Ngajak Radikal
By wawan on Jul 18, 2009 | In Fenomena | 7 feedbacks »
Into the Wild pertama menarik perhatian saya waktu browsing film karena beberapa hal: 1) mirip dengan judul bukunya Jack Landon The Call of the Wild, 2) gambar orang berjalan di antara es, 3) ada capture tentang orang jalan-jalan di Alaska. Akhirnya, begitu ada kesempatan, saya datangi lagi situs film yang saya simpan itu dan mulailah saya menonton filmnya. Ah, ternyata asyik juga. Seorang anak pinter 'capek' dengan keotoriteran orang tua yang menyuruh-nyuruh ini-itu. Akhirnya meninggalkan tempat tinggalnya dan bertualang naik mobil. Terus karena satu hal mobilnya ditinggal dan mulailah petualangan sesungguhnya. Bertemu banyak orang. Disukai banyak orang. Menemui tantangan demi tantangan. Dan ujung-ujungnya berkemping di hutan Alaska (sebenarnya sih dalam bahasa inggrisnya disebut 'semak-semak Alaska'). Dan menemui ajalnya dalam keadaan kelaparan. Meski sinopsis saya kedengaran enteng sekali, sebenarnya film ini cukup inspiratif, ngajak radikal. Karena tergelitik, akhirnya saya lanjutkan penelusuran saya dan akhirnya saya dapati ternyata film ini dilandasi dari kisah nyata (tapi saya yakin ada banyak campur tangan sutradara/produser/penulis skenario... yang belakangan saya tahu adalah si radikal Sean Penn). Ketergelitikan terus berlanjut, dan tanpa sadar saat ini saya sudah membaca berkilo-kilo artikel dan sudah selesai membaca buku Into The Wild (2006) karya Jon Krakauer, yang sebenarnya adalah jembatan antara kisah asli si Christopher Johnson McCandless (oh ya, saya lupa dari tadi belum menyinggung nama si tokoh
) dengan film Into The Wild (2007) itu. Dan tahu nggak, ternyata buku itu sendiri lebih tinggi kadar kemengajakradikalannya. Dalam beberapa gelintir paragraf ke depan saya akan berbagi hal-hal yang--kalau Anda sekalian tidak terlalu sibuk--mungkin penting diketahui tentang kisah hidup, buku, dan film tentang Chris McCandless itu.
Saya memutuskan memang buku dan film punya kepentingan dan titik berat masing-masing. Meskipun sama-sama ingin 'mengapresiasi' kisah hidup dan mati si Chris, Sean Penn dan Jon Krakauer punya strategi sendiri-sendiri untuk menjangkau pasarnya. Jon sendiri yang sebenarnya seorang pecinta alam, dan sebelum-sebelumnya dikenal sebagai penulis buku kisah dan hikmah petualangan itu, pertama kali menuliskan kisah Chris ini karena pesanan. Majalah Outside memintanya meliput tentang kisah ditemukannya mayat mulai membusuk di sebuah bis di jalur tak beraspal Stampede Trail yang terpencil di Alaska sana. Ternyata Jon terbayangi luar biasa oleh kisah si Chris, akhirnya dia melakukan penelusuran ke seluruh tempat yang dilalui si Chris mulai dari tempat asalnya sampai ke Alaska, mewawancarai orang-orang yang bersentuhan dengannya, mulai dari keluarga sedarahnya sampai ke orang yang memberinya tumpangan terakhir sebelum Chris blusukan masuk semak-semak di tengah salju itu. Nah, dengan alasan lebih memahami kondisi si Chris, Jon menggunakan banyak kisah kepecintaalaman, termasuk kisahnya mendaki Devil's Thumb Alaska sendirian, di sela-sela kisah si Chris ini. Dia lacak si Chris mulai dari masa kecilnya, masa remaja, konflik-konflik dalam hidupnya, kesan-kesan dari orang-orang yang ditemui si Chris selama petualangannya, sambil ingatan para pemberi tumpangan tentang penampilan Chris ketika mulai memasuki wilayah Alaska.
Sementara itu, Sean Penn dalam penggarapan film Into the Wild bisa dibilang berhutang seratus persen kepada Jon Krakauer dalam hal data-data yang dibutuhkan untuk menggambarkan kisah hidup dan mati si Chris. Tapi dalam hal kreatifitas, Sean Penn tak kalah tangguhnya. Karena menyasar para penonton film yang (well, kalau ingat analisis klasiknya Walter Benjamin tentang film yang cenderung meletakkan posisi semua orang sebagai penelaah, pengkritik, tapi otaknya pasif dan hanya dijejali dan tak bisa berbuat apa-apa selain menonton
) tentunya lebih mudah memamah rangkaian gambar dan cerita yang easy-digesting, maka melakukan sejumlah penyunatan dan tambal sulam atas data-data yang telah dikumpulkan dan ditata Jon Krakauer. Walhasil, para penonton mendapatkan kisah si Chris secara runut seperti mendaki gunung hiburan, dari kaki kisah hingga klimaks cerita.
