Category: Bahasa
Klaim
By wawan on Aug 28, 2009 | In Bahasa | 3 feedbacks »
(sssst... kayak judul catatan pinggir nggak boooo'?)
Lihatlah bagaimana dampak kontroversi munculnya Tari Pendet di Discovery Channel. Di facebook dan twitter dan forum-forum internet terjadi diskusi yang panjang dan penuh hujatan dan kembali memuncul-munculkan lagi frase gak asyik dari masa kurang asyiknya Soekarno. Kenapa?
Berita yang segera muncul di internet: Malaysia MENGKLAIM Tari Pendet. Kata "mengklaim" harus disoroti di sini. Well, dunia media, dunia yang umurnya cuman 15 menit itu, memang sukanya begitu: mencari retorika yang selayak diingat mungkin, dengan harapan daya tarik yang lazimnya cuman 15 menit di kalangan pembaca itu bisa diulur.
Dan kali ini kata "klaim" yang dipakai. Kata yang mulai agak lazim sejak beberapa waktu berselang, sejak Malaysia mendaftarkan angklung di Unesco sebagai alat musiknya dengan sebutan "music bamboo malay" dan kemunculan reog di satu iklan turisme Malaysia. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah "munculnya sekilas jelas gambar 2 penari pendet dalam promo acara Enigmatic Malaysia". Hmmmm... memang sih klausa yang saya tawarkan ini tidak efektif, dan mungkin kurang menggairahkan buat penikmat berita dan para pemilik kepentingan
, dalam hal ini media massa di Indonesia. Lihatlah kalimat awal berita Metro TV tentang kemunculan tari pendet ini: "Pemirsa, klaim Malaysia terhadap produk kesenian Indonesia semakin menjadi-jadi!"
Jadinya, muncullah kata "klaim" itu, yang pinginnya merangkum keseluruhan fenomena itu. Hmmm... apakah itu pilihan sinonim yang pas? Yang bijak? Silakan nilai sendiri: orang-orang menjadi panas, mungkin orang-orang yang tidak tahu dengan mata kepala sendiri seperti apa bentuk "klaim" itu, tidak tahu bagaimana tari pendet itu bisa muncul. Bahkan, berita Metro TV itu sendiri mengatakan bahwa tari pendet itu muncul dalam iklan Malaysia Truly Asia 2009, padahal sebenarnya muncul dalam promo Enigmatic Malaysia. Akhirnya terjadilah caci maki di internet. Netter Indonesia dan Malaysia yang suka emosian karena, mungkin, sama-sama tidak tahu rupa lawan gontok-gontokannya itu, saling mengutuk. Bahkan sampai merembet ke isu-isu TKI, mengubah lagu Indonesia Raya, mengangkat isu lama ganyang Malaysia, dsb. Bahkan seorang teman yang mestinya sangat terbuka wawasannya sampai bikin status facebook "kalau Pak Karno yang jadi presiden, langkah apa yang akan beliau ambil untuk hubungan Indonesia-Malaysia hari ini?" yang pastinya akan memancing orang yang sedikit saja tahu sejarah untuk bilang "ganyang Malaysia itu"; dia lupa bahwa dalam pergaulannya ada teman-teman yang berasal dari Malaysia, yang mungkin sudah menahan diri untuk tidak tersulut.
Apa awalnya? Dari retorika, tuntutan media (yang digerakkan siapa hayo saudara? yak betul yang baju hijau: kapitalisme!!!!), dan miskinnya padanan kata. Dan ketika metro TV menayangkan permintaan maaf Discovery Channel Malaysia seperti di sini, mereka langsung menyampaikannya kepada pemirsa sebagai berita. Dan mereka pun amnesia dengan retorika mereka saat pertama kali menyampaikan berita itu. Tidak sedikit pun ada permintaan maaf atas pilihan kata mereka. Ya, seolah permainan retorika seperti itu dalam media adalah hal biasa, dan wajar diterima, natural. Padahal, sekali-kali jangan menganggap natural sesuatu yang sebenarnya buatan!!!!
Disclaimer: Analisis ini adalah hasil penthelengan bandingan atas pemberitaan pertama dan "terakhir" tentang tari pendet di promo Malaysia.

