun, saya mohon pak Setyadi berkenan dengan postingan ini karena sesungguhnya tulisan Beliau di majalah Tempo itu berarti sudah meresap ke kesadaran saya :D
Leave a comment
| « Tantangan (Paling Sepele) Nerjemah Sastra | Masjid saja, jangan Mosque, dan Quran saja, jangan Koran » |
