Children of Gebelawi: Nakal sih iya, tapi apa benar menghujat?
By wawan on Jul 30, 2010 | In Sastra, Fenomena | Send feedback »
Kita lanjutkan, kali ini bersama almarhum Naguib Mahfouz dengan novel Children of Gebelawi.
Sekali lagi, ini dia novel yang mempengaruhi keselamatan penulisnya. Meskipun ditulis pada tahun 1959 dan dimuat secara serial di koran Mesir, novel kontroversial ini mundur lama dari hadapan pembaca. Novel ini dilarang terbit di sekujur dunia Arab, kecuali Lebanon, karena kisahnya merupakan alegori tokoh-tokoh di Alqur'an, dan dianggap mendiskreditkan Islam (?). Namun, setelah kontroversi Rushdie, dan Naguib Mahfouz ikut komentar (di satu sisi mendukung kebebasan berekspresi Rushdie, tapi di sisi lain tidak setuju dengan Rushdie yang "menghina" Islam), seorang Muslim ekstrimis menikamnya waktu sedang santai-santai di kafe kegemarannya. Tikaman di leher pada tahun 1994 itu membuat pak Naguib tidak bisa lagi menikmati kesantaian masa tua...
Children of the Alley berkisah tentang sebuah kampung bersama Kampung Gebelawi, diambil dari nama pendiri yang juga leluhur semua orang di kampung itu. Gebelawi awalnya adalah pemilik satu-satunya rumah besar di gurun. Suatu kali dia angkat anak bungsunya, Adham, dari istrinya yang mantan budak, untuk menjadi penerus mengelola propertinya. Idris, anak tertua dari istri pertamanya tidak terima karena dilangkahi Adham, yang cuman anak budak. Idris diusir oleh bapaknya dari rumah besar. Suatu saat Idris membujuk Adham membuka buku wasiat si ayah, dan Adham membukanya tapi kepergok di Ayah, dan dia pun diusir dari rumah besar. Beberapa generasi selanjutnya, mulai tumbuhlah kampung Gebelawi, yang isinya adalah anak cucu Adham dan Idris. Tapi, karena si Gebelawi--yang ternyata masih hidup itu--mengundurkan diri dari kehidupan sosial dan mengurung diri di rumah besar, maka urusan propertinya diserahkan ke seorang Pengelola, yang bertindak sewenang-wenang, menggunakan jasa tukang pukul untuk menindas warga kampung, meminta pungli keamanan, padahal sebenarnya warga kampung itu adalah anak cucu Gebelawi, yang juga ikut menjadi pemilik kawasan itu. Maka suatu kali muncullah tokoh Gebel, yang memimpin pemberontakan, dengan kisah hidup mirip2 tokoh nabi Musa, khususnya di surah al-Kahfi. Dia akhirnya bisa mengalahkan Pengelola, yang sebenarnya pernah menjadi bapak angkat si Gebel (hehehe... mirip Fir'aun tho?). Setelah penggulingan si pengelola, hidup aman sentosa sejenak hingga beberapa generasi. Lalu muncullah lagi tirani, kali ini orang-orang keturunan si Gebel yang menjadi sombong, ikut menindas kelompok lain di kampung yang sama. Hingga suatu kali muncullah tokoh Rifaa, yang sebenarnya anak cucu Gebel, tapi benci dengan kesombongan mereka. Si Rifaa merasa mendapat pesan dari Gebelawi (yang tidak pernah keluar rumah dan tidak ada lagi yang tahu seperti apa bentuknya) untuk mengajarkan kedamaian dan kesabaran kepada kelompoknya, jangan terlalu haus kekuasaan seperti anak cucu Gebel yang lain. Akhirnya, Rifaa menyampaikan ini kepada teman-temannya, mengajarkan kesabaran dan kedamaian sehingga terhindar dari roh jahat yang membuat orang haus kekuasaan. Kelompok Gebel dibikin geram karena Rifaa ini membuat orang cuek dengan penguasa. Akhirnya Rifaa dibunuh... dan seterusnya dan seterusnya....
Begitulah, kisah-kisah ini sekilas memang alegori dari kisah-kisah nabi versi Qur'an. Tapi, Naguib Mahfouz sendiri tidak terlalu membatasi ke sumber-sumber itu (antara lain Surah al-Kahfi, al-Baqarah, Ali Imran, surah Maryam, an-Nisa dll). Dia lincah mengolah nama dan tokoh, meleburkan beberapa tokoh jadi satu, mengambil tokoh dari silsilah nabi lain memasukkannya ke nabi lain dll. Tapi ya, sepertinya cukup di sini saja kita beralegori-alegori, rasanya banyak yang lebih penting dari alegori untuk dibahas tentang novel ini.
