• sastra
  • nerjemah
  • diari
  • link

Berbagi Mimpi

Tempat Mimpi yang Muluk-muluk Dikonservasi
  • Home
  • Contact
  • Log in
  • Berbagi Mimpi

  • Search




  • Categories

    • All
    • Bahasa
    • Fenomena
    • Pambuka
    • Sastra
    • Sejarah
    • Serbasuka
  • The requested Blog doesn't exist any more!
  • XML Feeds

    • RSS 2.0: Posts, Comments
    • Atom: Posts, Comments
    • _rss: Posts, Comments
    What is RSS?

The Satanic Verses, Penghujatan Setitik (sebenarnya nggak cuma setitik sih!) Rusaklah Sastra Sebelanga

By wawan on Jul 28, 2010 | In Sastra | Send feedback »

Di postingan ini saya pingin cerita cepat-cepat saja soal The Satanic Verses karya ... yap! betul jawaban Anda sekalian, Salman Rushdie. Kayaknya Salman Rushdie sudah terlanjur sangat terkenal di kalangan kita-kita, terutama atas Satanic Verses-nya, padahal yang berkesempatan membacanya tidak banyak (konon sih!). Sejak dapat kado valentine fatwa halal-bunuh dari Ayatollah Khomeini pada 1989 lalu, popularitas Rushdie langsung melonjak pesat, karena bukunya dibakar di Asia Selatan dan Eropa dan nyawanya terancam di mana-mana. Tapi, esais, kritikus, penggosip sastra di mana-mana tak pernah lupa mengutip namanya dan Ayat-ayat Setannya kalau sudah membahas sastra dalam kaitannya dengan pengaruhnya atau dengan penghujatan. Di Indonesia, saya pernah baca beberapa esai sastra yang sempat menyinggung novel ini.

Tapi, bagaimana sih ceritanya? Begini ceritanya, bismillah tanpa bermaksud menghujat atau apa:

Saladin Chamcha dan Gibreel Farishta meluncur dari langit karena pesawat yang ditumpangi mereka dari India dibajak teroris dan diledakkan saat terbang. Anehnya, mereka jatuh dengan selamat. Saladin Chamcha adalah seorang aktor teater dari India yang belajar di Inggris dan akhirnya menjadi warga negara Inggris. Dia baru saja pulang dari kampung halaman di India. Gibreel Farishta adalah bintang film-film "spiritual" India yang, meskipun Muslim, sangat terkenal memainkan peran-peran sebagai dewa atau nabi, dan dia ke Inggris setelah ketemu Alleluia Cone, seorang perempuan penakluk Everest, jatuh cintrong dan akhirnya mengejar Alleluia ke Inggris. Belum lama sebelumnya Gibreel tiba-tiba sakit luar biasa, seperti mau mati, tidak ketahuan sebab dan obatnya, tapi tiba-tiba sembuh seketika. Dan selama sakit itu dia mulai mimpi aneh-aneh, menjadi malaikat Jibril. Oh ya, pembajakan pesawat itu tidak hanya sehari dua hari, tapi selama ratusan hari dan membikin resa orang-orang yang kenal dengan kedua korban.

Cerita menjadi aneh setelah mereka jatuh di London. Saladin Chamcha berangsung-angsur jadi mirip kambing. Dia kembali ke rumah istrinya (yang ternyata sudah pacaran, tinggal serumah dengan teman Saladin, setelah mendengar kabar pesawat yang ditumpangi suaminya diledakkan teroris). Sementara Gibreel Farishta setelah lama mencari akhirnya berhasil menemui Alleluia Cone. Mimpi-mimpi Gibreel semakin aneh. Dia merasa jadi malaikat Jibril dan bertugas menyampaikan wahyu kepada Muhammad (yang di sini disebut Mahound, sebuah nama yang dipakai para Islamofob untuk menjelek-jelekkan Rasul). Di sinilah muncul kisah ayat-ayat setan itu (sebuah kisah yang sebenarnya muncul di biografi rasulullah versi Jarir al-Tabari, salah satu biografer Rasul yang pertama). Menurut biografi versi al-Tabari ini, sebagaimana diriwayatkan Ishaq, Rasulullah pernah menerima semacam wahyu yang nyrempet-nyrempet musyrik. Ternya, beberapa hari kemudian baru sadar kalau ternyata 'wahyu' itu dari setan. Rushdie memfiksikan kisah ini dari sudut pandang Jibril.

