Sejumlah Poin on Nabi Tanpa Wahyu
By wawan on Jul 15, 2008 | In Sastra | 2 feedbacks »
Ada sih beberapa poin yang ingin saya tulis tentang Nabi Tanpa Wahyu:
1. kesangatbebasan si hudan hidayat
2. sikap hudan hidayat yang mengkampanyekan orisinalitas dengan begitu sangatnya hingga bersikap agak anti sikap mengambil wacana "dunia" (begitu dia menyebut wacana pemikiran barat) dengan begitu saja tanpa mencoba menandinginya.
3. sikap hudan yang "melawan" banyak "orang" sekelas budi darma dan iwan simatupang, dan dengan lumayan obsesif menunjukkan cacat-cacat mereka, tapi untuk orang-orang semacam fadjroel rahman, chavchay, dst. hudan "hanya" memperhatikan poin-poin kuat (atau yang hudan sukai dari mereka)... yang mana menegaskan pernyataan hudan di salah satu esai bahwa kritik sastra di indonesia itu (kira-kira) hanya ditulis teman sendiri.
4. sikap hudan yang anti takingforgranted wacana-wacana internasional tapi memandang novel orang asingnya albert camus lebih dengan sikap memuja, bukan kritis
5. aromanya lebih berupa apresiasi kreatif tinimbang kritik(nah, inilah yang patut dihargai dari upaya seorang novelis yang mencoba mengapresiasi dunia di sekelilingnya)
Sementara begitu saja dulu. Untuk lebih lengkapnya, kayaknya ya nanti kalo saya sudah benar-benar bisa menuliskan resensi yang utuh.
Well, well, well ... selain buku, kita butuh sesuatu yang hebat untuk bisa menulis resensi: WAKTU!!!
Salam
Menghudan Tanpa Wahyu
By wawan on Jul 14, 2008 | In Sastra | Send feedback »
Sebenarnya sudah agak lama saya pingin menulis sebuah review yang utuh, seperti pada kehidupan-kehidupan saya sebelumnya (alah!). Tapi ya, kesibukan mengejar kekayaan duniawi telah mengalienasi saya (halah! lagi). Tapi... jangan kuatir, minggu-minggu terakhir ini, ketika dunia tak lagi mampu mengekang saya, ketika Tuhan benar-benar mewujudkan impian saya (aamiiin), saya mulai lagi deh bisa merencanakan sebuah review yang utuh.
Sebuah resensi yang utuh, bagi si Pemimpi yang blogger jelata yang memiliki benih-benih narsis varietas unggul ini, adalah sebuah resensi yang dilandasi oleh semangat belajar, benar-benar belajar, syukur-syukur tanpa ada penyusup yang namanya "ingindimuatdikompas". Ya, tanpa ada penyusup itu. Kalo Kompas mau memuat ya... itu kan efek sampingan saja.
Terus, review apa yang pingin saya tulis itu? Ya, pasti, review itu adalah review atas buku Nabi Tanpa Wahyu-nya Hudan Hidayat. Kenapa harus buku itu? Ya, karena, unpungkirily (ini bahasa inggris baru, artinya, "tak dapat dipungkiri"), perkenalan saya di milis apsas dengan dia dan berlanjut di multiply, benar-benar membuat saya ingin tahu bagaimana sesungguhnya Hudan yang Hidayat ini.
Setelah saya baca-baca lagi bukunya (yang sudah saya beli berbulan-bulan berselang dan bahkan sudah saya singgung di berbagi mimpi v.0.1), saya semakin menemukan sejumlah keunikan dan ... well ... kelayakkritikan Hudan Hidayat yang saya rasa akan sangat berharga untuk saya pelajari selaku seorang calon penulis novel top ini (wekekekek).
Ya, tunggu saja deh, saya akan bikin review yang sekomprehensif mungkin dalam beberapa hari ke depan, dan akan saya muatkan di media kebanggaan saya wawanekoyulianto.multiply.com. Dan kalau ada koran yang kepincut ya monggo saja (alah!!!).

