Comment from: Azeez [Visitor] · http://www.sebelum20.blogspot.com
Into the wild memang bisa membuat anak muda radikal yang muak dengan dunia pebuh kebohongan, penghianatan, kelicikan, ini menjadi ingin seperti Chris... mengelana, hidup sendiri, mencari makna dan .... mati(????).

18/07/09 @ 07:25
Comment from: tuan malam [Visitor] · http://tuanmalam.blogspot.com
melihat film, membaca buku, mendengar soundtrack yang terpapar di posting hebat ini, mas misdi (di sana) serasa diajak radikal.

kalau (di sini), mas sidik yang kadang ngumpul-ngumpul sama beberapa kawan penulis di perpus tercinta serasa diajak... diajak... diajak... diajak radikal?

bukan! diajak... maksimal! :-)))
21/07/09 @ 01:49
Comment from: tuanmalam [Visitor] · http://tuanmalam.blogspot.com
melihat film, membaca buku, mendengar soundtrack yang terpapar di posting hebat ini, mas misdi (di sana) serasa diajak radikal.

kalau (di sini), mas sidik yang kadang ngumpul-ngumpul sama beberapa kawan penulis di perpus tercinta serasa diajak... diajak... diajak... diajak radikal?

bukan! diajak... maksimal! :-)))
21/07/09 @ 01:50
Comment from: wawan [Member] Email
@mas azees: begitulah mas. saya sendiri lagi mencoba membahas (di tulisan lain) beberapa sisi chris yang saya rasa penting untuk dimiliki anak muda, demi menuju masyarakat adil dan makmu :D. misalnya, sifatnya yang tidak elitis dan lumayan anti pembagian kerja. meski anak kuliahan, tidak tidak begitu saja pingin cari kerja yang berdasi dan bisa memberinya gaji tinggi. dia mau menjelajah kerja mulai dari yang paling kasar (semisal membersihkan penggilingan gandum dari bangkai-bangkai tikus). kalau saja banyak orang pinter mau seperti ini, artinya memandang arti penting pekerjaan macam apapun, pasti kesenjangan di antara individu di dunia ini tidak akan seperti masyarakat ultra borjuis seperti sekarang. mungkin sementara terdengar terlalu utopis, tapi ini bukan utopia :D...

@mas sidik: hahahahahahahaahahahah... begitulah mas sidik. maksimal itulah inti dari hidup di perpus. hehehehe... sampean iki jaaaaaaan. mbok sing apik karo sahabat baik sampean itu. hehehehehe
21/07/09 @ 02:13
Comment from: mita [Visitor]
judulnya radikal, omongannya ttg radikal trus, baca dari atas ampe bawah, kok ga nemu2 apa nyang dimaksud radikal itu om, masak cuman motongin kartu aja dianggap radikal, kabur dari orang tua, jalan2 di mexico, trus alaska dah dianggap radikal, apa beda radikal ma nekad atawa putus asa atawa stress?
28/07/09 @ 02:01
Comment from: wawan [Member] Email
aduh, ampun mbak mita... jangan kejam-kejam dong :D. saya pikir sudah tahu apa itu radikal, hehehehe... ini saran dari mbak mita apa mbak mita tanya? kalau mbak mita yang tanya, radikal itu artinya menyimpang dari norma yang diterima orang secara umum. nah, karena sejak jamannya karl marx, nietzsche, dan freud, norma yang umum itu berkonotasi negatif, melambangkan kemandekan berpikir individu, atau menyerahnya individu kepada kekuatan yang lebih besar, jadi berpikir atau bertindak radikal berarti membuat jarak dengan norma yang ada untuk kemudian mengkaji sendiri, menimbang-nimbang baik buruknya, mudarat dan manfaatnya, untuk kemudian mendapatkan keputusan tersendiri. :D

btw, kata radikal sendiri berasal dari bahasa yunani radix yang artinya akar. jadi tindakan radikal merupakan tindakan yang didasari dari akarnya. jadi, berpikir radikal berarti tidak serta-merta mengikuti norma umum, tetapi mengkaji sendiri dari akar permasalahan, dan biasanya (karena norma-norma umum itu sudah lama mengakar dan telah melewat berbagai masa dan seringkali dipenuhi dengan kepentingan orang-orang yang punya kedudukan) berbeda dengan kepercayaan umum.

nah, menggunting-gunting kartu itu bagi saya merupakan lambang dari penolakan terhadap kungkungan "norma" modern. seperti kita tahu, social security number (kartu SSN) itu di amerika merupakan sesuatu yang vital bagi seseorang, karena bisa menyelamatkan nyawanya saat kelaparan, tapi juga memiliki segala catatan riwayat finansial kita. penolakan terhadap dominasi "kekuatan" semacam itu kan berarti radikal. chris berpikir bahwa kekuatan manusia itu ada pada dirinya sendiri. dengan hidup mengandalkan tenaga kerjanya sendiri manusia menjadi sejati, tidak menggantungkan diri kepada kartu (SSN, KTP, atau kredit), tidak kepada peta, bahkan tidak juga kepada jam.

btw lagi, terima kasih sekali buat responsnya. saya jadi tahu kurang-kurang saya. tunggu tulisan lebih lengkapnya ya. :D

salam...
28/07/09 @ 09:27
Comment from: ardy [Visitor] Email
aah...
pertama kali masuk di "movietime' ,mata saya langsung tertuju pada COVER CD 'INTO THE WILD' yakni si Chris yang lagi "mengeram" di atap 'MAGIC BUS'...gitu baca sedikit resensi di balik sampulnya ,saya langsung yakin ni film pasti bagus sekali.

dan ,well.....saya benar2 jatuh cinta pada film ini!
(saya nyari bukunya ,di Solo susah sekaliii... :( ampe sekarang belum ketemu!)
kisahnya baguss bangeet euyy....

ada temen yg bilang ke saya ,katanya saya suka sekali film ini gara2 kisah kehidupan pribadi si tkokoh hampir sama dengan kehidupan pribadi saya..Mmmmm,'mungkin' ada sedikit samanya juga..tapi moga2 saya juga enggak mati keracunan kentang ,ketela ,duku ,salak?? aaahh..gak keren bnget

saya sudah berhasil dapet 1 album soundtracknya!
dan memang benar...si Eddie Vedder kuat banget ngebikin lirik2 tiap soundtracknya!
(yg berminat SOUNDTRACKNYA bisa kirim e-mail saya ,atau facebook saya :baker123@rocketmail.com..ntar saya kirim by e-mail daah!)

saya begitu mendewa2kan si tokoh...sampai2 saya searching2 di internet mengenai kehidupan si 'ALEX' Supertramp,dari foto - cerita..ckckkckc..keterlaluan.

pokoknya ,ni film wajib ditonton bagi semua kaum pria berjiwa petualang !!
24/05/10 @ 02:54

Leave a comment


Your email address will not be revealed on this site.

Your URL will be displayed.
(Line breaks become <br />)
(Name, email & website)
(Allow users to contact you through a message form (your email will not be revealed.)
« Estetika yang Simalakamais"Mulai Matinya" Manusia dalam Sastra Amerika »