Gadis Kerudung Jingga: Islam Progresip Dalam Bingkai Novel Nyeni
By wawan on Mar 29, 2010 | In Sastra, Serbasuka | Send feedback »
Gadis Kerudung Jingga (sebenarnya judul aslinya adalah The Girl in the Tangerine Scarf) karya Mohja Kahf adalah sebuah novel perkembangan atau bahasa seriusnya bildungsroman kontemporer dalam sastra Amerika. Namun, berbeda dengan kebanyakan novel Amerika lainnya, GKJ ini hadir dalam bingkai Muslim Amerika. Memang, sejauh ini sastra Muslim Amerika relative masihdalam proses perkembangan dan masih terlalu dini untuk menentukan kecenderungan-kecenderungan utamanya. Sastra dari kalangan muslim yang berlatar Afrika Amerika biasanya tidak bisa lepas dari gerakan Black Power (Marvin X, Malcolm X, Sonia Sanchez, Imamu Amiri Baraka), yang berasal dari kalangan Muslim suni pendatang dari Timur Tengah biasanya terkait masalah imigran dan politik Timur Tengah (Suheir Hammad), yang berasal dari kalangan sufi cenderung mengusung kisah khas sufi (Irving Karchmar, Daniel Abdul-Hayy Moore). Gadis Kerudung Jingga sendiri berkisah tentang perkembangan seorang anak imigran yang menjadi Muslim progresof tanpa meninggalkan fundamen Islamnya.
Sebagai sebuah novel perkembangan Gadis Kerudung Jingga terdiri dari beberapa tahap untuk mencapai kondisi terkini. Tahap pertama adalah masa-masa penanaman fundamen Islam. Khadra, si gadis kerudung jingga, datang ke Amerika ketika dia masih sangat kecil bersama orang tuanya yang kuliah pasca sarjana dan seorang abang. Setuntas sekolah orang tuanya, mereka tinggal di sebuah lingkungan Muslim di Indiana dengan sebuah Lembaga Dakwah yang aktif, di sinilah fundamen Islam ditanamkan oleh keluarganya. Tahap kedua adalah tahap benturan. Khadra melihat bagaimana seorang lelaki Arab yang dari luar terlihat sangat kuat Islamnya memperlakukan seorang istri dengan sangat otoriter, dalam artian berani melarang-larang istrinya, dan pada akhirnya memaksa sang istri mengikuti kemana dia pergi, padahal sekolahnya tinggal sedikit lagi selesai. Di sinilah Khadra mulai menemukan satu hal yang sangat tidak disukainya dari sekelompok Muslim. Tahap ketiga adalah tahap perubahan paradigma spiritualitasnya. Jika awalnya Khadra diajari dan berpandangan bahwa satu-satunya spiritualitas, atau cara menuju Tuhan adalah melalui Islam, dan yang lain adalah salah, maka paradigma ini benar-benar berubah secara drastic ketika dia mengunjungi nenek-bibinya di Syria. Di sini, Khadra bersentuhan dengan neneknya yang sangat menggemari syair dan lagu, dan sangat menikmati indahnya hidup. Selain itu, dia juga berkenalan dengan seorang penyair yang menunjukkan kepadanya bagaimana cinta kepada Tuhan. Selain itu, dia juga tersadar ketika berkunjung ke sebuah sinagog di Damaskus, yang dianggap sebagai sinagog tertua yang masih beroperasi. Di sana dia ketemu seorang rabbi Yahudi yang ternyata adalah seorang arab lokal, sebuah fakta yang mengejutkan, mengingat sebelumnya yang dia ketahui tentang Yahudi adalah agamanya orang-orang Israel atau orang-orang yang ada di Amerika atau belahan dunia lainnya, dia tidak pernah tahu bahwa banyak orang beragama Yahudi yang tinggal di segala penjuru Arab dan hidup rukun dengan Muslim maupun umat Kristen. Tahap terakhir, atau yang dalam skema saya adalah tahap keempat, adalah tahap pembentukan kesadaran progresifnya. Di tahap ini, Khadra memutuskan untuk melepaskan diri dari lingkungan full-muslim dan mencoba melihat ke luar dan berkumpul dengan orang-orang dari berbagai latar keagamaan. Di sinilah dia mulai mengetahui orang-orang yang memiliki sudut pandang bermacam-macam tentang Islam dan permasalahan sosial, dan dengan kebijakannya sendiri dia selalu mencoba merenungkan segala permasalahan yang ditemuinya dengan bantuan ajaran Islam, kemaslahatan, dan menimbang dengan sangat jernih, atau bahkan mungkin terlalu jernih. Dan pada akhirnya dia menjadi seorang Muslim yang tetap menjaga Islamnya tanpa harus menutup diri dari orang yang beragama lain dalam pergaulannya.