Di antara sejumlah kreatifitas dan manipulasi Sean Penn itu ada sebagai berikut. Kalau dalam kisah sesungguhnya yang berhasil dilacak Jon si Chris itu ada kembali ke satu tempat yang sebelumnya telah dikunjungi, dalam film bagian itu disunat sehingga rentetan perjalanan Chris menjadi berjalan runtut. Kalau dalam versi bukunya Jon Krakauer tidak bisa memastikan apa penyebab terakhir kematian si Chris, dan hanya bisa membuat sejumlah tebakan berdasarkan bukti-bukti minim yang didapatkannya, di dalam film, karena tuntutan sifat film yang membutuhkan sebuah klimaks yang memberikan pukulan KO, sebuah klimaks yang Hollywoodly, Sean Penn memutuskan bahwa si Chris mati karena keracunan kentang liar.
Selain hal-hal itu, ada juga yang sama-sama menonjol dari buku maupun film kisah hidup si Chris ini: adanya greget si produsen untuk menyampaikan ideologi pribadi. Well, meskipun ideologi di sini mungkin istilah yang lumayan dilematis, saya yakin Anda tahu lah kira-kira arti ideologi macam apa yang saya maksud
. Jon Krakauer, dengan sisipan kisah-kisah para penekad alam seperti Everett Ruess, Waterman, dan dirinya sendiri, seolah ingin menyampaikan bahwa pertemuan manusia dengan alam memang seringkali menjadi sebuah lahan subur. Si manusia jadi sering merenung, berintrospeksi diri, dan ujung-ujungnya menemukan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mungkin tak bisa tumbuh saat seorang manusia repot dengan urusan duniawi. Seolah-olah seperti kata Eddie Vedder, vokalisnya Pearl Jam yang kebagian bikin soundtrack untuk film Into The Wild, yang bilang "society, you're a crazy breed" dan "when you have more than you think, you need more space". Dan "space" ini tidak bisa terwujud jika ada urusan sosial yang mencengkeram kita. (Kalau mau serius, kita bisa saja menghubungkan kecenderungan semacam ini dengan bagaimana kegemaran naik gunung Soe Hok Gie itu membentuk Soe Hok Gie yang kemudian kita kenal, dan bagaimana bersepeda motor keliling Amerika Selatan dengan La Pederosa itu membentuk Ernesto Guevara menjadi Che.)
Ah, maafkan kalau saya akhirnya juga menyeret-nyeret Eddie Vedder ke meja resensi ini. Tapi sungguh, lirik lagu-lagu yang menyoundtracki film ini benar-benar seperti terjemahan lain dari kisah si Chris dalam bentuk lirik dan musik (ada lho lagu yang tidak pakai lirik, hanya musik dan lengkingan Eddie, lengkingan melodius yang menyimbolkan serigala-serigala yang memakan sisa-sisa moose hasil buruan si Chris).
Oh ya, salah satu cara menghadirkan torehan-torahan buku harian, komentar, corat-coretan, dan kartu-kartu pos si Chris si benak kita, Sean Penn menyajikan kalimat-kalimat itu seperti dalam bentuk kalimat-kalimat yang dituliskan di layar film atau menyoroti bagaimana si Chris menulis di buku tulisnya. Well, yang ini juga lumayan mengingatkan kita kepada film GIE di mana si Nicholas yang sangat Saputra itu menarasikan isi catatan harian si demonstran Gie.
Sean Penn sendiri seolah menemukan sebuah kisah yang pas dengan dia yang, sebagai seorang artis Hollywood, juga terbilang anti-kemapanan--beberapa bulan lalu dia undur diri dari film yang melibatkan dia sebagai salah satu tokoh utama, hanya karena lebih ingin mengurusi keluarga
. Sean Penn menyoroti bagaimana konflik keluarga membentuk Chris menjadi seorang pemberontak. Dan dia juga seolah bersorak hore ketika Chris mencoba menjaga jarak dari segala jenis ikatan. Bahkan, ada satu adegan yang dibikin 'gagah' oleh Penn, yaitu ketika Chris menggunting segala kartu identitas, kartu kredit, Social Security Number (sebuah kartu yang dianggap sakti oleh orang Amerika, tapi juga menjadi kartu yang memonitor gerak finansial semua warga yang tinggal di negeri Aa' Sam, semacam catatan kebaikan dan keburukan).
