• sastra
  • nerjemah
  • diari
  • link

Berbagi Mimpi

Tempat Mimpi yang Muluk-muluk Dikonservasi
  • Home
  • Contact
  • Log in
  • Berbagi Mimpi

  • Search




  • Categories

    • All
    • Bahasa
    • Fenomena
    • Pambuka
    • Sastra
    • Sejarah
    • Serbasuka
  • The requested Blog doesn't exist any more!
  • XML Feeds

    • RSS 2.0: Posts, Comments
    • Atom: Posts, Comments
    • _rss: Posts, Comments
    What is RSS?

Kedudukan Mengetik dalam Dunia Kepenulisan Indonesia Pasca-Reformasi :D

By wawan on Jul 1, 2010 | In Serbasuka, Fenomena | Send feedback »

Saya baru menemukan satu teori, yang mungkin tidak terlalu teori mengingat tingkat kepentingannya. Saudara sekalian mungkin tahu kalau tidak ada yang tidak penting menurut saya; semua penting, bahkan yang renik-renik, bahkan yang konyol, yang mungkin buat Anda sekalian hanya buang-buang waktu saja kalau dipikirkan. Teori baru saya itu berbunyi begini: untuk bisa mencurahkan pikiran dalam tulisan dengan sebaik-baiknya, kita harus tidak merasakan proses fisik menulis itu sendiri, atau tidak perlu kita repot dengan urusan fisiknya menulis seperti menggerakkan jari-jari di atas komputer atau di atas kertas.

Pengamatan itu berasal dari pengalaman. Sekitar tiga tahun lalu, saya berkesempatan membeli sebuah hp PDA (Personal Digital Assistant). PDA saya itu layarnya lebar dan bisa dipasangi kibord qwerty, sehingga agak enak untuk mengetik. Nah, sayangnya setiap kali mengetik di PDA itu, saya sering gagal daripada tidak. Gagal dalam artian saya tidak berhasil mencurahkan isi kepala dan menghasilkan sebuah tulisan yang utuh (sepertinya di sini kita sudah sepakat untuk tidak membahas soal kualitas tulisan, hahaha... utuh saja sudah bagus menurut saya :D). Kenapa tidak pernah berhasil?

Alasan kegagalan itu adalah karena saya tidak pernah bisa benar-benar berkonsentrasi pada isi pikiran yang ingin saya ucapkan. Pikiran saya seorang teralihkan oleh sensasi unik yang saya rasakan ketika menekan kunci-kunci kibord qwerty itu. Rasanya unik, lembut, tapi ada bunyi klik yang mantap. Dan lagi, karena kibord qwerty-nya itu kecil, saya jadi sering salah tekan dan harus menghapus dan mengoreksi lagi, padahal jumlah kuncinya tidak sama dengan kibord komputer biasa, jadi agak rumit bahkan untuk menghapus saja. Nah, sepertinya terlalu banyak urusan detil itulah yang membikin saya gagal menulis di PDA tersebut.

Setelah saya amati lagi, ternyata hal yang seperti itu juga terjadi waktu saya ingin menulis di HP saya. Bisa dibilang, menuntut terlalu banyak aturan. Kalau kita pakai cara konvensional, kita harus mengikuti aturan menekan tombol 2 dua kali untuk bisa mendapat huruf B, menekan tombol 3 tiga kali untuk menghasilkan huruf F dan seterusnya. Atau, kalau pakai T9, kita jadi harus bingung karena ada pola aneh yang harus kita ikuti, apalagi kalau di layar HP sudah muncul alternatif kata lain; dijamin pikiran kita akan teralih--setidaknya pikiran saya sih teralih, mungkin Anda juga. Dan mungkin itulah alasan terbesar saya tidak membeli iPad kemarin, karena waktu saya coba mengetik di iPad di sebuah toko elektronik, saya seringkali salah ketik dan harus terus-terusan memelototi gambar kibordnya karena tidak ada tonjolan di huruf F dan J-nya. Mana bisa menulis saya kalau harus repot melotot ke tombol kibord? Akhirnya saya putuskan tidak beli. Tapi, mungkin itu dalih saya saja, soalnya sebenarnya sih saya nggak punya duit sebanyak itu buat beli iPad, hahaha...