Gadis Kerudung Jingga menyuarakan kritik yang bisa dibilang sangat keras terhadap kecenderungan fundamentalisme dan “tidakramahterhadappemelukagamalainisme” yang ada di kalangan umat Islam, tapi juga tetap berupaya mempertahankan martabat umat Islam. Satu hal yang paling menonjol dan mendapatkan pembahasan agak panjang adalah perihal perang teluk yang pertama. Ketika mengetahui bahwa Amerika menyerang Iraq dan melakukan “carpet-bombing,” yang kira-kira artinya adalah pengeboman secara pukul rata, dan banyak nyawa penduduk Iraq melayang, dia sangat berang. Memang benar Saddam adalah orang yang layak dibenci, tapi ketika tentara Amerika melakukan “carpet-bombing” atau bahkan “smart-bombing” (ngebom tebang pilih) masih saja banyak rakyat tak bersalah yang ikut jadi korban, sementara Saddam tetap bisa menyelamatkan dirinya. Begitu juga sikapnya terkait konflik Israel-Palestina, dia bisa berpandangan bahwa memang yang dilakukan oleh Nazi terhadap orang Yahudi sangat layak dikutuk, tapi adalah sangat tidak benar juga jika akhirnya yang dijadikan korbannya adalah orang Palestina. Dia juga tahu bagaimana anak-anak muda Palestina melempar batu untuk menyerang balik tentara Israel. Dan meskipun dia sangat menghormati keyakinan Yahudi temannya yang berdebat dengannya soal krisis Israel-Palestina itu, dia tetap saja mengeluhkan kenapa di dalam konflik yang sifatnya adalah politik dan perebutan tanah ini Israel cenderung menggunakan agama sebagai sebuah senjata untuk menjustifikasi tindakan mereka. Dan satu hal yang menarik adalah ketika dia kembali dari Damaskus dan sudah mendapatkan “pencerahan” dan menjadi Muslim yang bisa menjalankan spiritualitasnya tanpa harus hard-core Islam, dan jilbab bukan lagi sebuah keharusan mutlak, dia malah tetap memakai kerudung ketika memasuki bandara Internasional O’Hare dengan alasan memakai kerudung adalah kebanggaan etnisnya dari Syria, sebagai penonjolan identitas.
Yang juga tak kalah menonjolnya dari novel ini adalah kecenderungan multi-tasking. Kita sering mendengar bagaimana bahkan novelis besar pun sering mendapat kritikan karena karya-karya mereka terlalu cerebral (seperti misalnya novel Rumah Kaca Pramoedya Ananta Toer yang disinggungkritik oleh Ignas Kleden) atau karena dialog-dialognya lebih seperti orang yang selalu diskusi serius tiada henti. Gadis Kerudung Jingga ini bisa menghindari ini dengan cara menerapkan "multi-tasking," sesuatu yang konon merupakan kemampuan khas perempuan. Sepertinya, ini adalah cara khas Mohja Kahf dalam mengkontekskan dialog-dialognya. Dialog yang terjadi ketika sedang berbelanja harus mau disela ketika tokoh sudah menemukan lorong supermarket yang dia cari-cari. Dalam sebuah adegan sholat, Khadra terpikir tentang satu hal dan akhirnya mengalirlah alur kesadarannya atau (ehem-ehem) stream-of-consciousnessnya. Di satu titik, karena yang dipikirkannya menyenangkan, maka dia pun dalam hati bilang “alhamdulillah” dan langsung kaget dan mengubahnya jadi subhana rabial a'la karena ternyata waktu itu dia sudah sampai pada gerakan sujud. Dan puncak terganas dari multi-taskingisme ini adalah ketika Khadra berbincang-bincang dengan nenek-bibinya sambil memotong-motong dan menggoreng terong. Dialog yang mencekam itu diakhiri dengan manis (maaf, sebenarnya ini fakta yang menyentak!) dengan masuknya terong ke penggorengan.