Jadi, setelah melihat film dan bukunya (dan mendengarkan soundtrack filmnya), terasa sekali betapa seseorang bisa terkipasi gejolak jiwa mudanya. Kita diajak memicingkan mata dan melihat lebih tajam lagi kehidupan di sekitar kita. Kita diajak membuka matar semakin lebar kepada hal-hal baru yang ada di hadapan mata. Kita diajak lebih membuka aperture kita saat menyaksikan hijau dedaunan dan sunyi alam. Well, kita diajak radikal olehnya. Tapi tentunya kita harus mikir, radikal dan anarkis itu berbeda lho ya... ![]()
7 comments
kalau (di sini), mas sidik yang kadang ngumpul-ngumpul sama beberapa kawan penulis di perpus tercinta serasa diajak... diajak... diajak... diajak radikal?
bukan! diajak... maksimal! :-)))
kalau (di sini), mas sidik yang kadang ngumpul-ngumpul sama beberapa kawan penulis di perpus tercinta serasa diajak... diajak... diajak... diajak radikal?
bukan! diajak... maksimal! :-)))
@mas sidik: hahahahahahahaahahahah... begitulah mas sidik. maksimal itulah inti dari hidup di perpus. hehehehe... sampean iki jaaaaaaan. mbok sing apik karo sahabat baik sampean itu. hehehehehe
btw, kata radikal sendiri berasal dari bahasa yunani radix yang artinya akar. jadi tindakan radikal merupakan tindakan yang didasari dari akarnya. jadi, berpikir radikal berarti tidak serta-merta mengikuti norma umum, tetapi mengkaji sendiri dari akar permasalahan, dan biasanya (karena norma-norma umum itu sudah lama mengakar dan telah melewat berbagai masa dan seringkali dipenuhi dengan kepentingan orang-orang yang punya kedudukan) berbeda dengan kepercayaan umum.
nah, menggunting-gunting kartu itu bagi saya merupakan lambang dari penolakan terhadap kungkungan "norma" modern. seperti kita tahu, social security number (kartu SSN) itu di amerika merupakan sesuatu yang vital bagi seseorang, karena bisa menyelamatkan nyawanya saat kelaparan, tapi juga memiliki segala catatan riwayat finansial kita. penolakan terhadap dominasi "kekuatan" semacam itu kan berarti radikal. chris berpikir bahwa kekuatan manusia itu ada pada dirinya sendiri. dengan hidup mengandalkan tenaga kerjanya sendiri manusia menjadi sejati, tidak menggantungkan diri kepada kartu (SSN, KTP, atau kredit), tidak kepada peta, bahkan tidak juga kepada jam.
btw lagi, terima kasih sekali buat responsnya. saya jadi tahu kurang-kurang saya. tunggu tulisan lebih lengkapnya ya. :D
salam...
pertama kali masuk di "movietime' ,mata saya langsung tertuju pada COVER CD 'INTO THE WILD' yakni si Chris yang lagi "mengeram" di atap 'MAGIC BUS'...gitu baca sedikit resensi di balik sampulnya ,saya langsung yakin ni film pasti bagus sekali.
dan ,well.....saya benar2 jatuh cinta pada film ini!
(saya nyari bukunya ,di Solo susah sekaliii... :( ampe sekarang belum ketemu!)
kisahnya baguss bangeet euyy....
ada temen yg bilang ke saya ,katanya saya suka sekali film ini gara2 kisah kehidupan pribadi si tkokoh hampir sama dengan kehidupan pribadi saya..Mmmmm,'mungkin' ada sedikit samanya juga..tapi moga2 saya juga enggak mati keracunan kentang ,ketela ,duku ,salak?? aaahh..gak keren bnget
saya sudah berhasil dapet 1 album soundtracknya!
dan memang benar...si Eddie Vedder kuat banget ngebikin lirik2 tiap soundtracknya!
(yg berminat SOUNDTRACKNYA bisa kirim e-mail saya ,atau facebook saya :baker123@rocketmail.com..ntar saya kirim by e-mail daah!)
saya begitu mendewa2kan si tokoh...sampai2 saya searching2 di internet mengenai kehidupan si 'ALEX' Supertramp,dari foto - cerita..ckckkckc..keterlaluan.
pokoknya ,ni film wajib ditonton bagi semua kaum pria berjiwa petualang !!
Leave a comment
| « Estetika yang Simalakamais | "Mulai Matinya" Manusia dalam Sastra Amerika » |