Pertama, betapa kita gampang sekali lupa dengan pelajaran masa lalu! Kedua, betapa tipisnya jarak antara pemberontakan dengan ortodoksi itu. Pemberontak bisa menjadi ortodoksi begitu kondisinya sudah mapan dan lupa dengan semangat anti-kemapanannya (hehehe... lagi-lagi promosi antiestablishmentarianism
). Ketiga, terkadang saling bentrok terutama dalam urusan agama itu karena orang sudah enggan menengok lagi sumber-sumber shariah. Bagaimana para Pengelola itu menyembunyikan "Ten Conditions," yaitu sepuluh syarat yang dibuat oleh Gebelawi saat menyerahkan tanggung jawab atas propertinya kepada para pengelola, mengingatkan pada bagaimana umat beragama cenderung enggan menekuni sendiri sumber-sumber syariah, dan lebih mengandalkan syariah jadi dari orang lain. Jadi ya tidak tahu apakah sebuah praktik itu benar-benar sesuai dengan syariah apa tidak, tahu-tahu sudah konflik.
Ya kira-kira begitulah. Lagi-lagi, sayang al-sekali, karya sebagus ini malah dilarang hanya karena menggunakan kitab suci sebagai rujukan dan titik berangkat. Padahal lagi, tidak ada bau-bau menghujat menurut saya. Naguib gunakan sumber-sumber itu, tapi dikontekstualkan, dan dijadikan kisah kehidupan yang memantik rasa dan pikir. Kalau begini saja sudah dikira menghujat, well ... jangan-jangan yang mengira itu terlalu peka hidungnya, atau bahkan teralu gampang curiga. Oh ya, padahal Naguib sendiri adalah seorang yang dibesarkan dalam lingkungan Muslim yang ketat, saking ketatnya dia sampai pernah bilang di sebuah wawancara: "Kalau Njenengan lihat sendiri keluarga saya, pasti njenengan nggak akan percaya kalau dari keluarga yang seketat itu bisa lahir seorang seniman." Dia mungkin pemikir kritis yang sekuler, tapi ... saya masih curiga kalau seorang sastrawan yang peduli dengan sepak terjang manusia sampai harus menghujat agamanya, atau agama apapun... Well, well, well...
Oh ya, tambahan lagi, mungkin yang juga bikin geram para ekstrimis itu adalah jumlah bab dalam novelnya ini, yaitu... 114 bab! Hahaha... Nakal sih, tapi apa yang nakal itu selalu menghujat?
The Satanic Verses, Penghujatan Setitik (sebenarnya nggak cuma setitik sih!) Rusaklah Sastra Sebelanga
By wawan on Jul 28, 2010 | In Sastra | Send feedback »
Di postingan ini saya pingin cerita cepat-cepat saja soal The Satanic Verses karya ... yap! betul jawaban Anda sekalian, Salman Rushdie. Kayaknya Salman Rushdie sudah terlanjur sangat terkenal di kalangan kita-kita, terutama atas Satanic Verses-nya, padahal yang berkesempatan membacanya tidak banyak (konon sih!). Sejak dapat kado valentine fatwa halal-bunuh dari Ayatollah Khomeini pada 1989 lalu, popularitas Rushdie langsung melonjak pesat, karena bukunya dibakar di Asia Selatan dan Eropa dan nyawanya terancam di mana-mana. Tapi, esais, kritikus, penggosip sastra di mana-mana tak pernah lupa mengutip namanya dan Ayat-ayat Setannya kalau sudah membahas sastra dalam kaitannya dengan pengaruhnya atau dengan penghujatan. Di Indonesia, saya pernah baca beberapa esai sastra yang sempat menyinggung novel ini.
Tapi, bagaimana sih ceritanya? Begini ceritanya, bismillah tanpa bermaksud menghujat atau apa:
Saladin Chamcha dan Gibreel Farishta meluncur dari langit karena pesawat yang ditumpangi mereka dari India dibajak teroris dan diledakkan saat terbang. Anehnya, mereka jatuh dengan selamat. Saladin Chamcha adalah seorang aktor teater dari India yang belajar di Inggris dan akhirnya menjadi warga negara Inggris. Dia baru saja pulang dari kampung halaman di India. Gibreel Farishta adalah bintang film-film "spiritual" India yang, meskipun Muslim, sangat terkenal memainkan peran-peran sebagai dewa atau nabi, dan dia ke Inggris setelah ketemu Alleluia Cone, seorang perempuan penakluk Everest, jatuh cintrong dan akhirnya mengejar Alleluia ke Inggris. Belum lama sebelumnya Gibreel tiba-tiba sakit luar biasa, seperti mau mati, tidak ketahuan sebab dan obatnya, tapi tiba-tiba sembuh seketika. Dan selama sakit itu dia mulai mimpi aneh-aneh, menjadi malaikat Jibril. Oh ya, pembajakan pesawat itu tidak hanya sehari dua hari, tapi selama ratusan hari dan membikin resa orang-orang yang kenal dengan kedua korban.