Ketiga elemen tersebut bergabung menjadi satu menciptakan sebuah novel yang secara gagasan sangat segar dan mengundang pemikiran lebih jauh, tapi secara kriya juga sangat rapi dan layak dijadikan contoh buat para penulis pemula. Dengan ini, mungkin tidak berlebihan jika Michael Muhammad Knight dalam catatan perjalanannya Blue-Eyed Devil memberikan sebuah pujian selangit dan terima kasih yang amat sangat kepada Mohja Kahf atas saran-saran atas bukunya The Taqwacores, saran-saran atau komentar yang layaknya diberikan seorang penulis kepada penulis yang lain.
Haruskah Kaum Tercerabut Pulang Secara Fisik?
By wawan on Mar 27, 2010 | In Pambuka, Sejarah | Send feedback »
Mungkin seperti orang lain, saya menerima pertanyaan "Can the Displaced Return?" bukan sebagai pertanyaan yang meminta jawaban "ya" atau "tidak". Berbagai memoar menunjukkan beragam jawaban, ya dan tidak. Azadeh Moaveni, seorang wartawan Times dalam memoarnya yang berjudul Lipstick Jihad menunjukkan bahwa dirinya merasa terasing. Seorang yang merasa "displaced" karena kasus semacam Salman Rushdie pasti akan tetap tidak bisa kembali. Karenanya, saya membawa pertanyaan itu untuk menilik pengalaman mereka-mereka yang kembali dan berhasil. Tapi, pertanyaan saya adalah bagaimanakah kembali yang bisa berhasil itu? Saya ingin berargumen bahwa seringkali mereka yang kembali tidak secara fisik bisa berhasil. Kisah Malcolm X dalam kunjungannya ke Afrika dan kisah Rabbi Malter dalam mendukung upaya pendirian negara Israel adalah kisah semacam itu membuktikan bahwa orang-orang yang tercerabut ternyata bisa kembali, meskipun tidak harus secara fisik. Cara seseorang menghadapi pulang tergantung pada sifat ketercerabutan dan pandangan terhadap derajat prioritas kebutuhan.
Sifat Ketercerabutan
Sebagaimana lazim diketahui, masyarakat Afro-Amerika dan Yahudi Amerika adalah orang-orang yang tercerabut dari daerah asalnya dalam arti harfiah. Orang-orang Afrika yang diculik baik oleh tentara Eropa maupun penjual budak dari Afrika dibawa ke Amerika dalam kapal-kapal budak sebagaimana disebutkan dalam Slavery and the Making of America (Horton and Horton 16-18). Di Amerika mereka juga dilucuti identitas, kebudayaan, dan bahkan sebagian dilucuti agama dan namanya. Sementara orang-orang Yahudi dipaksa melarikan diri dari banyak wilayah di Rusia karena pogrom dan di Jerman karena ingin menyelamatkan diri dari rezim Nazi. Bedanya, karena orang-orang Yahudi ini pindah ke Amerika dengan usaha sendiri, mereka masih bisa melakukan persiapan ini itu sebelum berangkat ke Amerika. Mereka membawa budaya dan agama mereka ke Amerika untuk dijalankan bersama-sama dan dilestarikan. Tapi, tentunya, secara kolektif mereka masih memiliki gagasan tentang sebuah rumah, terutama dari teologi mereka yang mempercayai "exodus." Hal ini kiranya menjadi salah satu elemen penting dalam usaha "pulang" mereka.