Ternyata, mimpinya Gibreel ini tidak sembarangan, kadang-kadang mimpi2 itu mulai muncul ke alam sadar. Tingkat keanehan mimpinya pun meningkat, dan sampai ke cerita yang tidak pantas diceritakan di sini dan seterusnya. Ujung-ujungnya, saat dia tak bisa lagi membedakan mana mimpi dan mana kenyataan, ketahuanlah bahwa ternyata si Gibreel Farishta menderita schizophrenia. Sementara itu, dia berencana balik lagi ke dunia film dan membuat cerita dari mimpi-mimpinya itu. Sementara itu si Saladin Chamcha lama-kelamaan balik lagi jadi manusia dan mencoba menghubungi rekan-rekan bisnisnya. Tapi apa daya, istrinya sudah diambil orang, pacarnya sudah dipacari orang, dan pekerjaannya sudah hilang semua sejak kejadian pembajakan pesawat. Demikianlah seterusnya, pasti tidak akan cukup saya rangkum walaupun habis 20 paragraf, lha wong bukunya saja setebal batu-bata... :D

Bisa dipastikan, yang paling besar dampaknya dalam pengkategorian The Satanic Verses sebagai "penghujatan" atau "blasphemy" adalah bagian yang tidak saya ceritakan tadi, yaitu yang menyangkut istri-istri Rasulullah.

Dalam buku Aspects of Islam karya Ron Geaves, seorang profesor Islamic Studies di Inggris, si profesor menyebutkan bahwa The Satanic Verses itu menyerupai serangan tipikal Islamofob yang menyasar pribadi Rasulullah, yang suka menggambarkannya sebagai penggemar kawin dan sebagainya. Yang membikin semakin parah adalah karena serangan itu dilakukan oleh orang yang tumbuh di lingkungan Islam.

Sebaliknya, G.J. Rubinson, seorang dosen sastra, menganggap The Satanic Verses itu sebagai sebuah upaya mendesakralisasi kitab suci, yaitu Qur'an. Bagi Rubinson, Rushdie di sini memperlakukan Qur'an bukan sebagai sebuah kitab "suci" yang tidak boleh diapa-apakah, tetapi sebuah tulisan sastra yang bisa dipakai baik itu dipakai secara biasa, dikutap-kutip, atau dipermainkan sebagaimana layaknya teks sastra lain dipermainkan untuk menghasilkan teks-teks yang lebih baru.

Saya yakin ada yang membela Rushdie dengan mengatakan bahwa bagian-bagian yang menghujat itu "hanya" ada di dalam mimpi Gibreel Farishta yang notabene sedang mengalami gangguan jiwa. Tapi, Anthony Fisher dan Hayden Ramsay, yang menekuni bidang kajian filsafat etika, berpendapat bahwa karya blasfemi/menghujat adalah yang melukai nurani pembacanya tanpa sedikit pun menjadikan pertimbangan apakah ini di alam mimpi atau tidak. Dan sepertinya implikasi moral dari sebuah karya memang harus dipertimbangkan.

Terus, apa dalam "pengharaman" Satanic Verses ini?

Nah, karena novel ini sebenarnya sangat kaya (meskipun menyumbang judul), kisah "hujati" seputar Rasulullah ini bukanlah satu-satu isi cerita. Banyak sekali elemen lain yang disasar Rushdie di sini: tragedi, bahasa, pascakolonialitas, ketidakrukunan antar umat beragama, dll. Sayangnya, semua elemen yang lain ini jadi tidak bisa sampai ke "piring" pembaca di negara-negara yang mayoritas Islam hanya karena "setitik nila penghujatan" itu. Novel ini malah jadi lahan kajian yang subur di Inggris atau Amerika yang bebas-bebas saja membaca dan menggarap novel ini. Dr. Booker pernah bilang bahwa dia sering menemukan buku The Satanic Verses ini dalam daftar bacaan untuk berbagai bidang, "poskolonial," "poststrukturalis," "postmodernis," "realisme magis," dst. dsb. dll. dllajr.