Cerita menjadi aneh setelah mereka jatuh di London. Saladin Chamcha berangsung-angsur jadi mirip kambing. Dia kembali ke rumah istrinya (yang ternyata sudah pacaran, tinggal serumah dengan teman Saladin, setelah mendengar kabar pesawat yang ditumpangi suaminya diledakkan teroris). Sementara Gibreel Farishta setelah lama mencari akhirnya berhasil menemui Alleluia Cone. Mimpi-mimpi Gibreel semakin aneh. Dia merasa jadi malaikat Jibril dan bertugas menyampaikan wahyu kepada Muhammad (yang di sini disebut Mahound, sebuah nama yang dipakai para Islamofob untuk menjelek-jelekkan Rasul). Di sinilah muncul kisah ayat-ayat setan itu (sebuah kisah yang sebenarnya muncul di biografi rasulullah versi Jarir al-Tabari, salah satu biografer Rasul yang pertama). Menurut biografi versi al-Tabari ini, sebagaimana diriwayatkan Ishaq, Rasulullah pernah menerima semacam wahyu yang nyrempet-nyrempet musyrik. Ternya, beberapa hari kemudian baru sadar kalau ternyata 'wahyu' itu dari setan. Rushdie memfiksikan kisah ini dari sudut pandang Jibril.
Ternyata, mimpinya Gibreel ini tidak sembarangan, kadang-kadang mimpi2 itu mulai muncul ke alam sadar. Tingkat keanehan mimpinya pun meningkat, dan sampai ke cerita yang tidak pantas diceritakan di sini dan seterusnya. Ujung-ujungnya, saat dia tak bisa lagi membedakan mana mimpi dan mana kenyataan, ketahuanlah bahwa ternyata si Gibreel Farishta menderita schizophrenia. Sementara itu, dia berencana balik lagi ke dunia film dan membuat cerita dari mimpi-mimpinya itu. Sementara itu si Saladin Chamcha lama-kelamaan balik lagi jadi manusia dan mencoba menghubungi rekan-rekan bisnisnya. Tapi apa daya, istrinya sudah diambil orang, pacarnya sudah dipacari orang, dan pekerjaannya sudah hilang semua sejak kejadian pembajakan pesawat. Demikianlah seterusnya, pasti tidak akan cukup saya rangkum walaupun habis 20 paragraf, lha wong bukunya saja setebal batu-bata... ![]()
Bisa dipastikan, yang paling besar dampaknya dalam pengkategorian The Satanic Verses sebagai "penghujatan" atau "blasphemy" adalah bagian yang tidak saya ceritakan tadi, yaitu yang menyangkut istri-istri Rasulullah.
Dalam buku Aspects of Islam karya Ron Geaves, seorang profesor Islamic Studies di Inggris, si profesor menyebutkan bahwa The Satanic Verses itu menyerupai serangan tipikal Islamofob yang menyasar pribadi Rasulullah, yang suka menggambarkannya sebagai penggemar kawin dan sebagainya. Yang membikin semakin parah adalah karena serangan itu dilakukan oleh orang yang tumbuh di lingkungan Islam.
Sebaliknya, G.J. Rubinson, seorang dosen sastra, menganggap The Satanic Verses itu sebagai sebuah upaya mendesakralisasi kitab suci, yaitu Qur'an. Bagi Rubinson, Rushdie di sini memperlakukan Qur'an bukan sebagai sebuah kitab "suci" yang tidak boleh diapa-apakah, tetapi sebuah tulisan sastra yang bisa dipakai baik itu dipakai secara biasa, dikutap-kutip, atau dipermainkan sebagaimana layaknya teks sastra lain dipermainkan untuk menghasilkan teks-teks yang lebih baru.
Saya yakin ada yang membela Rushdie dengan mengatakan bahwa bagian-bagian yang menghujat itu "hanya" ada di dalam mimpi Gibreel Farishta yang notabene sedang mengalami gangguan jiwa. Tapi, Anthony Fisher dan Hayden Ramsay, yang menekuni bidang kajian filsafat etika, berpendapat bahwa karya blasfemi/menghujat adalah yang melukai nurani pembacanya tanpa sedikit pun menjadikan pertimbangan apakah ini di alam mimpi atau tidak. Dan sepertinya implikasi moral dari sebuah karya memang harus dipertimbangkan.
Terus, apa dalam "pengharaman" Satanic Verses ini?
Nah, karena novel ini sebenarnya sangat kaya (meskipun menyumbang judul), kisah "hujati" seputar Rasulullah ini bukanlah satu-satu isi cerita. Banyak sekali elemen lain yang disasar Rushdie di sini: tragedi, bahasa, pascakolonialitas, ketidakrukunan antar umat beragama, dll. Sayangnya, semua elemen yang lain ini jadi tidak bisa sampai ke "piring" pembaca di negara-negara yang mayoritas Islam hanya karena "setitik nila penghujatan" itu. Novel ini malah jadi lahan kajian yang subur di Inggris atau Amerika yang bebas-bebas saja membaca dan menggarap novel ini. Dr. Booker pernah bilang bahwa dia sering menemukan buku The Satanic Verses ini dalam daftar bacaan untuk berbagai bidang, "poskolonial," "poststrukturalis," "postmodernis," "realisme magis," dst. dsb. dll. dllajr.
Jadi ya... begitulah bunyinya.