Nah, ujung-ujungnya, kenyamanan menulis terbesar sejauh ini saya temukan hanya di komputer konvensional, di mana saya bisa menggerakkan kesepuluha jari saya senaturan berjalan di atas kedua kaki saya atau melihat dengan kedua mata saya atau nyetir sepeda dengan kedua tangan plus genjotan dua kaki atau bernafas dengan paru-paru saya. Semuanya itu berjalan dengan natural. Saya tidak perlu repot mengurusi hal ihwal fisik terkait menggerakkan jari-jari di kibord dan sebagainya. Alhasil, saya lebih bisa memfokuskan pikiran ke isi tulisan. Njenengan mungkin akan bilang, "Kan bisa saja kita mengacuhkan urusan menulis dan salah ketik dan baru kita perbaiki nanti setelah semuanya selesai?" Ya, mungkin saja sih. Tapi, kalau menurut saya, lha wong mengetik "natural" dengan kibord komputer yang selengkap itu saja masih dipenuhi kemungkinan salah ketik dan selip logika dan ketidaksempurnaan hasil akhir dan mengharuskan proses editing yang tidak cuman sebentar, terus gimana lagi dengan mengoreksi salah ketik dari proses menulis yang bermasalah? Hmmm... kalau saya sih lebih baik menghemat jatah waktu saya...

Akhirul posting, saya punya satu argumen tentang kenapa orang-orang bikin alat menulis yang tidak natural seperti itu padahal kita sering bermasalah dengan mereka: pertama, mungkin alat-alat itu dibuat untuk tujuan selain mencurahkan pikiran dalam bentuk tulisan yang standar, dalam artian mungkin alat-alat itu dibuat untuk tujuan semacam kirim pesan singkat, update status facebook, bikin cuitan di twitter, dst, dan kedua, mungkin karena mereka ingin mengklaim diri menjadi bagian dari diri kita, yang ingin selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan dalam hidup kita padahal sebenarnya kita tidak terlalu membutuhkan mereka.

Atau, kalau kedua argumen itu tidak berlaku, mungkin masalah dari semua ini adalah: itu semua mungkin pandangan subyektif saya, hahaha...

salaam

Di Balik Terjemahan Sastra yang Unik

By wawan on Jun 30, 2010 | In Sastra | 1 feedback »

Berikut sebuah postingan saya di milis Apresiasi Sastra sebagai balasan atas postingan Salahuddin GZ tentang buku baru karya Helen Keller dari penerbitnya.

Oke Cak Udin, semoga lagu keras! Btw, saya kenal secara pribadi sama penerjemahnya. Orangnya tekun banget dan ... ada satu cerita yang ingin saya bagi dengan Saudara-saudaraku seApsas-sepenanggungan ini.

Suatu kali saya tertarik membaca sastra anak, sekitar 4 tahun yang lalu. Pak Sugeng Hariyanto, seorang penerjemah terkemuka di Malang yang juga ketua Masyarakat Penerjemah Malang (MPM), menyarankan saya membaca beberapa buku, yang kesemuanya terjemahan anggota MPM. Salah satu buku yang menarik untuk kita bicarakan di sini adalah Anastasia Krupnik: Misteri Rumah Baru, terbitan salah satu lini Mizan.

Yang mengesankan dari buku itu adalah terjemahannya yang sangat rapi dan ngepas. Yang saya maksud ngepas di sini adalah sangat pas sebagai sebuah buku sastra anak-anak. Bahasanya tidak seliar atau senyastra buku kita, tapi juga tidak datar seolah-olah dibikin sebiasa mungkin untuk konsumsi anak-anak. Saya bayangkan terjemahan itu bakal enak dibaca anak-anak.

Saya pun penasaran dengan penerjemahnya (padahal aslinya cuma tertarik sastra anak-anaknya. Saya pun menulis review atas buku ini untuk sebuah koran.