The Autobiography of Malcolm X and The Chosen adalah dua karya yang bisa menunjukkan kedua hal ini. Sebagaimana mungkin Saudara sekalian ketahui, The Autobiography berkisah tentang hidup Malcolm mulai dari kecil hingga beberapa waktu sebelum kematiannya pada tahun 1965. Dikisahkan bagaimana orang tua Malcolm meninggal disinyalir karena diganyang orang-orang kulit putih, karena mengkampanyekan gerakan "kembali ke Afrika," sebuah gagasan yang didapatkannya dari Marcus Garvey, yang karena gagasannya itu Malcolm menyebutnya sebagai "the most controversial black man on earth" (X dan Haley 4). Kelak, setelah terjerumus dalam lembah kriminalitas, dia masuk penjara dan mengenal ajaran Nation of Islam. Sekeluar penjara dia terlibat dengan Nation of Islam dan ikut mengkampanyekan peningkatan moral masyarakat kulit hitam dan juga menuntut didirikannya negara khusus orang kulit hitam. Karena perbedaan visi dengan Elijah Muhammad, Malcolm keluar dari Nation of Islam. Di awal masa sekeluarnya dari NOI Malcolm naik haji ke Mecca dan mengunjungi beberapa negara Afrika dan menjalin kerjasama hak asasi manusia. Sekembalinya dari Afrika, dia memperjuangkan hak asasi manusia kulit hitam dengan merangkul semua elemen yang ada di Amerika, bahkan masyarakat kulit putih. Sementara itu The Chosen berkisah tentang persahabatan dua anak muda Yahudi, yang satu adalah Yahudi ortodoks yang satunya lagi dari kelompok yang disebut sebagai "ultra ortodoks," yakni Hasidiyah. Orang tua kedua bocah itu adalah imigran langsung dari Rusia yang dipaksa meninggalkan negara tersebut karena ancaman progrom. Terlepas dari kesamaan itu, mereka memiliki perbedaan vital, yakni dalam hal mengenai perlunya sebuah negara Yahudi: yang satunya menganggap bahwa pendirian negara Yahudi penting bagi kelangsungan umat Yahudi, sementara yang dari kelompok Hasidim berpandangan bahwa negara semacam itu karena sang Mesiah sendiri yang akan mengajak ke tanah terjanji. Dengan keyakinan bahwa "[we] must make our own Messiah" David Malter mendukung berdirinya negara Israel. Kelak, pemimpin Israel mengundang David Malter untuk berkunjung ke sana.
Di seluruh The Autobiography motif meninggalkan Amerika atau meninggalkan lingkungan orang kulit putih adalah sesuatu yang seringkali muncul. Ketika Malcolm masih kecil, dia sudah mendengar ayahnya mengkotbahkan teologi pembebasan Marcus Garvey yang menyuarakan semboyan keras "kembali ke Afrika" karena "[he] believed, as did Marcus Garvey, that freedom, independence and self-respect could never be achieved by the Negro in America, and that therefore the Negro should leave America to the white man and return to his African land of origin" (X and Haley 5). Kelak, ketika dia sudah menjadi anggota nation of Islam, dia kembali menggeluti satu lagi teologi pembebasan yang menyuarakan tuntutan mendapatkan negeri sendiri sehingga orang kulit hitam bisa mendirikan negara terpisah untuk masyarakat kulit hitam Amerika di mana "where we can reform ourselves, lift up our moral standards, and try to be godly," juga dilandasi dengan kesadaran bahwa lingkungan orang kulit putih sudah corrupt; ini adalah masa ketika dia menjadi anggota Nation of Islam. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan di tanah di mana mereka dicampakkan setelah pencerabutan mereka tetap merasa tidak di tempat yang tepat. Mereka tetap merasa terasing. Mereka masih membutuhkan rumah untuk menjadi tujuan kenyamanan mereka. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwasanya dalam kehidupan kelompok Afro-Amerika pernah ada masa ketika mereka benar-benar ingin pulang dan benar-benar bisa pulang. Kenneth C. Barnes, seorang dosen sejarah dari University of Arkansas dalam The Encyclopedia of Arkansas menuliskan bagaimana sejak dekade ke-2 abad ke-19 sudah ada gerakan kembali ke Afrika atas dukungan American Colonization Society, yang berhasil membawa 18.959 jiwa warga kulit hitam ke Liberia mulai tahun 1817 hingga 1865 (Samuels 55).
Berbeda dengan kelompok kulit hitam Amerika, komunitas Yahudi, khususnya mereka yang datang dari Rusia, sebenarnya mendapatkan kenyamanan hidup di Amerika setelah mereka tercerabut dari tanah asal mereka. David Malters, saat mengomentari Danny Saunders mengatakan bahwa, selain tidak adanya lagi progrom, Amerika ada tempat di mana "And Reb Saunders' son does not live in Poland. America is free. There are no walls here to hold back the Jews." Amerika adalah sebuah rumah, sebuah tempat yang nyaman untuk melarikan diri dari derita yang seringkali mengancam kehidupan mereka sebelum. Sebenarnya, dengan cara seperti inilah sebagian besar imigran melihat Amerika, sebagai tanah impian. Hal serupa tampak juga ketika, sebagai ditilik Anouar Majid, "George Washington saw America as a place of refuge for persecuted "Mohametans, Jews or Christians of any sect' and 'atheists'." (Majid location 332) dan diperkuat dengan adanya dukungan serius Amerika terhadap keselamatan warga Yahudi ketika menghadapi Jerman di perang dunia kedua. Hal ini nantinya juga akan sangat mempengaruhi cara mereka menyikapi gagasan pulang ke tanah leluhur.