Jadi ya... begitulah bunyinya.

Antara Kutipan (Yg Disinyalir Dari) John Lennon Download Lagu Gratis "Defensus Mechanismus"

By wawan on Jul 15, 2010 | In Serbasuka | Send feedback »

Henry Rollins, mantan vokalisnya Black Flag, meriwayatkan di sebuah film dokumenter bahwa John Lennon pernah bilang: "Say what you mean, mean what you say, and put a beat to it." Saya tidak tahu apakah John Lennon benar-benar pernah ngomong ini, tapi kalau kita lihat-lihat lagi lagunya John Lennon, terutama yang terkumpul di album Lennon Legend, sepertinya kutipan ini sahih. Dengarlah lagu "working class hero," atau lagu-lagu lainnya. Memang ada kesan John Lennon haya mengungkapkan isi hati, semacam protas-protes kritik sosial, terus dikasih ketukan dan plus nada magis Lennonian.

Nah, sekarang, ada persembahan dari seorang kawan, atau alter-ego :D, Penyanyi Sendiri, S.S., yang bikin lagu dengan prinsip yang kira-kira sama dengan Say-what-you-mean-mean-what-you-say-put-a-beat-to-it. Lagunya berjudul "Defensus Mechanismus" dan kalau Anda ingin dengar silakan download di sini.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 ... 44 >>
  • Postingan2 Kemarin

    • The Satanic Verses, Penghujatan Setitik (sebenarnya nggak cuma setitik sih!) Rusaklah Sastra Sebelanga
    • Antara Kutipan (Yg Disinyalir Dari) John Lennon Download Lagu Gratis "Defensus Mechanismus"
    • Osama Van Halen
    • Kedudukan Mengetik dalam Dunia Kepenulisan Indonesia Pasca-Reformasi :D
    • Di Balik Terjemahan Sastra yang Unik
    • Mengenal Unsur Gaya
    • Dua Buku Kumpulan Cerpen Si Pemimpi
    • Turut Berduka Cita
    • Allaahu Akbar wal-Open
    • *** Adalah ... (Apakah *** itu?)
    • Like a Mosque with no Imam
    • Faith and Fate, Muslim and Muscle, Sad and Glad
    • Menulis apa Bercerita?
    • Apakah Kita Kenal "Fact-checker"?
    • Hubungan dengan Bahasa Indonesia
    • Mengubur Duit 50 Rupiah
    • Jarinya Sebesar Pisang Ambon
    • Erasure: Penulis dan Pengharapan Pembacanya
    • Pesawat Murdock
    • Catatan Harian Seorang Pemimpi
    • Gadis Kerudung Jingga: Islam Progresip Dalam Bingkai Novel Nyeni
    • Haruskah Kaum Tercerabut Pulang Secara Fisik?
    • Bersama Kaum Beriman: Masyarakat Islam '80 di Mata V.S. Naipaul
    • Komentar Atas Perbandingan Sepotong Senja dan Sepotong Bibir
    • Simpulan V.S. Naipaul Buat Pengunjung Amrikiyya Syarekah
    • Angsa Terpanah Beberapa Bulan - Sebuah Studi Perbandingan
    • Ibn 'Arabi dari Three Muslim Sages
    • Kebijaksanaan Dusun
    • The Trouble with Islam: Pertanyaannya Dihargai, Jawabannya Dicurigai
    • Kembali ke Khittah 2007
    • Archives
    • Latest comments
  • Sponsor

    Terima kasih
    Free Website Hosting
    atas penyediaan hosting gratisnya....

    Creative Commons License
    This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 3.0 United States License.
powered by b2evolution free blog software

©2010 by wawan eko yulianto | Contact | evoCamp skin | Recommended sites: Best Web Hosting and Domain Name Registration. Created with Website Builder Software | | blog software | UK hosts | monetizing