Beberapa waktu kemudian, karena berbagi pekerjaan sesama penerjemah bahan-bahan korporat dan LSM, kenallah saya dengan penrejemahnya yang ternyata tinggal di Kediri (padahal anggota Masyarakat Penerjemah Malang :D). Pada suatu kesempatan, saya sowan ke Kediri, tepatnya ke si penerjemah M. Rudi Atmoko ini.

Di sana, sambil makan pecel berlauk tempe anget, saya menyempatkan diri tanya tentang terjemahan Anastasia Krupnik tersebut. Ternyata penerjemahan tersebut tidak dia lakukan seorang diri. Jangan berburuk sangka dulu... Maksud saya: Pak Rudi ini punya seorang putri yang kalau tidak salah usianya masih awal belasan waktu pak Rudi menerjemahkan Anastasia Krupnik itu. Si putri suka baca. Nah, waktu Pak Rudi menerjemah itu, katanya, dia minta putrinya ikut mengecek terjemahannya, apakah cukup natural untuk anak-anak, mana yang kira-kira bisa ditambah, dan sebagainya. Seingat saya, dalam perbincangan itu pak Rudi bilang bahwa sebenarnya tidak seratus persen puas. Ah, mungkin saya yang lupa :D. Yang jelas begitulah kira-kira kenapa terjemahan Anastasia Krupnik: Misteri Rumah Baru bisa seunik itu...

Nah, sekarang, saya penasaran bagaimana terjemahan buku Helen Keller ini. Dengan siapa lagi pak Rudi "berkolaborasi" untuk menghadirkan terjemahan yang (semoga) unik ini?

Salaam...

<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 ... 45 >>
  • Postingan2 Kemarin

    • Children of Gebelawi: Nakal sih iya, tapi apa benar menghujat?
    • The Satanic Verses, Penghujatan Setitik (sebenarnya nggak cuma setitik sih!) Rusaklah Sastra Sebelanga
    • Antara Kutipan (Yg Disinyalir Dari) John Lennon Download Lagu Gratis "Defensus Mechanismus"
    • Osama Van Halen
    • Kedudukan Mengetik dalam Dunia Kepenulisan Indonesia Pasca-Reformasi :D
    • Di Balik Terjemahan Sastra yang Unik
    • Mengenal Unsur Gaya
    • Dua Buku Kumpulan Cerpen Si Pemimpi
    • Turut Berduka Cita
    • Allaahu Akbar wal-Open
    • *** Adalah ... (Apakah *** itu?)
    • Like a Mosque with no Imam
    • Faith and Fate, Muslim and Muscle, Sad and Glad
    • Menulis apa Bercerita?
    • Apakah Kita Kenal "Fact-checker"?
    • Hubungan dengan Bahasa Indonesia
    • Mengubur Duit 50 Rupiah
    • Jarinya Sebesar Pisang Ambon
    • Erasure: Penulis dan Pengharapan Pembacanya
    • Pesawat Murdock
    • Catatan Harian Seorang Pemimpi
    • Gadis Kerudung Jingga: Islam Progresip Dalam Bingkai Novel Nyeni
    • Haruskah Kaum Tercerabut Pulang Secara Fisik?
    • Bersama Kaum Beriman: Masyarakat Islam '80 di Mata V.S. Naipaul
    • Komentar Atas Perbandingan Sepotong Senja dan Sepotong Bibir
    • Simpulan V.S. Naipaul Buat Pengunjung Amrikiyya Syarekah
    • Angsa Terpanah Beberapa Bulan - Sebuah Studi Perbandingan
    • Ibn 'Arabi dari Three Muslim Sages
    • Kebijaksanaan Dusun
    • The Trouble with Islam: Pertanyaannya Dihargai, Jawabannya Dicurigai
    • Archives
    • Latest comments
  • Sponsor

    Terima kasih
    Free Website Hosting
    atas penyediaan hosting gratisnya....

    Creative Commons License
    This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 3.0 United States License.
blogging tool

©2010 by wawan eko yulianto | Contact | evoCamp skin | Recommended sites: Best Web Hosting and Domain Name Registration. Created with Website Builder Software | | blog soft | UK web hosting | adsense