Gagasan Pulang
Gagasan pulang sendiri bukan sebuah gagasan yang tetap di kalangan Afro-Amerika. Marcus Garvey, salah satu tokoh terkemuka dalam kancah Black Nationalism, mengutarakan gagasan "Africa for the Africans"--yang merupakan sebuah istilah temuan Delaney pada tahun 1854 (Samuels 55). Saat itu, yang terpenting adalah bagaimana caranya mengajak semua orang Afro-Amerika pulang ke Afrika. Satu-satunya cara menyelamatkan hidup adalah dengan kembali ke tanah Afrika. Dalam The Autobiography hal ini disinggung pada awal sekali ketika diceritakan bagaimana ayah Malcolm menjadi seseorang yang dibenci orang kulit putih ini karena mengkampanyekan gerakan pulang ke Afrika. Noble Drew Ali, dengan pengaruh yang kuat dari ajaran Garvey, menganjurkan pulang "spiritually and mentally" ke Afrika dengan asumsi bawasanya ini adalah "eminently more feasible way to return to the homeland" (Berg loc. 2435-2439). Sementara itu, Elijah Muhammad mengolah ajaran Marcus Garvey dan Noble Drew Ali ini dan "took the race consciousness of Drew Ali to the next level, race supremacy, and transformed the return to the homeland to a demand for the separation of Blacks and Whites, and for a separate nation within the continental United States" (Berg loc. 2435-2439), tetapi sambil tetap mempertahankan gagasan pulang secara "spiritually and mentally" ke Afrika dengan gagasan bahwa Islam adalah "natural religion of the black man" (X dan Haley 170-1), dan kota Mekkah juga ditambahkan sebagai sebuah sasaran pulang secara mitologis. Di sini terlihat bagaimana gagasan pulang itu berubah dari sekedar pulang ke Afrika, menjadi pulang secara spiritual, dan pulang secara spiritual ditambah tinggal secara terpisah dari orang kulit putih. Dari sini, terlihat perkembangan dari sekedar bersama dengan orang kulit hitam, menjadi bersama orang kulit hitam DAN mempraktikkan spiritualitas orang kulit hitam sepenuhnya. Dan kendala jarak, dan tentunya ketidakmungkinan menemukan kembali tanah asli asal leluhur, menjadikan gagasan pulang itu sebagai sesuatu yang benar-benar berbeda: pulang bisa dilakukan di sini dan dengan cara ini.
Gagasan pulang ada sesuatu yang dilematis bagi kaum Yahudi Amerika. Menurut Rotenstreich, "[t]he special relationship between the Jewish people and the Land of Israel [return destiantion] was conceived in the traditional religious context as a relation based on promise, destiny and the overcoming of the exile" (Rotenstreich 47). Ketiga hal ini tidak bisa dilepaskan. Kaum Yahudi Amerika, meskipun lahir dan dibesarkan di berbagai belahan dunia, berpegangan bahwa tujuan "pulang" mereka bukanlah negara-negara itu, karena mereka percaya bahwa "promise" dan "destiny" itu mengatakan bahwa tujuannya adalah "Land of Israel." Dalam novel The Chosen, dengan demikian, pulang bukan lagi Rusia. Mereka percaya bahwa tujuan pulang itu adalah Jerusalem, yang kelak harus dijadikan Negara Israel. Namun, yang membikin perihal pulang ini agak dilematis adalah bagian ketiga, yakni "the overcoming of the exile," karena ini bisa berarti bahwa setiap tempat di mana mereka bisa menanggulangi "exile" memiliki kualifikasi tujuan pulang. Dalam The Chosen, ada kesan yang kuat bahwa Amerika memenuhi syarat sebagai "home" atau "tujuan pulang," sebagaimana terlihat pada sikap David Malter terhadap keterlibatan Amerika dalam perang dunia ke-2 dan selain itu juga pada kematian president Roosevelt, presiden yang menyelamatkan kehidupan banyak orang dengan "the hope he had brought to the country during the Depression (Potok ...). Tapi, bagaimanapun, bagi kaum Yahudi di tempat lain yang tidak bisa memenuhi satu pun dari ketiga poin tersebut, pulang ke "Land of Israel" adalah sesuatu yang tetap harus diperjuangkan, apalagi mengingat telah adanya enam juta nyawa orang Yahudi yang harus melayang karena dibantai oleh Hitler.
