Comment from: wawan [Member] Email
kompas hari minggu kemarin memuat sebuah artikel berjudul "Islam, Ramadhan, Facebook". kalau menurut saya, mungkin media massa semacam kompas ini "baru" melihat facebook sebagai sesuatu yang ganjil dan layak dilaporkan kepada pembacanya. facebook, atau mungkin jejaring sosial yang lain, masih dianggap sebagai sebuah fenomena, sebuah sumber berita, sebagai berita. sementara itu, media-media yang saya bahas dalam postingan itu lebih menganggap facebook, twitter, dan blog, sudah merupakan bagian yang "natural" dalam kehidupan (meskipun tentu saja tidak natural, dan hal ini bisa dibawa ke perdebatan lebih lanjut). saking dianggap biasanya, media-media ini tidak segan-segan memakainya sebagai sebuah jalan untuk menuju terciptanya sebuah pemberitaan (entah apapun tendensi pemberitaan mereka itu).
25/08/09 @ 19:25
Comment from: tuanmalam [Visitor] · http://tuanmalam.blogspot.com
tentang kemungkinan di paragraf terakhir, masah sih nggak tahu? kan dapat duit. kalo jadi blogger jelata kan gak dapat. hahaha...

tapi, sepakat, sesuai dengan uraian di bagian2 awal dan tengah: makin lama koran bisa makin kehilangan pamor, ya? lha internet (juga televisi) jauh lebih cepat menyiarkan suatu berita.

jadi, yaaah... benar juga sih pertanyaan: "terus apa untungnya?" di bagian akhir.
25/08/09 @ 23:21
Comment from: wawan [Member] Email
soal kehilangan pamor, saya sendiri kurang tahu mas sidik. tapi sepertinya media cetak tetap belum tertandingi dalam hal keportabelan dan kenyamanbacaan. bisa dibeli di mana-mana dan bisa dibawa ke mana-mana.

btw, saya nemu lagi satu fakta unik dari bagian "quotation" majalah time minggu ini: salah dua dari belasan kutipan yang dibahas kali ini adalah balas postingan twitter antara 2 politisi tingkat atas amerika dari pihak pendukung kebijakan health-care dan penolak RUU health-care. hal ini menegaskan kembali yang saya bilang di atas mas, jejaring sosial bukan lagi dianggap sebagai fenomena, melainkan sebagai alam yang fenomena-fenomenanya layak diberitakan, bukan hanya eksistensinya saja; kontennya layak diberitakan, bukan hanya formnya saja.

dan posisi koran di sini tetap sebagai pemberita, bukan sekedar saingan dalam menjadi penyiar berita.

dan yang sebaliknya juga terjadi: banyak sekali postingan-postingan blog yang mengomentari berita-berita di koran. sehingga koran menjadi lahan "berita" buat para blogger.

jadi, di sini dua kalangan saling terjembatani. kalangan onliner dan kalangan offliner. kalangan onliner mendapat berita dari salah satu blogger tentang "kejadian" di surat kabar. dan kalangan offliner bisa mendapatkan berita dari salah satu jurnalis yang online--atau saya lebih senang menyebutnya "dari jurnalis yang sadar bahwa "ruang" sekarang sudah melebar sampai ke jagad maya, tidak hanya di dunia beralaskan bumi dan berpayungkan langit. :D
27/08/09 @ 01:51

Leave a comment


Your email address will not be revealed on this site.

Your URL will be displayed.
(Line breaks become <br />)
(Name, email & website)
(Allow users to contact you through a message form (your email will not be revealed.)
« KlaimEstetika yang Simalakamais »