Kawin Silang Media di Negeri Aa' Sam
By wawan on Aug 24, 2009 | In Fenomena | 3 feedbacks »
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan segala makhluk dan koran serta internet lewat tangan makhluk ciptaannya.
Ada yang unik dengan pengalaman baca dan menyimak media massa akhir-akhir ini. Saya melihat adanya kawin silang dan pencangkokan antar media. Saya sementara belum berani mengklaim apakah ini hanya terjadi di Amerika ataukah sudah di seluruh jengkal bumi. Tapi intinya ada yang menarik di sini.
Membaca sebuah ulasan di Newsweek tentang rencana kebijakan Healthcare hasil tawaran pemerintahan Barry Obama, penulis artikel mengutip pendapat Sarah Palin yang ada di salah satu postingan Facebook panjenenganipun. Atau, ketika memirsa sebuah berita CNN, tiba-tiba saya lihat si hosting acara diskusi menampilkan di layar tivi sebuah postingan twitter dari seorang politisi yang terkait masalah serupa. Atau dari USA Today hari ini, dalam sebuah artikel opini tentang isu kerukunan Islam, Kristen, dan Yahudi di Amerika dewasa ini, dan implikasinya terhadap hubungan ketiga umat di seluruh dunia, penulis mengutip dari sebuah blog yang pengampunya tergolong konservatif. Dan terakhir, di halaman pertama USA Today, di mana terdapat laporan tentang keikutsertaan Lance Armstrong dalam KTT Kangker Sedunia di Skotlandia, disebutkan bahwa si superman sepeda balap itu akan ngeblog buat USA Today, dan artikel tentang Lance Armstrong di halaman dalam koran yang sama mengambil kutipan dari postingan twitter Lance Armstrong.
Ada beberapa lapisan menarik yang menongol di sini. Pertama, terjadi kawin silang antar media. Kedua, semakin diperhitungkannya individu tanpa institusi.
Hanya karena dimuat di surat kabar cetak, bukan berarti semua artikel harus mendapatkan sumber dari wawancara dengan pelaku atau dari ahli, seperti pada umumnya berita di, taruhlah Kompas, yang biasanya diawali dengan laporan dari orang-orang yang terlibat dengan sebuah kejadian, misalnya fenomena berziarah di kuburan menjelang bulan puasa, dan kemudian diikuti oleh pendapat tim ahli, misalnya meminta pendapat Dr. Purwadi, M.Hum yang mengatakan bahwa itu adalah bukti akulturasi Islam dan Hindu. Artikel Newsweek yang saya singgung melakukan lebih dari yang umumnya dilakukan koran seperti gaya Kompas di atas: dia membahas berbagai sumber yang ada, mulai dari artikel terdahulu (bahkan dari koran-koran lain), pendapat para ahli linguistik dari sebuah universitas yang membahas kuatnya retorika counter-kebijakan healthcare, dan ditambah postingan Facebook Saran Palin.
Terkait diperhitungkannya individu (cyber) tanpa institusi, kita bisa lihat artikel dari kontributor Oregon untuk USA Today tentang kerukunan beragama yang saya singgung sebelumnya. Si penulis, setelah membahas fenomena seorang pendeta Kristen yang menjadi keynote speaker di sebuah konferensi Islam di Amerika, dan pendapat seorang rabi Yahudi yang bilang bahwa dia lebih memiliki banyak kesamaan pandangan dengan para muslim progresif ketimbang dengan orang-orang Yahudi sayap kanan yang ngotot tinggal di Tepi Barat, dia juga membahas opini pedas dari seorang blogger konservatif dari Amerika. Dia mempertimbangkan pendapat si blogger itu, meskipun untuk kemudian dia tentang dengan argument-argumennya.
Dari hal-hal itu, terasa kalau koran sudah agak dialogis, atau, dalam bahasa gaul para cybertizen, bentuknya sudah hampir-hampir menjadi Suratbakar 2.0. Dia menjadi interaktif, bukan hanya secara langsung menarik pendapat dari pembaca, tapi juga sampai pada tahap penulis merespon responan pembaca terhadap hal-hal yang sudah ditulis terlebih dulu di suratkabar (seringkali responan tingkat kedua seperti ini dilupakan oleh blogger-blogger yang kurang 2.0, termasuk wawan tukang ngimpi, mungkin; responan tingkat kedua, ketiga, dan keempat ini kayaknya termasuk hal yang dianjurkan Ndoro Kakung, menurut sebuah resensi yang saya baca).