Kesamaan kepentingan antara mereka yang ada di "rumah" dan ada di "away" menimbulkan kedekaan. Hal ini bisa terlihat pada bagaimana Malcolm X mendapat sambutan yang sangat bagus ketika melakukan kunjungan di Afrika. Dari Afrika, dia bisa melihat bagaimana bangsa-bangsa Afrika mulai bangkit melawan penindasan yang telah mereka alami selama beberapa waktu. Mereka juga mulai mengangkat isu-isu hak asasi manusia ke meja PBB untuk mendapatkan penanganan yang serius. Malcolm mendapatkan dukungan dari para pemimpin Afrika. Mereka menerima Malcolm X seolah-olah dia adalah “anak yang pulang.” Disebut-sebut di situ bahwa dia adalah orang Afro-Amerika pertama yang “pulang” ke Afrika setelah W.E. B. DuBois yang akhirnya menghabiskan sisa masa hidupnya kembali ke Afrika.Tapi, Malcolm mengatakan bahwa "physically we Afro-Americans might remain in America, fighting for our Constitutional rights, but that philosophically and culturally we Afro-Americans badly needed to "return" to Africa -- and to develop a working unity in the framework of Pan-Africanism" (X and Haley 383). Di sini, yang dimaksud "philosophically and culturally" sebenarnya adalah upaya "return" yang sudah diupayakan oleh Malcolm melalui gerakan Black Nationalism yang dia gerakkan, seperti misalnya dengan memeluk Islam, yang secara statistik merupakan agama sekurang-kurangnya 30 persen dari orang Afrika yang dibawa ke Amerika pada masa perbudakan, sebagaimana diacu di atas. Dan kedatangan Malcolm ke tanah Afrika ini juga bisa dianggap sebagai upaya pulang untuk meminta dukungan mendesak Amerika menghentikan rasialisme yang dikenakannya kepada masyarakat Afro-Amerika, yang mirip dengan dukungan yang diberikan masyarakat Afrika kepada korban apartheid di Afrika Selatan.
Hal yang sama juga terlihat pada The Chosen. Di dalam novel ini, dukungan yang diberikan oleh David Malter dalam penggalangan dukungan dari kalangan warga Yahudi, khususnya dari kalangan pengusaha Yahudi di New York, menunjukkan adanya kepentingan yang sama dengan beberapa orang yang sudah terlebih dulu masuk ke kawasan Jerusalem yang saat ini masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Inggris. Upaya-upaya ini dipicu oleh jatuhnya korban, baik dari masa Nazi maupun dari masa usaha terorisme kalangan Yahudi pendatang di Jerusalem terhadap Inggris. Kesamaan visi dalam menciptakan sebuah tempat pulang itulah yang akhirnya mendekatkan. Kesadaran global seperti ini berbeda dengan hubungan-hubungan antara imigran yang tidak terikat hubungan dengan tanah asal, baik secara fisik maupun secara cita-cita. Pada kelompok-kelompok yang disebut terakhir ini, kemungkinan gagalnya upaya pulang akan lebih besar. Satu contoh kegagalan semacam ini bisa ditemukan pada novel Portnoy's Complaint, di mana tokoh Alexander Portnoy selalu terjebak salah pengertian dan gagal komunikasi dengan gadis-gadis yang dia inginkan di Israel; Portnoy tidak memiliki cita-cita yang mengikatnya dengan tanah Israel, dan bahkan dia secara pribadi sudah "muak" dengan identitas Yahudinya, sementara gadis-gadis yang dia inginkan itu adalah gadis-gadis yang mencurahkan tenaganya untuk cita-cita Israel dan tentu saja benci kepada orang Yahudi yang bahkan tidak menghargai upaya mereka mewujudkan tanah terjanji bagi kaum Yahudi. Kembali ke The Chosen, kesamaan cita-cita Malter dengan warga Yahudi di Israel, peran besar David Malter dalam membantu perjuangan Zionisme dari jauh, bisa dibilang adalah jaminan penerimaan warga Israel atas Malter, meskipun toh Malter sendiri tidak berkesempatan pulang secara fisik ke Israel.
