Hubungan dengan Bahasa Indonesia
By wawan on Apr 24, 2010 | In Bahasa | 3 feedbacks »
Akhir-akhir ini saya baca lagi cerpen-cerpen yang saya tulis beberapa tahun belakangan. Saya ngrasa bahasa cerpen-cerpen itu formal banget. Formal banget. Lebih tepatnya: sangat formal. Sampai-sampai saya agak geli waktu baca. Nah, dari situ muncul satu pikiran:
Ya, cerpen-cerpen itu saya tulis waktu saya mikir pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kayaknya waktu itu bahasa cuman berfungsi sebagai pengantar gagasan saja. Padahal, bisa dibilang saya ini bukan penutur asli bahasa Indonesia. Hehehe... Bahasa Ibu saya kan bahasa Jawa (meskipun secara harfiah sebenarnya Ibu saya guru SD yang selalu ngomong bahasa Indonesia sama muridnya
).
Dan sekarang, setelah sekitar 3 tahun blogging, setelah menghayati adanya--atau sebenarnya "kuatnya"--dorongan bahasa Jawa dalam kesadaran linguistik saya, dan lebih melonggarkan pikiran dan membiarkan bahasa Jawa mengalir ngeslong pada saat-saat yang diperlukan, saya jadi sadar:
Kayaknya waktu nulis cerpen-cerpen berbahasa Indonesia itu saya terlalu pingin ngomong bahasa Indonesia dengan baik. Padahal, berapa banyak sih orang di luar sana yang ngomong bahasa Indonesia yang baik dan benar versi tulisan?
Bahasa Indonesia yang dipaksa dibikin baik dan benar akan jadi kayak wajah dibedaki terlalu tebal, jadi wujud aslinya nggak kelihatan, dan kalau senyum jadinya malah bikin ngeri...
Masalah paling banyak dalam cerpen-cerpen itu kira-kira: terlalu banyak kata dengan imbuhan lengkap, kayak "Pak RT mempunyai sebuah toko," padahal kalau sekarang, dengan kesadaran bahasa yang lebih bebas saya mungkin akan nuli "Pak RT punya toko." Atau misalnya "Setiap hari saya membeli dua bungkus botok dan menyisihkan salah satunya untuk makan malam." Kalimat seperti itu buat kesadaran linguistik saya jadi "Tiap hari (atau "setiap hari" juga boleh
) saya beli dua bungkus botok. Satu untuk sarapan dan satu untuk malam malam." Kalimat dibikin lebih simpel dan mengurangi kemajemukan yang menjemukan--kadang-kadang ada kemajemukan yang seksi lho.
Dan yang paling penting adalah bagian dialog: saya janji mulai sekarang dialog saya akan saya bikin senatural mungkin, seperti dialog2nya novel orang-orang kulit hitam yang canggih banget.
3 comments
my fave lines:
"Bahasa Indonesia yang dipaksa dibikin baik dan benar akan jadi kayak wajah dibedaki terlalu tebal, jadi wujud aslinya nggak kelihatan, dan kalau senyum jadinya malah bikin ngeri..."
analogi yg asik. sumpe geli gw ngebayanginnya.
jujur sy blg meski seumur hidup diexpose dg bhs indonesia, tnyt bhs indonesia itu susah ya. apalagi kl sdh nulis+berusaha tulisan kita "terbaca" dan mudah dingertiin maksudnya dengan memakai pilihan kata yg ga muluk2+org enjoy bacanya. PR yg susah nih pak T_T
dan tentu pernyataan ini gak bermaksud jawa-sentris. ini juga berlaku buat yang berada di daerah lain. aku yakin bahasa indonesia bisa terasa lebih kaya kalau semua warganya yang bukan penutur asli bahasa melayu masih tetap bisa bebas berbicara atau menulis dalam bahasa indonesia dengan cita rasa lokalnya.
karena itu, aku sendiri sangat bergairah waktu baca oka rusmini dengan cita rasa balinya, atau hasan aspahani yang meskipun asli kalimantan tapi bahasanya sangat melayu (mungkinkah karena tinggalnya di kepri?)... dan berharap bisa baca karya-karya sastra dari daerah lain...
This post has 2 feedbacks awaiting moderation...
Leave a comment
| « Apakah Kita Kenal "Fact-checker"? | Mengubur Duit 50 Rupiah » |