Terus, apa implikasi dari fenomena ini? Seorang siniser mungkin akan berpendapat bahwa ini adalah bukti malasnya seorang jurnalis atau penulis, yang lebih memilih mengandalkan Sir Google Dot Com untuk mencari pendapat-pendapat orang (meskipun orang biasa) yang sesuai dan mendukung argumennya. Mungkin-mungkin saja betul seperti ini, siapa tahu juga isi hati orang. Tapi, kalau tugas-tugas awal seperti mewawancarai narasumber langsung atau narasumber ahli sudah ditunaikan, bukankah itu artinya bahwa si penulis/jurnalis lebih “rajin” dan berani melangkah lebih jauh.
Implikasi kedua, seperti lazimnya kata orang yang maruk posmodernisme, ini mungkin bukti bahwa benih-benih kebenaran (atau, kalau saya Yasraf Amir Piliang, pasti akan saya kasih frase cetak miring dalam kurung “seeds of truth”) itu menyebar. Benih-benih kebenaran itu tidak hanya ada di inti buah, tidak hanya di TKP, tidak hanya di kalangan ahli di universitas-universitas negeri atau swasta berkelas tinggi, tapi juga ada di sekujur tubuh pohon (seperti plasma nutfah), ada di blog-blog orang yang suka sinis, atau di postingan facebook seorang MANTAN CALON wapres yang pernah dibilang seperti foto model yang hanya cantik kalau diam tapi kelihatan konyol kalau sudah ngobrol.
Entah mana implikasi yang betul. Yang pasti buat kita para pembaca (yang semoga) budiman ini, semoga hal-hal ini bisa menambah keawasan kita dalam membaca. Kalau benih-benih kebenaran itu tersebar, bukankah berarti juga benih-benih kesalahan juga tersebar? Hmm... sok sekali kalimat terakhir ini, hehehe… padahal gak jelas maksudnya. Tapi, kalau pun kita nanti dapat giliran jadi penulis/jurnalis, sepertinya kedua implikasi itu tak bisa kita lepaskan sebagai bahan pertimbangan… menurut saya sih.
Yang pasti, sekarang ada kesempatan buat kita semua—yang mau ngeblog dalam bahasa inggris dan, terutama, membahas masalah-masalah Amerika—untuk dikutip di salah satu halaman koran atau berita tivi di Amrik. Atau mungkin—maafkan ketidaktahuan saya—kita yang suka mengomentari tulisan di Kompas atau Tempo interaktif akan dapat kesempatan dijadikan pertimbangan dalam pemberitaan mereka selanjutnya. Hehehe… Terus apa untungnya? Nggak tahu juga sih…
3 comments
tapi, sepakat, sesuai dengan uraian di bagian2 awal dan tengah: makin lama koran bisa makin kehilangan pamor, ya? lha internet (juga televisi) jauh lebih cepat menyiarkan suatu berita.
jadi, yaaah... benar juga sih pertanyaan: "terus apa untungnya?" di bagian akhir.
btw, saya nemu lagi satu fakta unik dari bagian "quotation" majalah time minggu ini: salah dua dari belasan kutipan yang dibahas kali ini adalah balas postingan twitter antara 2 politisi tingkat atas amerika dari pihak pendukung kebijakan health-care dan penolak RUU health-care. hal ini menegaskan kembali yang saya bilang di atas mas, jejaring sosial bukan lagi dianggap sebagai fenomena, melainkan sebagai alam yang fenomena-fenomenanya layak diberitakan, bukan hanya eksistensinya saja; kontennya layak diberitakan, bukan hanya formnya saja.
dan posisi koran di sini tetap sebagai pemberita, bukan sekedar saingan dalam menjadi penyiar berita.
dan yang sebaliknya juga terjadi: banyak sekali postingan-postingan blog yang mengomentari berita-berita di koran. sehingga koran menjadi lahan "berita" buat para blogger.
jadi, di sini dua kalangan saling terjembatani. kalangan onliner dan kalangan offliner. kalangan onliner mendapat berita dari salah satu blogger tentang "kejadian" di surat kabar. dan kalangan offliner bisa mendapatkan berita dari salah satu jurnalis yang online--atau saya lebih senang menyebutnya "dari jurnalis yang sadar bahwa "ruang" sekarang sudah melebar sampai ke jagad maya, tidak hanya di dunia beralaskan bumi dan berpayungkan langit. :D
Leave a comment
| « Klaim | Estetika yang Simalakamais » |