Pada akhirnya, terwujudlah benar-benar hubungan erat antara mereka yang ada di "home" dan yang ada di "away" tanpa harus benar-benar pulang. Malcolm X mendapatkan dukungan yang erat dengan Afrika, dan bahkan dipercaya sebagai anak yang pulang, tetapi dia tetap kembali ke Amerika. Putusnya hubungan antara "home" dengan "away" sudah tersambung kembali, baik secara philosophical, cultural, bahkan personal, dalam artian kedua belah pihak sama-sama tahu akan ada hubungan, berbeda dengan misalnya kembali ke Afrika versi Drew Ali yang bisa dibilang tidak memerlukan keterlibatan hubungan aktif dengan orang Afrika. Yang tersisa bagi Malcolm adalah menyelesaikan permasalahan besar di Amerika, yakni memperjuangkan hak asasi warga Afro-Amerika. Sementara itu, bagi kaum Yahudi orthodox modern di Amerika, hubungan dengan warga Yahudi yang lainnya di tempat yang mereka percaya sebagai Land of Israel sudah terbentuk. Kedekatan yang meskipun bukan fisik itu sudah menyerupai kepulangan fisik. Kaum Yahudi yang di Amerika mendapatkan kenyamanan, dan seolah tidak perlu lagi tempat untuk pulang. Yang tersisa adalah perjuangan kaum Yahudi Israel yang memperjuangkan pemenuhan atas kebutuhan-kebutuhan yang tak dapat mereka nikmati ketika berada di pengasingan.
Simpulan
Di Amerika, di antara kelompok-kelompok orang yang tercerabut dari tanah asalnya, dua kelompok yang paling dominan adalah kelompok Afro-Amerika dan warga Yahudi. Sebagai kelompok yang memiliki masalah terkait ketercerabutannya, masing-masing memiliki pandangannya sendiri terkait kampung halaman, atau tempat kembali. Masyarakat Afro-Amerika, yang tercerabut karena perbudakan dan pada paruh pertama abad ke-20 plus beberapa tahun setelahnya mendapat berbagai masalah karena perlakuan yang tidak adil dan kurangnya semangat, melihat rumah sebagai sebuah di mana mereka bisa mendapatkan keadilan. Ada upaya untuk pulang secara fisik ke tanah Afrika. Namun, khusus di kalangan pemeluk agama yang terinspirasi Islam, ada keinginan untuk kembali secara mental dan spiritual ke Afrika. Di bagian akhir kisah hidup Malcolm X, dia juga mencoba "pulang" secara fisik ke Afrika, dan dia juga diterima dengan baik oleh para pemimpin negara-negara Afrika. Tapi, karena pulang secara keseluruhan mustahil dan tidak menyelesaikan masalah, maka mereka memilih untuk pulang secara mental dan spiritual ke Afrika tapi secara fisik tetap di Amerika untuk memperjuangkan hak asasi masyarakat kulit hitam. Sementara itu, bagi kelompok Yahudi yang secara fisik tercerabut dari negara-negara Eropa khususnya, tapi secara leluhur tidak berasal dari Eropa, gagasan pulang dilandasi oleh keinginan untuk bisa menjalankan dan mengungkapkan segala potensi dan menghindari persekusi. Bagi warga Yahudi yang datang ke Amerika, di mana bisa mengungkapkan segala ekspresi, sebagian dari tujuan "pulang" telah terpenuhi. Tapi, bagi warga Yahudi lainnya yang masih belum bisa mendapatkan kebebasan, gagasan pulang harus diwujudkan, dan salah satunya adalah dengan pendirian negara Yahudi Israel. Di dalam The Chosen, tokoh David Malter ikut menggalang dana dan mendukung perjuangan untuk pulang, yang mendapat sambutan positif dari warga Yahudi yang sudah berada di Israel. Ini adalah upaya untuk pulang, tapi tidak secara fisik. Jadi, tepatlah kiranya jika saya menanyakan: "Should the Displaced Physically Return?"
Sumber:
X, Malcolm and Alex Haley. The Autobiography of Malcolm X. New York: Ballantine Books. 1992 (1965). Print.
Potok, Chaim. The Chosen. New York: Fawcett Columbine, 1967. Print.
Rotenstreich, Nathan. Zionism: Past and Present. New York: State University of New York Press. 2007. Print.
Walker, Clarence E. We Can't Go Home Again. New York: Oxford University Press, Inc. 2001. Print.
Samuels, Wilfred. Encyclopedia of African-American Literature. New York: Facts on File, Inc. 2007. Print.

